Oleh: dakwahwaljihad | Februari 24, 2011

Perjuangan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir -hafidzahulloohu ta’ala-

PERJUANGAN USTADZ ABU BAKAR BA’ASYIR -HAFIDZAHULLOOHU TA’ALA-

 

Muqoddimah

Sesungguhnya nikmat Allah –ta’ala- yang dilimpahkan kepada hamba-Nya baik manusia, jin dan lainnya, sungguh tiada terhingga banyaknya dan Allah –ta’ala- juga mencukup semua kebutuhan hamba-hambanya, sehingga tidak mungkin manusia maupun jin mampu menghitungnya meskipun memakai alat yang tercanggih teknologinya. “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzolim dan sangat mengingkari nikmat Allah”. (QS. Ibrahiim : 34)

Diantara nikmat Allah –ta’ala- yang tiada terhingga ini, ada satu nikmat yang tertinggi nilainya karena nikmat ini dengan izin Allah –ta’ala- akan membawa hamba Nya baik manusia maupun jin, ke pintu gerbang keselamatan dunia akherat. Nikmat yang tertinggi itu ialah nikmat Dienul Islam. Ia merupakan satu-satunya nikmat yang mampu menghantarkan hamba-hamba Nya dengan izin Nya kepada keselamatan, kebahagiaan dan kejayaan yang sebenarnya, baik di dunia maupun di akherat.

Sumber pokok Dienul Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, ia adalah merupakan satu-satunya kitab suci yang diturunkan dari Allah yang Maha Bijaksana kepada hamba Nya yang menunjukkan jalan yang paling lurus di dunia ini, sehingga apabila manusia dan jin berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah, berarti hidupnya berada di jalan yang lurus dan mendapat kemuliaan yang hakiki maka dijamin tidak akan sesat selama-lamanya dan pasti dijamin keselamatannya dunia akherat.

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada diatas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.(QS. Az-Zukhruf : 43-44)

Rasullah shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda: “Aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian dua perkara, setelah ada dua perkara tersebut, kamu sekalian tidak mungkin sesat selama kamu masih berpegang teguh kepada kedua perkara itu, yakni kitab Allah (Al Quran) dan Sunnahku.” (HR. Al-Hakim).

Ketinggian nilai Dienul Islam dan kebaikan kaum Muslimin ini akan benar-benar menjadi kenyataan apabila hakekat akidah dan syariatnya benar-benar dipahami sehingga benar pengamalannya.

Tetapi kenyatannya, sekarang kaum Muslimin –kecuali mereka yang mendapat rahmat Allah –ta’ala- hidup nista dan rendah dibawah kekuasaan kaum Kafir dan kaum Sekuler, Syariat Islam dilecehkan, pengamalannya dipotong-potong, akibatnya ketinggian nilai Dienul Islam dan kebaikan kaum Muslimin tidak nampak menjadi kenyataan.

Hal ini disebabkan karena kaum Muslimin pada umumnya tidak memahami hakekat Dienul Islam sehingga pengamalannyapun menjadi amburadul bercampur-aduk antara yang haq (Islam) dengan yang bathil (ideologi buatan manusia), akidahnya bercampur aduk dengan praktek-praktek kemusyrikan, ibadah madhlohnya (ritualnya) penuh dengan bid’ah dan muamalahnya banyak diwarnai cara-cara hidup orang Kafir.

Islam yang diamalkan bercampur aduk dengan ideologi buatan manusia seperti ini akibatnya menjadi penyakit yang merusak akhlak dan menjerumuskan kepada kehinaan dunia akherat, laksana air minum yang jernih yang dicampur air longkang berubah fungsinya menjadi minuman yang membawa penyakit.

Demikian pula jamaah-jamaah kaum Muslimin yang memperjuangkan tegaknya Dienul Islam makin hari bukan membawa kemajuan Islam tetapi makin melemahkannya – kecuali jamaah-jamaah yang dirahmati Allah –ta’ala- ini semua karena manhaj perjuangannya tidak murni menepati panduan Al-Qur’an dan Sunnah tetapi bercampur aduk dengan manhaj jahiliah yang diciptakan oleh orang-orang kafir.

CARA MENGAMALKAN DIENUL ISLAM

Disamping mewahyukan Dienul Islam sebagai pedoman hidup manusia dan Jin, Allah -ta’ala- juga memberi bimbingan bagaimana cara mengamalkan dan menegakkannya yang benar. Maka mengamalkan dan menegakkan Dienul Islam agar benar harus mengikuti bimbingan dan arahan yang diberikan oleh Allah –ta’ala- dan Rasul Nya (Al-Qur’an dan Sunnah). Kita tidak boleh mengamalkan dan menegakkan Dienul Islam menurut selera kita atau selera masyarakat. Apabila kita menelaah Al Qur’an dan Sunnah Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, kita dapati bahwa bimbingan Allah dan Rasul-Nya dalam mengamalkan dan menegakkan Dienul Islam adalah sebagai berikut:

A. DIENUL ISLAM WAJIB DIAMALKAN SECARA BERSIH YANG MELIPUTI:

1. Aqidah wajib bersih dari  kemusyrikan.

Pengamalan Syariat Islam akan hidup dan bernilai tinggi di sisi Allah –ta’ala- dan akan dapat mewujudkan manfaat di dunia dan akhirat apabila didasari aqidah/tauhid yang bersih dari berbagai bentuk kemusyrikan. Tetapi apabila amalan itu semua ditaburi kemusyrikan sehingga rusaklah Aqidah dan tauhid, maka amalan itu semua tidak ada harganya lagi di sisi Allah baik di dunia maupun di akhirat, karena amalan itu sudah mati tidak ada ruhnya lagi dan Allah tidak akan menerima amal yang mati semacam ini. (QS. Az-Zumar : 65)

Maka amal orang Kafir, betapapun baiknya, tidak ada nilainya di sisi Allah –ta’ala- sebab ia merupakan amal mati yang tidak ada Ruhnya yakni, karena tidak didasari Aqidah dan Tauhid. Amal semacam ini oleh Allah diumpamakan sebagai debu yang berterbangan, yakni tidak ada nilainya dan hilang tanpa membawa manfaat baginya. (QS. Al-Furqan : 23), (QS. An Nuur : 39)

Adapun bentuk kemusyrikannya adalah pertama: Kemusyrikan karena mempertuhankan binatang/benda-benda. (QS.Yunus : 107). Kedua: Kemusyrikan karena mempertuhankan sesama manusia, yang meliputi: Mempercayai bahwa ada manusia yang dapat mendatangkan manfaat, menolak mudharat, memberi berkah dan menyembuhkan sakit dan mengetahui perkara-perkara ghaib, mentaati fatwa orang Alim (Ulama, Kyai, Ustadz dan lain-lain) yang jelas-jelas bertentangan dengan naas Al-Qur’an dan Sunnah Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, mengamalkan ajaran Demokrasi ciptaan orang Kafir.

2. Ibadah mahdhohnya harus bersih dari bid’ah.

Yang dimaksud dengan ibadah mahdhoh ialah amalam –amalan yang sifatnya ritual seperti shalat, shaum, zakat, do’a, dzikir, nadzar, kurban, haji dan lain-lainnya. Cara mengamalkan ibadah mahdhoh harus bersih dari bid’ah, maksudnya harus secara mutlak mengikuti arahan dan tauladan yang diberikan oleh Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. tidak boleh menambah atau mengurangi sedikitpun meskipun penambahan itu kelihatannya baik. (QS. Al-Maa-idah : 3)

3. Muamalahnya wajib bersih dari adat jahiliyyah.

Yang dimaksud muamalah ialah amalan dan pergaulan sehari-hari dalam bermasyarakat dengan sesama manusia, seperti: ekonomi, politik, bersosial, perkawinan, bertetangga, bertamu, menerima tamu dan lain-lain. Syariat Islam sudah lengkap mengandung semua aspek kehidupan baik yang langsung atau tidak langsung. Al-Qur’an Al-Karim diturunkan benar-benar untuk menjelaskan semua perkara hidup yang penting. (QS. An-Nahl : 89)

4. Kepemimpinan wajib bersih dari kepemimpinan kafir dan sekuler.

Kepemimpinan adalah perkara penting yang dapat membawa kejayaan atau menjerumuskan orang yang dipimpinnya baik di dunia apalagi di akherat nanti. Banyak orang yang menderita di dunia karena kepemimpinan yang salah dan banyak pula orang yang masuk Neraka karena sewaktu hidupnya mengikuti pimpinan-pemimpin yang sesat. (QS. Al-Ahzaab : 66, 67, 68).

B. DIENUL ISLAM WAJIB DIAMALKAN SECARA KAFFAH

Disamping Dienul Islam harus diamalkan secara bersih dan murni seperti yang sudah diterangkan dalam keterangan-keterangan sebelumnya, maka ia juga harus diamalkan secara kaffah/syumul keseluruhan. Yang dimaksud secara Kaaffah adalah pengamalan Syariatnya wajib diusahakan untuk diamalkan secara sempurna tidak boleh ada satu Syariatpun yang sengaja ditinggalkan kecuali karena benar-benar tidak ada kemampuan. Allah –ta’ala- memerintahkan orang-orang beriman agar memasuki Dienul Islam secara kaffah, maksudnya agar berusaha mengamalkan semua syari’at dan hukum-hukumnya secara sempurna tidak satu syari’atpun, meskipun kecil, yang sengaja ditinggalkan/dibekukan. (QS. Al-Baqaraah : 208)

C. DIENUL ISLAM WAJIB DIAMALKAN SECARA BERJAMA’AH, YAKNI DENGAN KEKUASAAN POLITIK YANG SISTEMNYA KHILAFAH

Pengamalan Dienul Islam secara bersih dan Kaaffah seperti yang telah diterangkan dalam pembahasan sebelumnya tidak mungkin dapat menjadi kenyataan apabila tidak ada kekuasan politik yang berasaskan Al Quran dan Sunnah yang mengawalnya. Kalau tidak dan Dienul Islam hanya diamalkan secara perorangan atau kelompok, hal ini tidak mungkin bisa mewujudkan cita-cita pengamalan Dienul Islam secara bersih dan Kaaffah sebab perorangan atau kelompok umat Islam hidupnya kalau tidak dibawah kekuasaan Khilafah pasti tunduk di bawah kekuasaan lain yang mengusainya baik kekuasaan Kafir atau kekuasaan kaum Sekuler.

Pengamalan Dienul Islam dengan sistem kekuasaan/pemerintahan dalam bentuk Khilafah adalah telah dicontohkan oleh Rasululah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- dan diikuti oleh para sahabat terutama Khulafah Rasyidin serta umat Islam yang hidup sesudahnya hingga tahun 1924.

CARA MENDAKWAHKAN DAN MENEGAKKAN DIENUL ISLAM

Mendakwahkan dan menegakkan Dienul Islam adalah diwajibkan atas umat Islam. Allah –ta’ala- memerintahkan Rasul-Nya agar mendakwahkan Dienul Islam dan selanjutnya menegakkannya dengan cara Dakwah dan Jihad.

Adapun perintah berdakwah/bertabligh dapat kita jumpai dalam firman Allah –ta’ala- sebagai berikut: (QS. Al-Muddatsir : 1 dan 2), (QS. Asy Syu’araa : 214, 215, 216), (QS. An Nahl : 125), (QS. Al Maa-idah : 67), (QS. Al Hijr : 94).

Adapun perintah untuk menegakkan Dienul Islam dan perintah berjihad untuk kepentingan menegakkannya adalah sebagai berikut: (QS. Asy-Syuuraa : 13), (QS. An-Anfaal : 39), (QS. At-Taubah : 29), (QS. At-Tahriim : 9), (QS. Al-Baqaraah : 216).

Kalau kita teliti kembali sejarah perjuangan Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam- sejak mulai diangkat jadi nabi sampai wafat Beliau, maka akan kita temui bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- dalam usahanya untuk mendakwahkan dan menegakkan Dienul Islam selalu terpimpin oleh wahyu Allah –ta’ala- dengan melalui langkah-langkah seperti yang tersebut dibawah ini:

Langkah Pertama : Berdakwah dan bertabligh dengan bersenjatakan kesabaran dan keteguhan.

Langkah Kedua : Berhijrah dan menyusun kekuatan. (QS. An-Nisaa’ : 97).

Langkah Ketiga : Berdakwah dan berjihad di jalan Allah. (QS. Al-Anfaal : 39), (QS. At-Taubah : 29).

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: