Oleh: dakwahwaljihad | September 12, 2013

Ustadz Mudzakir Berdusta dan Melebih-lebihkan Kisah Pembunuhan Terhadap Husein radhiyallaahu ‘anh

USTADZ MUDZAKIR BERDUSTA DAN MELEBIH-LEBIHKAN KISAH PEMBUNUHAN TERHADAP HUSEIN RADHIYALLAAHU ‘ANH

Oleh: Mujiburrahman Abu Sumayyah

mudzakir1Tidak ada suatu kaum yang kebenciannya terhadap Yazid bin Mu’awwiyah melebihi kebencian kalangan Syi’ah terhadapnya. Diantara penyebab kebencian Syi’ah terhadapnya karena Yazid karena disamping seorang anak dari Mu’awwiyah, seorang yang “memberontak” Ali radhiyallaahu  ‘anh, dia juga dianggap sebagai seorang yang memerintahkan pasukannya untuk membantai Husein radhiyallaahu  ‘anh, keluarganya, dan orang-orang yang bersamanya di padang Karbala. Peristiwa tersebut sangat memukul hati kalangan Syi’ah hingga saat ini. Sehingga, untuk melampiaskan kebencian mereka terhadap Yazid, mereka menjelek-jelekkannya, menghinanya, melaknatnya, bahkan mengkafirkannya dan memvonisnya masuk neraka.

Itulah keyakinan mereka yang mendarah daging yang tidak bisa dirubah sejak dulu hingga mereka lenyap dari muka bumi ini. Sehingga, ketika kita mendengar ada seseorang yang menjelek-jelekkan Yazid atau bahkan melaknatnya, maka orang tersebut bisa dipastikan sebagai seorang Syi’ah atau yang terinveksi virus Syi’ah.

Namun, tak pernah disangka-sangka sebelumnya, seorang ustadz di Solo yang terkenal “kealimannya”, Ustadz Mudzakir mengatakan dalam ceramahnya di Istiqlal, “Dan bahwa Husein radhiyallaahu ‘anh itu mati dipenggal kepalanya atas perintah Yazid bin Mu’awwiyah. Dan kemudian kepalanya ditendang-tendang, diseret-seret dibawa dihadapkan ke Yazid dan lain sebagainya, itu tertera dalam kitab-kitab Shahih kita.”

Mengejutkan memang pernyataan beliau tersebut. Pernyataan yang menjerumuskan beliau ke dalam dua kemungkinan, Syi’ah atau seorang yang terkena virus Syi’ah. Karena salah satu sifat seorang Syi’ah atau yang terkena virus Syi’ah adalah gemar melakukan kedustaan  dan berlebih-lebihan dalam membicarakan Yazid bin Mu’awwiyah.

Bagi yang tidak paham dengan sejarah yang sesungguhnya, ketika mendengarkan pernyataan beliau ini kemungkinan hanya akan mengangguk-anggukkan kepalanya, dalam artinya membenarkan pernyataannya tersebut. Namun, bagi yang paham dengan sejarah Islam, maka minimal hatinya akan memberontak walaupun dalam majelis tersebut lisannya tak berani mengucapkannya.

Apa yang saya tulis ini bukanlah vonis personal, akan tetapi sebagai bentuk tanggungjawaban di hadapan Allah kelak, yaitu meluruskan pemahaman beliau yang salah kaprah agar umat paham bahwa ternyata beberapa pemahaman beliau menyimpang dari pemahaman ulama Ahlus Sunnah, dalam hal ini tentunya berkaitan dengan status Yazid bin Mu’awwiyah. Sehingga kita akan mengetahui benarkah Yazid memerintahkan pasukannya untuk membantai Husein? Benarkah kepala Yazid diseret-seret, ditendang-tendang dan dibawa ke Yazid? Dan benarkah kejadian ini tertera di kitab-kitab Shahih Ahlus Sunnah? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak pembahasan berikut ini.

Sekilas Tentang Terbunuhnya Imam Husein

Agar pembaca bisa memahami secara runtut persoalan yang akan kita bahas ini dan tidak salah kaprah, maka saya mulai dengan kisah ringkas yang sebenarnya terjadi tentang terbunuhnya Imam Husein sebagaimana yang telah dijelaskan oleh ulama Ahlus Sunnah.

Husein bin Ali radhiyallaahu  ‘anhuma tinggal di Mekah bersama beberapa shahabat Nabi, seperti Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu Zubair radhiyallaahu  ‘anhuma. Ketika Mu’awwiyah radhiyallaahu  ‘anhu meninggal dunia pada tahun 60 H, anak beliau Yazid bin Mu’awwiyah menggantikan posisinya sebagai khalifah. Saat itu, penduduk Irak yang didominasi oleh kalangan Syi’ah menulis surat kepada Husein radhiyallaahu  ‘anhuma meminta beliau radhiyallaahu  ‘anhuma pindah ke Kuffah (Irak). Sehingga disebutkan dalam riwayat bahwa surat yang terkumpul mencapai puluhan ribu.[1] Mereka berjanji akan membai’at Husein radhiyallaahu  ‘anh sebagai khalifah karena mereka tidak menginginkan Yazid bin Mu’awwiyah menduduki jabatan khalifah. Tidak cukup dengan surat, mereka terkadang mendatangi Husein radhiyallaahu  ‘anhuma di Mekah mengajak beliau radhiyallaahu  ‘anhu berangkat ke Kufah dan berjanji akan menyediakan pasukan. Para sahabat seperti Ibnu Abbâs radhiyallaahu  ‘anhuma kerap kali menasehati Husein radhiyallaahu  ‘anh agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husein, Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu  ‘anh, dibunuh di Kuffah dan Ibnu Abbas radhiyallaahu  ‘anhuma khawatir mereka membunuh Husein juga di sana. Husein radhiyallaahu  ‘anh mengatakan, “Saya sudah melakukan istikharah dan akan berangkat ke sana.”

Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau mengambil keputusan ini karena belum mendengar kabar tentang sepupunya Muslim bin ‘Aqil yang telah dibunuh di sana. Pada akhirnya, berangkatlah Husein radhiyallaahu  ‘anh bersama keluarga menuju Kuffah.

Sementara di pihak yang lain, Yazid bin Mu’awwiyah mengutus Ubaidullah bin Ziyad[2] untuk mengatasi pergolakan di Irak. Akhirnya, Ubaidullah dengan pasukannya berhadapan dengan Husein radhiyallaahu  ‘anh bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Kuffah. Pergolakan ini sendiri dipicu oleh orang-orang yang hendak memanfaatkan Husein radhiyallaahu  ‘anh. Dua pasukan yang sangat tidak imbang ini bertemu, sementara orang-orang Syi’ah Kuffah yang membujuk Husein dan berjanji akan membantu dan telah menyiapkan pasukan berani mati, tak satupun dari mereka yang kelihatan batang hidungnya untuk menolong Husein. Alih-alih menolong Husein radhiyallaahu  ‘anh, justru mereka melarikan diri meninggalkan Husein dan keluarganya yang berhadapan dengan pasukan Ubaidullah di padang Karbala. Pada akhirnya, terbunuhlah Husein sebagai orang yang terdhalimi dan sebagai syahid. Kepalanya dipenggal, lalu dibawa ke hadapan Ubaidullah bin Ziyad dan kepala itu diletakkan di bejana.

Lalu Ubaidullah yang durhaka ini kemudian menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husein, padahal di situ ada beberapa shahabat diantaranya Anas bin Malik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami radhiyallaahu  ‘anhum.

Ustadz Mudzakir Berdusta dan Melebih-lebihkan Kisah Terbunuhnya Imam Husein

1240396_402694689831407_101881119_nBerbeda dengan apa yang telah dijelaskan oleh ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka, Ustadz Mudzakir justru menjelaskan, “Dan bahwa Husein radhiyallaahu ‘anh itu mati dipenggal kepalanya atas perintah Yazid bin Mu’awwiyah. Dan kemudian kepalanya ditendang-tendang, diseret-seret dibawa dihadapkan ke Yazid dan lain sebagainya, itu tertera dalam kitab-kitab Shahih kita.”

Satu pernyataan, tiga kedustaan, yaitu:

  1. Yazid memerintahkan memenggal kepala Husein.
  2. Kepala ditendang-tendang dan diseret-seret untuk dihadapkan ke Yazid.
  3. Kisah tersebut terdapat di kitab-kitab shahih Ahlus Sunnah.

Cukuplah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberikan jawaban kepada kita, beliau mengatakan, “Orang-orang yang meriwayatkan pertikaian Husein radhiyallaahu  ‘anh telah memberikan tambahan dusta yang sangat banyak, sebagaimana juga mereka telah membubuhkan dusta pada peristiwa pembunuhan terhadap ‘Utsman radhiyallaahu  ‘anh, sebagaimana mereka juga memberikan tambahan cerita (dusta) pada peristiwa-peristiwa yang ingin mereka besar-besarkan, seperti dalam riwayat mengenai peperangan, kemenangan dan lain sebagainya. Para penulis tentang berita pembunuhan Husein radhiyallaahu  ‘anh, ada diantara mereka yang merupakan ahli ilmu (ulama) seperti al-Baghawi rahimahullah dan Ibnu Abi Dunya dan lain sebagainya. Namun demikian, diantara riwayat yang mereka bawakan ada yang terputus sanadnya. Sedangkan yang membawakan cerita tentang peristiwa ini dengan tanpa sanad, kedustaannya sangat banyak.”[3]

Untuk membuktikan kedustaan dan cerita yang dilebih-lebihkan oleh ustadz Mudzakir, maka mari kita baca riwayat yang dibawakan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya. Dan ini adalah riwayat yang paling shahih.

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu  ‘anh, dia mengatakan, “Kepala Husein dibawa dan didatangkan kepada Ubaidullah bin Ziyad. Kepala itu ditaruh di dalam bejana. Lalu Ubaidullah bin Ziyad menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husein. Anas radhiyallaahu  ‘anhu mengatakan, “Diantara Ahlul Bait, Husein adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Saat itu, Husein radhiyallaahu  ‘anh disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam).” (HR. al-Bukhari, no. 3748)

Dalam riwayat ath-Thabrani, Zaid bin Arqam radhiyallaahu  ‘anh mengatakan, “Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husein radhiyallaahu  ‘anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan, “Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu.”

Demikian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Malik radhiyallaahu  ‘anh. Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya, “Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium tempat dimana engkau menaruh pedangmu itu.” Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya.

Demikianlah kejadiannya, setelah Husein radhiyallaahu  ‘anh terbunuh, kepala beliau dipenggal dan ditaruh di bejana. Dan mata, hidung dan gigi beliau ditusuk-tusuk dengan pedang. Para shahabat yang menyaksikan hal ini meminta kepada Ubaidullah, seorang durhaka ini, agar menyingkirkan pedang itu, karena mulut Rasulullah pernah menempel di bagian tersebut. Alangkah tinggi rasa hormat mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan alangkah sedih hati mereka menyaksikan cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang kesayangan beliau dihinakan di depan mata mereka.

Dari sini, kita mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh Ustadz Mudzakir kemungkinan bersumber dari riwayat-riwayat yang dha’if atau maudhu’, atau kisah-kisah yang terdapat dalam kitab-kitab Syi’ah, atau bahkan kemungkinan hanyalah karangan yang dibuat-buatnya sendiri. Cerita-cerita yang disebutkan ustadz Mudzakir tersebut kita hanya akan mendengarnya dari kalangan Syi’ah yang dengki atau agen-agennya yang pro-Syi’ah yang gemar membawakan riwayat-riwayat palsu.

Syaikhul Islam Taimiyyah rahimahullah menambahkan, “Dalam riwayat dengan sanad yang majhul dinyatakan bahwa peristiwa penusukan ini terjadi di hadapan Yazid, kepala Husein radhiyallaahu  ‘anhuma dibawa ke hadapannya dan dialah yang menusuk-nusuknya gigi Husein radhiyallaahu  ‘anhuma. Disamping dalam cerita (dusta) ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa cerita ini bohong, maka (untuk diketahui juga-red) para shahabat yang menyaksikan peristiwa penusukan ini tidak berada di Syam, akan tetapi di negeri Irak. Justru sebaliknya, riwayat yang dibawakan oleh beberapa orang menyebutkan bahwa Yazid tidak memerintahkan Ubaidullah untuk membunuh Husein.”[4]

braah01Bahkan hal ini pun diyakini oleh seorang ulama Syi’ah kontemporer, Prof. Abdurrasul Ghaffari, dia menjelaskan dalam kitabnya Karamaatul Imam al-Husein bahwa Yazid bin Muawiyah tidak menyetujui pembunuhan Imam Husein oleh bala pasukannya. Bahkan menurut keterangan dari ulama Syiah ini, Yazid bin Mu’awwiyah murka kepada Syamir  bin Dzul Jausyan, qabbahahullah, sang pembunuh Imam Husein.

Dia menyebutkan, “Syamir masuk menemui Yazid untuk meminta imbalan, ia berkata, “Penuhilah kendaraanku dengan perak dan emas, karena saya telah membunuh manusia terbaik” Syamir melihat Yazid dengan penuh curiga, Yazid berkata, “Penuhilah kendaraanmu dengan kayu bakar dan api, celaka kamu, jika kamu tahu bahwa dia adalah manusia terbaik, kenapa kamu justru membunuhnya dan membawa kepalanya kepadaku?! Menjauhlah dariku, tidak ada imbalan dariku kepadamu!” Setelah itu, Yazid memukulnya dengan gagang pedangnya. Kemudian Syamir yang terlaknat itu keluar dengan ketakutan, ia telah rugi di dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat besar.[5]

hkaek02

Jadi, sebenarnya Yazid sendiri tidak pernah memerintahkan Ibnu Ziyad untuk membunuh Husein. Justru Yazid sangat menyesalkan terjadinya peristiwa menyedihkan itu. Karena Mu’awwiyah berpesan agar berbuat baik kepada kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka saat mendengar kabar bahwa Husein dibunuh, mereka sekeluarga menangis dan melaknat ‘Ubaidullah. Hanya saja kesalahan dia tidak menghukum dan mengqisas Ubaidullah, sebagai wujud pembelaan terhadap Husein secara tegas.[6]

Pada intinya, Husein radhiyallaahu  ‘anh memang dibunuh dan kepalanya dipenggal, akan tetapi cerita tentang kepalanya diarak, apalagi sampai ditendang-tendang (sebagaimana kata ust. Mudzakir), dan wanita-wanita dinaikkan kendaraan tanpa pelana dan dirampas, semuanya dhaif (lemah) dan maudhu’ (palsu). Alangkah banyak riwayat dha’if bahkan maudhu’ seputar kejadian menyedihkan ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di atas.

Sebenarnya masih banyak cerita-cerita dusta tentang pertumpahan darah yang terjadi di Karbala. Tambahan-tambahan dusta itu memang sengaja dibuat oleh kalangan Syi’ah dengan tujuan untuk menimbulkan dan memunculkan fitnah perpecahan di tengah kaum muslimin.

Setelah point yang pertama dan kedua terjawab, maka point yang ketiga bahwa ustadz Mudzakir mengatakan kisah yang disebutkannya tersebut berada dalam kitab-kitab Shahih Ahlus Sunnah. Ini adalah pembohongan public yang kesekian kalinya. Wal iyaadzu billaah. Kitab shahih yang mana? Shahih Bukhari atau Shahih Muslim? Atau kitab-kitab shahih yang mana? Saya yakin, ustadz Mudzakir tidak akan mampu menyebutkan kitab tersebut, karena kita tidak akan pernah mendapatkan kisah yang disebutkan oleh Ustadz Mudzakir kecuali riwayat tersebut dha’if bahkan maudhu’ atau kisah tersebut berada di kitab-kitab Rafidhah.

Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Yazid bin Mu’awwiyah

Setelah kita mengetahui kejadian sebenarnya dari tragedi Karbala, lalu bagaimana sikap kita terhadap Yazid bin Mu’awwiyah? Mari kita menyimak penjelasan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’-nya dalam menyikapi Yazid bin Mua’wwiyah.[7]

Beliau menjelaskan bahwa dalam menyikapi Yazid, maka golongan yang melampaui batas terhadapnya terbagi menjadi dua:

Pertama, mereka yang mengucapkan bahwa dia kafir zindiq dan bahwasanya dia telah membunuh salah seorang anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, membunuh sahabat-sahabat Anshar, dan anak-anak mereka pada kejadian Al-Hurrah (pembebasan Madinah) untuk menebus dendam keluarganya yang dibunuh dalam keadaan kafir, seperti kakek ibunya ‘Utbah bin Rab’iah, pamannya Al-Walid dan selain keduanya. Mereka menyebutkan pula bahwa dia terkenal sebagai peminum khamr dan menampakkan maksiat-maksiatnya.

Kedua, mereka yang meyakini bahwa Yazid adalah imam yang adil, mendapatkan petunjuk dan dapat memberi petunjuk. Dan dia dari kalangan shahabat atau pembesar shahabat serta salah seorang dari wali-wali Allah. Bahkan sebagian dari mereka meyakini bahwa dia dari kalangan para nabi. Mereka berkata, “Barangsiapa yang ragu terhadap Yazid, maka Allah akan menghentikan dia dalam neraka Jahannam.”

Dua sisi ekstrim terhadap Yazid tersebut menyelishi apa yang disepakati oleh para ahli ilmu dan orang-orang yang beriman.

Lalu, bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan seorang mukmin dalam menyikapi Yazid bin Mu’awwiyah?

Ibnu Tamiyyah rahimahullaah menjelaskan, “Yazid bin Mu’awwiyah dilahirkan pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu  ‘anh dan tidak pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak pula termasuk sahabat dengan kesepakatan para ulama. Dia tidak pula terkenal dalam masalah dien dan keshalihan. Dia termasuk  pemuda muslim bukan kafir dan bukan pula zindiq. Dia memegang tampuk kekuasaan setelah ayahnya dengan tidak disukai oleh sebagian kaum muslimin, namun diridhai oleh sebagian yang lain. Dia memiliki keberanian dan kedermawanan dan tidak pernah menampakkan kemaksiatan-kemaksiatan sebagaimana dikisahkan oleh musuh-musuhnya, (terutama dari kalangan Syi’ah). Namun pada masa pemerintahannya telah terjadi perkara-perkara besar yaitu:

1. Terbunuhnya Husein, padahal dia tidak memerintahkan untuk membunuhnya dan iapun tidak pula menampakkan kegembiraan dengan pembunuhan Husein serta tidak memukul gigi taringnya dengan besi. Dia juga tidak membawa kepala Husein ke Syam. Dia hanya memerintahkan untuk mencegah Husein dengan melarangnya dari urusan tertentu sekalipun dengan memeranginya. Tetapi para utusannya melebihi dari apa yang diperintahkannya karena Samir mendorong Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuhnya. Ibnu Ziyad pun menyakitinya dan ketika Husein meminta agar dia dibawa menghadap Yazid, atau diajak ke front untuk berjihad (memerangi orang-orang kafir bersama pasukan Yazid -pent), atau kembali ke Mekah, mereka menolaknya dan tetap menawannya. Atas perintah Umar bin Sa’d, maka mereka membunuh beliau dan sekelompok Ahlul Bait radhiyallaahu  ‘anhum dengan dhalim.

Terbunuhnya beliau adalah musibah besar,  terbunuhnya Husein dan Utsman bin Affan sebelumnya merupakan penyebab fitnah terbesar pada umat ini. Pembunuh keduanya adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah.

Ketika keluarga beliau radhiyallaahu  ‘anh mendatangi Yazid bin Mua’wiyah, Yazid memuliakan mereka dan mengantarkan mereka ke Madinah.

Diriwayatkan bahwa Yazid melaknat Ibnu Ziyad atas pembunuhan Husein dan berkata, “Aku sebenarnya meridhai ketaatan penduduk Irak tanpa pembunuhan Husein.” Tetapi dia tidak menampakkan pengingkaran terhadap pembunuhnya, tidak membela serta tidak pula membalasnya, padahal itu adalah wajib bagi dia. Maka akhirnya Ahlul Haq mencelanya karena meninggalkan kewajibannya, ditambah lagi dengan perkara-perkara lainnya dan musuh-musuhnya malah menambahkan beberapa kedustaan palsu atasnya.

2. Penduduk Madinah membatalkan bai’atnya kepada Yazid dan mereka mengeluarkan utusan-utusan dan penduduknya. Yazid pun mengirimkan pasukan kepada mereka, memerintahkan mereka untuk taat dan jika mereka tidak mentaatinya setelah tiga hari mereka akan memasuki Madinah dengan pedang dan menghalalkan darah mereka. Setelah tiga hari, pasukan Yazid memasuki Madinah an-Nabawiyah, membunuh mereka, merampas harta mereka, bahkan menodai kehormatan-kehormatan wanita yang suci, kemudian mengirimkan pasukannya ke Mekah yang mulia dan mengepungnya. Yazid meninggal dunia pada saat pasukannya dalam keadaan mengepung Mekah dan hal ini merupakan permusuhan dan kedhaliman yang dikerjakan atas perintahnya.

Shalih bin Ahmad bin Hanbal pernah mengatakan, “Aku mengatakan kepada ayahku, “Sesungguhnya suatu kaum mengatakan bahwa mereka cinta kepada Yazid.” Maka beliau rahimahullah menjawab, “Wahai anakku, apakah akan mencintai Yazid seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir?” Aku bertanya, “Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melaknatnya?” Beliau menjawab, “Wahai anakku, kapan engkau melihat ayahmu melaknat seseorang?” Diriwayatkan pula bahwa ditanyakan kepadanya, “Apakah engkau menulis hadits dari Yazid bin Mu’awiyyah?” Dia berkata, “Tidak, dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang telah melakukan terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?”

Yazid, menurut ulama dan imam-imam kaum muslimin termasuk raja (Islam-pent). Mereka tidak mencintainya seperti mencintai orang-orang shalih dan wali-wali Allah, namun tidak pula melaknatnya.

Karena sesungguhnya mereka tidak suka melaknat seorang muslim secara khusus (ta‘yin), berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, “Seseorang yang dipanggil dengan Hammar sering meminum khamr. Setiap dia dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ia dicambuk. Maka berkatalah seseorang, “Semoga Allah melaknatnya. Betapa sering dia dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan engkau melaknatnya, sesungguhnya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari)

Adz-Dzahabi rahimahullaah mengatakan, “Kita tidak mencela Yazid, tapi tidak pula mencintainya.”

Jadi, pendapat yang benar dalam menyikapi Yazid bin Mu’awwiyah adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam (Ahlus Sunnah), bahwa mereka tidak mengkhususkan kecintaan kepadanya dan tidak pula melaknatnya. Di samping itu kalaupun dia sebagai orang yang fasiq atau dhalim, Allah masih mungkin mengampuni orang fasiq dan dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia memiliki kebaikan-kebaikan yang besar.

Terlebih lagi, dalam riwayat yang disebutkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Ummu Harran binti Malhan radhiyallaahu  ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ

“Pasukan dari ummatku yang pertama kali akan memerangi kota Qaishar (Romawi) pasti akan diampuni.”  (HR. al-Bukhari)

Dan ternyata, pasukan pertama kali yang memerangi kota Qaishar (Romawi) di bawah kepimpinan Yazid bin Mu’awiyyah dan pada waktu itu turut pula beberapa shahabat diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Zubair dan Abu Ayyub al-Anshari radhiyallaahu  ‘anhum  bersamanya. Penyerangan ini terjadi pada tahun 49 H.

Wallaahu ta’ala a’lam bish shawwab. Semoga bermanfaat.


[1] Kejadian inipun sebenarnya banyak disebutkan dalam literatur-literatur Syi’ah.

[2] Komandan pasukan yang memerangi Husain, pada tahun 60-61 H di Irak di sebuah daerah yang bernama Karbala

[3] Ibnu Taimiyyah, Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, Muassasah Qurtubah, cet. I, (IV/556)

[4] Minhajus Sunnah, (IV/557)

[5] Lppimakassar.com

[6] Minhajus Sunnah,  (V/557-558)

[7] Silakan buka: Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Tamiyyah, hal. 411-413


Responses

  1. Sudahkah Anda tabayun ke Pak Mudzakir dasar omongannya dari mana? Shg bisa diadu keshohehan dalilnya. Kl belum, berarti Anda hanya nebak2 saja & memfitnah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: