Oleh: dakwahwaljihad | Desember 13, 2012

Menuju Surga Dengan Ilmu Syar’i

MENUJU SURGA DENGAN BEKAL ILMU SYAR’I

Oleh: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Dengan Ilmu Ke Surga“Barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul Islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Begitulah janji Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kepada umatnya yang mulia ini. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya diantara manusia di dunia ini daripada Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-? Sehingga kaum musyirikin Quraisy ketika itu sampai menggelari beliau dengan gelar al-Amin, yang dapat  dipercaya.

Namun amat disayangkan, umat yang jumlahnya milyaran di dunia ini yang (katanya) mencintai beliau dan mengidolakannya, ternyata masih banyak yang meragukan janji al-Amin tersebut. Entah karena ketidaktahuan, atau memang sengaja menutup mata dan telinga dari keingintahuan. Buktinya, sebagian besar kaum muslimin masih merasa enggan dan bermalas-malasan untuk mendatangi majelis-majelis ilmu yang di dalamnya mengkaji ilmu-ilmu syar’i yang bersumber al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia, yang di dalamnya terdapat ilmu-ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain atas setiap muslim. Artinya jika meninggalkannya, mereka berdosa.

Jangankan mengkaji keduanya, membaca al-Qur’an saja masih banyak yang tidak berminat. Adapun al-Qur’an, mereka menjadikannya hanya sebagai mahar pernikahan dan setelah itu dijadikan pajangan dalam almari.

Sebaliknya, mereka sangat antusias sekali bahkan berlomba-lomba dalam mencari ilmu yang bisa memberikan keuntungan duniawinya semata, sehingga apakah ilmu yang seperti itu berbarakah dan bermanfaat sehingga bisa mengantarkan ke surga sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- di atas?

Kondisi ini diperparah ketika sebagian dari mereka yang enggan untuk melangkahkan kakinya ke majelis-majelis ilmu (pengajian), justru dari mulut-mulut mereka keluar kalimat-kalimat penghinaan atau celaan terhadap majelis ilmu tersebut dan orang-orang yang berada di dalamnya, atau kadang mereka berburuk sangka dengan menganggap bahwa majelis-majelis ilmu tersebut hanya akan mencetak generasi kolot, ekstrim, radikal, (dan yang terakhir ini kita saksikan seorang menteri dengan terang-terangan mengatakan) culun, atau bahkan sebagian yang lain melakukan tajassus (memata-matai). Naudzubillaahi min dzalik.

Seandainya saja keutamaan ilmu dan pahala orang-orang yang meniti jalan untuk mencari ilmu (dien) itu ditampakkan oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala– di hadapan manusia. Seandainya ketika para malaikat merendahkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu itu nampak jelas di mata-mata manusia. Seandainya do’a-do’a dan permintaan ampunan penduduk langit dan bumi sampai ikan-ikan yang berada di lautan yang terdalam mampu didengar oleh telinga-telinga manusia di muka bumi ini, tentu mereka tidak akan melakukan penghinaan dan bersikap su’udzon kepada para penuntut ilmu, bahkan mereka akan berbondong-bondong untuk mendatangi majelis-majelis ilmu tersebut walaupun dengan merangkak sekalipun.

Keutamaan Ilmu Syar’i

Sungguh, tidak ada jalan bagi seorang muslim untuk beribadah kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala– dengan benar sesuai dengan cara yang diridhai-Nya kecuali dengan menyembah-Nya seperti yang diperintahkan kepada mereka. Dan tidak ada jalan untuk mengetahui perintah dan larangan-Nya kecuali dengan mempelajari ilmu syar’i yang telah Allah –subhaanahu wa ta’ala– turunkan kepada Nabi-Nya yang mulia, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.

Allah –subhaanahu wa ta’ala– berfirman:

وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّت طَّآئِفَةٌ مُّنْهُمْ أَن يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلاُّ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِن شَيْءٍ وَأَنزَلَ اللّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكَ عَظِيماً

“Dan Allah telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang sebelumnya kamu tidak mengetahuinya. Dan itulah karunia Allah yang sangat agung yang diberikan kepadamu.” (QS. an-Nisa’ : 113)

Dalam ayat di atas Allah –subhaanahu wa ta’ala– menjelaskan bahwa seseorang yang telah diberi pemahaman ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah, maka dirinya telah diberikan karunia yang sangat agung yang melebihi harta.

Imam ‘Ali -radhiyallaahu ‘anhu- pernah mengatakan: “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Karena harta itu kamu yang menjaganya, sedangkan ilmu itu yang menjagamu. Harta akan lenyap jika  dibelanjakan, sementara ilmu akan berkembang jika diinfakkan (diajarkan). Ilmu adalah penguasa, sedangkan harta adalah yang dikuasai. Telah mati para penyimpan harta padahal mereka masih hidup, sementara ulama (orang-orang yang berilmu) akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad-jasad mereka hilang, tapi pengaruh mereka tetap ada/ membekas dalam hati”.

Karena keutamaannya yang lebih agung daripada harta, sehingga para Nabi pun tidak meninggalkan warisan kecuali warisan ilmu.

Bahkan keutamaan ilmu syar’i itu lebih agung daripada dunia beserta segala isinya, karena  ia tidak akan musnah ketika dunia beserta isinya ini musnah, bahkan ia akan mengantarkan pemiliknya menuju kebahagiaan akherat, yaitu surga.

“Barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul Islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Hal ini karena dengan memahami ilmu syar’i seseorang akan mampu membedakan antara yang haq (kebenaran) yang harus dipegang teguh sampai mati dengan yang bathil yang harus dihindari, mana yang merupakan perintah Allah yang harus dikerjakan dan mana yang merupakan larangan-Nya yang harus dijauhinya. Mana tauhid dan mana syirik, mana keimanan dan mana kekufuran, mana sunnah dan mana bid’ah, mana yang halal dan mana yang haram. Mana jalan menuju surga yang seseorang harus istiqomah berjalan di atasnya sehingga sampai ke surga dan mana jalan menuju ke neraka yang seseorang tidak boleh melewatinya.

Sebaliknya, seseorang yang enggan dan bermalas-malasan untuk menuntut ilmu syar’i sehingga tidak bisa memahami hakekat dienul Islam ini dengan baik, maka kita saksikan ketika mereka melihat jalan setan, mereka menganggapnya sebagai jalan kebenaran. Ketika melihat jalan menuju neraka, mereka menganggapnya jalan menuju surga.

Bagaimana orang-orang seperti ini akan ditunjuki oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala– ke jalan yang benar dan dimudahkan jalannya menuju surga Allah –subhaanahu wa ta’ala–  yang luasnya seluas langit dan bumi?

Meneladani Ulama’ Salaf dalam Menuntut Ilmu Syar’i

Pernahkah kita mendengar kisah tentang Jabir bin ‘Abdullah? Seorang tabi’in yang patut untuk dijadikan teladan dalam mencari ilmu.

Ibnu Abdil Baar –rahimahullaahu ta’ala- menyebutkan dalam Jami’ul Bayan-nya bahwa Jabir bin Abdullah –rahimahullaahu ta’ala- berkata: Telah sampai kepadaku suatu hadits dari seorang sahabat Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, maka saya datangkan unta dan (ketika itu) keinginan saya sangat kuat untuk menemui (shahabat tersebut), kemudian saya berjalan selama sebulan sehingga sampai di kota Syam. Saya datangi ‘Abdullah bin ‘Unais di rumahnya dan saya sampaikan bahwa Jabir menunggunya di depan pintu. Seorang utusan kembali menghampiriku dan bertanya, “(Anda) Jabir bin Abdullah?” jawabku: “Ya”. Maka keluarlah beliau. Aku memeluknya dan ia memelukku. Saya berkata: “Telah sampai kepadaku hadits dari anda yang telah anda dengar dari Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tentang kegelapan (madholim)”. Beliau berkata: “Saya mendengar Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘ Allah -subhaanahu wa ta’ala- akan mengumpulkan manusia …… dst.”

Coba bayangkan, hanya untuk belajar satu hadits saja Jabir bin Abdullah rela melakukan perjalanan selama sebulan menuju Syam.

Begitu pula Sa’id bin Musayyib –rahimahullaahu ta’ala-, beliau bertutur: “Aku benar-benar menempuh perjalanan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mendapatkan sebuah hadits.”

Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah semangat kita untuk menuntut ilmu syar’i sebagaimana Jabir bin Abdullah dan Sa’id bin Musayyib ketika keduanya mencari satu hadits?

Sementara saat ini hadits-hadits Rasul sudah terkompilasi (tersusun) menjadi berjilid-jilid buku yang terpampang di banyak perpustakaan dan sebagian besar juga sudah diterjemahkan. Bahkan dengan kemajuan teknologi saat ini, tidak hanya buku-buku hadits, ribuan buku tafsir, aqidah, fiqih dan yang lainnya sudah terkumpul menjadi satu dalam satu software, baik yang berbahasa Arab ataupun sebagiannya sudah diterjemahkan. Dan kita bisa mencari pembahasan atau hadits yang kita inginkan dengan mudah.

Walhasil, saat ini untuk mendapatkan ilmu syar’i itu sangat mudah dan praktis. Tinggal semangat dan kemauan kita untuk mendapatkan ilmu tersebut.

Jika kita mampu untuk membeli buku-buku ataupun media yang bisa membantu kita untuk memahami dien kita, maka tentunya hal itu lebih baik. Namun jika kita tidak mampu, maka bersemangatlah untuk mendatangi majelis-majelis ilmu yang di dalamnya mengkaji al-Qur’an dan as-Sunnah. Janganlah berharap ilmu itu akan datang dengan sendirinya, sementara kita tidak ada keinginan dan usaha untuk mencari ilmu tersebut.

Ali bin al-Husain –rahimahullaahu ta’ala- mengatakan, “Ilmu itu dibutuhkan, didatangi dan dicari dimanapun ia berada.”

Mudah-mudahan Allah –subhaanahu wa ta’ala- meringankan gerak langkah kaki kita untuk menuju salah satu taman-taman surga. Aamiin yaa Rabbal ‘alaamin.

 

Bumi Allah, 26 Muharram 1433 H, bertepatan 10 Desember 2012.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: