Oleh: dakwahwaljihad | April 16, 2011

Imamah dan Khilafah

IMAMAH DAN KHILAFAH

Secara etimologi, kata imamah berarti tampil ke muka, seperti kamu berkata, kamu mengimami suatu kaum, artinya kamu maju ke depan atau berada di depan mereka.

Imam adalah suatu yang diikuti oleh manusia, seperti seorang pemimpin atau kepala, atau yang lainnya, baik yang benar ataupun yang sesat. Kata “imam” kadangkala disinonimkan dengan kata “khalifah” yang berarti penguasa/pemimpin tertinggi dan pemimpin rakyat. Saya menjadi imam bagi suatu kaum di dalam shalat, yang berarti diikuti.

Kata imam dipakai juga untuk sebutan al-Qur’an al-Karim sebab al-Qur’an merupakan imam bagi kaum muslimin. Begitu juga kata imam digunakan untuk predikat Rosululloh –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- karena beliau adalah imam bagi seluruh imam. Dan kapasitas keimamahannya, manusia wajib mengikuti Sunnah Rosululloh –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang telah ditegaskan dalam nash hadits. Kata imam kadang dipakai untuk mengindikasikan norma-norma perintah yang transformatif, juga kata imam dapat disematkan bagi seorang panglima tentara, serta kata imam digunakan untuk arti selain yang disebutkan di atas.

Kata imamah tidak disebutkan dalam al-Qur’an al-Kariim, akan tetapi kata  yang disebut di dalam al-Qur’an adalah kata “imam” dan “a’immah”.

Alloh –ta’ala- berfirman:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku’. Allah berfirman: ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang dhalim’. ( QS. al-Baqarah : 124 )

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا

 “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” ( QS. Al-Anbiya’ : 73 )

وَإِن نَّكَثُواْ أَيْمَانَهُم مِّن بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُواْ فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُواْ أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لاَ أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنتَهُونَ

“Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.”  (QS. At-Taubah : 12 )

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنصَرُونَ

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” ( QS. Al-Qashash : 41 )

Kita dapat mengetahui disandangkan kata imam bagi seorang pemimpin /penguasa kaum Muslimin berdasarkan arti etimologi dari kata imam.

Kita juga mendapatkan bahwa antara kata imam dan khalifah merupakan dua kata yang bersinonim menurut Syaikh Abu Zahra dalam diskursusnya, “Dinamakan khalifah karena ia menjadi pemimpin tertinggi  yang menggantikan peran Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam mengatur urusan kaum Muslimin, dan dinamakan imamah karena khalifah disebut juga sebagai seorang imam, karena menaati seorang imam hukumnya wajib dan orang yang berjalan di belakang imam laksana mereka yang mengerjakan shalat di belakang orang yang mengimami mereka.

Perselisihan dan pertentangan yang paling besar yang terjadi di antara kaum Muslimin adalah karena masalah imamah. Asy-Syahrastani berkata, “Dalam agama Islam sebuah pedang yang terhunus atas dasar prinsip-prinsip agama tidak sebanyak terhunusnya pedang dalam pertikaian dalam masalah imamah pada setiap zaman.”

Yang pasti perselisihan dan perbedaan tidak mendapatkan ruang ketika Rosululloh hidup di tengah-tengah mereka. Beliau memutuskan perkara yang diperselisihkan, memperbaiki jiwa dan menunjukkan jalan yang lurus.

Alloh –ta’ala- berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS.  an-Nisa’ : 65 )

(Dinukil dari: Ma’a asy-Syi’ah al-Itsna ‘Asyariyyah fii al-Ushuul wa al-Furuu’, Edisi Indonesia: Ensikelopedi Sunnah-Syiah, Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus, hal. 9-10)

(www.dakwahwaljihad.wordpress.com)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: