Oleh: dakwahwaljihad | September 3, 2013

Ahlus Sunnah Pasti Cinta Mu’awwiyah

AHLUS SUNNAH PASTI CINTA MU’AWWIYAH

(Bantahan bagi para pembenci dan pengkritik Mu’awwiyah)

Oleh: Mujiburrahman Abu Sumayyah

muawiyahBismillaahi wash shalaatu was salaamu ‘ala Rasuulillaahi wa ‘ala aalihi wa azwajihi ath-thaahiriin wa ‘ala ash-habihi ajma’iin.

Banyak dari kaum muslimin yang salah paham terhadap Mu’awwiyah bin Abu Sufyan radhiyallaahu ‘anhuma. Sehingga kita menyaksikan ada diantara mereka yang mencelanya, ada yang mengkritik tindakannya habis-habisan, ada yang menaruh kebencian yang mendalam, bahkan saking keterlaluannya, diantara mereka ada yang menganggap bahwa beliau adalah seorang pengkhianat sehingga dengan mudahnya mereka ikut-ikutan melaknat dan mengkafirkannya. Kenapa bisa demikian?

Diantara penyebabnya karena kurangnya pengetahuan yang shahih berkaitan dengan Mu’awwiyah dan informasi yang salah yang sampai kepada mereka. Kurangnya pengetahuan yang shahih ini disebabkan mereka tidak mau mengkaji dari sumber-sumber yang terpercaya. Adapun informasi yang salah biasanya mereka dapatkan dari para penyesat ummat, baik dari kalangan Syi’ah, pro-Syi’ah maupun Neo-Mu’tazilah (liberal dan semisalnya) yang suka membicarakan tentang Mu’awwiyah seenaknya sendiri, baik dengan menampilkan hadits-hadits dha’if dan palsu, ataupun cerita-cerita yang dikarang oleh dirinya sendiri.

“Tak kenal, maka tak sayang” Itulah pepatah yang cocok bagi mereka para pembenci. Pengetahuan mereka hanyalah sebatas keburukan-keburukan yang ada pada shahabat Muawwiyah ini, tanpa mau mengetahui tentang kebaikan-kebaikan/jasa-jasa beliau bagi Islam dan umat Islam ini. Padahal, kalau kita mengkaji tentang beliau lewat sumber-sumber yang shahih, maka kita akan mendapati jasa-jasa beliau yang amat banyak bagi Islam dan umat Islam ini. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak pembahasan berikut ini. Semoga hal ini bisa membuka mata hati orang-orang selama ini mata hatinya tertutup, dan memahamkan orang-orang yang selama ini belum paham, serta mengenalkan orang-orang yang selama ini belum kenal dengan beliau.

SEKILAS TENTANG MU’AWWIYAH BIN ABU SUFYAN (20 SH-60H/603-680M)

Muawwiah bin Shakhr bin Harb bin Umayyah al-Qurasyi al-Umawi adalah pendiri Daulah Bani Umayyah di Suriah (Syam). Beliau memiliki kunyah Abu Abdirrahman. Lahir di Mekah dan sempat memusuhi Islam dan akhirnya memeluk Islam ketika Fathul Makkah (penaklukan kota Mekah) pada tahun 8 H. Beliau sempat belajar baca tulis dan matematika, sehingga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengangkatnya menjadi juru tulisnya. Beliau dijadikan sebagai gubernur di Syam selama dua puluh tahun pada masa pemerintahan ‘Umar bin al-Khattab dan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu ‘anhuma. Beliau pernah berkonfrontasi dengan Ali dalam perang Shiffin (37 H/657 M), dan hal itu bukan karena keinginannya untuk mencabut kekhalifahan Ali, akan tetapi penyebab utamanya adalah tuntutan kepada Ali agar segera menghukum para pembunuh Utsman sebagai qishash terhadap mereka yang ternyata Ali tidak memenuhi tuntutan Mu’awwiyah tersebut. Beliau dinobatkan menjadi khalifah (40-60 H/661-680 M) di mana ibu kota pemerintahan dia pindahkan ke Damaskus.[1]

Mua’wiyyah adalah seorang lelaki yang bertubuh tinggi, berkulit putih dan tampan serta karismatik. Suatu ketika ‘Umar bin Khaththab melihat kepadanya dan berkata, “Dia adalah kaisar Arab.”[2]

Beliau meriwayatkan hadits langsung dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, atau lewat saudara perempuannya Ummul Mukminin Ummu Habibah, Abu Bakar, dan Umar. Beberapa shahabat dan tabi’in yang pernah meriwayatkan hadits darinya antara lain: Ibnu ‘Abbas,  Jarir bin Abdullah, Abu Sa’id, Nu’man bin Basyir, Ibnu Zubair, Sa’id bin Musayyib, Abu Shalih as-Samman, Abu Idris al-Khoulani, Abu Salamah bin Abdurrahman, Urwah bin Zubair, Sa’id al-Maqburi, Khalid bin Ma’dan dan lain-lain.[3]

Beliau termasuk pemimpin yang tidak tertandingi sekaligus tokoh penakluk ternama dalam sejarah Islam, di mana penaklukannya sampai daerah dekat Lautan Atlantik. Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Ka’ab meninggal sebelum Mu’awiyah menjadi khalifah, maka benarlah apa yang dikatakan Ka’ab. Sebab Mu’awiyah menjadi khalifah selama dua puluh tahun, tidak ada pem­berontakan dan tidak ada yang menandinginya dalam kekuasaannya. Tidak seperti para khalifah yang datang setelahnya. Mereka banyak yang menentang, bahkan ada sebagian wilayah yang menyatakan melepaskan diri.

Suatu ketika Mu’awiyah menolak berbai’at kepada Ali, namun hal ini bukan karena beliau tidak setuju dengan kekhalifahan Ali. Akan tetapi beliau menginginkan agar Ali menjatuhkan hukuman hudud terlebih dahulu kepada para pembunuh Utsman.

Di sisi lain, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib juga bukan sengaja membiarkan pembunuh Utsman berkeliaran dengan bebas. Akan tetapi ketika itu beliau melihat kondisi kaum muslimin sedang terpecah belah, sehingga menyebabkan beliau mengalami kesukaran untuk mengambil tindakan apapun. Apalagi apalagi para pelaku (pembunuhan Utsman) berkeliaran di sekitar beliau yang jumlah dan kekuatan mereka tidak bisa diremehkan. Sehingga hal inipun semakin menyulitkan posisi beliau.

Mu’awiyah bukanlah pemberontak, karena walaupun beliau tidak berbai’ah kepada Ali, beliau hanya berdiam diri di Syam. Pasukan Ali lah yang bergerak ke Syam. Hal ini menyebabkan Mu’awiyah menyiapkan pasukannya juga dan berangkat menuju Kufah. Akhirnya kedua pasukan itu bertemu di suatu tempat yang dinamakan Siffin dan bermulalah peperangan yang dikenali dengan perang Siffin. Peperangan ini berakhir dengan perdamaian antara kedua belah pihak yang diketengahi oleh Abu Musa Al-Asy’ari. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Tahkim.

Ketika Ali bin Abi Thalib  radhiallahu ‘anh meninggal akibat dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam qabbahallaahu wajhah, maka orang-orang melantik Hasan bin Ali sebagai khalifah selanjutnya. Akan tetapi, karena Hasan menginginkan kemaslahatan dan persatuan umat Islam, beliau memutuskan untuk memberikan jabatan khalifah kepada Mu’awiyah dan kemudian membai’at Mu’awiyah sebagai khalifah umat Islam yang baru. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sesungguhnya anakku ini pemimpin, dan kelak Allah melaluinya akan mendamaikan antara dua kelompok besar dari kaum Muslimin.” (HR. Al-Bukhari)]

Kemudian Mu’awiyah menjadi khalifah pada bulan Rabi’ul Awal atau Jumadil Ula, tahun 41 H. Tahun ini disebut sebagai ‘Aam Jama’ah (Tahun Persatuan), sebab pada tahun inilah umat Islam bersatu dalam menentukan satu khalifah. Pada tahun itu pula Mu’awiyah mengangkat Marwan bin Hakam sebagai gubernur Madinah.[4]

Pada tahun 43 H, kota Rukhkhaj dan beberapa kota lainnya di Sajistan ditaklukkan. Waddan di Barqah dan Kur di Sudan juga ditak­lukkan. Pada tahun 45 H, Qaiqan dibuka. Pada tahun 50 H, Qauhustan dibuka lewat peperangan. Pada tahun 50 H, Mu’awiyah menyerukan penduduk Syam untuk membaiat anaknya Yazid sebagai putra mahkota dan khalifah setelahnya jika dia meninggal dan merekapun membaiatnya.[5]

Mu’awiyah meninggal pada bulan Rajab tahun 60 H. Dia dimakamkan di antara Bab al-Jabiyyah dan Bab ash-Shaghir. Disebutkan bahwa usianya mencapai tujuh puluh tujuh tahun. Dia memiliki beberapa helai rambut Rasulullah dan sebagian potongan kukunya. Dia mewasiat­kan agar dua benda itu di diletakkan di mulut dan kedua matanya pada saat kematiannya. Dia berkata, “Kerjakan itu, dan biarkan saya menemui Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang!”.[6]

BEBERAPA KEUTAMAAN MU’AWWIYAH YANG HARUS DIKETAHUI

Banyak dari kalangan kaum Muslimin yang belum mengetahui tentang keutamaan Mu’awwiyah. Bahkan ada diantara mereka yang hanya mengetahui Mu’awwiyah sebatas sebagai pemberontak pada masa kekhalifahan ‘Ali, atau orang yang merebut kekhalifahan Hasan, dan bapaknya “Si Pembantai Husein”. Padahal, kalau kita mengkaji tentang beliau dari sumber-sumber yang shahih (benar), maka kita akan banyak mendapati kebaikan-kebaikan (jasa-jasa) beliau bagi Islam dan kaum muslimin daripada keburukan-keburukan yang ada padanya.

Diantara keutamaan-keutamaan beliau adalah:

Mu’awwiyah adalah penulis wahyu

Mu’awwiyah dikenal sebagai juru tulis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat turunnya wahyu. Dan inilah salah satu penyebab kalangan Syi’ah tidak mengakui keotentikan (keaslian) al-Qur’an yang ada pada saat ini. Mereka menganggap bahwa al-Qur’an yang ada pada saat ini sudah banyak dirubah-rubah (ditambah dan dikurangi) oleh para pengkhianat. Dan salah satu pengkhianat yang dimaksud  oleh mereka adalah Mu’awwiyah bin Abu Sufyan.

Suatu ketika Abu Sufyan berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah berikanlah tiga perkara kepadaku?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya’. Beliau berkata, ‘Perintahkanlah kepadaku supaya memerangi orang-orang kafir sebagaimana dahulu aku memerangi orang-orang Islam.’ Rasulullah menjawab, ‘Ya’, Beliau berkata lagi, ‘Dan jadikanlah Mu’awwiyah sebagai penulis di sisimu?’ Rasulullah menjawab, “ya”.[7]

Mu’awwiyah  adalah orang yang faqih (paham) dalam agama dan politik

Tak banyak orang yang tahu, kalau ternyata Mu’awwiyah adalah seorang shahabat yang faqih (paham) dalam urusan dien. Bahkan kemungkinan beliau lebih faqih dibandingkan dengan beberapa shahabat yang lainnya dalam masalah ini.

Sebagaimana disebutkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, bahwa suatu ketika ada seseorang yang mengadu kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma perihal Mu’awwiyah yang melaksanakan shalat witir hanya satu raka’at. Maka Ibnu Abbas menjawab, “(Biarkan), sesungguhnya dia seorang yang faqih (faham dalam urusan agama).”[8]

Bahkan dalam urusan politik (pemerintahan), Mu’awwiyahlah “jagonya” dibandingkan dengan para shahabat yang lain.

Sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Umar, “Saya tidak melihat setelah Rasulullah orang yang lebih pandai memimpin manusia daripada Muawiyah.” Dikatakan kepadanya, “Sekalipun (ayahmu) Umar?” Katanya, “(Ayahku) Umar lebih baik daripada Mu’awwiyah, tetapi Mu’awwiyah lebih pandai memimpin (berpolitik) daripadanya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Abu Bakar, Umar dan Utsman lebih baik dari Mu’awwiyah, akan tetapi dia lebih pandai memimpin (daripada mereka).”[9]

Ibnu Abbas pun mengakui kepemimpinan Mu’awwiyah, beliau mengatakan, “Saya tidak melihat seorang yang lebih arif tentang kenegaraan (kepemimpinan) daripada Mu’awwiyah.”[10]

Az-Zuhri berkata, “Mu’awwiyah bekerja dalam pemerintahan ‘Umar bin Khattab bertahun-tahun tiada cela sedikit pun darinya.”[11]

Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyallaahu ‘anh berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang yang lebih pandai memutuskan hukum selepas ‘Utsman daripada tuan pintu ini.” (beliau maksudkan Mu’awwiyah).[12]

Dan ini terbukti sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabi di atas bahwa selama Mu’awiyah menjadi khalifah selama dua puluh tahun, tidak ada pem­berontakan dan tidak ada yang menandinginya dalam kekuasaannya. Tidak seperti para khalifah yang datang setelahnya. Mereka banyak yang menentang, bahkan ada sebagian wilayah yang menyatakan melepaskan diri.

Sehingga Ka’ab al-Ahbar sampai mengatakan, “Tidak ada orang yang akan berkuasa sebagaimana berkuasanya Mu’awiyah.”

Mu’awwiyah Lebih Mulia dari Umar bin Abdul Aziz

Abdullah bin Mubarak rahimahullaah, seorang tabi’in terkenal pernah ditanya seseorang tentang Mu’awwiyah, “Apa pendapat anda tentang Mu’awwiyah dan ‘Umar bin Abdul Aziz, siapakah di antara mereka yang lebih utama?”. Mendengar pertanyaan itu Abdullah bin Mubarak naik pitam (marah), lalu berkata, “Kamu bertanya tentang perbandingan keutamaan antara mereka berdua. Demi Allah! Debu yang masuk ke dalam lubang hidung Mu’awiyah karena berjihad bersama Rasulullah itu saja lebih baik daripada ‘Umar bin Abdul Aziz.”[13]

Begitu pula al-Mu’afa bin Amran pernah ditanya, “Wahai Abu Mas’ud, siapakah yang lebih utama; Umar bin Abdul Aziz atau Mu’awwiyah?” Beliau langsung marah sekali seraya berkata, “Seorang shahabat tidak dibandingkan dengan seorang pun. Mu’awwiyah adalah shahabat Nabi, iparnya, penulis wahyunya.”[14]

Bahkan kepemimpinan Mu’awwiyyah lebih baik daripada kepemimpinan para khalifah setelahnya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah, “Para ulama sepakat bahwa Mu’awwiyah adalah raja terbaik umat ini, karena empat pemimpin sebelumnya adalah para khalifah nubuwwah, adapun dia adalah awal raja dan kepemimpinannya adalah rahmat.”[15]

Ibnu Abil Izzi Al Hanafi juga mengatakan, “Raja pertama kaum muslimin adalah Mu’awwiyah, dan dia adalah sebaik-baiknya raja kaum muslimin.”[16]

Rasulullah saja Mendo’akan Mu’awwiyah !

Seorang yang mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikan beliau sebagai suri tauladan dalam kehidupan, seharusnya mencontoh sikap dan perilaku beliau. Dan seseorang tidak dikatakan sebagai pecinta Rasul sehingga dirinya berusaha mencontoh beliau dalam sikap dan perilaku. Diantara sikap dan perilaku Rasulullah yang harus kita contoh adalah mendo’akan kebaikan bagi Mu’awwiyah secara khusus.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Tarikh al-Kabir, dari ‘Abdurrahman bin ‘Umairah bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ عَلِّمْ مُعَاوِيَةَ الكِتَابَ، وَالحِسَابَ، وَقِهِ العَذَابَ

 “Ya Allah ajarilah Mu’awiyah al-Qur’an dan hisab serta lindungilah dia dari adzab.[17]

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah mendo’akan:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِياً، مَهْدِيّاً، وَاهْدِ بِهِ

 “Ya Allah, jadikanlah dia orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.”[18]

Maka, sangat tidak pantas dikatakan sebagai pecinta Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallam jika dirinya membenci Mu’awwiyah apalagi sampai melaknatnya. Naudzubillaah. Karena manusia terbaik dan paling bertaqwa yang dijamin masuk surga tidak pernah membenci dan melaknatnya, namun malah mendo’akannya dengan do’a khusus. Hanya orang-orang kafir, munafik dan manusia bodoh perusak agama ini saja yang membenci dan melaknat beliau.

Mu’awwiyah Adalah Pemimpin yang Sabar, Lembut dan Adil

Bagi kalangan yang tidak “kenal” dengan Mu’awwiyah, pasti ada sebagian yang menganggap bahwa beliau adalah seorang pemimpin yang haus kekuasaan (diktator) dan memiliki watak yang keras, kejam, bengis dan sifat-sifat buruk lainnya.

Padahal ketika kita mempelajari sirah beliau, ternyata beliau jauh dari sifat-sifat buruk di atas. Namun sebaliknya, justru beliau dikenal sebagai pemimpin yang terbuka, siap dikritik, lembut hati, suka melakukan kebaikan, dan memiliki kesabaran yang luar biasa.

Ibnu ‘Aun berkata, “Ada seorang lelaki berkata kepada Mu’awiyah: Demi Allah hendaknya kamu menegakkan hukum dengan lurus wahai Mu’awiyah. Jika tidak, maka kamilah yang akan meluruskan kamu!” Mu’awiyah berkata, “Dengan apa kalian akan meluruskan kami?’ Dia menjawab, “Dengan pentungan kayu!” Muawiyyah menjawab, “Jika begitu kami akan berlaku lurus.”

Qubaishah bin Jabir mengatakan, “Saya menemani Mu’awiyah beberapa lama, ternyata dia adalah seorang yang sangat sabar. Tidak saya temui seorang pun yang sesabar dia, tidak ada orang yang lebih bisa berpura-pura bodoh darinya, sebagaimana tidak ada orang yang lebih hati-hati daripadanya.”

Dia juga mengatakan, “Saya tidak pernah melihat seorang yang lebih penyantun, lebih layak memerintah, lebih hebat, lebih lembut hati dan lebih luas tangan di dalam melakukan kebaikan daripada Mu’awiyah.”[19]

Suatu kali pernah diceritakan kepada A’masy tentang keadlian Mu’awwiyah, maka dia berkata, “Bagaimana kiranya seandainya kalian mendapati Mu’awwiyah?” Mereka berkata, “Wahai Abu Muhammad apakah dalam kelembutannya?” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah, bahkan dalam keadilannya.”[20]

Al-Maqbari berkata, “Kalian sangat kagum kepada kaisar Persia dan Romawi namun kalian tidak mempedulikan Mu’awiyah! Kesa­barannya dijadikan sebuah pepatah. Bahkan Ibnu Abid Dunya dan Abu Bakar bin ‘Ashim mengarang buku khusus tentang kesabarannya.[21]

Mu’awwiyah  Mendapat Jaminan Surga

“Haaahhh, mendapatkan jaminan surga?” Begitulah orang-orang kafir dan munafik yang hatinya berpenyakit, khususnya kalangan Syi’ah dan yang sepaham dengan mereka, akan terheran-heran seperti itu mendapatkan pernyataan bahwa Mu’awwiyah mendapatkan jaminan surga. Bahkan hal seperti itu hanya akan menjadi bahan tertawaan dan olokan bagi mereka. Karena bagi mereka hal itu adalah sesuatu yang sangat mustahil sampai unta bisa masuk ke lubang jarum.

Namun bagi kalangan Ahlus Sunnah, perkara ini tidak ada keraguan padanya. Bahkan seseorang diragukan keahlussunnahannya sekaligus keimanannya, jika meragukan hal ini. Karena disamping kedudukan beliau sebagai seorang shahabat, beliau juga salah satu shahabat yang memang mendapatkan jaminan surga. Adapun dalil yang menunjukkan hal itu adalah:

Dari Kholid bin Ma’dan, bahwasanya Umair bin Mas’ud telah menceritakan kepadanya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ الْبَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا

Pasukan pertama dari kalangan umatku yang berperang di atas lautan, telah dipastikan bagi mereka (tempat di surga).”[22]

Fakta sejarah mencatat bahwa armada laut umat Islam yang pertama kali dipimpin oleh Mu’awwiyah bin Abu Sufyan pada zaman pemerintahan Amirul Mukminin ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anh.[23]

Hal ini juga diperkuat oleh riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari bibinya, Ummu Haram binti Milhan, ia berkata, “Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur di dekatku kemudian terbangun sambil tersenyum. Lalu aku bertanya, ‘Apa yang membuat anda tertawa?’ Beliau bersabda, ‘Ada segolongan manusia dari ummatku yang diperlihatkan kepadaku sebagai pasukan perang di jalan Allah dimana mereka mengarungi lautan yang hijau bagaikan raja-raja di atas singgasana.’ Ummu Haram berkata, ‘Do’akanlah agar Allah menjadikan aku salah seorang dari mereka.’ Maka beliau mendo’akannya. Kemudian beliau tertidur kembali untuk kedua kalinya dan kembali berbuat seperti sebelumnya. Dan Ummu Haram juga bertanya sebagaimana yang sudah ditanyakan (sebelumnya) dan beliau pun menjawab sama dengan sebelumnya. Maka Ummu Haram berkata, ‘Do’akanlah agar Allah menjadikan aku salah seorang dari mereka.’ Beliau bersabda, ‘Kamu akan menjadi diantara orang-orang yang pertama kali.’ Maka pada suatu masa, Ummu Haram berangkat berperang bersama suaminya ‘Ubadah bin ash-Shomit sebagai salah seorang dari Kaum Muslimin yang pertama kali berperang dengan mengarungi lautan bersama Mu’awwiyah. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Begitulah Mu’awwiyah bin Abu Sufyan. Seorang shahabat Rasulullah, penulis wahyu, raja yang adil dan sabar, seorang yang gemar melakukan kebaikan, sehingga iapun mendapatkan jaminan surga. Tidak ada yang meragukan keutamaan-keutamaannya kecuali orang-orang yang telah Allah cabut keimanan dari dalam hatinya.

KYAI MUDZAKIR GUMUK BERBICARA TENTANG MU’AWWIYAH

KH. Mudzakir, pengasuh sekaligus direktur PonPes Al-Islam Gumuk-Solo pada hari Jum’at, 12 Juli 2013 mendapat kesempatan untuk mengisi kajian bertema “Keunggulan Ahlus Sunnah atas Syi’ah” di masjid Istiqlal Banyuanyar. Karena dalam kesempatan tersebut saya tidak bisa hadir di majelis tersebut, maka saya berusaha mencari rekaman video ceramah pak Kyai tersebut. Dan alhamdulillah 2 minggu setelah itu saya mendapatkan video ceramah tersebut dari seorang teman. Setelah saya putar rekaman ceramah tersebut, saya mendapatkan beberapa hal yang kontroversial di dalamnya. Diantaranya, pada menit yang ke-40an lebih, beliau mengatakan, “Mua’wwiyah terkenal sangat memusuhi Ahlul Bait….. Mu’awwiyah terkenal sebagai raja yang kaya, pemurah, senengane mangan (banyak makan). Saking banyaknya sampek-sampek beliau dikenal sebagai orang yang kalau khutbah tidak bisa berdiri. Karena kakinya sudah tidak kuat negak badannya. Yang kepengen tahu silakan baca dalam Usdul Ghobah.”

Mendengar kata-kata beliau tentang Mu’awwiyah ini, saya merasa ada sesuatu yang janggal dan aneh yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Akhirnya saya berusaha mengecek kitab Usdul Ghobah karya Ibnu Atsir, dalam bab Mu’awwiyah bin Sakhr bin Abu Sufyan, dan ternyata dalam kitab tersebut tidak banyak dibicarakan tentang Mu’awwiyah, hanya 3 halaman saja. Adapun pembahasan yang lebih mendetail tentang beliau ada dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya tersebut membahas tentang Mu’awiyah dalam 40 halaman, dari hal. 116-156.

Saya mencoba membaca kalimat demi kalimat dalam bab tersebut dan ternyata aneh, WALLAAHI saya tidak mendapatkan pernyataan sebagaimana yang diungkapkan oleh pak Kyai di atas. Akan tetapi yang saya dapatkan adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ibnu Atsir dalam kitabnya tersebut menukil riwayat Muslim yang berbunyi:

عن ابن عباس قال : كنت ألعب مع الصبيان فجاء رسول الله صلى الله عليه و سلم فتواريت خلف باب قال : فجاء فحطأني حطأة وقال: أذهب فأدع لي معاوية . قال : فجئت فقلت : هو يأكل . ثم قال : أذهب فأدع لي معاوية . قال : فجئت فقلت : هو يأكل . فقال : لا أشبع الله بطنه

Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata, “Pada suatu ketika, saya sedang bermain bersama anak-anak. Tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan saya langsung bersembunyi di balik pintu. Kemudian beliau mendekat seraya menepuk pundak saya dari belakang dan berkata: ‘Hai Abdullah, pergi dan panggil Mu’awiyah kemari! ‘ lbnu Abbas berkata; ‘Tak lama kemudian saya datang untuk menemui beliau sambil berkata; ‘Ya Rasulullah, Mu’awiyah sedang makan.’ Setelah itu, Rasulullah menyuruh saya kembali sambil berkata, ‘Pergi dan panggil Mu’awiyah untuk datang kemari!’ Ibnu Abbas berkata, ‘Kemudian saya datang menemui Rasulullah dan berkata, ‘Ya Rasulullah, Mua’wiyah sedang makan.’ Lalu Rasulullah berkata, ‘Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya.”

Dalam riwayat di atas, Rasulullah tidak mengatakan bahwa Mu’awwiyah adalah si tukang makan. Bahkan dalam riwayat yang lain pun kita tidak mendapatkan julukan yang demikian bagi Mu’awwiyah. Sehingga kita juga tidak mendapati dalam kitab tersebut maupun kitab-kitab Ahlus Sunnah yang lainnya ada seorang ulama’ salaf maupun khalaf menjuluki beliau sebagai si tukang makan. Karena bisa jadi, pada kesempatan itu saja Rasulullah mendapati Mu’awwiyah dalam kondisi seperti itu. Anehnya, ada segolongan orang yang datang setelah mereka memberikan julukan seenaknya terhadap Mu’awwiyah. Terlebih seseorang yang memang sudah menaruh kebencian kepada beliau sejak awal, maka merekapun akan menjadikan hadits ini sebagai senjata baginya untuk mencela dan merendahkannya.

Padahal kalau mau jujur, Ibnu Atsir memberikan penjelasan tentang riwayat di atas pada baris selanjutnya. Demikianpula ulama Ahlus Sunnah yang lainnya. Dan hal seperti inilah yang sangat disayangkan dari seorang Kyai Solo tersebut tanpa memberikan penjelasan, melainkan hanya memberikan julukan buruk. Titik. Sehingga hal tersebut bisa jadi memberikan image buruk masyarakat terhadap Mu’awwiyah.

Apa penjelasan Ibnu Atsir dalam baris selanjutnya tentang riwayat di atas? Beliau menjelaskannya dengan riwayat yang lain, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 إني اشترطت على ربي فقلت: إنما أنا بشر أرضى كما يرضى البشر وأغضب كما يغضب البشر فأيما أحد دعوت عليه من أمتي بدعوة أن يجعلها له طهورا وزكاة وقربة يقربه بها يوم القيامة

“Aku telah meminta syarat kepada Rabbku, maka aku berkata, ‘Ya Tuhanku, aku hanyalah seorang manusia. Aku dapat bersikap ridha sebagaimana orang lain dan aku juga dapat marah, sebagaimana orang lain. Apabila ada seseorang dari umatku yang tersakiti oleh kata-kataku yang semestinya tidak layak aku ucapkan kepadanya, maka jadikanlah hal tersebut sebagai pelebur dosa dan sebagai pahala yang dapat mendekatkannya kepada-Mu di hari kiamat kelak.”

Seorang yang jujur dalam ucapannya pasti tidak akan menyebut bahwa Mu’awwiyah adalah si tukang makan, namun akan menjelaskan bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah di atas sebagai pelebur dosa dan sebagai penambah pahala yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah pada hari Kiamat kelak. Sebagaimana hal ini juga dijelaskan oleh ulama Ahlus Sunnah yang lainnya.

Yang saya sayangkan lagi, ketika pak Kyai secara tidak ilmiah menukil suatu pernyataan yang katanya berada dalam kitab Usdul Ghabah, akan tetapi ternyata tidak ada satu kalimat pun yang ia nukil berada dalam kitab tersebut, bahkan beliau terkesan melebih-lebihkan. Ini adalah suatu kedustaan, pembohongan public. Dan ini bukanlah adab dari seorang da’i/mubalig. Sungguh, perbuatan seperti ini tidak pantas untuk ditiru !!!

AHLUS SUNNAH PASTI CINTA MU’AWWIYAH

Sebagai penutup sekaligus bantahan bagi para pembenci dan pengkritik Mu’awwiyah, khususnya kalangan Rafidhah atau yang sepaham dengan mereka, maka saya katakan bahwa, “Ahlus Sunnah pasti cinta Mu’awwiyah.”

Tentu pernyataan ini terlalu menyakitkan bagi kalian karena selama ini kalian berusaha meracuni pikiran kaum muslimin bahwa yang mencintai Mu’awwiyah adalah kaum “Wahhabi”.

Maka, saya katakan kepada kaum muslimin Ahlus Sunnah, “Jangan sampai anda tertipu dengan tipu muslihat mereka. Katakanlah dengan tegas tanpa keraguan, bahwa anda mencintai Mu’awwiyah radhiyallaahu ‘anhu.”

Ketahuilah, bahwa lurus atau tidaknya aqidah seseorang dalam menyikapi shahabat, bisa dilihat dari sikapnya terhadap Mu’awwiyah. Seorang dikatakan Ahlus Sunnah jika dirinya mencintai shahabat Nabi yang satu ini. Tidak mencelanya, membencinya, apalagi melaknatnya. Hanya kebaikan-kebaikan beliau saja yang pantas untuk kita bicarakan dalam setiap kesempatan.

Sebagaimana Umar bin Khattab pernah mengatakan tatkala mengangkatnya sebagai Gubernur di Syam, “Janganlah kalian menyebut Mu’awwiyah kecuali dengan kebaikan.”[24]

Bahkan Ali bin Abi Thalib sendiri sepulang dari perang Shiffin pernah mengatakan, “Wahai manusia, janganlah kalian membenci kepemimpinan Mu’awwiyah. Seandainya kalian kehilangan dia, niscaya kalian akan melihat kepala-kepala bergelantungan dari badannya (banyak pembunuhan).”[25]

Sebaliknya, seseorang bisa diketahui dirinya beraqidah Syi’ah atau minimal terinveksi virus Syi’ah jika dirinya menghina Mu’awwiyah, membencinya, bahkan melaknatnya.

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang mencela Mu’awwiyah dan Amr bin Ash, “Apakah dia Rafidhah?” Katanya, “Tak seorang pun berani mencela keduanya kecuali mempunyai tujuan jelek.”[26]

Ya, sebenarnya para pembenci dan penghina Mu’awwiyah itu memiliki tujuan yang sangat jelek. Bagaimana tidak jelek, sementara salah satu penulis wahyu adalah Mu’awwiyah. Dan orang yang membenci dan menghina Mu’awwiyah berarti meragukan apa yang dia tulis berupa ayat-ayat Allah, meragukan keotentikan (keaslian) al-Qur’an yang ada saat ini. Orang yang meragukan keotentikan al-Qur’an berarti meragukan ajaran Islam, dan orang yang meragukan ajaran Islam berarti kafir. Maka berhati-hatilah dalam masalah ini.

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّناً وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah sesuatu yang besar.”

Lihatlah bagaimana sikap kerasnya khalifah Umar bin Abdul Aziz terhadap seorang yang mencela Mu’awwiyah? Beliau mencambuknya dengan beberapa cambukan. Sikap keras ini beliau lakukan karena beliau sangat paham, bahwa tujuan sebenarnya para pencela dan pelaknat Mu’awwiyah itu sebenarnya ingin menghancurkan pondasi dienul Islam ini.

Lalu, bagaimanakah sikap yang harus kita tunjukkan sebagai bukti kecintaannya kepada Mu’awwiyah karena jasa-jasa beliau yang sangat besar terhadap Islam ini? Diantara sikap yang harus kita tunjukkan sebagai bukti kecintaan terhadap beliau adalah:

  1. Tidak mencela, menghina dan memberikan julukan-julukan buruk kepadanya, apalagi melaknat dan mengkafirkannya.
  2. Membicarakan keutamaan-keutamaannya, dan kebaikan-kebaikan/jasa-jasa beliau terhadap Islam.
  3. Tidak membicarakan perselisihan antara beliau dengan para shahabat yang lainnya secara panjang lebar, kecuali pada masalah yang memang diperlukan saja karena dikhawatirkan akan membuka ruang bagi orang-orang yang berpenyakit hatinya untuk menghina beliau. Karena tidaklah mereka berperang melainkan atas dasar ijtihad, sementara Allah telah memaafkan orang yang salah dalam berijtihad. Bahkan, disebutkan bahwa dia akan diberikan satu pahala, adapun orang yang benar dalam ijtihadnya akan diberi dua pahala. Demikian Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari-nya.
  4. Mendo’akan para shahabat secara umum sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah ta’ala lewat firman-Nya yang berbunyi:

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr : 10)

Semoga dengan membiasakan beberapa sikap di atas, Allah berkenan menambahkan rasa cinta kita kepada para shahabat Rasulullah disamping perasaan cinta yang ada dalam hati kita kepada mereka sebelumnya, dan menjauhkan kita dari perasaan ghill (dengki) kepada para shahabat sebagaimana kalangan Syi’ah yang menanam perasaan dengki kepada para shahabat ridhwanullaah ‘alaihim.

Wallaahu ta’ala a’lam bish shawwab. Semoga bermanfaat.

Bumi Allah, Selasa 3 September 2013

–ooOoo–


[1] Baca Usdul Ghobah, Ibnu Atsir bab: Mu’awwiyah bin Shakhr bin Abu Sufyan; Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, Muassasah ar-Risalah (5/116)

[2] Usdul Ghabah, Siyar A’lam an-Nubala’, (5/130)

[3] Siyar A’lam an-Nubala’, (5/116)

[4] Adz-Dzahabi, Tarikh al-Islam, Darul Kitab al-‘Arabi, (4/315); Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’, Mathba’ah as-Sa’adah, (1/173); Ibnu Hajar al-Haitami, as-Sawa’iq al-Muhriqah, (2/630)

[5] Tarikh Khulafa’, (1/173)

[6] Tarikh Khulafa’, (1/173)

[7] HR. Muslim.

[8] HR. al-Bukhari

[9] Siyar A’lam an-Nubala’, (5/148), Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Maktabah al-Ma’arif (8/135)

[10] Al-Bidayah, (8/135)

[11] Al-Khallal, As-Sunnah, Daar ar-Rayyah (2/444)

[12] Al-Bidayah, (8/133)

[13] Al-Bidayah, (8/139)

[14] Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, Darul Fikr (59/208)

[15] Ibnu Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, Darul Wafa’ (4/478)

[16] Ibnu Abil ‘Izz, Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, Maktabah Islami, hal. 482.

[17] At-Tarikh al-Kabir lil Bukhari, (7/326), Ibnu Khuzaimah, Ahmad. Hadits ini memiliki syawahid yang saling menguatkan satu sama lain. (lihat: Siyar A’lam an-Nubala’, (5/120))

[18] Imam at-Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan gharib.” (Lihat: Siyar, 5/121 dan Al-Bidayah, 8/124-125, Musnad al-Jami’,

29/15))

[19] Al-Bidayah, (8/135)

[20] As-Sunnah, (2/437)

[21] Tarikh al-Khulafa’, (1/172)

[22] HR. al-Bukhari. Ibnu Hajar mengatakan bahwa makna aujabu bermakna mereka dipastikan masuk surga. [Lihat: Fath al-Bari, (6/121)]

[23] Lihat: Fath al-Bari, (6/120).

[24] Al-Bidayah, (8/125)

[25] Al-Bidayah, (8/134)

[26] Tarikh Dimasyq, (59/210)


Responses

  1. oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky [*]

    hasan_Farhan.

    .

    .

    .

    1). Hujur bin Adi

    Beliau seorang sahabat yang mulia, Mereka (Bani Umayah) membunuhnya

    Sebab Pembunuhan: Menurut penguasa (Bani Umayah) karena ia telah kafir! Sebagian dari kita mengikuti para penguasa dalam tuduhan itu hingga hari ini.

    Sebab sebenarnya adalah beliau menolak pelaknatan Imam Ali bin Abi Thalib..!

    2). Ghailan ad Dimasyqi

    Mereka bunuh setelah memotong lidah dan kedua tangannya!

    Sebab Pembunuhan: Menurut para penguasa (Bani Umayah) karena ia telah kafir! Dan kita pun hingga hari ini masih mengikuti para penguasa tersebut

    Sebab sebenarnya: adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz menugasinya untuk memeriksa kekayaan Bani Umayyah dan mengeluarkan harta simpanan mereka lalu di jual di pasar bebas. Ia berkata: “Saya berlepas diri dari menganggap mereka sebagai para pemimpin pembawa hidayah.” Maksudnya adalah Bani Umayyah.

    Kemudian setelah Hisyam bin Abdul Malik ke tampuk kekhalifahan ia menggelar pengadilan formalitas untuk menghukum Ghailan. Ia ajukan tiga pertanyaan tentang Allah, penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya dan tentang takdir. Beliau pun menjawab: Saya tidak tau. Maka mereka berkata: Ia telah kafir! Kemudian mereka membunuhnya.

    3). Al Jahm bin Shafwan

    Mereka (Bani Umayah) membunuhnya… Menurut para penguasa (Bani Umayah) karena ia sudah kafir! Dan kita pun mengamini tuduhan penguasa atasnya.

    Sebab sebenarnya: adalah karena bangkit berjuang bersama Harits bin Suraij di wilayah Khurasan melawan Bani Umayyah di akhir masa kekuasaan mereka. Ajakannya adalah kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi saw serta Syura dalam pemilihan Khalifah… Beliau adalah juru dakwahnya Harits. Setelah berhasil menangkapnya, mereka membunuhnya. Dan mereka sebarkan isu bahwa ia telah kafir!

    4). Ja’ad bin Dirham.

    Mereka menyembelihnya di hari raya kurban (iedul adh-ha)… Menurut para penguasa (Bani Umayah) sebab mengapa ia dibunuh? Karena ia telah kafir!

    Dan kitapun hingga hari ini mengikuti para penguasa dan mendendangkan bait-bait syair di kitab-kitab akidah yang memuji dan menjunjung mulia para pelaku kezaliman dan kejahatan yang telah menyembelihnya…

    Sebab sebanarnya: adalah karena ia punya hubungan politik dengan Yazid bin Muhallab. Maka si fasik Khalid al Qasari menyembelihnya tanpa mengadilinya dan tanpa mendengar esepsi pembelaan dirinya. Semua informasi yang kita imani adalah yang disampaikan oleh si jagal yang menyembelihnya! Mereka berkata: Ia telah kafir! Dan kita pun mengamininya.

    5). Qunbur budak sahaya Imam Ali bin Abi Thalib

    Hajjaj menyembelihnya dengan satu alasan yaitu kedekatannya yang khusus dengan Imam Ali bin Abi Thalib ra.

    Para pembela Bani Umayyah diam tidak mengungkap kejahatan ini demi menutup-nutupi kejelekan Hajjaj! Dan boleh jadi kaum Nashibi bergembira atas penyembelihan yang dilakukan Hajjaj itu!

    6). Kumail bin Ziyad an Nakha’i

    Seorang tabi’in yang tekun beribadah dan salah satu pengemban ilmu Imam Ali. Beliau disembelih oleh Hajjaj dengan sebab yang sama seperti ketika menyembelih Qunbur. Kumail mengalami masa pemberontakan atas Khalifah Utsman karenanya kaum Nashibi pun berbahagia atas disembelihnya Kumail.

    7). Rasyid al Hajari.

    Beliau seorang Sahabat yang hadir dan ikut serta dalam perang Uhud (seperti terbukti setelah diteliti). Ziyad bin Abihi memutilasinya.

    Dan mereka pun berkata: Rasyid telah kafir!!

    Sebab sebenarnya adalah ketulusan kecintaannya kepada Imam Ali seperti sahabat-sahabat setia beliau: Kumail dan Qunbur. Dan atas pembunuhan keji itu kaum Nashibi pun bergembira!

    (Perlu diketahui bahwa Ziyad bin Abih adalah saudara biologis Muawiyah bukan saudara sah, karena Ziyad adalah anak haram hasil perzinahan Abu Sufyan bapak Muawiyah dengan seorang pelacur bernama Sumayyah, Mu’awiyah mengakuinya sebagai Ziyad bin Abu Sufyan setelah sebelumnya disebut Ziyad bin Abihi (Ziyad putra ayahnya) ini adalah pelanggaran dan pelecehan terhadap syariat secara terang-terangan. _red)

    8). Abu Rafi’

    Bani Umayyah menghukumnya dengan cambukan sebanyak 500 kali cambukan agar menanggalkan kesetiannya kepada baginda Rasulullah Saw dan memberikan kesetiannya kepada bani Umayyah! Dan kaum Nashibi dan para Ekstrimis Salafi pun tidak mengingkari tindakan di luar kewajaran dan kemanusiann itu. Semantara itu ketika Ahmad bin Hanbal dihukum cambuk jauh di bawah bilangan cambukan yang dialamai Abu Rafi’ -sahabat setia Nabi saw. – kaum Nashibi bangkit memenuhi dunia dengan jeritan histeris.

    9). Maitsam at Tammar (Sahabat setia Imam Ali).

    Bani Umayyah menyalibnya di batang pohon kurma dan memotong lidah beliau semata-mata karena kesetiannya yang tulus kepada Imam Ali, persis seperti Qunbur, Kumail bin Ziyad dan Rasyid al Hajari.

    Para penguasa Bani Umayyah mengatakan bahwa Maitsan telah kafir! Dan kaum dungu pun bertepuk tangan mendukungnya.

    10). Amr bin al Hamaq al Khuza’i

    Beliau seorang sahabat agung yang ikut berhijrah dan berbagung bersama Nabi saw.

    Kepala beliau dipenggal atas perintah Mu’awiyah lalu dilemparkan ke hadapan istri tercintanya yang sedang ditahan di penjara Mu’awiyah! Terhadap kejahatan Mu’awiyah tersebut kaum Nashibi bersuka cita. Dan ke-sahabatan-nya dan perjuangannya dalam berhijrah bersama Nabi saw hilang begitu saja hingga hari ini (kaum Salafi yang biasanya sok membela para sahabat Nabi saw kini menjadi tuli dan buta serta bisu terhadap kasus kejahatan ini_red).

    PERINGATAN: Bagi yang tak tahan jangan lihat video ini!

    Perbuatan biadab Teroris salafy wahhabi menggantung kepala-kepala manusia di jalanan di Suriah

    • nih ! yng nge-respond dari orang syiah,
      lo pikir gw percaya ucapan syiah ??,
      dasar syiah, pembual dari negri persia-iran !!!
      negri yang di azab dngn sejuta penyakit kelamin … amit2


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: