Oleh: dakwahwaljihad | April 24, 2011

Makhluk Halus Itu Bernama “AL-QAIDA”

MAKHLUK HALUS ITU BERNAMA “AL-QAIDA”

“Amerika tidak memerangi islam, tapi amerika memerangi Al-Qaida!” (Presiden AS, Obama, 10 September 2010)

Siapakah Al-Qaida? Sekali lagi, ia hanya sebuah tandhim atau organisasi atau jamaah yang bernama Qo’idatul Jihad yang tumbuh di dataran Afghanistan bersama tandhim Taliban. Amerika, negara superpower tunggal dunia dengan segala cerita kehebatan teknologi tempurnya, musuhnya hanya sekumpulan manusia yang bersatu dalam ikatan jamaah minal muslimin bernama Al-Qaida. Mereka seolah makhluk asing yang datang dari dunia lain. Sejenis ‘manusia pra sejarah’ yang hidup di goa-goa dan tidak pernah mau tunduk kepada Thaghut dunia, dari bangsa manapun.

Musuh Amerika hanya sebuah organisasi (tandhim atau jamaah) bukan sebentuk negara yang juga super power dengan senjata canggih dan jumlah tentara yang menggentarkan. Tapi hanya organisasi kecil, dengan senjata ala kadarnya, belum punya tank apalagi pesawat. Andalannya hanya AK-47.

Obama sebagai pemimpin dunia baru (new world order) pasca rubuhnya Uni Sovyet yang dikalahkan bangsa termiskin di dunia (afghan), sedang mendefinisikan musuhnya. Musuh Amerika didefinisikan hanyalah ‘gerombolan anak-anak kampung dan orang gunung’ yang jauh dari bau peradaban Barat. Mengejutkan, imperium sebesar Amerika yang menepuk dada sebagai polisi dunia ternyata tanpa malu mendefinisikan musuhnya hanya sebuah jamaah kecil. Jelas ini merupakan kekalahan moral yang tak bisa dibantah.

Kalaupun pada akhirnya Amerika menang dalam pertarungan ini, tak ada kebanggaan apapun karena memang Amerika lebih banyak tentaranya, lebih canggih senjatanya, lebih kuat ekonominya dan lebih luas dukungan negara-negara lain. Tapi jika kalah, akan menjadi sebuah ending cerita yang heroik, betapa kelompok kecil mampu menumbangkan kekuatan raksasa, super power dunia.

Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Al-Baqarah:249

‘Makhluk Halus’ Bernama Al-Qaida

Tak ada yang menyangka, musuh yang paling membuat Amerika panas dingin dan menggigil ketakutan hanyalah sesosok jamaah Al-Qaida yang belum punya kantor, pegawai, apalagi negara. Mereka sejenis manusia nomaden modern yang tidak jelas kewarga-negaraannya. Di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak. Makhluk asing yang tidak jelas suku dan rasnya.

Jumlah mereka juga tak banyak, hanya ribuan. Mungkin seribu, sepuluh ribu, seratus ribu atau lebih, tapi yang pasti di bawah satu juta. Susah menebak jumlah mereka, karena mereka memang ‘makhluk halus’ yang tak terdeteksi meski di tengah keramaian. Tak ada kartu identitas apapun yang bisa menunjukkan mereka sebagai warga Al-Qaida. Tak ada kartu anggota, KTP apalagi Pasport.

Karenanya hati mereka juga tak tersekat oleh lembaran kartu identitas tertentu. Identitasnya tunggal: Hamba Allah di muka bumi. Allah ciptakan bumi luas, maka mereka maksimalkan untuk berkelana bebas tanpa pernah merasa asing di tanah manapun. Komitmen mereka hanya untuk umat Islam, apapun warna kulitnya.

Mereka disibukkan dengan pengabdian vertikal kepada Allah, sehingga tak sempat memikirkan untuk rebutan dunia dengan sesama manusia. Pandangan mereka lurus menengadah ke langit, sehingga jiwa dan raganya ringan laksana kapas terbang dari satu jengkal ke jengkal bumi yang lain dengan tujuan tunggal: Memastikan pengabdian kepada Allah semata. Hati mereka sudah digantungkan di langit, obsesinya obsesi langit, pikirannya sudah dengan pola langit. Ruhnya sudah di langit, hanya jasadnya yang masih berpijak di bumi. Oleh karenanya, tak ada lagi tersisa keluhan yang bersifat duniawi; soal harta, musibah, cercaan, intimidasi, penyiksaan, pengusiran bahkan pebunuhan. Semua keluhan duniawi yang bagi manusia dunia (karena mereka manusia langit) terasa berat dan bikin stres, bagi mereka menjadi semacam bumbu penyedap atau sejenis alunan tembang manis yang membuat hidup mereka lebih indah.

Mereka konon terdeteksi di pegunungan Afghanistan dan perbatasan Pakistan, ngumpet di goa-goanya ibarat makhluk pra sejarah, hidup dengan perkakas dari batu. Setidaknya itulah gambaran manusia Al-Qaida di benak rakyat Amerika. Juga terlihat di Iraq, Cechnya, Somalia bahkan di Palestina. Tapi tiba-tiba bisa muncul di London meledakkan kereta yang menjadi sensasi luar biasa. Muncul di Madrid yang membuat Spanyol panas dingin karena serangannya yang mematikan. Lalu di Mumbai yang berpenampilan sebagai anak ABG penuh gaya tapi dengan percaya diri mengamuk sejadi-jadinya; memuntahkan peluru laksana permainan Playstation. Bahkan selentingan kabar menyebutkan bahwa mereka juga mampir di Jakarta untuk melakukan beberapa gebrakan mematikan, dan memoles Bali dengan kisah lain bukan hanya soal cerita indah pariwisata.

Jadi berapa sesungguhnya jumlah mereka? Jawabannya gampang; wallahu a’lam!. Apakah mereka sejatinya sedikit yang bisa terbang ke sana kemari sesuka hati, ataukah memang sudah beranak-pinak di berbagai negara, kota bahkan desa? Ataukah mereka bisa ganti kulit; kalau di Afghanistan berpostur Afghan, di Amerika berkulit putih, di Somalia berkulit gelap, dan di Indonesia berkulit sawo matang laksana bunglon?.

Al-Qaida Mengajukan Diri Sebagai Musuh Amerika

Kita bicara yang pasti-pasti saja. Bahwa mereka disebut oleh Obama sang presiden Amerika sebagai organisasi yang menjadi musuh Amerika. Luar biasa Amerika ini, menjadikan makhluk ‘halus’ sebagai musuh. Sekelas Nabi Sulaiman as yang bisa berinteraksi dengan dunia lain. Berkomunikasi dengan makhluk yang tak kasat mata.

Ini sungguh diluar perkiraan, Tandhim Al-Qaida ‘mendaftarkan diri’ sebagai musuh Amerika dengan tidak melengkapi syarat dan ketentuan yang ditetapkan Amerika. ‘Berkas’ yang diajukan asal-asalan, tanpa dilengkapi akte pendirian organisasi, tak dicantumkan nama pengurusnya, wilayah yang telah dikuasai dan daftar senjata yang dimiliki. Amerika awalnya melihat ‘berkas’ yang diajukan Al-Qaida dengan sebelah mata. Hampir didiskualifikasi dari daftar musuh Amerika karena dianggap tidak memenuhi syarat dan kriteria yang ditetapkan. Sedangkan ‘pendaftar’ lain, seperti Iran, Kuba, Korea Utara, Rusia, China, Jepang dan lain-lain, seluruh syarat dan ketentuan terpenuhi. Sangat cocok dengan kriteria musuh yang direncanakan Amerika.

Namun ketika masuk pada proses seleksi, semuanya berguguran. Ternyata yang lain hanya ikut-ikutan daftar untuk menjadi musuh Amerika, biar keren. Maklum, kalau kita menjadi musuh dari sosok yang hebat, pasti akan dianggap hebat juga. Pendaftar yang ‘tulus ikhlas’ hanya Al-Qaida, oleh karenanya meski secara kriteria tidak masuk, karena ketulusannya dan semangatnya yang sangat kuat untuk menjadi musuh, Amerika akhirnya mengakui juga. Dan tanggal 10 September 2010 kemarin Obama mengumumkan bahwa pendaftar musuh yang lain dinyatakan tidak lulus, dan yang disahkan sebagai musuh yang sesungguhnya adalah Al-Qaida.

Serangan WTC 11 September 2001 menjadi tonggak pengakuan Amerika. Mulai saat itu Al-Qaida diperhitungkan namun sekian lama Amerika mencoba untuk menganggap remeh dan kecil. Al-Qaida hanya diakui bahwa baunya ada tapi tak jelas sosoknya. Namun kini setelah sembilan tahun berlalu Amerika mulai mengakui eksistensi Al-Qaida sebagai musuh yang nyata, melalui pernyataan Obama tersebut.

Meski selama ini Amerika memerangi Al-Qaida, tapi ia mengabaikan eksistensinya. Kini setelah sembilan tahun berlalu, melalui bonekanya di Afghanistan, Amerika mulai mengakui eksistensi Al-Qaida, meski dengan nama Taliban, karena memang dua nama ini dianggap satu kesatuan. Terbukti, pada tanggal yang sama dengan peryataan Obama, Hamid Karzai – sang boneka – menyeru Taliban untuk mau duduk membicarakan perdamaian. Untuk tujuan ini, Karzai sudah membentuk tim yang khusus untuk memulai melakukan pembicaraan dengan Taliban.

Pengakuan eksistensi ini mengingatkan kita dengan perjanjian Hudaibiyah yang untuk pertama kali pihak Quraisy duduk sederajat dengan umat Islam untuk membicarakan gencatan senjata. Artinya, musuh yang selama ini memerangi umat Islam dan tidak mau pengakui eksistensinya secara de jure, mulai menuliskan eksistensinya di atas lembar perjanjian. Peristiwa ini disebut sebagai fath (kemenangan) oleh Al-Qur’an dengan turunnya surat Al-Fath menyusul peristiwa tersebut.

Akan dibukanya pembicaraan yang melibatkan dua entitas sosial yang bermusuhan (Taliban + Al-Qaida Vs Amerika) bermakna pengakuan eksistensinya secara de jure. Apalagi didukung dengan pernyataan Obama bahwa Al-Qaida adalah musuh Amerika. Lengkap sudah kemenangan politik dan militer yang diraih Al-Qaida dengan ijin Allah.

Menjadi Musuh Amerika yang Tidak Biasa

Sisi menarik dari Al-Qaida adalah ia memposisikan diri sebagai musuh Amerika dengan kategori baru. Amerika mempersiapkan diri bertahun-tahun dengan dana nyaris tanpa batas untuk melawan musuh berwujud negara super power yang seimbang dengan dirinya. Inilah kategori tunggal calon musuh di mata Amerika. Oleh karenanya Amerika sibuk menciptakan senjata nuklir dan begitu takut negara lain memilikinya.

Teori kemengan satu-satunya adalah kemenangan teknologi militer. Dia yakin haqqul yaqin bahwa jika Amerika sekian langkah lebih unggul teknologi senjatanya dibanding negara lain, tak akan ada yang bisa mengalahkannya. Dahulu populer istilah perang bintang antara Amerika melawan Uni Sovyet. Konon katanya, tembakannya tidak lagi menggunakan peluru biasa, tapi sinar. Entahlah.

Tapi Al-Qaida datang dengan kategori baru yang sama sekali tak diperhitungkan Amerika. Ia hanya sekumpulan anak kampung dan orang gunung yang mahir memainkan AK-47. Habitatnya adalah gunung-gunung terjal dan hutan belantara. Jumlahnya juga tak seberapa. Bukan negara. Tak memiliki dukungan ekonomi, politik dan teknologi. Mereka hanya sekumpulan hamba Allah yang senjata utamanya adalah iman dan persaudaraan dalam Islam. Tapi memiliki tekad segarang singa. Belum pernah ada dalam teori pertempuran Amerika, sebuah jamaah kecil yang tak kasat mata akan menjadi musuh potensial. Kerangka teoritis untuk mengatasinya belum mereka temukan atau siapkan.

Dalam ilmu militer pertarungan semacam ini disebut sebagai pertempuran asimetris (diluar perkiraan). Amerika menginginkan musuhnya dalam kategori yang ia inginkan, tapi musuh berada pada kategori yang berbeda. Amerika membidik lurus ke depan, padahal Al-Qaida berada di lobang persembunyian di bawah tanah. Amerika laksana petarung pakai pedang tapi dengan mata tertutup. Ia membabat ke kanan dan ke kiri tanpa tahu musuhnya dengan jelas. Akhirnya tenaganya terkuras dan sempoyongan.

Strategi Al-Qaida ini membuat milyaran dolar kekayaan Amerika yang dibelanjakan untuk membuat senjata canggih menjadi terasa sia-sia. Karena yang dihadapi Amerika bukan semata pasukan tempur yang diorganisir sebuah negara dan punya teritorial yang jelas, tapi kekuatan iman dan gagasan yang dengan cepat menyebar laksana virus, apalagi didukung berkembangnya internet. Al-Qaida memang kecil jumlah personalnya, tapi ada di mana-mana.

Al-Qaida Dipisahkan dari Umat Tapi Makin Mewakili Umat

Pernyataan Obama bahwa musuh Amerika adalah Tandhim Al-Qaida dan bukan Islam atau umat Islam, pada sisi lain merupakan strategi untuk memisahkan Al-Qaida dari umat Islam. Tapi makar ini lambat laun justru menjadi bumerang bagi Amerika.

Dengan kemenangan politik dan militer yang diraih Al-Qaida melawan super power yang arogan semacam Amerika, semua penduduk dunia yang punya pengalaman panjang dizalimi Amerika akan menjadikan Al-Qaida sebagai hero. Apalagi umat Islam. Tentu saja dukungan akan terus mengalir, apalagi jika Al-Qaida dengan akurat mewakili kegelisahan mereka.

Awalnya Obama, Amerika, Barat dan PBB masih agak rabun untuk membedakan warga Al-Qaida dari kerumunan besar umat Islam. Tapi akhirnya mereka berhasil mendeteksi, ada sejumlah perbedaan dan ciri khas yang bisa dijadikan alat untuk membedakan Al-Qaida dari umat Islam, meski jelas lebih banyak unsur persamaannya. Yakni mereka yang Al-Qaida jenggotnya panjang-panjang, celananya diatas mata kaki, dan memakai celak.

Untuk alasan strategi, Amerika saat ini fokus membidik yang punya genetik Al-Qaida saja. Amerika akan menghadapi dilema rumit jika umat Islam dinyatakan sama dengan Al-Qaida. Jumlahnya sudah terlalu besar, tak mungkin dilawan.

Dengan kemenangan Al-Qaida, tinggal menunggu waktu bahwa umat Islam dunia akan merasa menjadi bagian dari Al-Qaida. Jika terjadi perang, terminologi yang paling pas saat itu adalah Perang Salib, suatu istilah yang pagi-pagi sekali sudah dikumandangkan oleh George W. Bush meski diralat dengan setengah hati. Cepat atau lambat kalimat ini akan kembali populer jika Al-Qaida berhasil mewarnai pemikiran umat Islam sehingga semuanya menjadi Al-Qaida.

Saat ini, nyaris tak ada satupun negara yang berani mengklaim bersih dari benih-benih Al-Qaida. Ini merupakan bentuk sunnatullah kemenangan Islam gaya baru, bahwa semangat jihad dan iman bisa ditranfer melalui jaringan internet laksana virus yang menular. Sesuatu yang tak pernah terpikir sebagai cara berkembangnya jihad di masa lalu. Bahkan bukan hanya semangat jihad yang bisa ditransfer, tapi juga manual teknis operasi jihad bisa diajarkan melalui internat, sehingga dunia menjadi majlis taklim besar bagi mujahidin dengan sarana internat. Secara fisik di goa, tapi majlis taklim maya dihadiri jutaan pemuda di seluruh dunia.

Amerika jelas makin mati gaya menghadapi kenyataan ini. Manusia Al-Qaida ternyata sedang duduk di warnet mempelajari manual bombing atau sekedar ngulik berita jihad. Padahal Amerika belum pernah punya teori mengalahkan musuh seperti ini. Apalagi sekarang sudah meningkat dengan hadirnya akses internet via HP. Terasa sia-sia uang yang dibelanjakan Amerika untuk membuat bom atom jika musuhnya jamaah tak kasat mata seperti Al-Qaida.

Al-Qaida, telah belajar dari pendahulu-pendahulunya bagaimana bersikap di depan amerika, inilah cerita syekh hikmatyar, salah satu pemimpin jihad di Afghanistan. Beliau datang ke Amerika untuk memenuhi undangan PBB, kemudian Reagan mengundangnya secara khusus melalui duta pakistan : “Jam 11.15 Presiden Amerika Reagan menunggumu”, kemudian Hikmatyar menjawab “Saya tak mau bertemu denganmu”. Sang duta mengatakan : “Engkau gila? Enampuluh orang pemimpin negara berada dalam daftar tunggu minta bertemu dengan Reagan, namun dia menolak bertemu dengan mereka. Apakah benar-benar engkau menolak bertemu dengannya?”. “Ya benar”, jawab Hikmatyar, selanjutnya dia mengatakan : “Jika engkau bersikeras memaksaku, maka aku akan segera meninggalkan amerika sekarang juga”. Reagan tidak berputus asa atas penolakan Hikmatyar, lalu dia menulis surat dan mengutus putrinya Maurine Reagan untuk menyampaikan ke Hikmatyar. Setelah menyampaikan surat tersebut dia mengatakan : “Papa menantimu malam ini di gedung putih”. Reagan berfikir hikmatyar akan melunak sikapnya begitu melihat anak gadisnya. Namun ternyata Hikmatyar menjawab : “Saya menyesal tidak dapat menerima undangan ini karena saya telah membuat janji dengan mujahidin indiana. Saya akan menghabiskan malam bersama mereka.”

Inilah cerita mengenai Ahmad Syah, salah satu komandan mujahidin Afghan.. Ahmad Syah pernah pergi ke salah satu negara eropa untuk membeli senjata. Telah beres transaksi pembelian senjata tersebut, uang ada, transaksinyapun ada. Pedagang tersebut datang padanya dengan membawa lembaran kertas, “Saya minta kamu menandatangani persetujuan untuk tidak menggunakan senjata ini melawan Israel.” Dengan enteng Ahmad Syah berkata : “Kami batalkan transaksi ini” Pedagang itu bertanya padanya : “Apakah kalian benar-benar akan menggunakan senjata ini untuk memerangi Israel?” Ahmad Syah menjawab : “Kamu tahu, bahwa kami tidak akan menggunakannya untuk memerangi Israel oleh karena jarak negara kami dengan Israel beribu-ribu mil, akan tetapi kamu menghendaki saya menandatangai dokumen untuk menghentikan perang yang telah diperintahkan Allah sejak 1400 tahun yang lalu terhadap orang-orang Yahudi. Kamu menghendaki saya menandatangani dokumen yang isinya menentang perintah Allah. Saya tidak mau senjata itu, silahkan batalkan transaksi tersebut!” Maka baliklah Ahmad Syah tanpa membawa satu butir pelurupun, meski sangat membutuhkan senjata.

Demikianlah, akhlak mujahid, tidak akan berdamai  dan duduk semeja dengan kuffar, tidak akan menghentikan perang dan jihad, ciri khas at-thaifah manshurah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: