Oleh: dakwahwaljihad | September 3, 2012

Wahai Rafidhah…. !!! Apakah Kalian Tahu Maksud dari Hadits “Husein minnii wa ana min Husein”?

WAHAI RAFIDHAH….. !!! APAKAH KALIAN TAHU MAKSUD DARI HADITS “HUSEIN MINNII WA ANA MIN HUSEIN”???

Oleh: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Bismillaahi, washshalaatu  wassalaamu ‘ala Rasuulillaahi wa ‘ala ahli baitihi ath-thaahiriin wa ash-habihi ajma’iin.

Salah satu ajaran yang sering digembar-gemborkan kalangan Syi’ah Rafidhah di tengah-tengah masyarakat, terlebih masyarakat awwam adalah kecintaan mereka terhadap “Ahlul Bait” Rasul. Mereka mengobral setumpuk hadits yang berkaitan tentang “Ahlul Bait” kepada masyarakat. Sehingga masyarakat awwam ataupun mereka yang paham tentang dien Islam ini tapi tidak tahu menahu tentang hakekat ajaran Syi’ah yang sebenarnya, akan menganggap bahwa kalangan Syi’ah adalah para pecinta keluarga Nabi. Lantas sebagian dari mereka pun mati-matian membela Syi’ah, bahkan ada yang kemudian sampai terjerembab dalam perangkap Syi’ah itu dan akhirnya dengan penuh kesukarelaan dirinya menjual agama Islamnya kepada orang-orang zindiq itu. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Dan diantara hadits dari sekian banyak hadits tentang Ahlul Bait yang diobral oleh kalangan Syi’ah Rafidhah untuk menutup-nutupi dan memperkokoh kebobrokan ajaran mereka, sekaligus untuk menggaet kalangan awwam agar masuk ke dalam perangkap mereka adalah sebuah hadits yang berbunyi:

عَنْ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنْ الْأَسْبَاطِ

Dari Ya’la bin Murrah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Husain adalah bagian dariku, dan aku merupakan bagian dari Husain. Allah akan mencintai orang yang mencintai Husain, Husain termasuk dari sibt (keturunan yang akan menurunkan banyak ummat) dari beberapa ummat.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)[1]


Dengan hadits di atas, kalangan Rafidhah ingin membuktikan kepada kaum muslimin bahwa salah satu Ahlul Bait Nabi, yaitu Imam Husein yang mereka “cintai dan agung-agungkan” merupakan shahabat Rasul yang memiliki keistimewaan dan kekhususan tersendiri dibandingkan dengan shahabat Rasul yang lain, yaitu beliau merupakan bagian dari Rasul, begitu pula Rasul pun termasuk bagian darinya. Adapun shahabat Rasul yang lain, menurut mereka tak lebih dari onggokan sampah yang tidak memiliki bagian apa-apa dalam Islam ini.

Namun, benarkah anggapan kalangan Rafidhah tersebut? Untuk membuktikan apakah anggapan Rafidhah itu benar atau mereka benar-benar hanya memilih-milih hadits tertentu dan menafsirkan sesuai dengan selera mereka serta membuang semua hadits Rasul yang bertentangan dengan nafsu mereka? Kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat. 

Berdalil dengan riwayat Ahlus Sunnah?

“Tak tahu malu dan memalukan!” Itulah kalimat yang pantas dilontarkan untuk kalangan Syi’ah. Bagaimana memiliki rasa malu dan tidak memalukan, sementara banyak hinaan dan cacian bahkan laknatan dan pengkafiran yang mereka tujukan kepada para shahabat Rasul keluar lewat mulut-mulut busuk mereka. Akan tetapi di lain kesempatan, mereka memanfaatkan jasa-jasa orang-orang yang telah mereka hina itu.

Sebagai contohnya: Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Salah seorang shahabat Rasul sekaligus perawi hadits. Beliau menjadi sasaran hujatan dan cacian kalangan Syi’ah Rafidhah dari dulu hingga sekarang. Hanya gara-gara beliau meriwayatkan hadits terbanyak dalam waktu yang relatif pendek dibandingkan para shahabat Rasul yang lain yang lebih awal masuk Islamnya. Beliau meriwayatkan hadits sebanyak 5374 hadits dalam kurun waktu kira-kira 3 tahun sebelum wafatnya Nabi.[2] Sehingga kita sering mendengar kalangan Syi’ah yang melontarkan hujatan-hujatan untuk beliau diantaranya beliau dikatakan sebagai pendusta, pembuat hadits palsu, pembual atau perkataan-perkataan buruk lainnya.

Dipilihnya Abu Hurairah sebagai target bidikan bukanlah tanpa alasan. Sebagaimana telah disebutkan tadi bahwa Abu Hurairah adalah sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits. Artinya, ketika legitimasi Abu Hurairah jatuh, maka legitimasi sunnah Nabi pun jatuh juga. Sunnah Nabi di sini bukan hanya sekedar text dari hadits, tapi seluruh perangkat yang terkait, seperti para perawi dan ulama hadits, otomatis gugur juga. Pada akhirnya, ketika hadits sudah tidak lagi memiliki kekuatan hukum, maka akidah Ahlus Sunnah pun akhirnya gugur. Inilah tujuan akhir dari kajian-kajian tentang Abu Hurairah, juga sahabat Nabi lainnya.[3]

Sampai kemudian seorang penulis Syi’ah yang bernama Abdul Husein Syarafuddin Al-Musawi[4] menulis sebuah buku berjudul “Abu Hurairah” dan “Dialog Sunni Syi’ah” (edisi Indonesia).  Di dalamnya berisi kritikan dan hujatan terhadap beliau dan hadits-hadits yang beliau riwayatkan. Salah satu hujatan yang disampaikan dalam buku tersebut adalah bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tidak masuk akal, dan berlawanan dengan Al-Qur’an. Padahal sebenarnya hal itu merupakan hujatan untuk Ahlus Sunnah sendiri.

Para shahabat radhiyallaahu ta’ala ‘anhum pun nasibnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh Abu Hurairah radhiyallaahu ta’ala ‘anhu. Sebagaimana yang anda lihat di screenshot bawah ini.

Walaupun kalangan Syi’ah ini sering menghina dan melaknat shahabat Rasul dan berkeyakinan bahwa mayoritas kafir murtad sepeninggal Rasul[5], akan tetapi anehnya ketika ndalil untuk mengokohkan ajaran busuknya, mereka mempergunakan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para shahabat yang mereka vonis kafir murtad tersebut. Bukankah ini “gak tahu malu” namanya???

Apa maksud “Husein minnii wa ana min Husein”?

Sebelum memahami maksud dari kalimat “Husein minnii wa ana min Husein”, maka terlebih dahulu saya ajak pembaca sekalian agar membaca dan memperhatikan nash-nash berikut ini:

1. QS. Al-Baqarah : 249

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلاَّ مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُواْ مِنْهُ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka.”

 2. QS. Ibrahim : 36

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

3. Hadits pertama

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ عُمَرَ بْنِ سَلِيطٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ كِنَانَةَ بْنِ نُعَيْمٍ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي مَغْزًى لَهُ فَأَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَقَالَ لِأَصْحَابِهِ هَلْ تَفْقِدُونَ مِنْ أَحَدٍ قَالُوا نَعَمْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا ثُمَّ قَالَ هَلْ تَفْقِدُونَ مِنْ أَحَدٍ قَالُوا نَعَمْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا ثُمَّ قَالَ هَلْ تَفْقِدُونَ مِنْ أَحَدٍ قَالُوا لَا قَالَ لَكِنِّي أَفْقِدُ جُلَيْبِيبًا فَاطْلُبُوهُ فَطُلِبَ فِي الْقَتْلَى فَوَجَدُوهُ إِلَى جَنْبِ سَبْعَةٍ قَدْ قَتَلَهُمْ ثُمَّ قَتَلُوهُ فَأَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ قَتَلَ سَبْعَةً ثُمَّ قَتَلُوهُ هَذَا مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ هَذَا مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ قَالَ فَوَضَعَهُ عَلَى سَاعِدَيْهِ لَيْسَ لَهُ إِلَّا سَاعِدَا النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَحُفِرَ لَهُ وَوُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ غَسْلًا

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ‘Umar bin Salith: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Kinanah bin Nu’aim dari Abu Barzah bahwa pada suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin bertempur melawan musuh hingga memperoIeh harta rampasan perang. Usai pertempuran, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat: “Apakah kalian kehilangan seorang sahabat kalian?” Para sahabat menjawab; “Ya. Kami telah kehilangan fulan, fulan, dan fulan.” Rasulullah bertanya lagi: “Apakah kalian kehilangan seorang sahabat kalian?” Para sahabat menjawab, “Ya, kami telah kehilangan Fulan, fulan, dan fulan.’ Sekali lagi Rasulullah bertanya; “Apakah kalian merasa kehilangan seorang dari sahabat kalian?” Para sahabat menjawab; “Ya, Kami telah kehilangan fulan, fulan dan fulan.” Kemudian Rasulullah melanjutkan pernyataannya dan berkata: “Tapi aku sungguh telah kehilangan Julaibib. Oleh karena itu, tolong cari di manakah ia?” Lalu para sahabat berupaya mencari jasad Julaibib di tengah-tengah korban pertempuran. Akhirnya mereka menemukan jasadnya di sebelah tujuh orang kafir yang telah dibunuhnya, hingga ia sendiri gugur sebagai syahid di tangan orang-orang kafir. Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi mayat Julaibib dan berdiri di atasnya seraya berkata: “Sesungguhnya Julaibib telah membunuh tujuh orang kafir dan mereka membunuhnya. Julaibib ini termasuk dalam kelompokku dan aku termasuk dalam kelompoknya. Julaibib ini termasuk dalam kelompokku dan aku termasuk dalam kelompoknya.” Abu Barzah berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan mayat Julaibib di atas kedua Iengannya. Tidak ada alas bagi jasad Julaibib kala itu selain kedua lengan Rasulullah. Lalu para sahabat menggali kubur untuk jasad Julaibib dan dimasukkan ke dalamnya serta tidak disebutkan tentang mandi.” (HR. Muslim)

4. Hadits kedua

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْأَشْعَرِيِّينَ إِذَا أَرْمَلُوا فِي الْغَزْوِ أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِينَةِ جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ

Dari Abu Musa berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Asya’ariy, jika mereka berperang atau harta kebutuhan keluarga mereka di Madinah menipis, maka mereka mengumpulkan apa saja milik mereka pada satu kain lalu mereka membagi rata diantara mereka pada tiap masing-masing, maka mereka adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

5. Hadits ketiga

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعِيذُكَ بِاللَّهِ يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ مِنْ أُمَرَاءَ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِي فَمَنْ غَشِيَ أَبْوَابَهُمْ فَصَدَّقَهُمْ فِي كَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَا يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Wahai Ka’ab, saya memohon perlindungan kepada Allah untukmu dari perbuatan para penguasa setelahku. Barang siapa yang mendatangi mereka lalu mempercayai kedustaan mereka serta membantu mereka dalam berbuat dhalim, maka dia bukan dari golonganku juga tidak dapat melewati Haudlku (telaga) kelak.” (HR. at-Tirmidzi)

6. Hadits keempat

لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku.” (Muttafaq ‘alaih)

7. Hadits kelima

حَتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الْأَحْلَاسِ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا فِتْنَةُ الْأَحْلَاسِ قَالَ هِيَ فِتْنَةُ هَرَبٍ وَحَرَبٍ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَلُهَا أَوْ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي إِنَّمَا وَلِيِّيَ الْمُتَّقُونَ

…… sampai beliau menyebutkan fitnatul Ahlas. Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa fitnah Ahlas itu?” beliau menjawab: “Ia adalah fitnah pelarian dan fitnah peperangan. Kemudian fitnah Sarra`yang kerusakannya muncul dari bawah kedua kaki seorang lelaki dari Ahli baitku. Dia mengira bahwa dia termasuk golonganku padahal dia bukan dari golonganku, karena waliku hanyalah orang-orang yang bertakwa. (HR. Ahmad)

Kesimpulan:

Dari beberapa nash di atas dan yang semisalnya, maka kita bisa memberikan beberapa kesimpulan:

  1. Bagaimana mungkin kalangan Syi’ah akan mengetahui maksud hadits-hadits sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sementara mereka sangat membenci para perawi hadits (shahabat Rasul) yang memahami betul maksud dari hadits-hadits Rasul tersebut.
  2. Merupakan salah satu kebiasaan kalangan Syi’ah adalah tidak pernah bersikap fair, yaitu mereka memilih-milih hadits-hadits tertentu yang dirasa menguntungkan dan sesuai dengan selera mereka dengan membuang banyak hadits yang tidak sesuai dengan selera karena dirasa merugikan kepentingan mereka. Hal ini sering kita lihat dalam banyak kasus. Contoh yang konkret adalah kasus di atas, yaitu mereka berdalil dengan satu hadits tentang keutamaan Husein radhiyallaahu ‘anhu, tapi membuang/menyembunyikan hadits-hadits lainnya tentang keutamaan shahabat yang lain.
  3. Nash-nash di atas dan yang semisalnya memperjelas bahwa kata “مني” berarti golonganku/pengikutku/di atas petunjuk (ajaran)ku, sedangkan kata “ليس مني” berarti tidak berada di atas petunjuk (ajaran)ku.
  4. Nash-nash di atas pula semakin memperjelas kepada kita, bahwa mereka yang menjadi golongan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya Husein radhiyallaahu ta’ala ‘anhuma saja, akan tetapi ternyata ketika kita membaca hadits-hadits yang lain, semua shahabat Rasul dan kaum mukminin muttaqin menjadi golongan beliau dan beliau juga menjadi golongan mereka.
  5. Kalau kaum mukminin muttaqin termasuk golongan Rasul, maka sebaliknya Syi’ah bukan termasuk golongan beliau. Hal ini terbukti dengan kebiasaan yang mereka lakukan, yaitu meratapi kematian seseorang.[6] Rasulullah shallallaahu shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Tidak termasuk golonganku, yaitu orang yang meratap, mencukur rambutnya/jenggot karena suatu musibah, dan orang yang merobek-robek bajunya ketika menghadapi musibah.” (HR. Ahmad)

Demikian semoga bermanfaat.

Bumi Allah, 3 September 2012 bertepatan 16 Syawal 1433 H

 

 


[1] Syaikh Al-Albani rahimahullaahu ta’ala mengatakan hadits hasan.

[2] Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khibar, wafat tahun 57 H. Diantara faktor yang menjadikan beliau paling banyak meriwayatkan hadits adalah: 1. Abu Hurairah termasuk Ahlus Suffah, yaitu mereka yang tinggal di masjid Nabi dan tidak memiliki pekerjaan, sehingga kondisi seperti itu beliau gunakan untuk bermulazamah (menimba ilmu) dengan Nabi, 2. Abu Hurairah memiliki murid yang banyak dibandingkan dengan shahabat yang lain. Disebutkan bahwa beliau memiliki murid sekitar 800an, baik dari kalangan shahabat ataupun tabi’in, 3. Berkat do’a dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Memang sebelum masuk Islam, Abu Hurairah terkenal dengan orang yang lamban dalam hafalan dan seringnya lupa, maka kemudian Rasulullah shallallaahu‘alaihi wa sallam mendo’akan beliau agar dimudahkan dalam menghafal dan dijauhkan dari sifat pelupa. Dan Alhamdulillah, do’a Rasul itupun dikabulkan oleh Allah ta’ala.

[3] Nukilan dari Hakekat.com

[4] Abdul Husein Syarafuddin Al-Musawi, suatu nama yang aneh bagi kalangan kaum muslimin, karena yang biasa ditemukan di kalangan kaum muslimin setelah nama Abdul, pasti diikuti dengan asma’ Allah. Misalnya: Abdullah, Abdurrahman, Abdurrahim dll. Abdul berarti hamba/budak. Jadi Abdullah berarti hamba Allah, sedangkan Abdul Husein berarti hamba Husein. Pantaskah seorang manusia biasa dijadikan sekutu Allah ta’ala? Ini merupakan salah satu bukti kesyirikan yang nyata di kalangan Syi’ah yang bisa dilihat oleh semua kaum muslimin yang matanya tidak buta. Sehingga dalam buku “Abu Hurairah” dan “Dialog Sunni-Syi’ah” edisi Indonesia, nama Abdul Husein Al-Musawi disingkat A. Husein al-Musawi, atau cukup ditulis Syarafuddin al-Musawi agar tidak menimbulkan kecurigaan pada kaum muslimin. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini insyaAllah dalam artikel yang lain.

[5] Disebutkan dalam kitab induk mereka, Al-Kaafi karya al-Kulaini,

عن جعفر عليه السلام : (( كان الناس أهل ردة بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ثلاثة، فقلت: من الثلاثة؟فقال: المقداد بن الأسود،وأبو ذر الغفاري،وسلمان الفارسي))

Dari Ja’far ‘alaihi salam: Seluruh manusia menjadi murtad sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kecuali tiga orang saja. Aku bertanya: Siapa mereka? Dijawab: Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.

[6] Hal ini akan nampak sekali ketika pada tanggal 10 Muharram, dalam rangka memperingati (meratapi) kematian Imam Husein radhiyallaahu ‘anhu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: