Oleh: dakwahwaljihad | Juni 8, 2012

Merajut Tali Ukhuwah Dengan Syi’ah?

MERAJUT TALI UKHUWAH DENGAN SYI’AH?

Oleh: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Sebagai pembuka, saya kutipkan firman Allah ta’ala:

هَاأَنتُمْ أُوْلاء تُحِبُّونَهُمْ وَلاَ يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ عَضُّواْ عَلَيْكُمُ الأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ

“Beginilah kalian, kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian, dan kalian beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kalian, mereka berkata, ‘Kami beriman’, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian.” (QS. Ali ‘Imran : 119)

Ayat di atas sebagai teguran kepada sebagian kaum muslimin yang sudah teracuni oleh salah satu ide gila sekaligus syubhat bosok yang sering digembar-gemborkan oleh musuh Islam dari kaum munafik dan zindiq selama ini, yaitu Sunni-Syi’ah bersatu merajut tali ukhuwah. Saya katakan hal itu sebagai ide gila. Kenapa? Karena: pertama, sebagaimana dalam ayat di atas disebutkan, “kalian (kaum muslimin) menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian”. Jadi kaum muslimin yang mendukung ukhuwah dengan Syi’ah ini ibarat bertepuk sebelah tangan karena lewat perantara ukhuwah ini ternyata Syi’ah berusaha untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. “Apabila mereka menjumpai kalian, mereka berkata, ‘Kami beriman’, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian.” Kedua, hal ini (menjalin ukhuwah dengan Syi’ah) sangatlah mustahil untuk dilakukan, karena sampai kapan pun tak mungkin bisa ditemukan antara pecinta dengan pembenci. Ibarat ide seseorang untuk menegakkan benang basah. Adakah seseorang yang bisa menegakkan benang basah? Sampai Kiamat pun tak seorang mampu melakukannya.

Pentingnya Merajut Tali Ukhuwah Dengan Sesama Muslim

Setiap orang yang mengaku dirinya muslim, pasti menginginkan umat Islam ini bersatu padu, menjalin ukhuwah diantara sesama, saling menghormati dan tidak saling menghina dan memojokkan. Karena dengan bersatunya umat Islam di manapun berada dan dari kelompok manapun mereka, saling menghormati diantara mereka, maka akan menjadikan umat ini semakin kuat sehingga mampu memperoleh berbagai kemenangan atas musuh-musuh mereka dan akhirnya mampu berjaya di muka bumi ini sebagaimana kondisi mereka pada masa shahabat ridhwanullaah ‘alaihim.

Namun sebaliknya, tidak ada seorang muslim pun yang mengharapkan perpecahan diantara sesama muslim kecuali dirinya termasuk golongan orang-orang bodoh yang memiliki sifat nifak yang sebenarnya ingin menghancurkan Islam dari dalam.

Berkenaan dengan ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan antar sesama muslim) ini, maka secara gamblang Allah ta’ala menjelaskan dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al-Hujurat : 10)

Dalam ayat yang lain, Allah ta’ala mengatakan bahwa persaudaraan dan persatuan antar umat Islam adalah sebuah kenikmatan yang patut untuk disyukuri. Allah ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (pada masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian saling bersaudara karena nikmat Allah.” (QS. Ali ‘Imran : 103)

Ayat di atas menjelaskan tentang Kabilah Khazraj dan Kabilah Aus yang dulunya pada masa Jahiliyyah saling bermusuh-musuhan, bahkan saling membunuh antara satu dengan yang lainnya selama bertahun-tahun lamanya, kemudian setelah itu Allah ta’ala melunakkan hati mereka dan mempersatukan mereka dengan tali Islam lewat perantara Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini merupakan suatu kenikmatan yang sangat agung yang patut untuk disyukuri.

Begitu pula dalam hadits telah dijelaskan secara gamblang tentang pentingnya persaudaraan sesama muslim ini. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan yang lainnya)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Dalam riwayat lain pula, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

Seorang mukmin terhadap orang mukmin yang lain seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Kemudian beliau menjalin antara jari-jarinya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang semisal, yang pada intinya bahwa merajut tali ukhuwah diantara sesama mukmin dan muslim itu merupakan hal yang sangat urgen/penting.

Namun, jika kita menyaksikan kondisi kaum Muslimin pada hari ini, sungguh sangat memprihatinkan sekali, mereka terpecah belah dan satu sama lain saling menghina dan menjatuhkan. Sehingga kondisi seperti ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin dengan cara mengadu domba diantara sesama muslim. Dan cara inipun ternyata membuahkan hasil yang gemilang bagi kalangan kafirin. Sehingga kaum muslimin hari ini sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana buih yang berada di lautan. Banyak tapi tak ada nilainya sama sekali. Tak berwibawa di hadapan musuh-musuh mereka. Wal iyaadzu billaah. Tapi kita berharap, semoga Allah ta’ala segera mengembalikan kondisi kaum muslimin pada masa kejayaan sebagaimana kondisi mereka ketika berada di bawah kepemimpinan seorang khalifah.

Pentingkah Merajut Tali Ukhuwah Dengan Syi’ah?

Setelah kita mengetahui akan pentingnya merajut tali ukhuwah antar sesama kaum muslimin dan bahayanya berpecah belah diantara sesama, maka kemudian timbul pertanyaan, “Pentingkah/perlukah kita merajut tali ukhuwah dengan Syi’ah?”

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa Syi’ah telah masyhur dengan kebenciannya kepada para shahabat, termasuk isteri-isteri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mereka berani secara terang-terangan melakukan penghinaan dan pelaknatan bahkan pengkafiran kepada mereka. Silakan anda saksikan di video ini:

Maka, atas dasar ini kemudian Ulama’ Ahlus Sunnah telah menetapkan secara ijma’ akan kekafiran mereka. Tentang hal ini silakan anda buka fatwa-fatwa Ulama’ Ahlus Sunnah di sini.

Namun sangat disayangkan sekali, ternyata penghinaan dan pengkafiran yang dilakukan oleh kalangan Syi’ah secara terang-terangan kepada para shahabat Rasul ini ditanggapi sebelah mata oleh sebagian kaum muslimin, terutama mereka yang “dangkal” aqidah. Artinya, mereka menggangap bahwa penghinaan dan tindakan pengkafiran kepada para shahabat Rasul itu bukanlah hal yang semestinya ditanggapi dengan serius karena menurut mereka masalah itu adalah masalah yang remeh dan sepele. Sehingga merajut tali ukhwah dengan para penghina dan pengkafir para shahabat itu lebih diutamakan dalam rangka mempersatukan sesama “muslim” daripada sekedar mengurusi tindakan penghinaan dan pengkafiran itu.

Lalu, seberapa besarkah peranan Syi’ah bagi perkembangan Islam dan umat Islam selama ini? Pernahkah mereka menyumbangkan sesuatu demi kemajuan Islam dan kaum muslimin, sehingga ada sebagian kaum muslimin berupaya menjalin ukhuwah dengan mereka?

Apabila kita menengok kepada sejarah peradaban Islam, maka di dalamnya hampir tidak akan kita dapati bahwa Syi’ah memberikan sumbangsih dalam rangka memajukan Islam, baik dalam segi politik, ekonomi, sosial, budaya maupun yang lainnya. Namun justru yang kita dapati malah sebaliknya, mereka menjadi sumber penghancur peradaban Islam. Karena ternyata hal ini memang sudah menjadi program sejak awal kemunculan mereka, yaitu program yang dicetuskan oleh nenek moyangnya si Yahudi yang berpura-pura masuk Islam, Abdullah bin Saba’ laknatullaah ‘alaih.

Untuk mengetahui tentang sejarah kelam Syi’ah, silakan baca: Sekilas Sejarah Hitam Syiah Sepanjang Zaman, dan baca pula pengkhianatan-pengkhiantan Syi’ah terhadap Islam dan kaum muslimin di sini.

Setelah anda mengetahui berbagai pengkhianatan dan kejahatan Syi’ah terhadap kaum muslimin pada masa lampau yang menyebabkan hancurnya peninggalan-peninggalan sejarah Islam (khazanah Islam) yang amat bernilai, tertumpahnya darah jutaan jiwa kaum muslimin, hilangnya kehormatan para muslimah, dan dampak-dampak negatif lainnya, maka apakah anda kemudian akan mengambil hal itu sebagai pelajaran yang berharga, kemudian segera merubah arah pikiran anda dengan memutuskan hubungan persaudaraan dengan Syi’ah dan para pendukunganya, ataukah anda masih tetap pada pendirian anda untuk menjalin tali ukhuwah dengan para pengkhianat itu?

Allah ta’ala berfirman: Maka Kami jadikan yang demikian itu sebagai peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-Baqarah : 66)

Menghina dan mengkafirkan Shahabat = menghina Islam

Jika pengkhianatan-pengkhianatan dan berbagai kejahatan yang dilakukan Syi’ah terhadap kaum muslimin tidak membuat anda sadar akan bahaya mereka bagi kemajuan Islam dan kaum muslimin, dan anda masih menganggap bahwa penghinaan dan pengkafiran yang dilakukan kalangan Syi’ah kepada para shahabat Rasul adalah tindakan yang remeh dan sepele yang tidak perlu dibahas secara panjang lebar sehingga anda masih tetap bersikukuh untuk menjalin tali ukhuwah dengan Syi’ah, maka status keislaman dan keimanan anda perlu dipertanyakan. Sampeyan Muslim? Sampeyan Mukmin?

Saya yakin, setiap muslim pasti tidak rela jika ada seseorang yang menghina Islam. Sebaliknya, tidak ada seorang muslim pun yang akan merasa senang jika Islam ini dihina kecuali dirinya adalah seorang munafik yang berusaha menghancurkan Islam dari dalam.

Akan tetapi, pada hari ini kita melihat suatu fenomena yang sangat aneh sekali. Ketika seorang muslim tidak rela kalau agamanya dihina, namun dirinya berupaya keras untuk menjalin hubungan persaudaraan dengan para penghina Islam dari kalangan Syi’ah itu. Dan ini ternyata jumlahnya tidaklah sedikit. Bahkan kemudian mereka malah menuduh bahwa orang-orang yang berusaha membongkar kesesatan dan kejahatan ajaran Syi’ah sebagai pemecah belah umat. Naudzubillaahi min dzaalik.

Saya masih berhusnudzon kepada sebagian kaum muslimin yang menyerukan persatuan Sunni-Syi’ah kemungkinan karena ketidaktahuan mereka tentang hakekat Syi’ah. Namun paling tidak mereka mengetahui kalau Syi’ah ini adalah golongan pembenci dan penghina shahabat Rasul. Sehingga kemudian saya mengajukan beberapa pertanyaan untuk mereka:

Pertanyaan pertama: “Siapakah orang-orang yang membela Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mendapatkan tekanan dari kafir Quraisy?”

Pertanyaan kedua: “Siapakah orang-orang yang menyertai Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik?”

Pertanyaan ketiga: “Lewat perantara siapakah ajaran Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam ini sampai kepada kita?”

Pertanyaan keempat: “Lewat perantara siapakah al-Qur’an dan al-Hadits yang anda baca hari ini sampai kepada kita?”

Kiranya empat pertanyaan di atas cukup bagi mereka yang menginginkan persatuan dengan Syi’ah.

Maka, adakah diantara mereka yang menjawab bahwa:

  1. Orang-orang yang membela Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mendapatkan tekanan dari kafir Quraisy adalah selain para shahabat beliau?
  2. Orang-orang yang menyertai Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah selain para shahabat beliau?
  3. Ajaran Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam yang sampai kepada kita saat ini lewat perantara selain para shahabat Nabi?
  4. Al-Qur’an dan al-Hadits yang dibaca oleh kaum muslimin saat ini bisa sampai kepada kita lewat perantara selain para shahabat Nabi?

Saya yakin semua orang, baik mereka yang mencintai maupun mereka yang membenci para shahabat Rasul akan mengatakan bahwa yang berperan dalam itu semua adalah PARA SHAHABAT RASUL. Dan bagi para pembenci shahabat Nabi itu tidak mungkin kemudian mereka mengatakan bahwa kalangan SYI’AH lah yang berperan besar dalam itu semua.

Maka dari pemaparan di atas, kita memberikan beberapa kesimpulan:

1. Orang-orang yang menghina para shahabat Rasul, bahkan melakukan pengkafiran terhadap mereka berarti dia telah melecehkan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah  Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam perjuangan dakwah dan jihad, dalam suka maupun duka. Sehingga karena perjuangannya yang begitu besar, pantas kemudian beliau memberikan jaminan kepada para shahabatnya dengan sabdanya:

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِى فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencaci salah seorang dari shahabatku karena seandainya seseorang dari kalian berinfaq dengan emas seukuran Gunung Uhud, maka (pahalanya) tidak dapat menyamai infaq para shahabatku dengan ukuran 1 mud ataupun setengahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dengan redaksi milik Muslim)

2. Orang-orang yang menghina para shahabat Rasul, bahkan melakukan pengkafiran terhadap mereka berarti dia telah menghina agama Islam itu sendiri. Kenapa? Karena ajaran Islam ini tak mungkin bisa sampai kepada kita tanpa perantara para shahabat. Bagaimana mereka mengetahui tata cara shalat yang benar sesuai dengan ajaran Rasul tanpa perantara para shahabat yang melihat tata cara shalat Rasul dengan mata kepala mereka sendiri? Bagaimana mereka mengetahui tata cara berhaji dengan menafikan keberadaan para shahabat yang melakukan ibadah haji bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam? Begitu pula dengan ibadah-ibadah yang lain. Maka dari sini kita bisa mengetahui, kenapa kalangan Syi’ah memiliki tata cara ibadah yang berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin pada umumnya? Jawabannya KARENA MEREKA BENCI SHAHABAT NABI. Sehingga apa yang datang dari mereka, walaupun berupa kebenaran (yang sebenarnya mereka pun mengakuinya dalam hati), mereka menolaknya dan membuangnya jauh-jauh. Sungguh Allah ta’ala telah membutakan mata hati mereka.

3. Orang-orang yang menghina para shahabat Rasul, bahkan melakukan pengkafiran terhadap mereka, namun masih menggunakan al-Qur’an yang ada pada hari ini[1] maka mereka ini adalah manusia-manusia yang tidak tahu diri dan tidak punya rasa balas budi. Bukankah tanpa perantara shahabat Rasul yang mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang ketika itu berada di pelepah kurma, kulit binatang, lembaran-lembaran, hafalan para shahabat dan lain-lain, dan kemudian membukukannya menjadi satu, mereka tidak mungkin  bisa membacanya hari ini. Tapi kenapa mereka tidak memahami hal ini? Dimana otak mereka ini? Afalaa ta’qiluun.

Setelah anda memahami beberapa hal di atas, maka untuk kesekian kalinya saya bertanya, “Apakah anda akan tetap menjalin ukhwah (persaudaraan) dengan kalangan Syi’ah? Padahal sudah sangat jelas sekali bahwa mereka adalah para penghina Islam?” Allah ta’ala telah berfirman:

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kalian di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kalian duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian), TENTU KALIAN SEPERTI MEREKA. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. Al-An’am : 140)

Dalam ayat di atas, Allah ta’ala menjelaskan bahwa orangorang yang sekedar bermajlis dengan para penghina dienul Islam ini, dan mereka tidak mengingkari penghinaan itu, maka Allah menggolongkan mereka itu bagian dari para penghina. Dan kemudian Allah ta’ala akan mengumpulkannya bersama-sama di akherat di sejelek-jelek tempat, yaitu Jahannam. Wal iyaadzu billaah. Lalu bagaimana kondisi orang yang kemudian membela para penghina dan berusaha menjalin ukhuwah dengan mereka?

Terkadang kalangan Syi’ah sampai berani mengumbar janji-janji palsu agar kaum muslimin ridha/senang kepada mereka, dan akhirnya ukhuwah diantara mereka semakin erat. Tapi itulah hakekat iblis. Allah ta’ala menjelaskan tentang hakekat mereka ini dalam  firman-Nya:

يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.” (QS. Al Taubah: 96).

Demikian. Semoga tulisan ini bermanfaat. Semoga Allah ta’ala mengjauhkan kita semua dari tipu daya iblis berwujud manusia yang ingin menyesatkan kaum muslimin dari jalan yang benar. Aamiiin yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Bumi Allah, Jum’at 8 Juni 2012


[1] Kalangan Syi’ah ketika ditanya mengenai al-Qur’an, mereka mengatakan bahwa mereka tetap meyakini akan keotentikan al-Qur’an pada hari ini dan tidak ada takhrif (perubahan) di dalamnya. Sehingga mereka masih tetap mempergunakannya. Dan mereka menolak anggapan bahwa mereka memiliki al-Qur’an selain al-Qur’an yang ada pada hari ini. Walaupun sebenarnya banyak sekali riwayat dalam literatur Syi’ah dan pengakuan para ulama mereka yang menguatkan keyakinan mereka bahwa al-Qur’an hari ini di dalamnya telah mengalami banyak perubahan, sedangkan al-Qur’an yang asli berjumlah 17.000 ayat yang saat ini dibawa oleh Imam Muntadzar “Mahdi” di tempat persembunyiannya. Mengenai hal ini selengkapnya baca di sini.


Responses

  1. Syiah Musuh bersama ummat akan bersatu jika mereka mengenal syiah. Syiah sumber segala fitnah

    • Ya.. wajib bagi kaum muslimin mengenal hakekat Syiah ini…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: