Oleh: dakwahwaljihad | Oktober 31, 2011

GHAAYATUNAA (TUJUAN KAMI)

TUJUAN KAMI

Tujuan utama bagi seorang muslim adalah mendapatkan ridho Alloh ta’ala. Karena barangsiapa yang telah mendapatkan ridho Alloh ta’ala, maka berarti dirinya telah mendapatkan segala-galanya. Tidak ada seorangpun yang mampu menyusahkan dirinya setelah itu dan dirinya akan selalu berada di atas petunjuk Alloh ta’ala. Ridho Alloh ta’ala ini lebih tinggi dan lebih mahal harganya dari segala kenikmatan yang ada, bahkan kenikmatan jannah sekalipun.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda: “Sesungguhnya Alloh ta’ala berfirman kepada para penghuni jannah, ‘Wahai penghuni jannah!’ Mereka menjawab, ‘Kami penuhi panggilanmu wahai Alloh, dengan kebahagian yang berlipat ganda dari-Mu dan segala kebaikan adalah pada kedua tangan-Mu.’ Alloh ta’ala berfirman: ‘Apakah kalian telah puas?’ Mereka menjawab, ‘Rabbi, bagaimana kami tidak puas, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang belum pernah Engkau berikan kepada seorangpun dari makhluk-Mu.’ Maka Alloh ta’ala berfirman: ‘Tidakkah kalian suka Aku berikan yang lebih utama dari itu?’ Mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, apakah sesuatu yang lebih utama dari itu?’ Alloh ta’ala berfirman: ‘Ku berikan kepada kalian ridho-Ku, lalu aku tidak murka kepada kalian setelah itu selama-lamanya.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Nabi pun mengajari kita berdo’a, agar mendahulukan ridho-Nya daripada jannah. Beliau berdo’a:

اللهم إني أسألك رضاك و الجنة

 “Ya Alloh, sesungguhnya aku  meminta kepada-Mu ridho-Mu dan jannah.”

Seorang muslim yang ingin meraih ridho Alloh ta’ala, maka segala perkataan dan perbuatannya harus memenuhi dua syarat, yaitu:

  1. Ikhlas
  2. Mengikuti Rosululloh –shallallaahu ‘alaihi salam-.

Sungguh, telah terjadi perbedaan yang amat jauh antara generasi salaf dengan mayoritas kaum muslimin pada masa kini. Generasi salaf selalu mendahulukan ridho Alloh ta’ala di atas segalanya, bahkan menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan hidup. Adapun kaum muslimin saat ini, mereka menjadikan ridho Alloh ta’ala sebagai tujuan nomer sekian setelah tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi dapat mereka capai, bahkan mereka meletakkan ridho Alloh ta’ala tersebut di belakang punggung mereka, alias mereka tidak mempedulikan ridho Alloh ta’ala tersebut. Sehingga merekapun berjalan mengikuti hawa nafsu, yang pada akhirnya kesesatan menyelimuti mereka.

Seseorang yang telah diselimuti oleh kesesetan, berarti dirinya telah meninggalkan ridho Alloh sebagai tujuannya. Sebaliknya seseorang yang telah meninggalkan ridho Alloh ta’ala sebagai tujuan dalam hidupnya, berarti menjadikan murka Alloh ta’ala sebagai tujuannya. Naudzubillaahi min dzaalik.

Maka apa yang disabdakan olel Rosululloh –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menjadi kenyataan pada masa kini, yaitu kaum muslimin  menjadi santapan bagi bangsa-bangsa lain dari kalangan kafirin. Bukan disebabkan jumlah kaum muslimin yang sedikit, bahkan jumlah mereka sangat banyak. Akan tetapi hal ini disebabkan mayoritas dari mereka tidak memiliki kewibawaan di hadapan orang-orang kafir itu. Kewibawaan itu hilang karena hilangnya keimanan dari dalam hati mereka. Keimanan itu hilang karena mereka tidak menjadikan keridhoan Alloh ta’ala sebagai tujuan utama dalam hidup ini. Mereka menjadikan dunia dan ridho makhluk-Nya sebagai tujuannya.

Alloh ta’ala berfirman:

أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! (Qs. Al-Baqarah : 175)

Sebagaimana telah disebutkan, bahwa apabila seseorang ingin mencapai tujuanya, yaitu ingin mendapatkan keridho’an Alloh ta’ala, baik di dunia terlebih di akherat, maka dirinya harus memiliki 2 hal dalam ucapan dan perbuatannya, yaitu ikhlas dan benar.

Ikhlas maknanya memurnikan tujuan hidupnya hanya untuk ta’at kepada al-Ma’buud (yang berhak diibadahi), yaitu Alloh ta’ala, mengkhususkan ibadah hanya untuk diri-Nya, menahan hati agar tidak berpaling kepada makhluk sewaktu berinteropeksi kepada-Nya, dan membuang jauh-jauh segala kotoran yang ada pada amalan.

Alloh ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

Sungguh, suatu amalan itu jika diniatkan bukan untuk mendapatkan keridho’an Alloh ta’ala, maka amalan tersebut tidak akan bernilai apa-apa, alias hanya sia-sia belaka. Ibarat sampah yang berserakan. Bahkan akan menjadikan bencana bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akherat.

Abdullah bin Mubarak—rahimahullah— pernah berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil karena niat.”

Maka, seorang yang mengikhlaskan niatnya karena mengharapkan ridho Alloh ta’ala, maka sebelum melakukan amal, dirinya harus ikhlas, ketika beramal pun harus ikhlas dan setelah beramal pun harus demikian. Sehingga keikhlasan itu benar-benar terwujud ketika seseorang tersebut sebelum beramal dan ketika usai beramal.

Kemudian syarat yang kedua adalah benar. Yaitu mengikuti sunnah (ajaran) Rasululloh –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Karena suatu amalan, sebanyak apapun jika tidak sesuai dengan sunnah Rosul, maka tidak mempunyai nilai, akan tertolak (tidak diterima), tidak mendapatkan pahala, bahkan bisa mendatangkan murka (adzab) Alloh ta’ala.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah –radhiyallaahu ta’ala ‘anha-, bahwasannya Rosululloh –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَن عمِلَ عَمَلاً لَيسَ علَيهِ أَمرُنا فهوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” (HR. Muslim dan lainnya)

Setiap amalan yang tidak mencontoh Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, maka hanya akan menambah pelakunya jauh dari Alloh ta’ala, karena Alloh ta’ala diibadahi berdasarkan perintah-Nya, bukan  berdasarkan pendapat dan selera nafsu.

Oleh karena itu, hendaknya kita mengambil Rosululloh –shallallaahu ‘alahi wa sallam- sebagai teladan (uswah) dalam setiap perkataan dan perbuatan. Alloh ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab : 21)

Seseorang yang taat kepada Rasul, tentunya dirinya juga ta’at kepada Alloh ta’ala. Begitu pula sebaliknya, seorang yang taat kepada Alloh ta’ala, maka dirinya harus taat kepada Rosul-Nya. Alloh ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)

Perintah kepada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya telah disebutkan secara berdampingan dalam al-Qur’an pada empat puluh tempat.

Kita bisa menyaksikan umat Islam saat ini, mereka bercerai berai dan saling berselisih antara satu dengan yang lainnya karena satu sebab utama, yaitu keengganan mereka untuk mengikuti Sunnah (ajaran) Rosululloh –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, malah sebaliknya, mereka lebih memilih untuk mengikuti hawa nafsunya sendiri. Wal iyaadzu billaah.

Diantara tindakan mengikui hawa nafsu dan meninggalkan sunnah Rosul adalah:

  1. Tindakan seseorang mengadopsi berbagai konsep dan teori, kemudian menyesuaikan Islam dengan konsep dan teori tersebut.
  2. Tindakan seseorang menjadikan para tokoh sebagai hujjah dan alas an untuk menentang syari’at serta sebagai tolak ukur kebenaran, dimana dirinya selalu merujuk kepadanya, bukan kepada syari’at.
  3. Tindakan seseorang mendahului Kitabulloh dan Sunnah dalan berbuat, berkata dan berpaham.
  4. Tindakan seseorang yang hanya mengikuti Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dalam satu sisi dan meninggalkannya pada sisi yang lain.

Alloh ta’ala berfirman:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian (isi) Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah : 85)

Ketahuilah wahai saudaraku, seseorang yang beramal untuk menggapai ridho Alloh ta’ala, maka dirinya pasti akan hidup dalam keterasingan di tengah-tengah manusia yang tersesat dari jalan yang benar. Di tengah-tengah masyarakat yang gemar menghidupkan amalan-amalan bid’ah, sehingga dirinya diibaratkan sebagai seberkas cahaya yang terang di tengah kegelapan yang pekat, Rasulullah SAW bersabda:

اِنَّ اْلاِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ مَا اْلغُرَبَاءُ؟ قَالَ: اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ. و فى رواية، فَقَالَ: اَلَّذِيْنَ يُحْيُوْنَ مَا اَمَاتَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِى. مسلم و ابن ماجه و الطبرانى

“Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing (tidak umum), dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya datang. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing“. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya manusia”. Dan di lain riwayat beliau ditanya (tentang orang-orang yang asing), beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidup-hidupkan apa-apa yang telah dimatikan manusia daripada sunnahku”. [HR. Muslim, Ibnu Majah dan Thabrani]

MAKA, BERUNTUNGLAH ORANG-ORANG YANG ASING !!!

Diringkas oleh: Nahnu Usuudul Badr, dari buku Mitsaq ‘Amal Islami (edisi Indonesia), karya Dr. Najih Ibrahim dkk, hal. 23-38) (www.dakwahwaljihad.wordpress.com)

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: