Oleh: dakwahwaljihad | Maret 13, 2014

Firqoh Najiyyah dan Thoifah Manshuroh

FIRQOH NAJIYAH DAN THOIFAH MANSHUROH

 DaulahDinukil dari kitab Da’wah Al Muqowamah Al Islamiyah Al Alamiyah karangan Syaikh Mujahid Abu Mush’ab As-Suuri. Semoga Alloh membebaskannya.

Sejarah singkat tentang Syaikh: Syaikh berjihad di Afghonistan ketika Tholiban sedang berkuasa kemudian beliau membentuk sebuah muaskar (tempat latihan militer) yang diberi nama dengan Al Ghuroba’ untuk melatih para pemuda supaya memiliki pemikiran jihadi. Dan beliau sangat dekat, serta selalu saling memberi bantuan dan informasi dalam segala hal bersama para masyayikh serta para pemimpin jihad seperti syaikh Usamah bin Ladin dan syaikh Aiman Adz Dzhowahiri semoga Alloh melindungi keduanya. Juga bersama syaikh Abu Laits Al Libbiy dan syaikh Abu Hafsh Al Urduniy semoga Alloh merohmati keduanya, begitu juga dengan amirul mukminin Negara Afghonistan Mulla Umar semoga Alloh menjaganya dan menolong mereka semuanya.

Collin Powell akan memberikan hadiah sebanyak 22 milyar dollar bagi orang yang mau menyerahkan syaikh Abu Mush’ab As Suuriy kepada Amerika. Setelah berita itu sampai kepada syaikh Abu Mush’ab As Suuriy semoga Alloh membebaskannya maka kemudian beliau berkosentrasi untuk menulis kitab ini Dakwah Al Muqowamah Al Islamiyah Al Alamiyah untuk mencurahkan inti-inti pemikiran-pemikirannya secara ringkas supaya bermanfaat bagi kaum muslimin di dalam melakukan jihad untuk menegakkan syareat Alloh di muka bumi dan dapat mengembalikan kekhilafahan yang telah dirampas serta melawan orang-orang kafir dan munafikin.  Kebanyakan waktu beliau berada ditahanan dan sebagian besar beliau dipenjara di Afghonistan semoga Alloh melepaskannya dari kesusahan.

FIRQOH NAJIYAH DAN THOIFAH MANSHUROH

Diantara atsar dan perkataan ahlul ilmi tentang thoifah al manshuroh yang memperjuangkan kebenaran dan berperang di atas din ini adalah kami ringkas sebagai berikut:

Dari Muawiyah RA secara marfu’ :

لا يزال من أمتي أمة قائمة بأمر الله لا يضرهم من خذلهم ولا من خالفهم حتى يأتي أمر الله  وهم على ذالك.

“Akan selalu ada dari umatku sekelompok yang menegakkan perintah Alloh tidak membahayakan orang-orang yang mencela dan menyelisihi mereka hingga datang urusan Alloh dan mereka dalam keadaan seperti itu”. (HR. Al Bukhori, 3641).

Dari Jabir bin Samuroh secara marfu’ :

لن يبرح هذا الدين قائما يقاتل عليه عصابة من المسلمين حتى تقوم الساعة

“Sekali-kali akan selalu ada dari din ini sekelompok dari kaum muslimin  yang berperang karena  din hingga datang hari kiamat”. (HR. Muslim XIII/66).

Dari Jabir secara marfu’ :

لا تزال طائفة من أمتي بقاتلون على الحق ظاهرين إلى يوم القيامة

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang diatas kebenaran yang selalu menang hingga hari kiamat”. (HR. Muslim XIII/66).

Di dalam riwayat An Nasaa’iy III/214 dari Salamah bin Nufail Al Kindi dia berkata:

كنت جالسا عند رسول الله فقال رجل يا رسول الله أذال الناس الخيل ووضعوا السلاح وقالوا لا جهاد قد وضعت الحرب أوزارها فأقبل رسول الله بوجهه وقال : “كذبوا الآن جاء القتال ولا يزال من أمتي أمة يقاتلون على الحق ويزيغ الله لهم قلوب أقوام ويرزقهم منهم حتى تقوم الساعة وحتى يأتي وعد الله والخيل معقود في نواصيها الخير إلى يوم القيامة وهو يوحى إلي أني مقبوض غير ملبث وأنتم تتبعوني أفنادا يضرب بعضكم رقاب بعض و عقر دار المؤمنين الشام

“Aku sedang duduk bersama Rosululloh Saw kemudian seseorang berkata kepada beliau: Wahai Rosululloh! Manusia telah melalaikan kuda perang, dan telah meletakkan pedang mereka seraya berkata: tidak ada jihad lagi dan peperangan telah usai, maka kemudian Rosululloh menghadapkan wajah kepadanya dan bersabda: Mereka telah berdusta, sekarang ini telah datang waktunya untuk berperang dan akan selalu ada dari umatku sekelompok orang yang berperang diatas kebenaran dan Alloh mencondongkan hati suatu kaum kepada mereka dan memberi rezeki dari mereka hingga datang hari kiamat nanti dan hingga datang janji Alloh. Kuda-kuda perang tertambat kebaikan diubun-ubunnya hingga hari kiamat. Dan Alloh telah mewahyukan kepadaku bahwa aku akan dicabut nyawanya tidak lama lagi dan kalian akan mengikutiku dengan berkelompok-kelompok yang sebagian kalian akan menyerang sebagian yang lainnya dan pusat negeri kaum muslimin adalah Syam”.

Dari Mughirah secara marfu’ :

لا يزال ناس من أمتي يقاتلون على الحق ظاهرين حتى يأتيهم أمر الله

“Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang berperang diatas kebenaran dan akan menang hingga datang urusan Alloh”. (HR. Ahmad IV/248).

Dari Muawiyah secara marfu’:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين ولا يزال عصابة من المسلمين يقاتلون على الحق ظاهرين على من ناوأهم إلى يوم القيامة

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Alloh maka dipahamkan dengan din, dan akan selalu ada sekelompok dari kaum muslimin yang berperang diatas kebenaran dan akan menang bagi orang yang menolongnya hingga hari kiamat nanti”. (HR. Muslim 67/13).

Dari Muawiyah secara marfu’:

لاتقوم الساعة إلا وطائفة من أمتي ظاهرين على الناس لا يبالون من خذلهم ولا من نصرهم

“Tidak akan terjadi hari kiamat melainkan akan selalu ada sekelompok dari umatku yang menang atas manusia, tidak menghiraukan orang-orang yang mencela mereka dan orang-orang yang tidak menolong mereka”. (HR. Ibnu Majah 9).

Di dalam kitab Al Umdah fi I’daadil Uddah karangan syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz semoga Alloh meridhoinya dan membebaskannya serta menghilangkan kesusahannya disebutkan sebuah judul apakah firqoh najiyah itu adalah thoifah manshuroh? Beliau menyebutkan: “Telah tercantum pada sebagian besar buku-buku akidah bahwa firqoh najiyah (ahlus sunnah wal jama’ah) adalah thoifah manshuroh (contohnya bisa dilihat di dalam bab terakhir dari kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah karangan Ibnu Taimiyyah, begitu juga di dalam muqoddimah kitab Ma’arijul Qobul karangan Al Hafidz Hakami dan lain-lain). Namun pendapat yang kuat menurutku bahwa firqoh dan thoifah itu dua nama yang tidak sama, dan bahwa thoifah itu bagian dari firqoh. Dan thoifah manshuroh adalah sebagian atau beberapa orang dari firqoh najiyah yang melakukan pembelaan terhadap din baik dengan ilmu maupun jihad yang berada diatas manhaj dan aqidah yang benar. Lebih lanjut dari hal itu kami katakan juga bahwa mujaddid (pembaharu dalam islam) adalah salah seorang personil dari thoifah manshuroh yang telah melaksanakan kewajiban din yang paling penting pada zamannya. Menurut pendapat jumhur bahwa seorang mujaddid itu hanya satu orang. Dalil saya dalam hal ini saya sebutkan sebagai berikut:

1. Firman Alloh ta’ala:

فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقه في الدين

“Mengapa tiap-tiap golongan tidak mengutus sekelompok orang dari mereka untuk mencari ilmu agama”. (At Taubah: 122).

Ayat ini membedakan antara firqoh dengan thoifah, dan menerangkan bahwa thoifah adalah sebagian dari firqoh, dan bahwa dia adalah bagian dari firqoh yang melaksanakan perintah dalam mencari ilmu dan berjihad. Sebagaimana yang diterangkan di dalam tafsir tentang ayat ini (lihat di dalam tafsir Ibnu Katsir).

2. Ilmu dan jihad. Keduanya adalah sifat dan ciri yang paling utama dari thoifah manshuroh, asal perintah dan disyareatkan keduanya adalah fardhu kifayah, yang diwajibkan kepada sebagian saja dan bukan kepada semuanya dari generasi umat ini untuk melaksanakannya. Sebagian orang dari umat yang melaksanakan perintah untuk mencari ilmu dan berjihad inilah disebut dengan thoifah manshuroh.

Maksud dari pembahasan ini adalah bahwa setiap muslim hendaknya berusaha untuk menjadi bagian dari thoifah manshuroh ini yang melakukan pembelaan terhadap din dengan ilmu, dakwah dan jihad. Alloh berfirman:

و في ذالك فليتنافس المتنافسون

“Dan dalam hal demikian maka manusia hendaklah saling berlomba-lomba.”.(Al Muthoffifin : 26).

Saya katakan oleh karena itu thoifah kadang-kadang firqoh itu sendiri secara keseluruhan, namun hal itu terjadi nanti diakhir zaman ketika kaum muslimin berkumpul menuju Syam dan turun nabi Isa Alaihis Salam kepada mereka untuk memerangi dan membunuh dajjal, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadits yang shohih.

Dalam hal ini banyak sekali riwayat yang menyebutkan bahwa thoifah manshuroh akan berada di Syam atau baitul maqdis – hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah – dan hal ini merupakan akhir dari penyandaran kepada thoifah manshuroh secara mutlak. Sedangkan masa sebelum zaman ini, thoifah kadang berada di Syam atau di tempat yang lainnya. Lihat perkataan pengarang kitab Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid di dalam menjelaskan tentang thoifah, cetakan Anshorus Sunnah hal 278-279. wallohu a’lam. (Al Umdah Fi I’dadil Uddah : 78).

Saya katakan (semoga Alloh memberi petunjuk): “kesimpulan dari apa yang telah disebutkan, bahwa para ulama mensifati macam-macam thoifah manshuroh sebagai berikut:

1. Ahlul ilmi (orang yang berilmu) dengan kitab dan sunnah.

2. Orang yang berdakwah dan beramar ma’ruf dan nahi munkar.

3. Orang yang berjihad dan berperang di jalan Alloh.

Dan yang nampak kuat menurut saya dari gabungan seluruh pendapat ini – wallohu a’lam – sebagai berikut:

1. Sesungguhnya kebanyakan para salaf yang mengatakan bahwa thoifah itu adalah ahlul ilmi dan ahlul hadits mereka berpendapat karena mereka orang-orang yang paling dahulu menuju medan jihad dan perang jika jihad itu menjadi fardhu ain dan jika fardhu kifayah dalam berjihad itu belum terpenuhi, bahkan disebutkan dari beberapa salaf bahwa dia masuk ke dalam medan peperang sebanyak seratus kali bukan maksudnya untuk berperang namun hanya untuk mencari hadits, disebabkan banyaknya ahlul hadits di tempat-tempat ribath dan medan-medan jihad. Ini ketika ahlul hadits adalah ahlul jihad bukan ketika kebanyakan yang menjadi ahlul hadits adalah ahlu qila wa qoola (katanya dan katanya) serta banyak bertanya.

Sesungguhnya thoifah manshuroh itu merekalah yang pertama kali mendapatkan kewajiban yang paling penting dan paling didahulukan pada zaman mereka dari tiga sisi ini – ilmu – dakwah dan amarma’ruf nahi munkar – perang dan jihad –

Seperti pada zaman Al Bukhori dan Imam Ahmad rh, khilafah islamiyah dalam keadaan kuat dan berkuasa serta mampu memerangi musuh, memberlakukan jizyah dan kehinaan kepada orang-orang kafir disekitarnya, sehingga mereka bebas untuk menjadi thoifah manshuroh dari kalangan orang-orang seperti mereka para imam yang dapat melakukan kewajiban yang paling utama dan didahulukan, yaitu berilmu dengan sunnah dan jihad terhadap kebid’ahan yang merupakan jihad berbentuk penjelasan, atau mereka orang-orang yang dapat melakukan jihad terhadap para imam bathil dan pemimpin yang fasik, dari kalangan yang berbuat dholim dan melakukan bid’ah seperti sikap imam Ahmad rh terhadap seorang kholifah dari bani Abbasiyah dan bid’ah yang mengatakan bahwa qur’an adalah makhluk, karena medan perang waktu itu kosong dan tidak ada musuh yang menyerang umat.

Namun berbeda dengan apa yang kita dapatkan pada masa Ibnu Taimiyah yang menjadikan pasukan Syam dan Mesir – padahal di dalamnya terdapat kebid’ahan dan kebodohan – sebagai orang-orang khusus dari keumuman kaum muslimin untuk bergabung dengan thoifah manshuroh, supaya dapat mempertahankan diri dari musuh yang menyerang agama Alloh dan kesatuan kaum muslimin, walaupun mereka tidak memiliki sifat-sifat orang yang berilmu dan ketika itu orang-orang Mamalik tidak terdapat ahlul hadits (orang yang ahli hadits) sebagaimana yang telah diketahui, bahkan secara umum mereka itu bodoh dan kebid’ahan lebih dekat dengan mereka daripada ilmu, namun mereka itu berada di medan perang yaitu mempertahankan diri dari musuh.

2. Tidak diragukan lagi bahwa perang tanpa disertai dengan ilmu dari din Alloh dan tanpa dilandasi dengan dasar yang benar walaupun pelakunya mendapatkan pahala dengan niat mereka di dalam mempertahankan diri dari musuh Alloh dalam menjaga din, jiwa dan kehormatan serta harta, tidak menjadikan para pelakunya memiliki sifat thoifah manshuroh yang memperjuangkan kebenaran secara sempurna. Karena mereka tidak memperjuangkannya diatas kebenaran dan tidak menegakkan perintah Alloh secara sempurna dan menyeluruh kecuali dengan ilmu dan disertai jihad.

3. Tidak mesti setiap individu dari thoifah manshuroh itu ahlul ilmi, akan tetapi cukup bagi orang yang memiliki perintah dan kepemimpinan telah terpenuhi sifat-sifat umum ahlul ilmi, ahlud dakwah dan ahlul jihad. Sehingga dihukumi sebagai thoifah dengan kepemimpinan dibawah satu bendera secara umum, baik manhaj maupun mu’taqod (keyakinan).

4. Terakhir – dan tidak diragukan lagi – bahwa harus diterangkan bahwa kesempurnaan di dalam thoifah manshuroh dan para pemimpinnya itu adalah menghimpun ilmu menuju dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar hingga menuju peperangan dan tetap teguh diatasnya, sebagaimana keadaan para imam kaum muslimin yang agung seperti Ibnu Mubarok rh, beliau termasuk tokoh para ulama islam, tokoh ahlul hadits dan fiqh dan juga tokoh dari para mujahidin yang berjaga-jaga diperbatasan medan jihad, begitu juga dengan imam Ibnu Taimiyah rh, beliau juga termasuk tokoh para mujahidin setiap musuh datang, termasuk diantara mereka adalah imam yang agung Al Izz bin Abdus Salam beliau juga termasuk tokoh para ulama dan mujahidin pada masanya yaitu masa Tatar.

5. Kesimpulannya adalah bahwa thoifah manshuroh adalah thoifah yang menegakkan perintah Alloh, menampakkan kebenaran yang telah tetap, tidak membahayakan bagi mereka orang-orang yang mencela dan menyelisihi mereka, dan berperang diatas din ini. Sudah sangat jelas bahwa perang dan jihad adalah sifat yang paling istimewa dan utama menurut nash-nash yang ada (hingga hampir-hampir menjadi syarat bagi mereka), apalagi jika jihad itu hukumnya menjadi fardhu ain atau belum terpenuhinya fardhu kifayah sebagaimana keadaan kita hari ini. Maka tidak mungkin bagi thoifah manshuroh yang menampakkan kebenaran – dan mereka itu umat islam pilihan – akan meninggalkan kewajiban yang paling wajib setelah mereka beriman pada masa mereka, yaitu mempertahankan diri dari musuh dengan melalui peperangan.

Jika begitu keadaannya sebagaimana yang telah disebutkan maka siapakah thoifah manshuroh pada zaman ini? Di sini kita wajib untuk mengetahui gambaran dan ciri-ciri zaman sekarang ini. Gambaran itu akan menjadi suatu pengetahuan yang dapat dimengerti oleh akal, pemahaman dan pandangan secara pasti.

Pertama: Negeri-negeri islam dari ujung barat hingga ujung timur telah dikuasai oleh musuh Yahudi atau Nashroni atau sekuler atau komunis atau orang-orang musyrik penyembah patung, baik diperangi dan dijajah secara langsung dan terang-terangan sebagaimana keadaan negeri palestina dan Syam secara umum, juga Bosnia dan Checnya serta Negara di tengah Asia dan Turkistan Timur yang telah dijajah oleh Cina. Juga Kasymir yang telah dijajah oleh India, serta negeri-negeri lain yang tidak diketahui kecuali oleh Alloh ta’ala dibawah kekuasaan kafir asli. Atau dengan bentuk secara tidak langsung dalam bentuk penyerahan kekuasaan kafir asli kepada orang-orang murtad seperti kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin yang lainnya.

Kedua: Seluruh negeri islam dari ujung barat hingga ujung timur, para pemerintah murtad telah sangat jauh meninggalkan syareat Alloh, dan bahkan terang-terangan menyatakan permusuhan, dan mereka menghukumi dengan selain apa yang telah diturunkan oleh Alloh, mereka mengganti syareat Alloh dan mengangkat pemimpin dari musuh-musuh Alloh.

Ketiga: Seluruh negeri islam baik orang islam secara umum maupun orang yang beragama dan berdakwah serta beriltizam dengan islam secara khusus telah dihinakan. Kedzoliman, kefasikan, pembunuhan, pelecehan kehormatan, penjara dan siksaan yang telah diketahui baik oleh orang yang pandai maupun orang awam.

Apakah masuk akal dalam keadaan seperti ini akan kita katakan bahwa thoifah manshuroh pada hari ini adalah mereka orang-orang yang tidak menghiraukan ini semua, dan mereka malah menyibukkan diri untuk mencari dan meneliti sanad-sanad hadits, mengarang kitab-kitab dan meriwayatkan hadits?!

Apakah masuk akal bahwa thoifah manshuroh adalah orang-orang yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin sedikitpun dan hanya menyibukkan diri untuk beribadah dan mengulang-ulang wirid serta menyendiri dipojok-pojok masjid?!

Apakah masuk akal bahwa thoifah manshuroh adalah orang-orang yang tidak membahas semua tragedi-tragedi diatas dengan mulut mereka, kemudian kesibukan mereka tidak lebih hanya menjernihkan akidah yang benar menurut mereka, dan memerangi penyembah kuburan dan makam-makam serta syirik terhadap orang-orang yang sudah mati?! Padahal kekufuran telah menguasai mereka dan ada disekeliling mereka, dan kefasikan serta kemaksiatan telah masuk pada mereka dan telah masuk ke dalam rumah-rumah kaum muslimin dengan segala macam media informasi. Dan keadaan mereka bersama kekafiran merasa senang.

Atau apakah thoifah manshuroh itu adalah mereka orang-orang yang duduk dan tinggal di negeri kafir dan ditengah-tengah mereka kemudian mereka berdakwah dan memfatwakan hukum-hukum jihad dan hijroh?! Serta mereka membuka pusat-pusat islam sesuai dengan islam menurut pandangan barat.

Atau kalian berpendapat mereka adalah orang-orang yang duduk dibawah pemerintahan murtad atau kafir, bekerja untuk mencari harta, istri dan anak, lalu mereka menggigit daging para mujahidin fi sabilillah dan orang-orang yang hijroh kepada Alloh, dengan berbagai macam tuduhan, baik tuduhan tergesa-gesa, menghancurkan dakwah, terlalu cepat dalam melewati tahapan, kemaslahatan bendera dan terlalu banyak bicara?!!

Kami tidak ragu untuk sementara waktu menyimpulkan bahwa thoifah manshuroh pada zaman ini dan dalam keadaan seperti ini, mereka itu adalah ahlul jihad (orang-orang yang berjihad)…. Orang-orang yang berperang… orang-orang yang memegang senjata, para mujahidin dibawah bendera Laa ilaaha illalloh Muhammadur Rosululloh, mereka yang mempertahankan diri dari musuh kafir dan murtad.

DR. Abdul Qodir bin Abdul Aziz hafidzohulloh pengarang kitab (Al Umdah fii I’daadil Uddah) mengatakan di akhir perkataannya tentang thoifah manshuroh siapakah mereka dan bagaimana mereka, serta perkataan ahlul ilmi dalam hal itu. Dia berkata pada halaman ke 80 yang berjudul “Kewajiban yang paling utama bagi thoifah manshuroh pada zaman ini”:

“Dan sungguh kewajiban yang paling besar bagi thoifah manshuroh pada zaman ini adalah jihad melawan pemerintah murtad yang telah mengganti syareat Alloh dan yang menghukumi kaum muslimin dengan undang-undang kafir” hingga beliau berkata: “Dan kerusakan para penguasa tersebut  adalah penggantian mereka akan syareat dan pemahaman islam, serta tersebarnya kejahatan mereka kepada kaum muslimin, jika para sahabat ra hidup pada hari ini sungguh pasti amalan mereka yang paling besar adalah jihad melawan para pemerintah ini”. Hingga beliau berkata: “Dan saya belum melihat seorangpun yang mengatasnamakan dirinya kepada ilmu syar’iy pada zaman kita ini yang mengatakan tentang masalah ini sebagai kemungkaran dan menghasung kaum muslimin untuk berjihad, saya tidak melihat orang yang seperti ini hingga dia bertemu dengan Alloh melainkan Alloh dalam keadaan murka kepadanya. Alloh ta’ala berfirman:

إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات والهدى من بعد ما بيناه للناس في الكتاب أولئك يلعنهم الله ويلعنهم اللاعنون

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk setelah apa yang telah kami terangkan kepada manusia di dalam al kitab maka mereka itu dilaknat oleh Alloh dan dilaknat oleh makhluk yang dapat melaknat” (QS. Al Baqoroh : 159).

Jika begitu sungguh musuh kafir telah masuk dan bergabung dengan musuh orang-orang murtad dan munafiq, jika thoifah manshuroh adalah orang-orang pilihan dari pemeluk agama ini, maka tidak mungkin dia akan meremehkan kewajiban yang paling utama setelah bertauhid – yaitu mempertahankan diri dari musuh – dengan alasan melaksanakan amalan yang menurut ijma’ para ulama dibawah kewajiban tersebut diatas. Karena orang yang melakukan hal itu maka dia termasuk dari thoifah al mad-huroh (yang kalah dan terusir) bukan dari thoifah al manshuroh (yang menang), sesungguhnya dia termasuk dari kelompok yang qoidun (duduk-duduk) dan lari dari peperangan, inilah hukumnya. Kita telah dikejutkan dengan kedatangan musuh ke negeri kita, maka thoifah manshuroh pada zaman ini adalah mereka yang membawa pedang dan bendera jihad untuk mempertahankan diri dari musuh ini:

Pertama: Mempertahankan diri dari musuh kafir asli yaitu Yahudi, Nashroni, orang-orang musyrik, sekuler, dan orang-orang murtad serta para penolong mereka.

Mempertahankan diri dari mereka dengan senjata dan pedang dan ini merupakan jihadus sinan (jihad dengan pedang dan tombak). Barang siapa yang melakukan hal itu maka dia termasuk keturunan thoifah manshuroh, penolongnya dan pelakunya baik dia sendirian maupun secara berjama’ah.

Kedua: Mempertahankan diri dari musuh kaum munafiqin dan orang-orang yang mendebat tentang musuh-musuh dengan kebathilan dari kalangan para ulama penguasa dan dai-dai yang berbuat bid’ah, penggembos dan pelemah semangat kaum muslimin. Kita mempertahankan diri dari mereka dengan hujjah dan keterangan, dengan firman Alloh dan sabda Rosululloh, dan ini adalah merupakan jihadul bayan (jihad dengan penjelasan) yang telah diterangkan oleh para ulama’. Barang siapa yang melaksanakannya pada hari ini dan dalam melakukan itu dia mendapatkan kesulitan dengan menjadi buronan atau diperangi atau dicela maka dia termasuk penolong thoifah manshuroh dan kami ingin supaya dapat berkumpul dengan mereka. namun mereka bukan orang yang berperang selama dia tidak memiliki udzur syar’iy, dan itu sudah jelas bagi kami.

Sedangkan orang yang menyatukan pedang dengan pena dan peluru dengan pena dari bulu, juga menyatukan peperangan dengan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar, maka tidak diragukan lagi dia termasuk tokoh dan pentolan thoifah manshuroh, termasuk pemimpin dan ulama thoifah manshuroh juga termasuk dainya para mujahidin, dan tidak diragukan lagi derajat mereka lebih tinggi dari dua kelompok diatas.

Kita memohon kepada Alloh yang maha tinggi dan maha mampu dengan rohmat dan keutamaannya yang Alloh berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, untuk menjadikan kita termasuk dari thoifah manshuroh dan dapat bersama dengan mereka, baik di dunia maupun diakhirat dibawah satu bendara Nabi kita Muhammad Saw.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: