Oleh: dakwahwaljihad | November 21, 2012

Inilah “Wahhabi” !!!

INILAH “WAHHABI” !!! (Bagian 1)

Oleh: Mujiburrahman Abu Sumayyah

“WAHHABI”. Satu nama yang tak asing lagi di telinga kita. Terlebih di telinga-telinga para pembenci Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan lebih khusus lagi di telinga para pembenci dan pelaknat para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu kalangan Syi’ah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah atau orang menyebutnya dengan RAFIDHAH.

Kalangan pembenci Sunnah Rasul menggambarkan kepada kaum muslimin, bahwa “Wahhabi” merupakan “madzhab baru” yang ekstrim, yang identik dengan para pelaku kekerasan dan kerusuhan, suka mengasingkan diri, pemecah belah persatuan umat dan gambaran-gambaran lain yang bernilai negatif.

Sehingga bagi sebagian besar kalangan “awwam”, ketika mendengar istilah “Wahhabi” ini akan terasa ngeri, bahkan kemungkinan bisa menjadikan bulu kuduk berdiri. Akan tetapi benarkah gambaran-gambaran yang mereka tuduhkan itu ataukah hal itu hanyalah sebuah propaganda musuh-musuh Islam agar kaum muslimin semakin menjauh dari Sunnah Nabi?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita simak pengakuan seorang penganut Syi’ah  tentang “Wahhabi” !

Syi’ah pun Mengakui “Wahhabi” Adalah Para Pecinta Sunnah Nabi

Jika kita mengetahui bahwa kalangan Syi’ah dan para pembenci Sunnah Nabi menggambarkan kaum “Wahhabi” dengan gambaran-gambaran yang negatif, namun ternyata di sisi lain mereka pun mengakui bahwa kaum “Wahhabi” adalah pecinta sejati Sunnah Nabi.

Nggak percaya? Silakan baca komentar seorang Syi’ah ini:

 

Sangat jelas sekali, seorang pembenci “Wahhabi” yang memakai nama Maulana Blepetan di atas mengatakan bahwa kaum “Wahhabi” memiliki ciri-ciri (diantaranya):

  1. Celana gantung
  2. Memelihara jenggot
  3. Jidat tampak hitam

Dari ciri-ciri yang disebutkan di atas jelas menunjukkan bahwa “Wahhabi” adalah pecinta Sunnah Nabi. Lalu apa hubungannya ciri-ciri di atas dengan Sunnah Nabi? Untuk mengetahui lebih jelas, mari kita bahas ciri-ciri di atas satu per satu.

Larangan Menjulurkan Kain di Bawah Mata Kaki (Isbal)

Celana ngantung. Salah satu ciri “Wahhabi” yang paling nampak di mata-mata kalangan yang memusuhinya. Namun ternyata orang yang memerintahkan untuk mengantungkan celana/kain di atas mata kaki adalah orang yang paling baik, paling bertaqwa di dunia ini. Siapa lagi kalau bukan seorang Nabi yang mulia, Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Bahkan beliau memberikan ancaman bagi siapa yang menjulurkan celana/kainnya di bawah mata kaki.[1]

Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ.

“Barangsiapa menjulurkan kain sarungnya hingga dibawah mata kaki, maka tempatnya adalah neraka.” (HR. al-Bukhari)

Apakah diantara kaum muslimin akan ada mengatakan bahwa hadits di atas statusnya dipertanyakan sementara hadits tersebut tercantum dalam Shahih al-Bukhari?[2] Atau apakah diantara mereka juga akan mengatakan bahwa hadits di atas memerlukan ta’wil?

Dalam riwayat lain juga disebutkan, dari al-Mughirah bin Syu’bah –radhiyallaahu ‘anhu– bahwa Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda kepada Sufyan bin Sahl:

يَا سُفْيَانَ بْنَ سَهْلٍ لَا تُسْبِلْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْبِلِين.

“Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu memanjangkan kain sarung atau celana melebihi mata kaki, karena Allah membenci orang-orang yang memanjangkan kain sarung atau celananya melebihi mata kaki.” (HR. Ibnu Majah)

Diriwayatkan pula dari Abu Dzar –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah  –shallallaahu ‘alaihi wa sallam–  bersabda:

ثلاثة لايكلمهم يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم فقرأها رسول الله  ثلاث مرار, قال أبو ذر,خابوا وخسروا ,من هم يا رسول الله ؟ قال المسبيل, المنان, والمنفق سلعة بالحلف الكذب

“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak pula dilihat dan tidak disucikan serta bagi mereka siksa yang pedih (Nabi  mengulanginya tiga kali). Abu Dzar berkata, ‘Kecewa sekali mereka dan sangat merugi, siapakah mereka itu wahai Rasulullah?’ Jawab Nabi, ‘Musbil,[3] mannan, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim, an-Nasa’i dan Abu Dawud ).

Sebenarnya masih banyak hadits yang menjelaskan tentang larangan dan ancaman mengenakan kain melebihi mata kaki. Akan tetapi hadits-hadits di atas insyaAlloh cukup membuktikan kepada kita bahwa mengenakan kain di bawah mata kaki ternyata terdapat larangannya, bahkan pelakunya diancam di akherat. Sehingga karena ketaatan dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan mengharap ridha-Nya disertai rasa takut dan khawatir terhadap adzab Allah, maka mereka yang dianggap “Wahhabi” berusaha untuk mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam masalah mengenakan pakaian tanpa adanya rasa keberatan dalam hati. Sami’naa wa atho’naa.

Potong Kumis, Panjangkan Jenggot!

Ciri “Wahhabi” selanjutnya adalah mereka yang suka memanjangkan jenggot. Tapi siapa menyangka bahwa memanjangkan jenggot juga merupakan perintah manusia terbaik di alam semesta ini, Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– yang kita jadikan sebagai uswah/tauladan dalam kehidupan kita.

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, dari Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhuma– bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Cukurlah kumis kalian dan biarkanlah jenggot kalian (panjang).” (HR. al-Bukhari)

Namun sebaliknya, kita tidak pernah menemukan dalam riwayat-riwayat, baik yang shahih, yang dha’if bahkan yang maudhu’ sekalipun, yang menyebutkan bahwa Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– memerintahkan kepada umatnya agar memanjangkan kumis dan memotong jenggot.

Lalu apa tujuan Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– memerintahkan umatnya agar memanjangkan jenggot dan mencukur kumis? Tujuannya adalah sebagaimana dijelaskan dalam beberapa riwayat berikut ini:

Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Selisihilah orang-orang musyrik, panjangkanlah jenggot dan cukurlah kumis kalian.” (HR. al-Bukhari)

Disebutkan juga dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“Cukurlah kumis dan panjangkanlah jenggot. Selisihilah kaum Majusi.” (HR. Muslim)

Juga disebutkan dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu– bahwasanya Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

أَعْفُوا اللِّحَى وَخُذُوا الشَّوَارِبَ وَغَيِّرُوا شَيْبَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

“Panjangkanlah jenggot, cukurlah kumis, dan warnailah uban kalian serta janganlah kalian serupai orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Ahmad)

Ya, salah satu tujuan Nabi memerintahkan umatnya memanjangkan jenggot agar dapat dibedakan antara kaum muslimin dengan kaum kafirin, baik dari kalangan musyrikin, Yahudi, Nasrani, Majusi ataupun para penyembah berhala yang lainnya.[4]

Selain itu, jenggot merupakan salah satu anugerah yang diberikan oleh Allah –ta’ala- kepada kaum Adam, maka alangkah baiknya kalau jenggot itu dipelihara agar membedakan antara kaum Adam dengan kaum Hawa. Wallaahu a’lam.

Nabi pun Berjenggot

Allah –ta’ala- berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab : 21)[5]

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- diutus oleh Allah ta’ala agar menjadi suri tauladan (contoh) yang baik bagi umatnya dalam segala hal, baik dari segi aqidah, ibadah, fisik, akhlaq, muamalah, maupun kebiasaan sehari-harinya. Sebagai umat beliau yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka kita harus menjadikannya sebagai suri tauladan. Dan diantara tauladan yang baik dari beliau yang patut untuk kita perhatikan dan praktekkan dalam kehidupan kita adalah memelihara (memanjangkan) jenggot.

Pernah suatu ketika seorang da’i/kyai menjelaskan kepada jama’ah pengajiannya bahwa Rasulullah itu tidak berjenggot dengan alasan karena beliau mencintai kebersihan. Pernyataan seperti ini sungguh konyol. Allah –ta’ala- sangat mencela bahkan melaknat da’i seperti ini, karena ia berbicara tanpa landasan ilmu, atau ia berusaha menyembunyikan ilmu karena ada maksud tertentu.

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-memerintahkan umatnya untuk memelihara jenggot, maka tentunya beliaulah yang pertama kali memberikan contoh kepada umatnya.

Diantara riwayat yang menjadi bukti bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– itu berjenggot adalah:

Diriwayatkan dari ‘Ammar bin Yasir, bahwa ia berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (ketika berwudhu) menyelah-nyelah jenggotnya.” (HR. Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Abu Ma’mar, ia berkata:

قُلْنَا لِخَبَّابٍ بِأَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ قِرَاءَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ

“Kami bertanya kepada Khabbab, ‘Dari mana kalian mengetahui bacaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat Dhuhur dan Ashar?” Ia menjawab, “Dari gerakan jenggot beliau.” (HR. Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata,

كُنْتُ أُطَيِّبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَطْيَبِ مَا كُنْتُ أَجِدُ مِنْ الطِّيبِ حَتَّى أَرَى وَبِيصَ الطِّيبِ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ

“Saya pernah memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minyak wangi dengan minyak terbaik yang saya dapatkan hingga saya melihat kilauan minyak wangi pada kepala serta jenggot beliau sebelum berihram.” (HR. an-Nasa’i)

عَنْ أَبِي رِمْثَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَأَيْتُهُ قَدْ لَطَخَ لِحْيَتَهُ بِالصُّفْرَةِ

Dari Abu Rimtsah, dia berkata, “Saya datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melihat beliau telah melumuri jenggot beliau menggunakan warna kuning.” (HR. an-Nasa’i)

Tentang jenggot Rasul, maka lebih lengkap disebutkan dalam Shahih al-Bukhari yang menjelaskan tentang ciri-ciri fisik Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, bahwa ia menceritakan sifat-sifat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, katanya: “Beliau adalah seorang laki-laki dari suatu kaum yang tidak tinggi dan juga tidak pendek. Kulitnya terang tidak terlalu putih dan tidak pula terlalu kecoklatan. Rambut beliau tidak terlalu keriting dan tidak lurus. Kepada beliau diturunkan wahyu saat usia beliau empat puluh tahun lalu menetap di Makkah selama sepuluh tahun kemudian diberikan wahyu lagi dan menetap di Madinah selama sepuluh tahun lalu beliau meninggal dunia, dan ada rambut yang beruban pada kepala dan jenggot beliau dengan tidak lebih dari dua puluh helai.” (HR. al-Bukhari)

Dan masih banyak lagi hadits yang menyebutkan bahwa Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– pun ternyata berjenggot. Jadi kalau seorang muslim yang berjenggot dikatakan sebagai “Wahhabi”, maka ketahuilah bahwa ternyata orang yang paling bertaqwa kepada Allah pun berjenggot. Jadi para pembenci “Wahhabi” pun sebenarnya mengakui bahwa “Wahhabi” adalah orang-orang yang berusaha menjadikan Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– sebagai uswah (suri tauladan)nya.

Jidat tampak hitam

Ciri selanjutnya yang nampak pada “Wahhabi” (kata mereka) adalah jidat yang tampak hitam karena atsar (bekas) sujud. Allah –ta’ala– lebih dahulu menyebutkan hal ini dalam firman-Nya yang berbunyi:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. al-Fath : 29)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– dan para pengikutnya sampai saat ini memiliki ciri yang nampak dari muka-muka mereka yaitu atsar sujud (bekas sujud).

Atsar sujud itu telah nampak oleh manusia di dunia ini, namun ternyata bekas-bekas sujud itu akan semakin nampak oleh manusia ketika di akherat. Sebagaimana disebutkan dari ‘Abdullah bin Busr dari Nabi –shalallaahu ‘alaihi wa salam-, beliau bersabda:

أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرٌّ مِنْ السُّجُودِ مُحَجَّلُونَ مِنْ الْوُضُوءِ

“Ummatku akan datang pada hari kiamat kelak, sedangkan wajah mereka putih bersinar dari bekas sujud dan putih bersinar dari bekas wudhu’.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad dengan lafadz berbeda)[6]

Bahkan tak hanya manusia yang mampu mengenal bekas-bekas sujud itu, malaikat pun mengenalinya sehingga dengannya mereka pun akan diselamatkan dari kekekalan adzab neraka. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

أَمَرَ اللَّهُ الْمَلَائِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَيُخْرِجُونَهُمْ وَيَعْرِفُونَهُمْ بِآثَارِ السُّجُودِ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ فَكُلُّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُهُ النَّارُ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ

“Maka para Malaikat mengeluarkan mereka, yang mereka dikenal berdasarkan tanda bekas-bekas sujud (atsar sujud). Dan Allah telah mengharamkan kepada neraka untuk memakan (membakar) atsarus sujud, lalu keluarlah mereka dari neraka. Setiap anak keturunan Adam akan dibakar oleh neraka kecuali mereka yang memiliki atsar sujud. (HR. al-Bukhari, dan Muslim dengan lafadz berbeda)

Jika para pembenci “Wahhabi” mengatakan bahwa “Wahhabi” adalah mereka yang berjidat hitam, maka ketahuilah bahwa para “Wahhabi” berarti golongan pengikut Nabi dan para shahabatnya yang di akherat kelak sinar wajah-wajah mereka akan mudah dikenali oleh setiap orang, dan merekalah yang akan mendapatkan jaminan keselamatan dari adzab neraka yang membakar.

Ternyata Imam ‘Ali dan keturunannya pun Komplotan “Wahhabi” Plus “Teroris”

Jika kalangan Syi’ah mengagung-agungkan Imam ‘Ali dan keturunannya sehingga mereka mengangkatnya sebagai imam-imam, bahkan sampai mengangkat beliau pada kedudukan Ilah (sesembahan) yang berhak disembah, maka ketahuilah bahwa Imam ‘Ali dan keturunannya ternyata adalah termasuk golongan “Wahhabi” plus gembong “teroris”. Mungkin bagi anda yang Syi’ah mendengar hal ini akan kaget dan bertanya-tanya, “Bagaimana bisa?”

Silakan baca pernyataan seorang Syi’ah ini:

Si Syi’ah yang memakai nama Putra Haidar Ali mengatakan bahwa SEMUA yang bercela cingkrang (ngantung) dan berjenggot itu adalah “Wahhabi” dan “teroris”. Ini berarti Imam ‘Ali termasuk yang memiliki identitas di atas.

Disebutkan dalam riwayat yang disebutkan oleh Abu Mathar bahwa tatkala beliau (dan para shahabatnya) sedang duduk bersama Amirul Mukminin, ‘Ali di Masjid di Rahabah, tiba-tiba seorang laki-laki datang dan berkat, “Tunjukkan kepadaku wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” pada saat itu matahari telah tergelincir ke arah barat. ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu memanggil Qanbar dan berkata, “Bawakan bejana berisi air.” Lalu dia membasuh kedua telapak tangannya, wajahnya tiga kali, berkumur-kumur tiga kali, memasukkan sebagian jarinya pada mulutnya, beristinsyaq tiga kali, membasuh kedua lengannya tiga kali dan mengusap kepalanya sekali, sambil berkata, “Bagian dalam (telinga) termasuk bagian dari wajah dan bagian luarnya termasuk bagian kepala.” Kemudian membasuh kedua kakinya sampai mata kakinya tiga kali, sedangkan jenggotnya terurai pada dadanya, kemudian dia meminum satu tegukan setelah rampung dari wudhunya, setelah itu bertanya, “Di mana orang yang bertanya tentang wudhu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam? Beginilah wudhu Nabiyullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad)

Ya, Imam ‘Ali memiliki jenggot yang panjang. Bahkan ternyata hal inipun diakui oleh kalangan Syi’ah sendiri. Tidak hanya Imam ‘Ali, imam-imam lain yang mereka puja-pujapun berjenggot. Sebagai buktinya mereka melukiskan wajah-wajah para imam mereka yang 12 semuanya berjenggot lebat.

Jadi, lebih pantas dan tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa “Wahhabi” adalah para pecinta Imam Ali dan Ahlul Baitnya, karena realita menunjukkan bahwa “Wahabi”lah golongan yang berusaha meneladani Imam ‘Ali dan Ahlul Baitnya dalam kehidupan mereka.

Busyro (Kabar Gembira) bagi “Wahhabi” !!!

Dari Anas bin Malik –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانُ الصَّابِرِ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman (masa) yang ketika itu orang yang sabar di atas agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. at-Tirmidzi)

Zaman tersebut kini hadir di hadapan kita. Zaman ketika kehidupan materialistis diagung-agungkan. Zaman ketika manusia lebih mengedepankan duniawinya daripada ukhrawinya. Zaman ketika manusia saling berlomba-lomba mempercanggih tekhnologi. Zaman ketika manusia berlomba-lomba mengedepankan hawa nafsunya daripada syariat sang Pencipta. Sehingga pada zaman ini kita semakin sulit menemukan kaum muslimin yang peduli terhadap urusan diennya. Ilmu-ilmu dien (agama) semakin diremehkan dan pada akhirnya akan ditinggalkan. Akibatnya, orang tidak mengetahui mana ajaran Allah dan Rasul-Nya yang membawa rahmat dan mana ajaran setan yang terlaknat. Orang-orang yang berusaha mengamalkan ajaran Islam ini sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya dianggap sebagai manusia-manusia aneh, terbelakang, sok alim, sok suci, nggak njaman atau lebih ngetrennya mereka menjulukinya dengan “Wahhabi”.

Inilah yang Rasul dalam haditsnya menyebutnya sebagai Zaman Keterasingan atau Zaman Ghuroba’. Zaman di mana kita akan sulit menemukan orang-orang yang memiliki identitas bercelana cingkrang, berjenggot, berjidat hitam, bercadar (bagi wanita) atau semisalnya. Sebaliknya orang-orang seperti itu hanya akan menjadi bahan ejekan/hinaan oleh sebagian orang. Sehingga Rasul mengibaratkan bahwa orang-orang yang tetap bersabar dalam kondisi demikian, seperti para penggenggam bara api.[7]

Namun, kondisi yang demikian itu bukan malah menjadikan kita bersedih hati, minder atau merasa terpinggirkan, akan tetapi justru kondisi tersebut membuat kita semakin bergembira dan bersyukur kepada Allah –ta’ala-, karena dalam hal ini Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-pun memberikan kabar gembira lewat sabdanya:

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, MAKA BERUNTUNGLAH ORANG-ORANG YANG ASING.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dll)

Siapakah orang-orang asing yang hidup pada zaman Keterasingan tersebut? Dijelaskan dalam riwayat lain bahwa mereka adalah

الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي

“orang-orang yang memperbaiki salah satu dari sunnahku yang telah dirusak oleh orang-orang setelahku” (HR. at-Tirmidzi)[8]

Ya, mereka adalah orang-orang yang berusaha menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– ketika kebanyakan orang berlomba-lomba menjauhi sunnah-sunnah beliau, bahkan berusaha mematikannya.

Jadi berbahagialah jika kebanyakan orang atau bahkan seluruh manusia menjuluki bahwa orang yang bercelana cingkrang, berjenggot, berjidat hitam dengan “Wahhabi”. Karena hal ini berarti mereka mengakui bahwa “Wahhabi” adalah pecinta Sunnah Nabi.

Ini merupakan suatu kenikmatan dan kemuliaan yang Allah –ta’ala– segerakan di dunia bagi mereka sebelum mereka mendapatkannya di akherat.

Maka sekali lagi, berbahagialah anda kaum “Wahhabi”!!! Allah –ta’ala- juga mengatakan kapada anda,“wa basysyiril mukhbitiin” (berbahagialah orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah).[9]

“Maka barangsiapa yang beriman (kepada janji-janji Allah) dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. al-An’am : 48)

Wallaahu ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat !!!

Bumi Allah, 21 November 2012


[1]   Walaupun dalam masalah ini ulama berbeda pendapat, antara yang melarang dan yang memperbolehkan dengan syarat tidak sombong. Akan tetapi sebagai langkah kehati-hatian, alangkah baiknya kalau kita melihat dhahir hadits-hadits yang menjelaskan tentang larangan isbal ini secara umum.

[2]    Kaum Muslimin telah bersepakat akan keshahihan hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari.

[3] Musbil : laki-laki yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki.

[4] Terlepas dari kondisi saat ini, di mana sebagian pemuka kafir pun memanjangkan jenggot.

[5] Terjemahan Depag.

[6] Abu ‘Isa berkata, ini adalah hadits hasan shahih gharib dari riwayat ini dari hadits Abdullah bin Busr.

[7] Silakan baca artikel berjudul: Ibarat Menggenggam Bara Api

[8] Abu ‘Isa: “Hadits hasan shahih.”

[9] QS. al-Hajj : 34.


Responses

  1. Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!Hidup wahabi !!!

  2. kenapa sih anda -anda suka menambah pecahan-pecahan semakin sempurnanya 70 golongan yg dikatakan Nabi, katakan saja saya islam titik, , kenapa dibagi – bagi menjadi islam Wahbi, ISlam Syiah, islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam Ahmadiyah, Islam Tabligh, Islam eden, Islam Naqshahbandia, Islam Jamaah, Islam Ikhwanul Muslimin,Islam Persis, ISlamLDII, Islam DI. Islam NII, tambahin deh kalau sudah 70 golongan, sempuna sudah hancurnya islam . Wadah yag sempurna hancur berkeping karna menjadi bercerai-berai, Wadah yg kiblatnya yg sama, Tuhannya yg sama, Nabi yg sama, tujuan sama umat wasathon, kini hanya perdebatan egois merasa benar, paling benar, merasa paling benar, tugas kita menjaga wadah agar tetap utuh jangan sampai pecah berkeping-keping, tapi kita malah menambah 1 kepingan pecahan yg akan menambah wadah hancur berantakan, sekarang yg menjadi pertanyaan kamu itu bagian dari mana? pencukur atau penghancur agama ? Inna Arsalna Rahmatan Lil’Alamin
    Gigit Wadah dengan gerahammu Al Quran dan Hadits dan jaga wadah itu jangan sampai Hancur itulah Islam The Best bukan, bukan aliran, golongan
    tapi dialah muara dari segala penjurun hulu yg menyatu dalam aQidah, Tuhan yg sama, Nabi yg sama, kiblat yg sama, maaf yang saya tahu Nabi Muhammad SAW itu lemah lembut, bijaksana dan Rahmatan Lil A’lamin.

  3. Ijin Share ya Akhi

    • Silakan disebarkan jika ada kebenaran dan kebaikan.
      Jazaakumullahu khairan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: