Oleh: dakwahwaljihad | Januari 24, 2011

Mengenal Syi’ah ( Bag. IV )

MENGENAL SYI’AH ( Bag. IV )

 

H. Keyakinan Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

Kaum Syiah tidaklah meyakini akan jaminan Allah tentang keotentikan dan orisinalitas Al-Quran yang termaktub dalam QS. al-Hijr : 9, kerana mnurut keyakinan mereka Al-Quran yang ada sekarang bukan Al-Quran yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammmad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Ini terungkap antara lain:

Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq Al-Kulaini dalam kitabnya Al-Kafi fi Ushul, Kitab Fadhail-Qur’an 2 : 634 meriwayatkan dari Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah as, dia berkata: Sesungguhnya al-Quran yang dibawa oleh Jibril as kepada Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– adalah 17.000 ayat. Padahal Al-Qur’an yang berada ditangan kita berjumlah 6236 ayat, berarti 2/3-nya telah hilang.

Kemudian di Bab Al-Hujjah 1 : 239 dijelaskan bahwa bagi kaum Syi’ah memiliki kitab suci sendiri yang bernama “Mushaf Fatimah” yaitu sebuah mushaf di dalamnya semisal Al-Quran yang tebalnya tiga kali lipat, dan tidak ada satu huruf-pun yang sama dengan Al-Qur’an.

Ni’matullah Al-Jazairi berkata: Telah diriwayatkan dalam banyak hadits bahwa mereka telah memerintahkan para Syiah mereka untuk membaca Al-Qur’an yang ada ini dalam shalat dan lainnya serta mengamalkan hukumnya hingga munculnya Maulana Shahib az-Zaman lalu ia mengangkat Al-Qur’an ini dari tangan-tangan manusia menuju langit dan mengeluarkan Al-Qur’an yang disusun oleh Amirul Mukminin, maka dibaca dan diamalkan hukum-hukumnya. (al-Anwar an-Nu’maniyah, 2 : 363)

Mirza Husain bin Muhammad Taqiy an-Nuri Ath-Thubrusi, dalam kitabnya Fashlu al-Kitab fi Tahrif Kitab Rabbi al-Arbab hal. 32 menyebutkan: Sesungguhnya Al-Quran yang ada pada kita bukanlah Al-Quran yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, tapi telah dirubah, diganti, ditambahi dan dikurangi. Diantara contoh ayat-ayat yang ditahrif:

ان الله اصطفى أدم ونوحا وال ابراهيم وال محمد على العالمين (ال عمران 33) فصل الخطاب : 246

ياايهاالذبن أمنوااتقواالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون لرسول الله والامام من بعده  (ال عمران : 102) – فصل الخطاب : 267

ياايهاالذبن أمنواأطيعواالله وأطيعواالرسول وأولى الامر منكم من ال محمد صلواتالله عليهم (النساء : 59) فصل الخطاب : 274

وليستعفف الذين لايجدون نكاحا بالمتعة حتى بغذيهم الله من فضله (النور :33) فصل الخطاب : 315

ومن يعص الله ورسوله فى ولاية علي فاءن له نار جهنم خالدين فيها أبدا (الجن : 23)-فصل الخطاب : 240

ياايهاالنفس المطمئنة الى محمد ووصيه والائمة من بعده (27) ارجعي الى ربك راضية بولاية علي مرضية بالثواب (28) فادخلي في عبادي مع محمد وأهل بيته (29) وادخلي جنتي غيرمشوبة (30)-فصل الخطاب : 345

 

Dalam keyakinan Syi’ah, disamping ada yang disebut Mushaf Fathimah ada kitab-kitab samawi lain yang diturunkan kepada Nabi saw, tapi dikhususkan untuk Amirul Mukminin (‘Ali). Kitab-kitab tersebut antara lain:

Al-Jami’ah: Dari Abu Bahir, dari Abu Abdillah, dia berkata: Saya Muhammad, saya memiliki Al-Jami’ah. Tidaklah mereka mengetahui pakah Al-Jami’ah itu? Dia berkata: Al-Jami’ah adalah lembaran yang tingginya tujuh puluh hasta Rasulullah saw, dia didiktekan dari ufuk, ditulis oleh Ali dengan tangan kanannya, didalamnya dituliskan tentang halal dan haram serta segala sesuatu yang dibutuhkan manusia hingga tentang diyat dalam cakaran… (al-Kafi, I/239, Bihar al-Anwar, 26/22)

Shahifah An-Namus: Dari ar-Ridha as tentang hadits tanda-tanda Imam, dia berkata: Dia memiliki shahifah yang didalamnya terdapat nama-nama pengikut mereka hingga hari kiamat, juga shahifah yang didalamnya nama-nama musuh mereka hingga hari kiamat. ( Bihar al-Anwar, 25/117)

Shahifah Al-Abithah: Dari Amirul Mukminin as, dia berkata: Demi Allah sesungguhnya aku memiliki shahifah yang banyak sekali yang merupakan bagian milik Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dan Ahlul Baitnya. Diantara shahifah tersebut ada yang bernama Al-Abithah. Tidak ada yang dating kepada orang Arab terkemuka yang tidak memiliki sedikitpun bagian dalam agama Allah. ( Bihar al-Anwar, 26/37 )

Masih ada lagi yang disebut: Shahifah Dzuabah as-Saif, Shahifah Ali, dan Al-Jufr.

 

I. Keyakinan Syi’ah Terhadap Al-Hadits

Syiah hanya menerima hadits-hadits Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– yang diriwayatkan melalui jalur Ahlul-Bait. Mereka menolak hadits yang diriwayatkan shahabat selain Ali, karena mereka menilai para shahabat itu telah murtad/kafir. Menurut Syiah hadits bukan hanya yang dating dari Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, tetapi justru lebih banyak dari imam-imam mereka. Karena perkataan imam yang juga dinilai Ma’shum sama dengan perkataan Nabi saw, bahkan perkataan imam itu sama dengan firman Allah swt. Dalam Al-Kafi 2 : 271-272 diriwayatkan,  Abu Abdillah berkata: Haditsku berarti hadits ayahku, hadits ayahku berarti hadits kakekku, hadits kakekku berarti hadits Husein, hadits Husein berarti hadits Hasan, hadits Hasan berarti hadits Ali, hadits Ali berarti hadits Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, hadits Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– berarti firman Allah swt. Karena Syiah berkeyakinan bahwa Imam itu ma’shum, sama dengan firman Allah –ta’ala-, maka tidak perlu menyandarkan atau mengisnadkan ucapan Imam itu kepada Nabi saw. seorang tokoh Syiah Abdullah Fiyadh : Keyakinan bahwa Imam itu ma’shum, menjadikan semua hadits yang keluar dari mereka adalah shahih. Maka tidak diperlukan menyandarkan sanadnya kepada Rasulullah saw sebagaimana halnya dikalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. ( Tarikh al-Imamiyah : 140 )

Masalah rawi bagi Syi’ah tidak diperlukan criteria seperti dikalangan Ahlus Sunnah, yang penting rawi itu Syi’i/berpihak kepada Syi’ah.

Jumlah hadits dalam Syiah bertambah dan terus bertambah. Seperti diungkap Sayid Husain al-Musawi dalam bukunya Mengapa Saya Keluar dari Syiah (judul asli buku tersebut: Lillah Tsumma Lit-Tarikh) hal. 129-130 sebagai berikut:  Kitab Al-Kafi adalah referensi Syiah terbesar secara mutlak, dia adalah kitab yang diakui oleh Imam kedua belas yang ma’shum, yang tidak pernah salah dan keliru.

Ketika Al-Kulaini menulis kitab Al-Kafi dia menyodorkannya kepada Imam kedua belas di Sardab, Samura’. Imam kedua belas mengatakan: “Al-Kafi telah cukup bagi para pengikut kami (Syi’ah).” (lihat: Mukaddimah Al-Kafi, hal. 25).

Sayid Muhaqqiq Abbas Al-Qummi, berkata: Al-Kafi adalah kitab Islam yang paling agung, dan karangan keimanan yang paling besar, tidak ada bakti bagi keimanan yang sebanding dengannya. Maulana Muhammad Amin Al-Istirbadi dalam kitab Muhki Fawaid, kami mendengar guru-guru dan ulama kami berkata bahwa tidak dikarang dalam Islam kitab yang sepadan dan sebanding dengan Al-Kafi. (Al-Kunni wa al-Inqab 3 : 98).

Tetapi marilah baca bersama beberapa perkataan berikut ini: Al-Khawansari berkata:  Mereka berselisih tentang kitab Ar-Raudhah yang menghimpun beberapa bab, apakah dia salah satu kitab Al-Kafi yang merupakan karangan Al-Kulaini, ataukah tambahan sesudahnya? (Ar-Raudhah Al-Jannat, 6 : 1180).

Syaikh yang terpercaya Sayid Husain bin Sayid Haidar Al-Karki Al-Amili yang wafat pada tahun 1076: “Sesungguhnya kitab Al-Kafi terdiri dari lima puluh kitab yang disertai dengan sanad-sanad dari setiap hadits yang bersambung dengan para Imam ‘alaihimus-salam (Raudhah Al-Jannah, 6 : 114).

Sementara Sayid Abu Ja’far Ath-Thusi yang wafat tahun 460 H berkata: “Sesungguhnya kitab al-Kafi mencakup tiga puluh kitab”. ( Al-Fahrasat, hal. 64).

Tampak bagi kita dari perkataan-perkataan  di atas bahwa yang ditambahkan kepada Al-Kafi antara abad kelima hingga abad ke sebelas adalah sekitar dua puluh kitab, dan setiap kitab mencakup beberapa bab, atau prosentase penambahan yang terjadi pada Al-Kafi selama ini adalah 40 persen. Maka siapakah yang menambahkan sebanyak 20 kitab ke dalam kitab Al-Kafi? Apakah mungkin dia seorang manusia yang shalih? Apakah dia seorang diri atau beberapa orang yang secara kontinyu selama berabad-abad melakukan perubahan, penggantian dan perombakan?

Marilah kita mengambil yang lain, yang merupakan peringkat kedua setelah Al-Kafi. Dan kitab inipun merupakan kitab shahih yang empat, yaitu kitab Tahdzib Al-Ahkam, karangan Syaikh Ath-Thusi pendiri kota Najaf. Para fuqaha dan mujtahid kami menyebutkan bahwa kitab tersebut menghimpun 13.590 hadits, sementara Ath-Thusi sendiri yang merupakan penulis kitab tersebut mengatakan bahwa kitab Tahdzib Al-Ahkam menghimpun 5.000 hadits lebih atau tidak lebih dari 6.000 hadits. Maka siapakah yang menambahkan hadits kedalam kitab ini yang jumlahnya lebih besar dari pada jumlah hadits yang asli?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: