Oleh: dakwahwaljihad | Februari 23, 2011

Perkataan Ulama’ Mengenai Orang yang Menyerang Musuh Secara Sendirian

PERKATAAN ULAMA’ MENGENAI ORANG YANG MENYERANG MUSUH SECARA SENDIRIAN

Istisyhadiyyah dalam Tinjauan Syari’at (Bag-2)

 

Setelah kami kemukakan di dalam pembahasan sebelumnya, dalil-dalil yang menunjukkan atas bolehnya menceburkan diri ke dalam barisan musuh secara sendirian dan bolehnya menyerang mereka ketika diyakini perbuatannya itu akan berakhir dengan kematian, maka kami katakan bahwasanya ‘amaliyyah istisyhaadiyyah adalah merupakan cabang dari aksi tersebut, dan diperbolehkannya melakukan ‘amaliyyah istisyhaadiyyah dapat dipahami secara jelas dari dalil-dalil di atas.

Hal itu disimpulkan setelah dipahami bahwasanya manaath (sebab) dari diharamkannya intihaar (bunuh diri) itu adalah terbatas pada lemahnya atau hilangnya iman (dan manaath tersebut telah kami terangkan di dalam pembahasan definisi al-muntahir [bunuh diri]), hanya para salaf belum mengenal ‘amaliyyah istisyhaadiyyah dalam bentuk yang ada sekarang, karena tata cara berperang itu selalu berubah-ubah, oleh karena itu mereka tidak membahas perkasusnya. Akan tetapi mereka hanya membahas hal-hal yang mirip denganya seperti menyerang musuh secara sendirian dengan tujuan untuk memukul dan menggentarkan mereka ketika diyakini aksi tersebut akan berakhir dengan kematian. Dan mereka membuat kaidah-kaidah yang berlaku untuk ‘amaliyyah istisyhaadiyyah dan lainnya, sedangkan yang mereka jadikan landasan adalah dalil-dalil yang telah kami paparkan di dalam pembahasan yang telah lalu.

Dengan demikian maka yang menjadi landasan masalah ini (‘amaliyyah istisyhaadiyyah) adalah masalah in-ghimaas, menceburkan secara sendirian atau bersama sekelompok kecil ke dalam pasukan musuh, meskipun benar-benar diyakini akan berakhir dengan kematian. Hanya yang menjadi perbedaan antara in-ghimaas (menceburkan diri ke dalam pasukan musuh) dengan ‘amaliyyah istisyhaadiyyah adalah bahwasanya al mun-ghomis (orang yang menceburkan diri ke dalam barisan musuh) terbunuh dengan tangan musuh sedangkan al fidaa-iy (orang yang melakukan ‘amaliyyah fidaa-iyyah) itu terbunuh dengan tangannya sendiri. Dan perbedaan ini tidak mempengaruhi hukumnya. Dan hal itu akan kami jelaskan nanti.

Di dalam bab ini kami akan menukilkan perkataan salaf untuk orang-orang yang mencari kebenaran mengenai permasalahan yang dijadikan landasan masalah ‘amaliyyah istisyhaadiyyah. Dan kami juga akan menukil beberapa ta’liiq (komentar) para ulama’ terhadap beberapa dalil yang telah disebutkan sebelumnya. Dan supaya tidak mengulang-ulang kami akan menukil perkataan para ulama’ dan ketika di dalam perkataan para ulama’ tersebut ada terdapat dalil-dalil yang telah kami sebutkan sebelumnya, kami tidak akan menyebutkan dalil tersebut secara lengkap di dalam fatwa tersebut, akan tetapi di dalam fatwa tersebut kami akan tulis nomer dalil dalam tanda kurung sesuai dengan urutan yang kami tulis di dalam pembahasan sebelumnya.

1- Ibnul Mubaarok dan Ibnu Abiy Syaibah V/303 meriwayatkan dengan sanad yang shohiih, dari Mudrik bin ‘Auf Al Ahmasiy, ia mengatakan: Ketika aku berada di sisi ‘Umar ra tiba-tiba utusan An Nu’maan bin Muqrin datang kepadanya, maka ‘Umar bertanya kepadanya mengenai pasukan kaum muslimin. Utusan itupun menjawab: “Si Fulan dan Si Fulan terluka, sedangkan yang lainnya saya tidak tahu.” Maka ‘Umar ra berkata: “Akan tetapi Alloh mengetahui mereka.” Lalu utusan tersebut berkata: “Wahai Amiirul Mukminiin! Ada seseorang yang menjual dirinya.” Dan Mudrik bin ‘Auf mengatakan: “Demi Alloh orang itu adalah khool (paman dari jalur ibu) ku wahai Amiirul Mukminiin, orang-orang beranggapan bahwa dia telah menceburkan dirinya ke dalam kebinasaan.” Maka ‘Umar mengatakan: “Mereka dusta, akan petepi justru ia adalah termasuk orang yang membeli akherat dengan dunianya.” Dan Al Baihaqiy mengatakan bahwasanya kisah ini terjadi ketika perang Nahaawand.

2- Ibnu Abiy Syaibah meriwayatkan dalam Mushonnaf nya V/322 dari Ibnu ‘Aun, ia dari Muhammad, ia mengatakan: Datang sebuah katiibah (sekelompok pasukan berkuda) orang-orang kafir dari arah timur, lalu seseorang dari Anshoor memergoki mereka, maka ia menyerang mereka sehingga ia dapat menerobos barisan mereka sampai keluar kemudian dia kembali dan mengulanginya dua atau tiga kali. Lalu tiba-tiba Sa’ad bin Hisyaam menceritakan peristiwa tersebut kepada Abu Huroiroh, maka Abu Huroiroh membacakan ayat berikut:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ

Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari ridlo Alloh. (Al Baqoroh: 207)

3- Al Haakim meriwayatkan di dalam Kitaabut Tafsiir II/275 dan Ibnu Abiy Haatim I/128, dari Abu Is-haaq, ia dari Al Barroo’ ra, ada orang yang bertanya kepadanya: “Wahai Abu ‘Amaaroh, firman Alloh yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(Al Baqoroh: 195)

.. apakah yang dimaksud adalah seseorang yang menceburkan diri ke dalam barisan musuh lalu ia berperang sampai terbunuh?” Ia menjawab: “Tidak, akan tetapi yang dimaksud adalah seseorang yang melakukan dosa lalu ia mengatakan; Alloh tidak mengampuniku.” Al Haakim mengatakan: “Hadits ini shohiih sesuai dengan syarat Al-Bukhooriy dan Muslim.”

4- Di dalam riwayat Ibnu ‘Asaakir dan lainnya mengenai hadits ini, ketika Abu Is-haaq ditanya mengenai ayat yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(Al Baqoroh: 195)

.. apakah yang dimaksud adalah seseorang yang membawa pedang lalu menyerang sebuah katiibah (sekelompok pasukan berkuda) yang berjumlah seribu orang?” Ia menjawab: “Tidak, akan tetapi yang dimaksud adalah seseorang yang melakukan dosa, lalu ia melemparkan tangannya dan mengatakan: Tidak ada taubat bagiku.”

5- Dan Ibnu Jariir meriwayatkan penafisiran semacam ini di dalam tafsirnya III/584, dari Hudzaifah, Ibnu ‘Abbaas, ‘Ikrimah, Al Hasan, ‘Athoo’, Sa’iid bin Jubair, Adl Dlohaak, As Suddiy, Muqootil dan lain-lain — semoga Alloh meridloi mereka semua — .

6- Dan Ibnu Abiy Syaibah meriwayatkan di dalam Mushonnaf nya V/331 dengan sanad jayyid, dari Mujaahid, ia mengatakan: “Apabila engkau bertemu dengan musuh maka songsonglah karena ayat tersebut turun berkenaan dengan infaq (maksudnya orang yang menceburkan diri ke dalam kebinasaan itu adalah orang yang enggan untuk berinfaq fii sabiilillaah-penerj.)”

7- Ibnun Nuhaas mengatakan di dalam Masyaari’ul Asywaaq II/528; Lebih dari satu orang meriwayatkan dari Al Qoosim bin Mukhoimaroh, salah seorang imam dan ulama’ dari kalangan taabi’iin, bahwasanya ia mengatakan tentang firman Alloh SWT yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(Al Baqoroh: 195)

Ia mengatakan: “Yang dimaksud dengan kebinasaan adalah tidak mau berinfaq di jalan Alloh. Dan jika seseorang menyerang sepuluh ribu pasukan maka hal itu tidak ada mengapa.”

8- Al Baihaqiy mengatakan di dalam Sunan nya IX/43, Bab; Orang yang mendermakan dirinya dengan cara menceburkan diri dalam perang; Asy Syaafi’iy rh berkata: “Telah dilakukan duel di hadapan Rosululloh SAW, ada seseorang dari Anshoor yang menyerang orang-orang musyrik dengan tanpa memnggunakan tameng dan baju besi pada perang badar setelah Nabi SAW memberitahukan kepada orang tersebut mengenai kebaikan yang terdapat di dalam perbuatan yang baik, sehingga ia terbunuh.”

9- Al Qurthubiy mengatakan di dalam tafsirnya VIII/267: “Pada dasarnya jual beli yang terjadi antara seorang hamba dengan penciptanya (Alloh) adalah dilakukan dengan cara mendermakan semua apa yang ada di tangan mereka yang paling bermanfaat bagi mereka, atau seperti sesuatu yang bermanfat yang didermakan oleh mereka, lalu Alloh SWT membeli dari hambaNya dengan musnahnya jiwa dan harta mereka di dalam mentaatiNya, dan menghancurkannya dalam rangka mencari ridloNya, kemudian Alloh SWT memberikan jannah (syurga) kepada mereka sebagai gantinya jika mereka melakukan hal itu, dan ini adalah ganti (yaitu jannah-penerj.) yang sangat besar yang tidak dapat dibandingkan dengan penggantinya (yaitu harta dan nyawa-penerj.). Maka Alloh melakukan hal itu sebagai majaz (kata kiasan) dengan apa yang mereka kenal di dalam jual beli. Dari seorang hamba menyerahkan nyawa dan harta, sedangkan Alloh memberikan pahala dan ganjaran, maka hal ini disebut dengan jual beli.”

10- Ibnul ‘Arobiy mengatakan di dalam Ahkaamul Qur-aan: Ketika Ibnu ‘Abbaas membaca ayat berikut:

إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ .. الآية

Sesungguhnya Alloh membeli dari orang-orang beriman … ayat.

Ia mengatakan: Alloh memberikan harga kepada mereka — demi Alloh — dengan harga yang paling mahal, artinya adalah memberikan kepada mereka lebih banyak dari pada yang seharusnya mereka dapatkan di dalam hukum jual beli, dan keuntungannya bukan hanya sekedar harga beli, akan tetapi lebih dari itu dan ditambah lagi.

11- Ibnul ‘Arobiy mengatakan di dalam Ahkaamul Qur-aan I/116, dan silahkan lihat juga Tafsiir al Qurthubiy II/364, ketika menafsirkan firman Alloh SWT yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(Al Baqoroh: 195)

Yang dimaksud dengan kebinasaan itu ada lima penafsiran yaitu: 1- Janganlah kalian meninggalkan berinfaq, 2- Janganlah kalian keluar (pergi) dengan tanpa bekal, 3- Janganlah kalian tinggalkan jihad, 4- Janganlah kalian masuk ke dalam pasukan yang kalian tidak mampu untuk menghadapinya, 5- Janganlah kalian putus asa dari maghfiroh (ampunan).

Kemudian Al Qurthubiy berkata: (Yang dimaksud ayat ini) adalah (kebinasaan yang bersifat) umum mencakup semua poin (kebinasaan) tersebut dan semua itu tidaklah saling kontradiksi. Ia mengatakan: Dan semua itu benar adanya kecuali pada poin menceburkan diri ke dalam pasukan musuh — yaitu poin keempat — , karena sesungguhnya para ulama’ berselisih pendapat tentang masalah tersebut. Al Qoosim bin Mukhoimaroh, Al Qoosim bin Muhammad dan ‘Abdul Maalik dari kalangan ulama’ kita mengatakan: Tidak mengapa seseorang menyerang sebuah pasukan yang besar sendirian, jika ia mempunyai kekuatan dan dilakukan dengan niat ikhlas karena Alloh. Namun jika ia tidak mempunyai kekuatan maka hal itu termasuk (menceburkan diri ke dalam) kebinasaan. Namun ada yang mengatakan bahwasanya jika ia mencari syahaadah (mati syahid) dan niatnya ikhlas maka silahkan dia melakukan serangan karena tujuannya adalah satu orang di antara mereka — maksudnya adalah satu orang dari orang-orang musyrik tersebut — untuk dia bunuh. Hal itu dijelaskan di dalam firman Alloh SWT yang berbunyi:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ

Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari ridlo Alloh. (Al Baqoroh: 207)

Kemudian ia mengatakan: Dan yang benar menurutku adalah diperbolehkan menceburkan diri ke dalam pasukan musuh bagi orang yang tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi pasukan tersebut, karena dalam perbuatannya itu terdapat empat hal:

Pertama: Mencari syahaadah (mati syahid), kedua: adanya nikayaah (membunuh atau melukai musuh), ketiga: menumbuhkan keberanian kaum muslimin terhadap mereka, keempat: melemahkan mental mereka, karena mereka melihat kalau satu orang saja melakukan seperti ini lalu bagaimana jika yang melakukannya sekelompok orang. Dan semua poin ini terwujud di dalam ‘amaliyyah istisyhaadiyyah.

12- Asy syaukaaniy mengatakan di dalam Tafsiir Fat-hul Qodiir I/297, ketika menafsirkan firman Alloh SWT yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(Al Baqoroh: 195)

Ia mengatakan: Dan yang benar adalah bahwasanya yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadh dan bukan terbatas pada sebab (turunnya ayat) yang khusus (mengenai kasus tertentu). Maka segala sesuatu yang dapat disebut sebagai kebinasaan dalam permasalahan diin (agama) dan dunia, sesuatu tersebut masuk ke dalam katagori (kebinasaan yang disebutkan di dalam ayat) ini. Dan inilah yang dikatakan oleh Ibnu Jariir Ath Thobariy, dan termasuk dalam (kebinasaan) yang dimaksud oleh ayat ini adalah seseorang yang ketika berperang menceburkan diri ke dalam pasukan musuh padahal dia tidak mempunyai kemampuan untuk menyelamatkan diri, dan tidak dapat memberikan dampak yang bermanfaat bagi mujahidin. Maka mafhuumnya (yang dapat difahami) dari perkataannya ini adalah jika terdapat manfaat pada perbuatan tersebut maka perbuatan tersebut diperbolehkan.

13- Al Qurthubiy mengatakan di dalam tafsirnya II/364: Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibaaniy, murid dari Abu Haniifah rh mengatakan: Jika seseorang menyerang seribu orang dari kaum musyrikin, sedangkan dia sendirian, hal itu tidak mengapa jika ia optimis akan selamat, atau menimbulkan nikaayah (melukai atau membunuh) pada musuh, namun jika hal itu tidak ada maka perbuatan tersebut makruuh karena ia menceburkan diri ke dalam kematian yang tidak ada manfaatnya bagi kaum muslimin. Maka barangsiapa melakukannya dengan tujuan untuk menumbuhkan keberanian kaum muslimin supaya mereka melakukan apa yang ia lakukan maka hal itu bisa diperbolehkan, karena di dalamnya ada manfaat bagi kaum muslimin dari sebagian sisi pandang, dan jika tujuannya adalah menggentarkan (menteror) musuh, dan supaya musuh mengetahui keteguhan kaum muslimin dalam menjalankan diin (agama) mereka maka hal ini juga bisa diperbolehkan. Dan apabila perbuatannya tersebut ada manfaatnya bagi kaum muslimin maka hilangnya nyawa untuk kemuliaan diin (agama Islam) dan untuk melemahkan kekafiran, maka ini adalah maqoom (kedudukan) mulia yang mana Alloh SWT memuji orang-orang beriman dengannya dalam firmanNya yang berbunyi:

إِنَّ اللهَ اشْتَرَى ..إلى قوله .. بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya Alloh telah membeli … sampai … dengan memberikan jannah kepada mereka …

Dan ayat-ayat lainnya yang di sana Alloh SWT memuji orang yang mengorbankan dirinya.

14- Al Qurthubiy mengatakan di dalam tafsirnya II/364, Ibnu Khuwaiz Mandaad berkata: “Adapun seseorang yang menyerang musuh yang berjumlah seratus orang atau sekelompok pasukan atau sekelompok pencuri atau al muhaaribiin (perampok) atau Khowaarij (pemberontak), maka ada dua kondisi:

Pertama: Jika dia mengetahui dan mempunyai perkiraan kuat bahwa ia akan dapat membunuh orang yang ia serang dan dirinya akan selamat maka hal ini baik (dia lakukan), dan begitu pula jika ia mengetahui atau mempunyai perkiraan kuat bahwa ia akan terbunuh akan tetapi ia dapat melakukan nikaayah (membunuh atau melukai) atau dapat merugikan musuh atau menimbulkan dampak yang bermanfaat bagi kaum muslimin maka yang semacam ini juga diperbolehkan.” Kemudian ia menyitir dalil mengenai pendapat ini (dalil ke 34).

15- AL Jazriy Al Maalikiy mengatakan di dalam Al Qowaaniin Al Fiqhiyyah 175: “Jika kaum muslimin mengetahui bahwa mereka akan terbunuh maka lebih baik meninggalkan (medan perang) dan jika selain akan terbunuh mereka juga mengetahui bahwasanya mereka tidak akan dapat melakukan nikaayah (membunuh atau melukai) pada musuh maka wajib hukumnya untuk melarikan diri.”

16- Ibnu ‘Aabidiin mengatakan di dalam Haasyiyyah nya IV/303: “Tidak mengapa seseorang menyerang sendirian meskipun menurut perkiraannya ia akan terbunuh apabila ia dapat melakukan sesuatu seperti membunuh atau melukai atau mengalahkan, pendapat semacam ini dinukil dari perbuatan sekelompok sahabat yang dilakukan di hadapan Rosululloh SAW pada saat perang Uhud dan beliau memuji mereka. Adapun jika ia mengetahui bahwasanya ia tidak dapat melakukan nikaayah (membunuh atau melukai) pada musuh maka ia tidak halal (tidak diperbolehkan) untuk menyerang mereka, karena serangannya tersebut tidak menimbulkan sesuatu yang dapat memuliakan diin (Islam) sama sekali.”

17- Di dalam Mughnil Muhtaaj IV/219 disebutkan perkataan Al Khothiib Asy Syarbiiniy, ketika ia mengisahkan serangan orang-orang kafir terhadap negara Islam dengan secara menyergap: “… dan jika tidak, seperti jika penduduk negeri tidak siap untuk berperang karena orang-orang kafir menyerang mereka dengan cara menyergap, maka jika ada di antara orang-orang mukallaf (orang berakal yang telah baligh-pentj) baik ia seorang budak atau seorang perempuan atau orang yang sakit atau yang lainnya yang menyerang orang-orang kafir dengan kemampuan yang ia miliki, maka hal itu diperbolehkan jika ia mengetahui bahwa jika ia tertangkap akan dibunuh. Dan jika ada seorang mukallaf yang menyerah untuk ditawan maka hal ini mengandung perselisihan, hal ini jika ia mengetahui bahwasanya jika ia menolak untuk menyerah ia akan dibunuh namun jika tidak maka ia tidak boleh menyerah.”

18- Dan di dalam tambahan pelengkap Al Majmuu’ karangan Al Muthii’iy XIX/291: Mengisyaratkan bahwasanya apabila jumlah orang-orang kafir kurang dari dua kali lipat jumlah kaum muslimin dan mereka tidak khawatir akan binasa, maka wajib untuk bertahan. Kemudian ia mengatakan: Namun jika menurut perkiraan kemungkinan besar mereka akan binasa maka dalam hal ini ada dua kemungkinan (hukum): pertama; mereka boleh untuk mundur berdasarkan firman Alloh SWT:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(Al Baqoroh: 195)

Dan yang kedua; mereka tidak boleh mundur, dan inilah pendapat yang benar berdasarkan firman Alloh SWT:

إِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةَ فَاثْبُتُوْا

Apabila kalian bertemu dengan sekelompok (orang kafir) maka bertahanlah …

.. dan karena seorang mujahid itu berjihad hanyalah untuk membunuh atau dibunuh. Dan apabila jumlah orang-orang kafir lebih dari dua kali lipat jumlah kaum muslimin maka mereka diperbolehkan untuk mundur. Dan jika menurut perkiraan mereka kemungkinan besar mereka tidak akan binasa maka lebih utama mereka bertahan sehingga kaum muslimin tidak kalang-kabut. Namun jika menurut perkiraan mereka besar kemungkinan mereka akan binasa maka ada dua kemungkinan: pertama: mereka harus mundur berdasarkan firman Alloh SWT:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(Al Baqoroh: 195)

Kedua: mereka dianjurkan dan tidak diharuskan untuk mundur karena jika mereka terbunuh maka mereka telah beruntung dengan mendapatkan syahaadah (mati syahid).

19- Abu Haamid Al Ghozaaliy rh berkata di dalam Ittihaafus Saadatil Muttaqiin Syarhu Ihyaa-i ‘Uluumid Diin VII/26: Tidak diperselisihkan atas diperbolehkannya seorang muslim untuk menyerang dan memerangi barisan orang-orang kafir, meskipun ia tahu bahwa ia akan terbunuh, sebagaimana ia juga diperbolehkan untuk memerangi orang-orang kafir sampai terbunuh, diperbolehkan — juga — hal itu ia lakukan dalam amar ma’fruf nahi munkar, akan tetapi jika ia mengetahui bahwa serangannya itu tidak akan menimbulkan nikaayah (membunuh atau melukai) terhadap orang-orang kafir, seperti seseorang yang buta atau ‘aajiz (orang lemah atau orang tua renta atau orang lumpuh-penerj.) menceburkan dirinya ke dalam barisan musuh maka hal ini adalah haram ia lakukan dan masuk ke dalam keumuman ayat yang melarang menceburkan diri ke dalam kebinasaan. Akan tetapi ia diperbolehkan untuk menyerang itu hanyalah jika ia tahu bahwa ia tidak akan terbunuh sampai ia dapat membunuh, atau ia tahu bahwa dengan perbuatannya itu ia dapat menggentarkan hati orang-orang kafir lantaran mereka menyaksikan keberaniannya dan mereka menyangka bahwa seluruh kaum muslimin tidak banyak memperhitungkan, dan cinta syahaadah (mati syahid) di jalan Alloh, sehingga hal itu meruntuhkan kekuatan mereka.” Selesai.

20- Ibnu Hazm mengatakan di dalam Al Muhallaa VII/294: Abu Ayyuub Al Anshooriy dan Abu Musa Al Asy’ariy tidak mengingkari seseorang yang menyerang sebuah pasukan yang besar secara sendirian, kemudian ia bertahan sampai ia terbunuh. Dan mereka menyebutkan sebuah hadits mursal dari jalur Al Hasan bahwasanya tatkala kaum muslimin bertemu dengan orang-orang musyrik, maka seseorang mengatakan kepada Rosululloh SAW: “Wahai Rosululloh bolehkah aku menyerang mereka?” Maka Rosululloh SAW bersabda: “Apakah kamu akan memerangi mereka semua? Duduklah lalu jika kawan-kawanmu bangkit maka bangkitlah dan jika mereka menyerang maka menyeranglah.” Hadits ini adalah hadits mursal dan tidak bisa dijadikan hujjah. Akan tetapi justru ada sebuah hadits shohiih yang menyebutkan bahwasanya ada seseorang dari sahabat beliau yang bertanya kepada beliau tentang apa yang dapat menjadikan Alloh tertawa terhadap hambaNya. Maka beliau menjawab: “Seseorang yang menceburkan diri dengan tangannya ke dalam barisan musuh dengan tanpa menggunakan baju besi. Maka orang tersebutpun membuka baju besinya lalu ia masuk ke dalam barisan musuh sampai ia terbunuh — semoga Alloh meridloinya —.”

21- Ar Rifaa’iy, An Nawawiy dan yang lainnya mengatakan di dalam Syarhun Nawawiy ‘Alaa Muslim XII/187: Mengorbankan jiwa di dalam jihad itu diperbolehkan. Dan ia menukil kesepakatan para ulama’ dalam masalah ini di dalam Syarhu Muslim. Hal ini ia katakan dalam pembahasan Ghozwatu Dziy Qirodi.

Dan mengenai kisah ‘Umair bin Al Hammaam (dalil ke 14) An Nawawiy mengatakan di dalam Syarhu Muslim nya XIII/36: “Hadits ini menunjukkan bolehnya menceburkan diri ke dalam barisan orang-orang kafir dan menjerumuskan diri ke dalam syahaadah (mati syahid) dan perbuatan ini diperbolehkan tanpa dimakruhkan sedikitpun menurut pendapat mayoritas ulama’.”

22- Al ‘Izz bin ‘Abdus Salaam mengatakan di dalam Qowaa’idul Ahkaam I/111: “Mundur ketika perang itu adalah merupakan mafsadah (kerugian) yang besar, akan tetapi wajib dilakukan jika ia mengetahui bahwa ia akan terbunuh tanpa dapat melakukan nikaayah (membunuh atau melukai) terhadap orang-orang kafir. Karena mengorbankan jiwa yang diperbolehkan itu hanyalah jika dapat memuliakan diin (Islam) dengan cara terwujudnya nikaayah (membunuh atau melukai) pada orang-orang musyrik. Maka jika tidak menghasilkan nikaayah, wajib untuk mundur karena jika tetap bertahan akan mengakibatkan hilangnya nyawa dan menyenangkan orang-orang kafir, serta membikin marah orang-orang Islam. Sehingga jika tetap bertahan dalam keadaan seperti ini yang dihasilkan hanyalah mafsadah (kerusakan) belaka dan tidak ada kemaslahatannya sama sekali.”

23- Ibnu Qudaamah mengatakan di dalam Al Mughniy IX/309: “Dan apabila jumlah musuh lebih dari dua kali lipat jumlah kaum muslimin namun menurut perkiraan kemungkinan besar kaum muslimin menang, maka yang lebih utama adalah tetap bertahan karena hal itu terdapat kemaslahatan, namun jika mereka mundur pun juga diperbolehkan karena dikhawatirkan mereka akan binasa. Dan hukumnya adalah berdasar perkiraan, yaitu hendaknya jumlah mereka kurang dari setengah jumlah musuh, oleh karena itu mereka harus bertahan jika jumlah mereka lebih dari setengah jumlah musuh meskipun menurut perkiraan mereka kemungkinan besar akan binasa, namun bisa juga dikatakan bahwa mereka harus bertahan jika menurut perkiraan kuat mereka akan menang karena hal itu lebih maslahat. Dan apabila mereka perkirakan jika mereka bertahan akan hancur dan jika mereka mundur akan selamat maka lebih baik mereka mundur, namun jika mereka tetap bertahanpun juga diperbolehkan karena mereka mencari syahaadah (mati syahid) dan mungkin juga mereka akan menang. Dan jika menurut perkiraan mereka akan hancur jika mereka mundur ataupun jika tetap bertahan maka lebih baik mereka tetap bertahan supaya mereka mendapatkan derajat orang-orang yang mati syahid dalam keadaan mengadapi musuh dengan ikhlas, sehingga mereka lebih utama dari pada orang-orang yang mundur, dan juga karena bisa jadi mereka akan menang.”

24- Ibnun Nuhaas mengatakan di dalam Masyaari’ul Asywaaq I/539: Hadits yang shohiih ini (maksudnya adalah hadits nomer 25) merupakan dalil yang paling kuat atas diperbolehkannya seseorang menyerang sekelompok musuh yang berjumlah banyak secara sendirian, meskipun menurut perkiraannya besar kemungkinan ia akan terbunuh, apabila ia melakukan dengan ikhlas untuk mencari syahaadah (mati syahid), sebagaimana yang dilakukan oleh Al Akhrom Al Asadiy ra sedangkan Nabi SAW tidak mencelanya, dan para sahabat juga tidak melarang perbuatan tersebut. Bahkan hadits tersebut justru menunjukkan atas keutamaan dan dianjurkannya perbuatan tersebut. Karena Nabi SAW memuji apa yang dilakukan oleh Abu Qotaadah dan Salamah sebagai mana telah disebutkan di depan. Padahal keduanya telah menyerang musuh secara sendirian dan tidak menunggu sampai kaum muslimin datang.

Dan hadits ini juga menunjukkan bahwasanya seorang imam itu, juga yang lainnya yang mempunyai kasih sayang terhadap orang yang melakukan serangan tersebut, boleh melarangnya untuk melakukan serangan secara sendirian, namun dia juga diperbolehkan untuk membiarkannya jika ia melihat bahwa orang yang akan melakukan penyerangan secara sendirian itu mempunyai kemauan yang tulus, tekad yang kuat dan niat yang ikhlas untuk mencari syahaadah (mati syahid) sebagaimana yang dilakukan oleh Salamah bin Al Akwa’ terhadap Al Akhrom Al Asadiy, dan Nabi SAW juga tidak mengingkarinya ketika Salamah bin Al Akwa’ melarang dan ketika membiarkan Al Akhrom Al Asadiy, dan juga sebagaimana yang dilakukan oleh ‘Amr bin Al ‘Aash ra terhadap seseorang yang disebutkan di dalam hadits sebelumnya. (Dalil no. 35)

Dan permintaan Salamah untuk memilih seratus orang sahabat untuk menghadapi orang-orang kafir itu jelas menunjukkan bahwasanya orang-orang kafir ketika itu berjumlah banyak, karena kalau tidak tentu untuk menghadapi mereka tidak memerlukan kepada seratus orang sahabat pilihan, dan tetntu saya tidak akan cantumkan dalil ini dalam pembahasan ini, karena hadits tersebut adalah dalil yang paling jelas dari dalil-dalil yang lain yang sama-sama jelasnya. Walloohu A’lam.

25- As- Suyuuthiy mengatakan di dalam Syarhus Sairi Al Kabiir I/125: “Jika seorang muslim didatangi oleh musuh yang tidak mampu untuk dia hadapi maka tidak mengapa ia mengundurkan diri, dan tidak mengapa juga kalau dia tetap bersabar (untuk bertahan). Hal ini tidak sebagai mana yang dikatakan oleh sebagian orang bahwasanya perbuatan seperti ini adalah termasuk menceburkan diri ke dalam kebinasaan. Bahkan justru hal ini merupakan bentuk pengorbanan di jalan Alloh SWT. Karena lebih dari satu orang dari kalangan sahabat yang melakukan aksi seperti ini. Di antaranya adalah ‘Aashim bin Tsaabit ra yang jasadnya dilindungi oleh sekumpulan lebah (dalil no. 19), dan Rosululloh SAW memujinya, dengan demikian dapat kita pahami bahwasanya hal itu tidak mengapa untuk dilakukan.”

26- Ash Shon’aaniy mengatakan di dalam Subulus Salaam IV/51: Hadits Abu Ayyuub Al Anshooriy yang menafsirkan sebuah ayat yang terdapat di dalam surat Al Baqoroh yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan.

Kemudian ia menyebutkan riwayat Ibnu Jariir mengenai masalah seseorang yang mengadakan serangan secara sendirian terhadap musuh yang berjumlah banyak. Bunyi perkataannya adalah: Hadits dari Aslam bin Yaziid bin Abiy ‘Imroon kemudian ia menyebutkan (dalil no. 6). Kemudian ia menukil riwayat dari Ibnu Jariir mengenai masalah seseorang yang mengadakan serangan secara sendirian terhadap musuh yang berjumlah banyak, ia mengatakan: Mayoritas ulama’ menyatakan: Bahwasanya jika hal itu dilakukan karena keberaniannya yang luar biasa, dan dia mempunyai perkiraan bahwa dengan perbuatannya itu ia dapat menggentarkan musuh yang berjumlah banyak, atau dapat membangkitkan keberanian kaum muslimin untuk menghadapi mereka, atau tujuan-tujuan lain yang dibenarkan, maka ini adalah tindakan yang baik. Namun jika hal itu dilakukan hanya secara serampangan, maka ini tidak diperbolehkan apalagi jika mengakibatkan kaum muslimin lemah.

27- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rh mengatakan di dalam Majmuu’ Fataawaa XXVIII/540: “Muslim telah meriwayatkan kisah Ash-haabul Ukhduud di dalam kitab Shohiih nya (dalil no. 4). Di dalamnya disebutkan (Bahwasanya pemuda tersebut memerintahkan untuk membunuh dirinya untuk kepentingan tersiarnya diin). Oleh karena itu seluruh Imam dari empat madzhab memperbolehkan seorang muslim menceburkan diri ke dalam barisan orang-orang kafir, meskipun menurut perkiraannya besar kemungkinan mereka akan membunuhnya, apabila di sana terdapat kemaslahatan bagi kaum muslimin. Maka apabila seseorang itu boleh melakukan perbuatan yang diyakini akan mengakibatkan dirinya terbunuh untuk kepentingan jihad, padahal membunuh dirinya sendiri itu lebih besar permasalahannya dari pada membunuh orang lain: maka tindakan-tindakan yang mengakibatkan terbunuhnya orang lain untuk kepentingan diin, yang tidak dapat diraih kecuali dengan itu, dan untuk melawan bahaya musuh yang merusak diin dan dunia, yang tidak dapat dihindari kecuali dengan perbuatan itu, maka hal itu lebih diperbolehkan.” Sampai di sini perkataan belaiu.

Dan hadits yang menyebutkan kisah seorang pemuda itu adalah termasuk dalil yang paling kuat dalam masalah ini. Hadits ini menerangkan bahwasanya ketika pemuda tersebut melihat bahwa pembunuhan dirinya yang dilakukan dengan cara tertentu akan menyebabkan tersebarnya diin dan masuknya manusia ke dalamnya, maka iapun melakukan apa yang dapat menyebabkan dirinya terbunuh. Maka iapun menunjukkan kepada Raja bagaimana cara membunuh dirinya yang mana tidak mungkin Raja dapat membunuhnya kecuali dengan cara tersebut. Padahal Alloh telah menyelamatkan pemuda tersebut dari mereka. Akan tetapi oleh karena tersebarnya dakwah itu lebih berharga baginya dari pada nyawanya, maka iapun ikut berperan di dalam membunuh dirinya sendiri. Memang dia tidak membunuh dirinya dengan tangannya sendiri, akan tetapi petunjuknyalah yang merupakan satu-satunya sebab dirinya terbunuh. Hal itu seperti seandainya ada orang yang putus asa menyuruh orang lain untuk membunuh dirinya, tentu akan kita katakan bahwa orang tersebut telah melakukan bunuh diri berdasarkan kesepakatan. Dan siapa yang melakukan pembunuhan itu tidaklah menjadi perhitungan, karena dirinyalah yang meminta orang lain untuk membunuh dirinya dan membantu orang tersebut dalam melakukan pembunuhan tersebut. Dan orang yang menjadi sebab seseorang membunuh orang lain itu berarti ia telah ikut bekerjasama dalam pembunuhan, oleh karena itu menurut mayoritas ulama’ ia wajib untuk diqishosh, sebagaimana yang akan kami terangkan.

Akan tetapi oleh karena Rosululloh SAW memuji pemuda ini, maka hal itu menunjukkan bahwa yang mejadi pembeda antara dua kasus tersebut adalah niatnya. Maka pujian Rosululloh terhadap pemuda yang menjadi penyebab terbunuhnya dirinya sendiri itu, yang bertujuan untuk memuliakan diin, ini merupakan dalil yang jelas dan nyata atas diperbolehkannya perbuatan tersebut, dan diperbolehkannya melakukan ‘amaliyyah istisyhaadiyyah.

Dan Alloh juga memuji orang-orang yang beriman kepada Robb (tuhan) nya pemuda tersebut. Mereka diperintahkan untuk memilih antara keluar dari diin (agama) mereka atau menceburkan diri mereka ke dalam api, maka merekapun memilih untuk menceburkan diri ke dalam api, dengan tujuan untuk membela diin dan karena mereka lebih mengutamakan diin (agama) mereka dari pada dunia mereka. Bahkan ketika seorang ibu ragu-ragu untuk menceburkan diri ke dalam api, bayinya yang masih menyusui berbicara untuk memberi dorongan kepada ibunya agar ia menceburkan diri ke dalam api. Alloh tidaklah menjadikan bayi itu dapat berbicara kecuali untuk mengatakan yang benar. Dan tentang mereka ini Alloh menurunkan sebuah ayat yang senantiasa dibaca, dan Alloh berfirman tentang mereka:

لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Bagi mereka adalah jannah (syurga) yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, dan itu adalah keberuntungan yang besar.

Mereka mengorbankan diri mereka untuk kepentingan diin, maka merekapun mendapat keberuntungan.

Apa yang dilakukan oleh pemuda dan Ash-haabul Ukhduud tersebut adalah mirip dengan kisah Maasyithoh (seorang wanita tukang sisir) anak perempuannya Fir’aun. (dalil no. 5), dan apa yang mereka lakukan itu dipuji oleh Alloh. Maasyithoh tersebut menjemput kematian dan lebih memilih apa yang ada di sisi Alloh, dan Alloh menjadikan bayinya yang masih menyusui dapat berbicara untuk menguatkannya menjemput kematian ketika ia ragu-ragu untuk melakukannya lantaran bayi tersebut.

Dan kami telah sebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa syariat kita mendukung perbuatan yang disebutkan di dalam dua hadits ini, dan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa syariat kita menentang pengorabanan jiwa untuk memuliakan kalimatulloh, oleh karena itu mayoritas ulama’ berpendapat bahwa apa yang terkandung di dalam dua hadits tersebut adalah berlaku di dalam syariat kita.

28- Kisah ‘Abdulloh bin Az Zubair ketika duel melawan Al Asytar, yang diriwayatkan oleh Ath Thobariy (dalil no. 33), merupakan dalil yang mendukung masalah mengorbankan jiwa untuk kepentingan diin (agama) jika hal itu diperlukan. Dan perlu diketahui bahwasanya Al Asytar adalah seorang baaghiy (pemberontak) dan bukan orang kafir, akan tetapi dialah yang menghasud manusia untuk memerangi Amiirul Mi’miniin ‘Utsmaan bin ‘Affaan ra. Maka tatkala ‘Abdulloh bin Az Zubair berhasil menguasainya pada perang Jamal, ia berpendapat dengan terbunuhnya dia akan meredakan fitnah. Oleh karena itu ia berkeinginan untuk mengorbankan dirinya untuk membunuhnya dengan tujuan meredakan fitnah. Maka tatkala ia menoleh, Al Asytar berusaha meloloskan diri dari hadapan Ibnu Az Zubair, maka Ibnu Az Zubair pun mengucapkan kata-katanya yang terkenal: “Bunuhlah aku bersama Maalik!” — yang dia maksud Maalik adalah Al Asytar — karena kalau ada kawan-kawan ‘Abdulloh yang ingin membunuh Al Asytar ketika sedang berduel, tidak akan mungkin ia hanya menebas Al Asytar saja (tanpa ‘Abdolloh). Dari situ ‘Abdulloh tahu bahwa inilah yang menghalangi kawan-kawan ‘Abdulloh untuk membunuh Al Asytar. Oleh karena itu ia memerintahkan seperti itu. Dengan begitu ia ingin mengorbankan dirinya untuk membunuh seorang baaghiy (pemberontak) yang berperan sebagai gembong fitnah. Semua itu ia lakukan untuk kepentingan diin (agama). Saya mengira seandainya orang yang hendak memperjuangkan diin (agama) mempunyai pemahaman semacam ini, ia tidak akan ragu-ragu sedikitpun untuk meledakkan dirinya apabila di sana terdapat kemaslahatan diin (agama) seperti yang dilakukan oleh ‘Abdulloh. Dan kami belum mendapatkan sebuah riwayatpun yang meyebutkan ada seseorang yang memprotes ‘Abdulloh bin Az Zubaair yang meminta agar membunuh dirinya bersama dengan Al Asytar dengan tujuan menghentikan fitnah dan menghindarkan kaum muslimin dari kejahatan satu orang ini. Dan kami tahu bahwasanya ketidaktahuan kami terhadap adanya riwayat yang menyebutkan adanya seseorang yang memprotes perbuatannya tersebut bukan berarti tidak adanya orang yang memprotes, akan tetapi ini dapat untuk dijadikan sebagai isyarat.

29- Kisah Al Barroo’ bin Maalik yang melemparkan diri di atas benteng Yamaamah (dalil no. 26) menunjukkan tidak ada sahabat yang memprotes aksi semacam ini. Di sana disebutkan bahwasanya Al Barroo’ diletakkan di atas perisai lalu dilemparkan ke arah musuh melalui atas benteng. Dan kita tahu bersama bahwasanya dengan sekedar dilemparkan saja ke atas benteng bisa menyebabkan binasa, lalu bagaimana jika di dalamnya terdapat sekelompok pasukan kafir yang telah bersiap untuk perang dan menyandang senjata. Dan setiap orang yang mendengar apa yang dilakukan oleh Al Barroo’ ini pasti tidak ragu-ragu lagi bahwasanya orang yang melakukan apa yang dilakukan oleh Al Barroo’ ini pasti akan binasa, baik lantaran ia dilempar atau lantaran mati dibunuh oleh para pasukan yang telah bersiap untuk memeranginya. Namun demikian tidak ada yang memprotesnya baik pemimpin pasukan maupun sahabat yang lain, padahal menurut perkiraan kuat ia pasti binasa.

30- Hadits yang menyebutkan hal-hal dapat menjadikan Alloh tertawa (dalil no. 7) merupakan dalil yang lebih kuat dari hanya sekedar perkiraan kuat akan binasa. Karena Rosululloh SAW memberitahukan kepada ‘Auf bin ‘Afroo’ bahwasanya yang dapat menjadikan Alloh tertawa itu adalah hendaknya dia menyerang musuh dengan tangannya tanpa menggunakan pelindung. Artinya tanpa menggunakan baju besi atau sesuatu yang dapat melindungi diri dari serangan musuh. Maka ‘Auf pun melepaskan baju besinya yang sebelumnya ia kenakan lalu ia berperang sampai terbunuh. Padahal tidak diragukan lagi bahwasanya orang yang hendak memerangi sebuah kelompok musuh yang berjumlah banyak dengan tanpa menggunakan baju besi, pasti dia akan binasa kecuali jika Alloh berkehendak lain. Akan tetapi hukum itu ditentukan berdasarkan perkiraan yang kuat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudaamah yang telah kami sampaikan di depan.

Dan peperangan dalam bentuk seperti ini belum pernah sekalipun dilakukan di hadapan Rosul SAW, akan tetapi yang melakukan aksi semacam itu adalah ‘Umair bin Al Himaam pada perang Badar (dalil no. 14) dan begitu pula Anas bin An Nadl-r pada perang Uhud (dalil no. 15), juga sabda Rosululloh SAW terhadap orang yang selamat pada peristiwa Bi’ru Ma’uunah, yang memotifasinya agar melakukan penyerangan (dalil no. 18). Aksi semacam ini juga pernah terjadi di hadapan para sahabat, seperti yang terjadi di hadapan Abu Musa (dalil no. 32) dan ‘Amr bin Al ‘Aash (dalil no. 35), dan kisah Ja’far yang menyembelih kudanya juga menunjukkan aksi semacam ini (dalil no. 28), serta seseorang yang menghadang gajah pada saat perang Al Jisr (dalil no. 34). Semua dalil ini menunjukkan bahwasanya menceburkan diri ke dalam barisan musuh, yang diyakini akan mengakibatkan kematian, adalah sebuah aksi yang sangat terkenal di pada jaman Rosul SAW dan pada jaman sahabat. Padahal tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwasanya ada seorang ulama’ yang melarang aksi semacam ini tatkala diyakini orang yang melakukan serangan tersebut akan mati, hal ini menunjukkan bahwa aksi semacam ini diperbolehkan.

31- Sesungguhnya menjaga diin (agama) itu adalah amalan yang mulia bagi seorang mujahid dalam rangka meninggikan kalimatulloh. Dan telah sampai kepada kita berbagai dalil yang tidak menyisakan lagi keraguan atas diperbolehkannya seorang mujahid mengorbankan diri untuk diin (agama) nya. Di sini saya ingatkan bahwasanya Rosululloh SAW berlindung dengan tubuh para sahabat pada perang Uhud, dan Rosululloh tidak mengingkari hal itu, dan juga tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa tindakan itu hanya khusus untuk beliau SAW. Seperti kisahnya Abu Dujaanah yang melindungi Rosul SAW dengan menjadikan dirinya sebagai perisai dari tombak (dalil no. 21), juga Abu Tholhah yang mengatakan kepada Rosululloh: Lindungilah nyawamu dengan nyawaku (dalil no. 22) dan pembelaannya terhadap Rosululloh SAW sehingga tangannya yang digunakan untuk melindungi beliau terputus (dalil no. 23), semua itu menunjukkan atas diperbolehkannya melindungi orang-orang tertentu dengan mengorbankan nyawa orang lain jika kematian orang yang dilindungi tersebut akan membahayakan kaum muslimin atau diin (agama).

 

Kesimpulan Dari Perkataan Para Ulama’ Dan Syarat-Syarat Diperbolehkannya Melakukan ‘Amaliyah Istisyhaadiyyah.

Dari perkataan para ulama’ di atas kita dapat pahami bahwasanya yang dijadikan patokan dalam masalah menceburkan diri ke dalam barisan musuh secara sendirian itu adalah apa yang menjadi perkiraan kuat. Artinya jika orang yang menceburkan diri ke dalam barisan musuh tersebut mempunyai perkiraan kuat akan terbunuh, maka hukumnya sama dengan orang yang diyakini akan terbunuh. Maka barang siapa memperbolehkan aksi menceburkan ke dalam barisan musuh ketika diperkirakan akan terbunuh, berarti sama saja ia telah memperbolehkan aksi menceburkan diri ke dalam barisan musuh ketika diyakini ia pasti terbunuh.

Selain itu, sesungguhnya mayoritas ulama’ menggantungkan hukum diperbolehkannya aksi menceburkan diri ke dalam barisan musuh ini dengan beberapa syarat, pertama: ikhlas, kedua: terwujudnya nikaayah (membunuh atau melukai), ketiga: menggentarkan musuh, keempat: menguatkan hati kaum muslimin.

Sedangkan Al Qurthubiy dan Ibnu Qudaamah memperbolehkan aksi menceburkan diri ke dalam barisan musuh hanya dengan (satu syarat saja yaitu) niat ikhlas untuk mencari syahaadah (mati syahid), karena mencari syahaadah itu adalah perbuatan yang disyariatkan. Dan setiap mujahid itu mempunyai tujuan semacam ini. Dan oleh karena Rosululloh SAW serta para sahabat tidak mensyaratkan sebagaimana yang disyaratkan oleh mayoritas ulama’ untuk melakukan aksi menceburkan diri ke dalam barisan musuh, maka pendapat Al-Qurthubiy dan Ibnu Qudaamah tersebut lebih dekat kepada kebenaran, karena seandainya kita kaji semua dalil yang menunjukkan diperbolehkannya aksi semacam ini, maka kita tidak akan mendapatkan sebuah dalilpun yang mendukung mayoritas ulama’ tersebut yang berpendapat bahwasanya orang yang tidak memenuhi syarat tersebut dilarang untuk melakukan aksi semacam ini, namun mereka mengambil hukum tersebut dari kaidah umum di dalam jihad. Padahal sesuatu yang bersifat umum itu tidak mesti menunjukkan sesuatu yang bersifat khusus. Memang kami berpendapat bahwa perbuatan yang tidak ada gunanya itu tidak pantas untuk dilakukan, akan tetapi untuk mengatakan bahwa orang yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut berarti aksinya tidak syah dan tidak terpuji, maka ini adalah suatu kedholiman. Apalagi syarat-syarat tersebut tidak berlandaskan dalil-dalil yang jelas atau atsar-atsar yang shohiih atau qiyaas yang jaliy (jelas). Maka pada dasarnya aksi semacam ini diperbolehkan meskipun tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, namun hal itu tidaklah utama. Oleh karena itu hendaknya bukan hanya sekedar syahaadah (mati syahid) saja yang dicari tanpa ada tujuan yang lain yang bermanfaat bagi kaum muslimin dan mujahidin.

Bersambung……

Iklan

Responses

  1. ulama membolehkan menceburkan diri ke barisan musuh itu tidak bisa dijadikan hujjah dibolehkannya bom bunuh diri. menceburkan diri ke barisan musuh, dengan syarat “BARISAN MUSUH” berarti sama2 sedang perang, bukan sedang istirahat, bukan sedang dalam perjanjian damai, BUKAN ke BARISAN TURIS yang dilindungii negara. PENDETA saja dalam perang tidak boleh dibunuh kok, apalagi TURIS!! di mana kau sembunyikan ayat dan hadits tentang hal itu??

    yang kedua, menceburkan diri ke barisan musuh itu TIDAK TAHU PASTI kapan matinya.

    SEDANGKAN BOM BUNUH DIRI yang dilakukan kawan2mu itu, mereka menceburkan diri ke barisan orang2 yang sedang dalam perjanjian, orang2 sipil, dll. bahkan mereka tahu pasti kapan meledaknya bom, jam berapa, menit berapa, detik berapa, jadi itu BUNUH DIRI! bukan menceburkan diri ke barisan musuh!!

    kalau mau pakai QIYAS, harus sama semua sisinya, kalau mau menyeret perkataan ulama untuk membenarkan aksimu, NGGAK BAKAL BISA mas, belajar dulu mas kepada ulama, jangan cukup kepada ustadz halaqahmu (kayak katak dalam tempurung). kemudian merasa cukup trus latihan perang, weleh22222…….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: