Oleh: dakwahwaljihad | Oktober 9, 2016

Al-Maidah 51 dan Keadilan

AL-MAIDAH 51 DAN KEADILAN

Oleh: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Al-Quran Al-KariemBismillaah wahs shalaatu wassalaamu ‘ala Rasuulillaah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi wa man waalah…

Segala puji bagi Allah –Ta’ala- yang masih memberikan nikmat iman dan Islam. Semoga kita bisa senantiasa menjaga kualitas keimanan dan keislaman tersebut hingga ajal menjemput. Aamiin.

Alhamdulillah, pertama kalinya penulis bisa menyapa pembaca sekalian setelah sekian lama tidak muncul di blog dakwahwaljihad ini karena sibuknya aktivitas di dunia nyata. Semoga Allah -Ta’ala- senantiasa memberikan keistiqomahan kepada setiap orang yang memperjuangkan agama-Nya.

Saudaraku, beredar broadcast Kajian Tafsir yang dijelaskan oleh Rais Syuriah PCiNU Australia berkaitan tentang surat Al-Maidah : 51. Jika saya boleh mengambil kesimpulan, maka inti dari broadcast tersebut :

  1. Surat Al-Maidah : 51 tidak menjelaskan larangan menjadikan non-muslim sebagai pemimpin. Sedangkan kata “auliya” dalam ayat tersebut maknanya bukan pemimpin, namun semacam sekutu atau aliansi. Dengan merujuk kepada kitab-kitab tafsir.
  2. Jika ada seorang non-muslim yang adil, maka diperbolehkan bagi seorang muslim mendukungnya dan memilihnya sebagai pemimpin.

Dua hal di atas, menjadi titik perhatian kita pada kesempatan ini. Mari kita kaji, semoga bermanfaat.

Pengertian Auliya’

Mari kita simak surat Al-Maidah : 51:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai auliya’. Sebagian mereka auliya’ sebagian yang lain. Dan barangsiapa dari kalia yang mengambil mereka sebagai auliya’, maka kalian termasuk dari mereka. Sesungguhnya, Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dhalim.”

Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni pada menyebutkan dalam tafsirnya bahwa auliya’ adalah bentuk jamak dari wali, yang secara bahasa berarti an-nashir wa al-mu’in, yaitu penolong. (Tafsir Ayatul Ahkam, jilid 1, hal. 282, Daar Al-Kutub Al-Ilmiyyah),  Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa mengambil wali berarti mengambil penolong dan kecintaan.

Ar-Raghib Al-Ashfahani mengatakan bahwa setiap orang yang dijadikan sebagai penolongnya dalam suatu urusan, maka dia adalah walinya.

Dari pengertian ini, maka siapa saja yang mempercayakan seseorang untuk dijadikan sebagai penolong termasuk dalam mengatur urusan, baik dalam urusan yang menyangkut pribadinya ataupun orang lain, urusan khusus maupun umum, maka berarti dia telah mengambil orang tersebut sebagai walinya.

Makna dan Asbabun Nuzul Ayat

Abu Ja’far mengatakan bahwa ahli tafsir berselisih pendapat tentang makna ayat, termasuk asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut. Namun, sebagai seorang muslim kita tidak boleh memahaminya sepotong-sepotong, sehingga jika sesuai seleranya akan diambil, namun jika bertentangan dengan seleranya akan dibuangnya.

Perlu diketahui, bahwa diantara akhlak Ahlus Sunah wal Jamaah (ASWAJA) adalah amanah dan ilmiyah. Sifat amanah adalah hiasan bagi ilmu, laksana ruh yang menjadikan buah itu baik dan nikmat untuk dirasakan. Aswaja memiliki bukti nyata dalam sikap amanah mereka terhadap ilmu, diantaranya dalam hal penukilan ilmu. Dalam menukil pendapat, mereka tidak akan sepotong-potong, namun akan mengambilnya secara keseluruhan. Jika mereka menemukan kebenaran, maka mereka akan menerimanya walaupun bertentangan dengan hawa nafsunya.

Memang benar, sebagaimana yang disebutkan dalam broadcast tersebut bahwa Imam Ibnu Katsir –rahimahullah– dalam Al-Qur’an Al-Adzimnya menyebutkan diantara sebab turunnya ayat tersebut adalah:

As-Saddi menye­butkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang lelaki. Salah seorang dari keduanya berkata kepada lainnya sesudah Perang Uhud, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Yahudi itu, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk agama Yahudi bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau suatu hal.” Sedangkan yang lainnya menyatakan, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya.” Maka Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi “awliya” kalian….(QS. Al-Maidah: 51). hingga beberapa ayat berikutnya.

Namun, yang menjadi pertanyaan penulis, kenapa dalam tafsir tersebut penjelasan pertama setelah ayat tersebut tidak dijelaskan? Mudah-mudahan dalam hal ini tidak ada niatan untuk ditutup-tutupi.

Ibnu Katsir menyebutkan setelah ayat tersebut:

ينهى تعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى الذين هم أعداء الإسلام وأهله  -قاتلهم الله  -ثم أخبر أن بعضهم أولياء بعض، ثم تهدد وتوعد من يتعاطى ذلك فقال : (ومن يتولهم منكم فإنه منهم  إن الله لا يهدي القوم الظالمين)

Allah –Ta’ala– melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengambil wali (penolong) dari orang-orang Yahudi dan Nashrani yang mana mereka adalah musuh-musuh Islam dan para penganutnya –semoga Allah memerangi mereka-. Kemudian Dia mengabarkan bahwa sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Kemudian Allah mengancam dan menjanjikan bagi siapa yang berbuat demikian dengan berfirman: “Dan barangsiapa diantara kalian yang mengambil wali dari mereka, maka dia adalah golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dhalim.”

قال ابن أبي حاتم : حدثنا كثير بن شهاب حدثنا محمد – يعني ابن سعيد بن سابق – حدثنا عمرو بن أبي قيس عن سماك بن حرب عن عياض : أن عمر أمر أبا موسى الأشعري أن يرفع إليه ما أخذ وما أعطى في أديم واحد ، وكان له كاتب نصراني ، فرفع إليه ذلك ، فعجب عمر  – رضي الله عنه – وقال : إن هذا لحفيظ ، هل أنت قارئ لنا كتابا في المسجد جاء من الشام؟ فقال : إنه لا يستطيع أن يدخل المسجد  فقال عمر : أجنب هو؟ قال : لا بل نصراني . قال : فانتهرني وضرب فخذي ، ثم قال : أخرجوه ، ثم قرأ : ( يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض ومن يتولهم منكم فإنه منهم إن الله لا يهدي القوم الظالمين

Ibnu Katsir –rahimahullah– kemudian melanjutkan, Ibnu Abu Hathim mengatakan, “Telah menceritakan kepada kami Katsir bin Syihab, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id in Sabiq, telah menceritakan kepada kami Amr bin Abu Qubaisy dari Samak bin Harb dari Iyadh, bahwa Umar pernah memerintahkan kepada Abu Musa Al-Asy’ari untuk  melaporkan kepadanya tentang semua yang diambil dan yang diberikan (yakni pemasukan dan pengeluaran) dalam suatu catatan yang lengkap. Saat itu sekretaris Abu Musa adalah seorang Nashrani. Maka diapun melaporkan kepada Umar. Maka, Umar -radhiyallaahu ‘anhu- pun merasa heran akan hal tersebut seraya mengatakan, “Sesungguhnya orang ini benar-benar pandai, apakah engkau dapat membacakan untuk kami sebuah surat di dalam masjid yang datang dari negeri Syam?”  Abu Musa lantas menjawab, “Sesungguhnya dia tidak bisa masuk masjid (Masjidil Haram).” Maka Umar bertanya, “Apakah dia sedang junub?” Abu Musa menjawab, “Tidak, tapi dia seorang Nashrani.” Abu Musa berkata, “Maka Umar pun membentakku (dengan keras) dan memukul pahaku, kemudian mengatakan, ‘Pecatlah dia lantas beliau membaca ‘“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai auliya’… sampai akhir.” (Tafsir Al-Quran Al-Adzim, juz 3, hal. 95, Maktabah Tauqifiyyah)

Lihat, bagaimana ketegasan Umar bin Khattab dalam pengambilan seorang penulis/ sekretaris. Walaupun dia adalah seorang yang bagus kinerjanya, namun karena seorang Nashrani, Umar dengan segera memecatnya. Tak pantas bagi seorang Umar untuk meminta tolong kepada seorang kafir dalam urusan yang orang Islam sendiri ada yang mampu mengerjakannya.

Dari sini orang yang berakal dan hatinya tak buta bisa mengambil kesimpulan, bahwa hanya dijadikan sebagai penolong untuk urusan tulis-menulis saja tidak diperbolehkan. Bagaimana jika dijadikan penolong untuk mengatur urusan yang lebih besar dari itu, hingga urusan negara? Tentu hal itu lebih dilarang lagi.

Kafir berlaku adil?

Keadilan, sebuah kata yang manis di mulut dan merdu di telinga. Betapa banyak kita jumpai orang yang ingin menegakkannya. Namun, jika kita mau jujur dengan diri kita masing-masing, sejauh manakah kita mengerti hakikat keadilan dan kepada siapa saja keadilan itu harus kita terapkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullah- menjelaskan bahwa adil adalah menunaikan hak kepada setiap pemiliknya. Atau bisa juga diartikan dengan mendudukkan setiap pemilik kedudukan pada tempat yang semestinya (Huquuq Da’at Ilaihal Fithrah wa Qararat Haa Asy Syari’ah, hal. 9) Dengan demikian inti pengertian adil adalah masalah hak dan kedudukan. Dan yang bisa menegakkan keadilan seperti ini adalah orang yang benar-benar mengetahui aturan Dzat Yang Maha Adil, Allah -Ta’ala- yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, yaitu orang-orang yang beriman.

Allah -Ta’ala- memerintahkan kepada mereka dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maa’idah : 8)

Maka, kita bisa melihat dalam sejarah bagaimana saat Islam berkuasa di muka bumi ini, keadilan bisa ditegakkan dengan sebenar-benarnya sehingga sampai membuat orang-orang Yahudi dan Nashrani saat itu terpesona. Bahkan mereka lebih nyaman tinggal di negeri Islam, daripada di negeri selainnya. Itulah keadilan Islam.

Sebaliknya, pernahkah kita mendengar dalam sejarah lampau hingga hari ini, seorang kafir memimpin dengan penuh keadilan, sebagaimana keadilan yang pernah diterapkan oleh pemimpin-pemimpin Islam di masa lampau? Suatu hal yang mustahil. Dimana kita lihat, saat kafir berkuasa, Islam dan orang Islam selalu dihinakan dimana-mana.

Saudaraku, ketahuilah bahwa keadilan sebenarnya hanya bisa diterapkan oleh seorang pemimpin yang benar-benar memahami syariat. Sangat mustahil, keadilan diterapkan oleh orang yang tak paham syariat. Setiap orang yang tak paham syariat hakekatnya cacat, walaupun kebanyakan manusia terpesona  dengannya.

Seorang Ahok misalnya, bisa membuat “terpesona” banyak orang termasuk banyak diantara kaum muslimin di dalamnya. Lalu, bagaimana halnya dengan Dajjal –kita berlindung kepada Allah darinya- di saat kemunculannya, Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– mengingatkannya kepada kita bahwa saat itu kebanyakan manusia banyak yang mengikutinya disebabkan jauhnya mereka dari aturan Sang Pencipta jagad raya. Wal iyaadzu billaahi min dzaalik.

Penjelasan Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni tentang mengambil wali dari orang kafir.

Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabbuni –rahimahullah– dalam tafsirnya, Tafsir Ayatul Ahkam  (hal. 286 jilid I) mengatakan, “Sebagian ulama berdalil dengan surat Ali Imran : 28 bahwa tidak diperbolehkan mengambil seorang kafir sebagai penolong dalam urusan kaum muslimin. Dan tidak boleh juga menjadikan mereka pegawai dan pembantu, sebagaimana tidak boleh memuliakan dan menghormati mereka di majlis dan berdiri saat kedatangannya, karena dalil berkaitan dengan hal ini telah jelas. Dan kita diperintahkan untuk menghinakannya. Karena Allah –Ta’ala– berfirman: “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” (QS. At-Taubah : 28)

Jika menjadikan seorang kafir sebagai pegawai dan pembantu untuk urusan kaum muslimin saja tidak diperbolehkan, apalagi dijadikan sebagai pemimpin. LEBIH TIDAK DIPERBOLEHKAN LAGI, alias HARAM.

Semoga Allah –Ta’ala– tidak menjadikan kita sebagai orang yang buta mata hatinya. Karena sungguh, orang-orang yang buta mata hatinya, kelak di akherat Allah akan bangkitkan mereka dalam keadaan buta. Naudzubillaahi min dzaalik.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةًۭ ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”. ( QS. Thaha : 124 – 126 ).

Ditulis di bumi Allah pada hari Ahad (09/10/2016).

Iklan

Responses

  1. Mau dong gabung, jadi member grup, buat share update, saya ahli bidang IT,
    Bisa di Hub ngga ?
    Alamat email saya, Mohammad.mubarok14@gamil.com

    • Maksudnya gimana mas? Maaf, sekarang saya jarang mengelola wp.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: