Oleh: dakwahwaljihad | Oktober 2, 2012

Cinta Palsu Para Pendusta

CINTA PALSU PARA PENDUSTA

Oleh: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Artikel kali ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya, yaitu pembahasan salah satu hadits yang menjadi andalan Syi’ah, “Husein minnii wa ana min Husein”. Akan tetapi pada kesempatan ini kita hanya akan membahas potongan hadits pada bagian yang terakhir yang berbunyi:

أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah akan mencintai orang yang mencintai Husain.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)[1]

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya, bahwa kalangan Syi’ah gemar mengobral hadits-hadits, baik yang shahih, dha’if, bahkan palsu yang berkaitan dengan kecintaan kepada Imam Husein, termasuk hadits di atas. Adapun tujuan mereka adalah untuk memperlihatkan dan meyakinkan masyarakat bahwa merekalah orang-orang yang sesungguhnya “mencintai” Imam Husein radhiyallaahu ‘anhu.

Namun jika kita berpikir dengan akal yang jernih dan normal, pasti kita akan bertanya-tanya: “Benarkah orang-orang Syi’ah ini benar-benar mencintai Imam Husein? Sedangkan dari kebiasaan mereka saja bertentangan jauh dengan apa yang dilakukan oleh Imam Husein.”

Untuk mengetahui jawabannya, mari kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat.

Cinta Butuh Pembuktian

Cinta tak sekedar pengakuan di lisan, tapi cinta butuh pembuktian. Salah satu bukti cinta pecinta kepada seseorang yang dicintainya ketika dirinya berusaha meneladani dan mengikuti yang dicintainya dalam segala aspek kehidupan, baik dalam akhlaq (perkataan dan perbuatan), ibadah, muamalah dan lain sebagainya.

Setiap orang yang mengaku dirinya muslim, pasti mencintai Ahlul Bait (keluarga) Nabi. Dan yang termasuk Ahlul Bait Nabi diantaranya adalah Imam Husein radhiyallaahu ‘anhu. Seorang yang mengaku mencintai Imam Husein radhiyallaahu ‘anhu, maka konsekuensinya harus mampu membuktikan pengakuannya dalam kehidupannya, yaitu berusaha meneladani dan mengikuti beliau dalam berbagai aspek di atas. Karena apabila cinta hanya sebatas perkataan di lisan tanpa adanya pembuktian, maka yang ada hanyalah cinta palsu.

Dan yang lebih penting lagi, bahwa kecintaan itu tidak berlandaskan pada hawa nafsu, tapi harus berlandaskan karena Allah ta’ala, karena dari sinilah bisa dibedakan antara seorang yang jujur dengan pendusta. Antara orang yang beriman dengan orang munafik.

Diriwayatkan dari Anas radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ …وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ

“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: (diantaranya) dan jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Cinta Palsu Syi’ah Kepada Imam Husein

Tidak asing lagi di telinga kaum muslimin, bahwa orang-orang Syi’ah mengaku-ngaku mencintai Imam Husein radhiyallaahu ‘anhu dengan kecintaan yang “luaaaar biasaaa”. Sehingga dalam hal kecintaan kepada Imam Husein ini tak ada kalangan yang mampu “mengalahkannya” mereka, akhirnya mereka pun sampai meremehkan kalangan yang menyelisihi mereka, bahkan menganggap bahwa semua kalangan yang menyelisihi mereka adalah pembenci beliau (Nashibi).[2]

Benarkah orang-orang Syi’ah ini benar-benar mencintai Imam Husein? Jika benar, maka salah satu konsekuensinya mereka harus meneladani dan mengikuti Imam Husein dalam berbagai aspek, diantaranya meliputi perkataan, perbuatan, ibadah, aqidah dan lain-lain.

Agar pembahasan tidak terlalu panjang lebar, maka dari beberapa aspek di atas, kita ambil dua aspek saja, yaitu perkataan dan perbuatan. Dan insyaAllah dengan dua aspek ini bisa membuktikan apakah kalangan Syi’ah benar-benar mencintai Imam Husein, ataukah sebaliknya, ucapan cinta itu tidak lain hanyalah tumpukan bualan yang tak ada nilainya.

Yang pertama, dalam perkataan.

Setiap Syi’ah yang mencintai Imam Husein, pasti akan meneladani beliau dalam perkataan. Mereka akan meniru imam Husein bagaimana beliau bertutur kata kepada para shahabatnya dan orang lain. Kita mengetahui bagaimana Imam Husein bertutur kata, maka kita melihat bagaimana orang yang paling dicintainya, yaitu kakeknya, Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertutur kata. Dalam bertutur kata ini beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Juga dalam hadits yang lain, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَكُونُ الْمُؤْمِنُ لَعَّانًا

“Tidak boleh seorang mukmin menjadi orang yang suka melaknat.” (HR. at-Tirmidzi)[3]

Atau dalam hadits yang lain juga disebutkan, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِطَعَّانٍ وَلَا بِلَعَّانٍ وَلَا الْفَاحِشِ الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin yang sempurna bukanlah orang yang suka mencela, melaknat dan berkata kotor.” (HR. Ahmad)

Dengan memperhatikan beberapa hadits di atas, maka jelas bagi kita bahwa jika kita mencintai Imam Husein, hendaknya kita memperhatikan beberapa adab bertutur kata, diantaranya:

  1. Berkata yang baik, atau kalau tidak bisa, maka lebih baik diam,
  2. Tidak melaknat orang lain,
  3. Tidak mencela orang lain, dan
  4. Tidak berkata kotor.

Coba sekarang kita tengok, bagaimanakah kalangan Syi’ah yang mengaku sangat mencintai Imam Husein bertutur kata? Sudah sesuaikah tutur kata mereka ini dengan orang yang mereka cintai. Silakan anda lihat screen shot di bawah ini, sekaligus berikanlah penilaian terhadap kalangan Syi’ah itu.

Yang kedua, dalam perbuatan.

Sebagai bukti “kecintaan” kalangan Syi’ah kepada Imam Husein, maka setiap tanggal 10 Muharram kita akan menyaksikan kalangan Syi’ah melakukan ritual tahunan, yaitu meratapi kematian Imam Husein. Dalam acara tersebut, diantara mereka ada yang menangis-nangis, memukul-mukul dada, berteriak-teriak memanggil Imam Husein, ada pula yang sampai membacok-bacok kepala dan seluruh tubuh mereka dan perbuatan yang semisal. Naudzu billaahi min dzaalik.

Padahal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukan dari golongan kami siapa yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (meratap)”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain, beliau juga memberikan peringatan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّائِحَةَ وَالْمُسْتَمِعَةَ

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang meratap dan wanita yang sengaja mendengarnya. (HR. Abu Dawud)

Perlu diketahui bersama, bahwa kalangan Ahlus Sunnah dan Syi’ah sama-sama mengetahui bahwa Imam Husein adalah orang yang paling taat dan paling bertaqwa dalam melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan Allah dan Rasul-Nya.

Maka pertanyaan bagi kalangan Syi’ah, “Apakah dahulu Imam Husein melakukan ritual ratapan seperti yang kalian lakukan dalam rangka mengenang kematian ayahnya (Imam ‘Ali) dan kakeknya yang dicintainya (Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam),padahal kakeknya telah melarang, bahkan melaknat perbuatan dan pelakunya?”

Dari  pertanyaan di atas tidak ada jawaban lain kecuali dua, yaitu “YA” atau “TIDAK”.  Dan kedua jawaban ada konsekuensinya masing-masing.

Jika “YA” maka merupakan suatu hal yang wajar bagi para pecinta mengikuti perilaku orang yang dicintainya, namun konsekuensinya kalangan Syi’ah harus mengakui bahwa Imam Husein bukanlah manusia yang taat terhadap Allah dan Rasul-Nya, melainkan beliau adalah manusia pembangkang, yaitu membangkang perintah Allah dan Rasul-Nya.

Namun, jika jawabannya ternyata “TIDAK”, maka konsekuensinya kalangan Syi’ah harus meninggalkan perbuatan itu dan menggantinya dengan yang lain yang sesuai dengan apa yang dilakukan orang yang dicintainya jika mereka benar-benar mencintai beliau.

Dan kalau jawabannya “TIDAK”, maka timbul pertanyaan lagi: “DARI MANAKAH AJARAN YANG MEREKA LAKUKAN ITU?”

Silakan anda baca dan renungi. Setelah itu mulailah berpikir dengan sejujur-jujurnya. Berpikir dengan menggunakan akal yang telah Allah ta’ala anugerahkan kepada kita dan bukan berpikir dengan menggunakan hawa nafsu. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah sedikitpun?[4]

Cinta Sejati Ahlus Sunnah Kepada Imam Husein

Mereka disebut dengan Ahlus Sunnah karena terbukti dengan kecintaannya terhadap Sunnah (ajaran) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan usaha mereka untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kemampuannya. Adapun mereka yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah namun mengingkari bahkan mengolok-olok sunnah/ajaran Rasulullah, maka dirinya tak pantas dianggap sebagai Ahlus Sunnah.

Dan salah satu ajaran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang sangat ditaati oleh kalangan Ahlus Sunnah adalah kewajiban mencintai Imam Husein radhiyallaahu ‘anhu, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا

“Allah akan mencintai orang yang mencintai Husain.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Maka suatu pernyataan dusta dan dibuat-buat ketika kalangan Syi’ah mengatakan bahwa Ahlus Sunnah adalah kalangan pembenci Imam Husein radhiyallaahu ‘anh.

Perlu pembaca ketahui, bahwa berkaitan dengan Imam Husein, Ahlus Sunnah memiliki beberapa keyakinan, diantaranya:[5]

1. Beliau adalah cucu Rasul, buah hati, dan belahan jiwanya. Dan Nabi sangat mencintai beliau dan saudaranya Imam Hasan. Sebagaimana Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنْ الدُّنْيَا

“Sesungguhnya Hasan dan Husein adalah kebanggaanku di dunia.” (HR. at-Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَانِ ابْنَايَ وَابْنَا ابْنَتِيَ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُمَا

“Ini adalah kedua anakku (Hasan dan Husein) dan anak putriku, Ya Allah! Sungguh aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka berdua dan orang yang mencintai keduanya.” (HR. at-Tirmidzi)

2. Imam Husein dan saudaranya (Imam Hasan) radhiyallaahu ‘anhuma adalah penghulu pemuda Surga dan putera dari penghulu kaum wanita surga.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya ini adalah malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelum ini, ia meminta izin kepada Robbnya untuk mengucapkan salam kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa Fathimah adalah penghulu kaum wanita penghuni surga dan bahwasanya Hasan serta Husain adalah penghulu para pemuda penghuni surga.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani).

3. Imam Husein adalah putera Amirul Mukminin ‘Ali radhiyallaahu ‘anh, seorang yang mencintai dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda pada perang Khaibar: “Sungguh aku akan berikan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Lalu kami berebut untuk mendapatkannya, namun beliau bersabda: “Panggilkan Ali untukku.” (HR. at-Tirmidzi)

4. Imam Husein meninggal karena dibunuh musuh-musuh yang mendhaliminya, Ahlus Sunnah berlepas diri dari seluruh orang celaka yang telah membunuhnya atau bantu-membantu dalam membunuh Imam Husein, atau mereka yang ridha atas kedhaliman yang menimpanya.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Minhaajus Sunnah-nya, IV/559-560:

“Tidak diragukan bahwa pembunuhan Husain termasuk diantara dosa yang paling besar. Pelakunya, yang meridhainya, dan yang membela pembunuhnya layak mendapatkan hukuman Allah. Namun pembunuhan beliau tidaklah lebih besar dari pembunuhan orang-orang yang lebih mulia dari beliau dari kalangan para nabi[6], as-sabiqunal awwalun, orang yang terbunuh ketika memerangi Musailamah, syuhada’ Uhud, shahabat yang terbunuh di Bi’ru Ma’unah, ‘Utsman bin Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib. Bahkan para pembunuh ‘Ali meyakini bahwa ‘Ali telah kafir dan murtad dan membunuhnya adalah ibadah yang agung. Berbeda dengan para pembunuh Husain, mereka tidak berkeyakinan bahwa ia kafir,  justru sebagian besar dari mereka tidak suka untuk membunuhnya dan mengira hal itu adalah dosa besar, tetapi mereka membunuh Husein karena tujuan pribadi mereka seperti halnya manusia saling bunuh karena kekuasaan.”[7]

Itulah beberapa keyakinan Ahlus Sunnah berhubungan dengan Imam Husein. Sehingga keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah di atas menjadi alasan kenapa Ahlus Sunnah sangat mencintai beliau. Bahkan kecintaan Ahlus Sunnah kepada beliau bukan hanya sebatas omong kosong, tapi bisa direalisasikan dengan amal perbuatan. Dan realisasi kecintaan Ahlus Sunnah kepada beliau bukan sebagaimana yang direalisasikan oleh kelompok Syi’ah yang melampaui batas. Dalam merealisasikan kecintaan kepada Imam Husein, Ahlus Sunnah berusaha menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan kepada pelanggaran batas-batas aturan syari’at sebagaimana yang telah ditetapkan oleh kakeknya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pernah bersabda:

لا تطروني كم أطرت النصارى ابن مريم إنما انا عبد الله فقولوا عبد الله ورسوله

“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku seperti kaum Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam, tapi cukup katakanlah: Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إياكم و الغلو فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو

“Jauhilah oleh kamu sekalian sikap ghuluw (berlebihan), karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kalian.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma)

Kepada manusia terbaik saja tidak boleh berlebihan, apalagi kepada manusia selainnya. Hanya dalam masalah perkataan saja tidak boleh berlebihan, apalagi dalam masalah perbuatan. Hanya memanggil dengan maksud untuk mengagungkan saja dilarang, apalagi dengan melakukan perbuatan yang lebih dari itu bahkan bertentangan dengan syari’at.

Maka ketika mencintai dan membenci pun, Ahlus Sunnah bersandar kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Sehingga ketika mencintai dan membenci seseorang, maka Ahlus Sunnah tidak mengedepankan hawa nafsu sampai melampaui batas-batas yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ahlus Sunnah meyakini bahwa kecintaan sejati orang-orang yang beriman itu jika diniatkan karena Allah ta’ala. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallaahu ‘anh, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ … وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ

“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman: (diantaranya yaitu) Jika dirinya mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda dalam hadits yang lain:

إِنَّ أَوْسَطَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللَّهِ وَتُبْغِضَ فِي اللَّهِ

“Sesungguhnya cabang keimanan yang paling pokok adalah, kamu mencintai sesuatu karena Allah, dan membenci juga karena Allah.” (HR. Ahmad)

Sehingga berlandaskan hadits di atas, dalam kaitannya dengan kecintaan kepada Imam Husein, maka Ahlus Sunnah memberikan rambu-rambu:

1. Ahlussunnah tidak berdo’a dan meminta pertolongan kepada Imam Husein, karena Allah melarang berbuat demikian. Ahlussunnah tidak memperlakukan Nabi dan Ahlulbaitnya seperti memperlakukan Allah, sebagaimana kaum Nasrani menyekutukan Allah dengan Isa dan Maryam yang akhirnya menjadikan mereka berdua sebagai Illah (sesembahan) selain Allah.

2. Ahlussunnah tidak melanggar perintah kakek Imam Husein, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang melarang ummatnya meratap, memukul badan dan menobek pakaian ketika ditimpa musibah. Rasulullah menerangkan bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan jahiliyah. Bahkan Hamzah, paman Nabi, telah dibunuh dan dirusak mayatnya. Nabi pun bersedih, beliau tidak pernah ditimpa musibah seberat ketika pamannya dibunuh dan dirusak mayatnya di perang uhud. Namun beliau tidak pernah menjadikan hari terbunuhnya Hamzah sebagai hari duka cita yang penuh dengan tangis ratapan. Begitu juga Ali, tidak pernah berbuat demikian saat memperingati wafatnya Nabi, juga Imam Hasan dan Imam Husein tidak pernah mengadakan acara duka cita dan ratapan pada hari peringatan wafatnya Ali. Maka Ahlussunnah tidak menjadikan hari peringatan wafatnya Imam Husein sebagai hari duka cita, kami meniru hal itu dari petunjuk Nabi yang diikuti oleh Ali dan kedua puteranya, Hasan dan Husein.

3. Dalam rangka mengenang dan mengingat musibah yang menimpa Imam Husein, maka Ahlus Sunnah mengerjakan amalan yang memang diperintahkan Allah ta’ala sebagaimana tertera dalam QS. al-Baqarah : 156,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”

Dan ternyata kita mendapati bahwa Fathimah dan bapaknya, Imam Husein radhiyallaahu ‘anh mengikuti nasehat yang diberikan oleh kakeknya. Sebagaimana diriwayatkan,

عَنْ فَاطِمَةَ ابْنَةِ الْحُسَيْنِ عَنْ أَبِيهَا الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ: عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ وَلَا مُسْلِمَةٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ فَيَذْكُرُهَا وَإِنْ طَالَ عَهْدُهَا فَيُحْدِثُ لِذَلِكَ اسْتِرْجَاعًا إِلَّا جَدَّدَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ ذَلِكَ فَأَعْطَاهُ مِثْلَ أَجْرِهَا يَوْمَ أُصِيبَ بِهَا

Dari Fathimah binti Husain dari bapaknya, Husain bin Ali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak seorang muslimpun baik laki-laki maupun perempuan yang tertimpa musibah dan ia mengingat (kembali musibah tersebut) walaupun sudah lama berlalu/ sudah berlangsung lama, kemudian dia menceritakannya agar menguncapkan istirja’, kecuali Allah menggantinya pada saat itu dan memberinya pahala sebagaimana yang diberikan saat ia tertimpa musibah.” (HR. Ahmad)

Maka sebagai wujud rasa cinta Ahlus Sunnah kepada Imam Husein karena Allah ta’ala, maka ketika mengingat musibah yang menimpa Imam Husein, Ahlus Sunnah mengucapkan kalimat “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un”, karena mengharapkan berita gembira dari Allah ta’ala:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ *  أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar, yaitu mereka yang mengatakan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika ditimpa musibah. Mereka akan mendapat pujian dan rahmat dari Allah, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. al-Baqarah : 155-157)

Maka renungkanlah, siapakah sebenarnya yang mencintai Imam Husein radhiyallaahu ‘anhu dengan ikhlas dan tulus karena mengharapkan ridha dari Allah ta’ala? Ahlus Sunnah ataukah Syi’ah? Sebaliknya, siapakah yang sebenarnya berdusta dalam dalam mengungkapkan cintanya kepada beliau?

Para Shahabat Semuanya Lebih Berhak Dicintai

Jika kalangan Syi’ah meyakini murtadnya sebagian besar para shahabat Rasul,[8] sehingga mereka berpendapat bahwa tidak semua shahabat Rasul itu berhak dicintai, namun hanya segelintir saja,[9] maka sebaliknya kita sebagai kaum mukminin yang berittiba’ kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai orang-orang yang mendapatkan keridha’an dan jaminan kebaikan dari Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (QS. at-Taubah : 100)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para shahabat), kemudian generasi berikutnya (tabi’in), kemudian generasi berikutnya (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

Ayat dan hadits di atas paling tidak sudah menjadi alasan bagi Ahlus Sunnah kenapa mereka begitu mencintai semua shahabat Nabi tanpa terkecuali.[10] Karena sifat adil yang ada pada mereka.

Selain itu, alasan lain yang mendorong Ahlus Sunnah mencintai para shahabat Nabi, adalah karena adanya nash/dalil yang shahih dan sharih yang memerintahkan kaum beriman untuk mencintai para shahabat dan kecintaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para shahabat. Diantara nash-nash tersebut:

1. Dari Anas radhiyallaahu ‘anh, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

“Tanda iman adalah mencintai (kaum) Anshar dan tanda nifaq adalah membenci (kaum) Anshar”. (HR. al-Bukhari)

Dalam riwayat lain,

Dari al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْأَنْصَارُ لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ فَمَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ

“Kaum Anshar, tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang beriman dan tidak ada yang membenci mereka kecuali orang munafiq. Barangsiapa yang mencintai mereka, Allah akan mencintainya dan siapa yang membenci mereka, Allah pun akan membencinya”. (HR. al-Bukhari)

2. Dari ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, aku berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling engkau cintai?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aisyah.” Aku berkata lagi, “Dari laki-laki?” Beliau menjawab, “Bapaknya (Abu Bakar).” Aku bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Umar bin Khattab.” Kemudian beliau menyebutkan beberapa orang sahabat lainnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam menggandeng tangannya dan berkata:

يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ

“Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, sungguh aku mencintaimu.” (HR. Abu Dawud)

4. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah merangkulnya dan al-Hasan radhiyallahu ‘anhu seraya bersabda:

اللَّهُمَّ أَحِبَّهُمَا فَإِنِّي أُحِبُّهُمَا

 “Ya Allah, cintailah keduanya karena aku mencintai keduanya.” (HR. al-Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan,

Dari Aisyah binti Thalhah radhiyallahu ‘anhuma, dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُنَحِّيَ مُخَاطَ أُسَامَةَ قَالَتْ عَائِشَةُ دَعْنِي حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّذِي أَفْعَلُ قَالَ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّيهِ فَإِنِّي أُحِبُّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak membuang ingus dari (hidung) Usamah, maka Aisyah berkata: “Biarkan aku saja yang melakukannya.” Beliau bersabda: “Wahai Aisyah, cintailah dia, karena aku mencintainya.” Abu Isa berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan gharib.”(HR. at-Tirmidzi)

Sebenarnya masih banyak hadits yang menunjukkan kecintaan Nabi kepada para shahabat-Nya, tapi hadits-hadits di atas paling tidak sudah menunjukkan kepada kita semua bahwa Nabi sendiri tidak pernah pilih kasih dalam mencintai para shahabatnya.

Berbeda dengan kalangan Syi’ah, yang memiliki sifat dan kebiasaan sebagaimana nenek moyang mereka, kaum Yahudi yang digambarkan oleh Allah ta’ala dalam ayat:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاء مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagaian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. al-Baqarah : 85)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa kebiasaan orang-orang Yahudi mengimani sebagian ayat dan mengingkari sebagian yang lain. Namun ternyata kebiasaan ini diikuti oleh “anak keturunan dan cucu-cucunya” dari kalangan Syi’ah. Terbukti kalangan Syi’ah sering menampilkan sebagian ayat-ayat dan hadits-hadits yang sesuai dengan selera mereka, akan tetapi menyembunyikan dan mengingkari sebagian yang lainnya. Misalnya pada kasus di atas, mereka menampilkan hadits yang menjelaskan tentang kecintaan Rasul kepada Imam Husein atau Ahlul Baitnya, namun ternyata hadits-hadits yang lain yang menjelaskan tentang kecintaan Rasul kepada shahabat yang lain mereka ingkari dan sembunyikan demi “mengokohkan” keyakinan bobrok mereka padahal sebenarnya mereka mengetahuinya.

Sungguh, tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka.” (QS. Al-Mukmin : 58)

Maka, saya peringatkan kepada kalangan Syi’ah dan orang-orang yang membela mereka dengan firman Allah ta’ala yang berbunyi:

قَدْ جَاءكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَاْ عَلَيْكُم بِحَفِيظ

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang. maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa’atnya) bagi dirinya sendiri. dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).” (QS. al-An’am : 104)

Semoga bermanfaat, semoga Allah ta’ala menjauhkan kita semua dari tipu daya syaithon-syaithon dari jenis manusia yang ingin menjerumuskan ke jurang kesesatan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Bumi Allah, 1 Oktober 2012


[1] Syaikh al-Albani rahimahullaahu ta’ala mengatakan hadits hasan.

[2] Nashibi adalah orang yang memusuhi Ahlul Bait. Tetapi Syi’ah memiliki terminologi yang berbeda tentang kata memusuhi Ahlul Bait. Yang dimaksud memusuhi Ahlul Bait bukanlah memusuhi alias lawan kata cinta, seperti orang yang memusuhi Ali atau membenci Fatimah, anda tidak akan menemui sikap demikian kecuali pada sebagian orang Khawarij yang memang sesat. Tetapi nashibi di sini bermakna mereka yang mendahulukan selain Ali dalam khilafah, alias mereka yang berkeyakinan bahwa Ali bukanlah yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Jadi definisi an-Nashib menurut Syi’ah yaitu Ahlussunnah itu sendiri, yang mereka mencintai Abu Bakar, Umar dan para sahabat radhiallahu anhum. (hakekat.com)

Sebagaimana disebutkan oleh Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah,” Adapun orang Nashibi yang berkaitan dengan mereka bisa dijelaskan dalam dua kondisi: Pertama, siapakah yang dimaksud dengan an-Nashib yang diceritakan dalam berbagai riwayat mereka itu lebih jahat dari orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Yang juga mereka itu kafir dan najis menurut ijma’ para ulama Imamiyah….Dan telah diriwayatkan dari Nabi shallahu alaihi wa sallam bahwa di antara ciri khas orang-orang Nawashib adalah: mendahulukan selain Ali atasnya.

[3] Dalam riwayat yang lain disebutkan:

قَالَ أُوصِيكَ أَنْ لَا تَكُونَ لَعَّانًا

“Aku nasehatkan kepadamu supaya jangan menjadi orang yang suka melaknat.” (HR. Ahmad)

[4] QS. Al-Qashash : 50.

[6] Kepala Nabi Yahya telah dipersembahkan kepada seorang pelacur. Nabi Zakaria  pun dibunuh. Nabi Musa dan Nabi Isa ’alaihimas salam, umat mereka ingin membunuh mereka berdua. Dan beberapa orang nabi lainnya juga telah dibunuh.

[8]Diriwayatkan secara dusta dalam kitab Furu’ al-Kafi karya al-Kulaini,

 عن جعفر عليه السلام : (( كان الناس أهل ردة بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ثلاثة، فقلت: من الثلاثة؟فقال: المقداد بن الأسود،وأبو ذر الغفاري،وسلمان الفارسي

Dari Ja’far as., “Semua manusia (para shahabat) murtad sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kecuali tiga saja.” Maka aku bertanya, “Siapa tiga orang itu?” maka dijawab, “al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.”

[9] Adapun dalil yang digunakan kalangan Syi’ah adalah:

عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِحُبِّ أَرْبَعَةٍ وَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ يُحِبُّهُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ عَلِيٌّ مِنْهُمْ يَقُولُ ذَلِكَ ثَلَاثًا وَأَبُو ذَرٍّ وَسَلْمَانُ وَالْمِقْدَادُ

Dari Ibnu Buraidah dari bapaknya ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah memerintahkanku agar mencintai empat orang dan mengabarkan kepadaku bahwa Dia juga mencintai mereka.” Beliau ditanya: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?” beliau menjawab: “Ali adalah salah satu dari mereka -beliau ucapkan hal itu hingga tiga kali- kemudian Abu Dzar, Salman dan Miqdad.” (HR. Ibnu Majah)

[10] Masih banyak hadits lain yang menjelaskan tentang keutamaan para shahabat, dan insyaAlloh akan kita bahas pada kesempatan yang lain insyaAlloh.


Responses

  1. Ini baru tulisan mantab, ahlu sunnah emang siap.
    tapi yang jadi bingung, bisakah gak dalam satu hati berisi cinta kepada Husein dan cinta kepada orang-orang yang memusuhi Husein (Muawiyyah, Yazid dll.). bukankah cinta tidak hanya cukup diucapkan saja, mana dan buktikan jika ahlu sunnah jika cinta pada Husein……? Merdeka……………..

    • Terimakasih sarannya… insyaAlloh dalam artikel selanjutnya saya usahakan untuk membahats bukti kepalsuan kisah2 tentang kebencian Muawiyah terhadap ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu..

      • Bahas juga riwayat yang gak ngebenci, yang rukun gitu, merdeka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: