Oleh: dakwahwaljihad | Februari 1, 2011

Mengenal Syi’ah ( Bag. V )

MENGENAL SYI’AH ( Bag. V )

 

J. Sekte-Sekte Syi’ah

Menurut Al-Hasan bin Musa An-Nubakhti, salah seorang tokoh ulama Syi’ah yang hidup pada abad ke-3 H dalam kitabnya, Firaq Asy-Syi’ah dijelaskan bahwa telah terjadi perbedaan dan perselisihan dikalangan Syi’ah sejak awal sejarah mereka, terutama dalam menentukan siapakah yang berhak menjadi Imam, sekalipun dalam klaim mereka Imamah adalah pokok keimanan mereka dan telah ditetapkan berdasar nash.

Menurut An-Nubakhti perselisihan itu antara lain:

A) Setelah wafatnya Rasulullah saw, Syi’ah terpecah menjadi 3 kelompok:

Kelompok yang meyakini bahwa Ali adalah Imam yang harus ditaati dan bukan yang lainnya berdasarkan nash dari Nabi saw, beliau ma’shum, terjaga dari segala bentuk kesalahan, yang berwilayah dengannya akan selamat, dan yang memusuhinya adalah kafir dan sesat. Imamah ini terus diwarisi oleh keturunannya, sebagian kelompok ini disebut Al-Jarudiyah.

Kelompok yang meyakini bahwa Ali memang paling berhak sesudah Rasulullah saw, karena keutamaannya, sekalipun demikian mereka membenarkan imamah khlaifah Abu Bakar dan Umar dikarenakan keridhaan serta bai’at Ali terhadap keduanya secara sadar tanpa paksaan. Inilah kelompok Al-Batriyah.

Kelompok ini sama dengan kedua, hanya saja mereka berpendapat bahwa mentaati imam yang sudah ditetapkan itu hukumnya wajib, maka siapapun yang tidak mentaatinya dia kafir dan sesat.

Pada masa ini, An-Nubakhti juga menyebutkan munculnya kelompok Khawarij dari kalangan Syi’ah Ali, mereka kemudian mengkafirkan Ali bin Abi Thalib karena melakukan Tahkim.

B) Setelah Ali wafat, Syi’ah terpecah menjadi 3 kelompok:

Kelompok yang berpendapat Ali tidak mati terbunuh, dan tidak akan mati sehingga ia berhasil memenuhi bumi dengan keadilan. Inilah kelompok Ghuluw (ekstrem) pertama. Kelompok ini disebut Syi’ah Saba’iyyah pimpinan Abdullah bin Saba’.

Kelompok yang berpendapat bahwa Ali memang wafat dan imam sesudahnya adalah putranya, Muhammad Al-Hanafiyah, sebab dia (bukan Hasan atau Husein) yang dipercaya membawa panji ayahnya Ali dalam peperangan di Basrah. Kelompok ini disebut Al-Kaisaniyyah. Mereka mengkafirkan siapapun yang melangkahi Ali dalam Imamah, juga mengkafirkan Ahlus-Shiffin, Ahlul-Jamal. Tokoh kelompok ini Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi, ia mengaku bahwa Jibril pernah menurunkan wahyu kepadanya.

Kelompok ketiga berkeyakinan bahwa Ali memang wafat, dan imam sesudahnya adalah puteranya, Al-Hasan. Ketika kemudian Al-Hasan menyerahkan khilafah kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, mereka memindahkan imamah kepada Al-Husein. Sebagian mereka mencela Al-Hasan, bahkan Al-Jarrah bin Sinan al-Anshari pernah menuduhnya sebagai musyrik dan membacok pahanya dengan pedang. Tetapi sebagian Syi’ah berpendapat bahwa sesudah wafat Al-Hasan, yang berhak jadi imam adalah Al-Hasan bin Al-Hasan yang bergelar Ar-Ridha.

C) Sesudah syahidnya Al-Husein ra dalam peristiwa Karbala, dimana beliau diundang oleh penduduk Kufah yang mengaku diri sebagai Syi’ahnya dan mereka mengaku mempunyai belasan ribu orang yang siap membela Husein. Tapi ternyata ketika Husein dikepung oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad di Karbala tak satupun orang yang tadinya mengundang beliau tampil membelanya, tapi justru cuci tangan, sehingga menyebabkan syahidnya Imam Husein. Seperti dikisahkan sejarawan Syi’ah, al-Mas’udi, Husein sebelum syahid bahkan sempat berdo’a: Ya Allah turunkanlah keputusan-Mu atas kami dan atas orang-orang yang telah mengundang kami, dengan dalih mereka akan mendukung kami, tapi kini ternyata mereka membunuhi kami. ( Tarikh al-Mas’udi 2 : 71).

Adapun yang ikut syahid bersama Al-Husein dalam peristiwa ini: Putera-putera Ali bin Abi Thalib yang bernama Abu Bakar, Utsman dan Abbas; Putera Al-Hasan bin Ali yakni Abu Bakar; dan putera Al-Husein bin Ali yakni Ali Al-Akbar bin Husein. Sehingga ketika jenazah Husein beserta keluarganya yang masih hidup dibawa ke Kufah dan ditangisi oleh penduduk Kufah, Ali Al-Asghar bin Husein Zainal Abidin berkomentar: Mereka menangisi kami, padahal mereka sendiri yang telah membunuhi kami. ( Tarikh al-Ya’qubi 2 : 245; Al-Ihtijaj 2 : 291 )

Pada periode sesudah wafatnya Al-Husein, Syi’ah terpecah lagi menjadi beberapa golongan :

Kelompok-kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Husein, imamah berlanjut ke putera Ali yang lain, yaitu Muhammad Al-Hanafiyah. Mereka-pun terpecah, ada yang berkeyakinan bahwa Muhammad Al-Hanafiyah yang disebut oleh mereka sebagai Al-Mahdi tidak pernah meninggal. Sebagian menyatakan meninggal dan pelanjutnya adalah puteranya Abu Hasyim, kelompok ini disebut Al-Hasyimiyah. Setelah itu mereka pecah lagi, ada yang berkeyakinan bahwa Abu Hasyim berwasiat kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib untuk menjadi imam. Kelompok ini disebut Syi’ah Ar-Rawandiyah.

Kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Husein, Imamah dilanjutkan oleh puteranya yang masih hidup, Ali al-Ashgar Zainal Abidin, dari ibunya bernama Jihansyah, puteri kaisar Persia Yazdajird bin Syahriyar.

Kelompok yang meyakini bahwa setelah syahidnya Husein, Imamah telah selesai/terputus. Sebab menurut mereka yang disebut namanya oleh Rasulullah saw sebagai Ahlul-Bait beliau hanyalah tiga orang saja, yaitu Ali, Hasan dan Husein.

Kelompok yang berkeyakinan bahwa sesudah wafatnya Husein, Imamah hanya bisa dilanjutkan oleh keturunan Hasan dan Husein. Siapapun diantara mereka yang mengklaim sebagai imam, maka mereka adalah imam yang wajib ditaati. Barangsiapa yang lalai melakukannya, maka ia kafir. Kelompok ini disebut As-Sarhubiyah.

D) Sesudah wafatnya Ali Zainal Abidin, muncul kelompok Syi’ah antara lain :

Az-Zaidiyah, pengikut Zaid bin Ali bin Husein yang meyakini bahwa sekalipun Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Abu Bakar dan Umar, tetapi khilafah keduanya sah. Mereka juga berkeyakinan bahwa imamah dapat diraih oleh siapapun dari keturunan Nabi Muhammad saw apabila mereka memenuhi persyaratan dan bisa memperjuangkannya. Sepeninggal Zaid, kelompok ini dipimpin oleh putera-puteranya: Yahya dan Isa.

Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ali Zainal Abidin adalah puteranya, Muhammad Al-Baqir.

E) Sesudah wafatnya Muhammad Al-Baqir, Syi’ah pecah lagi menjadi 3 kelompok:

Kelompok yang mengakui imamahnya Muhammad bin Al-Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib sebagai Al-Qa’im dan Al-Mahdi.

Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah wafatnya Muhammmad Al-Baqir adalah puteranya Ja’far Ash-Shadiq.

Al-Mughiriyah, pengikut Al-Mughirah bin Said. Yang mengklaim mendapat wasiat dari Imam Al-Baqir untuk jadi imam sampai munculnya Al-Qa’im.

F) Sesudah wafatnya Ja’far Ash-Shadiq, Syi’ah pecah lagi menjadi 6 kelompok :

Kelompok yang meyakini Imam Ja’far sebagai Al-Mahdi, disebut An-Nawusiyah.

Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya yang bernama Ismail. Mereka juga meyakini Ismail tidak mati sehingga berhasil memimpin umat, dialah sang Al-Qa’im. Kelompok ini disebut Ismailiyah.

Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ja’far adalah Muhammad bin Ismail bin Ja’far, cucu Ja’far. Menurut mereka wafatnya Ismail pada masa hidup sang ayah, Ja’far, menunjukkan bahwa imam sesudah Ja’far adalah putera Ismail, Muhammad. Menurut mereka sesudah periode Hasan dan Husein, imamah tidak lagi berputar dari kakak ke adik, tapi dari ayah ke anak. Karenanya imamah sesudah Ja’far tidak berpindah dari Ismail kepada saudaranya Abdullah dan Musa, melainkan kepada putera Ismail yakni Muhammad. Kelompok ini disebut Al-Mubarakiyah. Termasuk dalam al-Ismailiyah, pengikut Abil Khattab yang popular disebut Al-Khattabiyah atau As-Sab’iyah karena meyakini bahwa jumlah imam hanya tujuh saja. Kelompok ini dikenal juga dengan sebutan Al-Qaramithah.

Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya Muhammad bin Ja’far, kemudian anak keturunannya. Kelompok ini disebut As-Sumaithiyah dipimpin oleh Yahya bin Abi as-Sumaith.

Kelompok yang meyakni bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya yang bernama Abdullah al-Afthah. Mereka berhujah dengan hadits yang disampaikan Ja’far bahwa imamah itu adanya pada anak tertua imam. Abdullah adalah putera tertua Ja’far dan telah memproklamirkan diri sebagai imam. Kelompok ini disebut Al-Afthiyah.

Kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Ja’far dan putera tertuanya yang lain Musa al-Kazhim, dan kemudian kepada nak keturunannya.

G) Sesudah wafatnya Musa Al-Kazhim, Syi’ah terpecah lagi dalam beberapa kelompok, diantaranya yang meyakini bahwa imamah sesudah Musa Al-Kazhim adalah puteranya Ali Ar-Ridha. Mereka juga meyakini bahwa imamah berhenti sampai sini. Kelompok ini disebut Al-Wakifah.

H) Sesudah wafatnya Ali Ar-Ridha, Syi’ah terpecah lagi dalam berbagai kelompok, diantaranya adalah yang meyakini bahwa sesudah Ali Ar-Ridha imamah berpindah ke puteranya, Muhammad bin Ali, yang baru berusia 7 tahun, sehingga menimbulkan perpecahan diantara pengikutnya. Setelah wafat Muhammad bin Ali, imamah dilanjutkan oleh Al-Hasan bin Ali Al-Askari.

I) Sesudah wafatnya Al-Hasan bin Ali Al-Askari, Syi’ah terpecah-pecah lagi menjadi 14 kelompok. Diantaranya ada yang berpendapat bahwa Al-Hasan tidak wafat, sebab ia tidak boleh mati, karena ia belum punya anak yang tampil sebagai pengganti, bumi ini tidak boleh kosong dari imamah. Beliaulah Al-Qa’im, beliau kini sedang ghaib. Ada juga yang berkeyakinan bahwa Al-Hasan memang wafat, tapi ia mempunyai satu-satunya putera bernama Muhammad yang ketika ayahnya wafat ia berusia 5 tahun. Ia disembunyikan oleh ayahnya karena ia takut akan Ja’far saudara Hasan, juga terhadap musuh-musuhnya. Dialah Al-Qa’im dan Mahdi Al-Muntazar. Namun terjadi padanya Al-Ghaibah Sugra dan Al-Ghaibah Kubra. Inilah keyakinan Syi’ah Itsna “Asyariyah.

Ulama Ahlus Sunnah Fakhruddin Ar-Razi dalam kitabnya Al-Muhashal, hal. 575 setelah memperhatikan fakta di atas berkomentar: “Ketahuilah bahwa adanya perbedaan sangat besar seperti itu, adalah merupakan satu bukti konkrit tentang tidak adanya wasiat teks penunjukan yang jelas dan berjumlah banyak (Nash jaliy mutawatir) tentang imam yang dua belas seperti yang mereka klaim itu”.

Dr. Musa Al-Musawi salah seorang tokoh Syi’ah dalam bukunya Asy-Syi’ah wat Tashih, Ash-Shira Baina As-Syi’ah wat-Tasyayu’ menyebutkan bahwa sekalipun Imam Ali meyakini keutamaannya, beliau justru menegaskan keabsahan bai’at yang beliau berikan terhadap para khalifah (Abu Bakar, Umar dan Utsman) serta pujian beliau terhadap mereka sebagaimana dilakukan umat Islam lainnya.

Menurut Al-Musawi, Imam Ali bahkan berpendapat tidak adanya teks penunjukan atas dirinya yang datang dari langit. Shahabat-shahabat yang hidup semasa dengannya-pun berkeyakinan serupa. Mereka juga berkeyakinan tidak ada yang “mencuri” khilafah dari dirinya. Itu antara lain terbukti dari ungkapan imam Ali yang termaktub dalam Nahjul Balaghah yang menegaskan ungkapan Ali: “Sesungguhnya saya telah dibai’at oleh kelompok yang dahulu membai’at Abu Bakar, Umar, Utsman dengan materi bai’at yang sama pula. Sesungguhnya Syura itu ada pada al-Muhajirin dan al-Anshar. Apabila mereka bersepakat terhadap seseorang yang kemudian mereka angkat sebagai imam, maka yang demikian itulah yang diridhai Allah. Apabila sesudah itu ada yang tidak puas dengan memunculkan fitnah atau bid’ah, mereka mengajak kepada prinsip awal, tapi bila ia enggan maka mereka akan memeranginya, karena ia telah mengikuti jalan yang bukan jalannya kaum beriman”.

K. Syi’ah Itsna ‘Asyariyah (Rafidhah)

Bersambung ….

 


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: