Oleh: dakwahwaljihad | Desember 10, 2010

Pemurnian Sejarah Pada Zaman ‘Ali -Radhiyallaahu ta’ala ‘anhu-

PEMURNIAN SEJARAH PADA ZAMAN ‘ALI -RADHIYALLAAHU TA’ALA ‘ANHU-

 

Perang Jamal dimulai apabila ‘Aisyah –radhiyallaahu ta’ala ‘anha-, Thalhah dan al-Zubair –radhiallahu ‘anhum– beserta orang-orang yang bersama mereka pergi ke Basrah setelah pengangkatan ‘Ali bin Abi Thalib —radhiyallaahu ta’ala ‘anhu– menjadi khalifah umat Islam. Tujuan ‘Aisyah ke Basrah untuk menyatukan umat Islam, bukan untuk berperang atau memberontak terhadap ‘Ali –radhiyallaahu ta’ala ‘anhu-. Pasukan Ali –radhiyallaahu ta’ala ‘anhu-. pun pergi ke Basrah bukan untuk memerangi pasukan ‘Aisyah, tapi untuk bersatu dengan mereka guna menghadapi peristiwa pembunuhan ‘Utsman –radhiyallaahu ta’ala ‘anhu-. Jika tujuannya untuk mempersatukan umat Islam, kenapa terjadi peperangan antara pasukan ‘Aisyah dan ‘Ali?

Sebenarnya ada orang-orang yang membunuh ‘Utsman –radhiyallaahu ta’ala ‘anhu-menyamar di antara umat Islam . Mereka tidak suka melihat ‘Aisyah dan ‘Ali bersatu. Oleh karena itu mereka merencanakan untuk mengadu domba mereka. Di pagi hari yang gelap para pembunuh ‘Utsman menyerang pasukan ‘Aisyah yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Pasukan ‘Aisyah kaget dan menyangka pasukan ‘Ali mengkhianati mereka. Untuk mempertahankan diri mereka, pasukan ‘Aisyah menyerang pasukan ‘Ali. Pasukan ‘Ali menyangka pasukan ‘Aisyah telah mengkhianati mereka. Akibatnya terjadilah perang Jamal.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan

Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah salah seorang shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam – yang mulia. Beliau dilahirkan 15 tahun sebelum peristiwa hijrah. Beliau memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah antara tahun 6 hingga 8 hijrah. Mu’awiyah juga merupakan seorang shahabat yang dihormati oleh para shahabat yang lain. Beliau diangkat menjadi gubernur di Syam pada zaman pemerintahan Amirul Mukminin ‘Umar dan ‘Utsman.

Mu’awiyah menolak berbai’at kepada ‘Ali bukan karena tidak setuju dengan kekhalifahan ‘Ali. Tapi beliau menginginkan agar ‘Ali menjatuhkan hukuman hudud terlebih dahulu kepada para pembunuh ‘Utsman. Di sisi Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib, beliau bukan sengaja membiarkan pembunuh ‘Utsman berkeliaran dengan bebas. Tetapi umat Islam yang sedang terpecah belah menyebabkan beliau mengalami kesukaran untuk mengambil tindakan apapun.

Mu’awiyah bukan pemberontak, karena walaupun beliau tidak berbai’at kepada ‘Ali, beliau hanya berdiam diri di Syam. Pasukan ‘Ali lah yang bergerak ke Syam. Hal ini menyebabkan Mu’awiyah menyiapkan pasukannya juga dan berangkat menuju Kufah. Akhirnya kedua pasukan itu bertemu di suatu tempat yang dinamakan Siffin dan bermulalah peperangan yang dikenali dengan perang Siffin.

Ketika Mu’awiyah sedang tidur bersama istrinya dan mendengar berita terbunuhnya ‘Ali, beliau terus bangun dan berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kemudian beliau menangis. Istrinya berkata: “Kemarin engkau menyalahkannya dan hari ini engkau menangis untuknya?” Jawab Mu’awiyah: “Wahai istriku! Aku menangis mengenang manusia akan kehilangan sikap penyantunnya, ilmunya, kelebihannya, awalnya dia dalam Islam dan juga kebaikannya”.

Walaupun Mu’awiyah bukan pemberontak, tidak berarti Mu’awiyah berada di pihak yang benar. Di dalam Islam, apabila wujud perbedaan pendapat antara pemimpin dan yang dipimpin, maka kebenaran terletak pada pemimpin. Dalam peristiwa perang Siffin tersebut, pemimpin pada saat itu adalah Amirul Mukminin Ali. Maka sikap yang lebih tepat bagi Mu’awiyah adalah tidak meletakkan syarat untuk membai’at  ‘Ali. Sebaliknya terus membai’at beliau dan kemudian mencari penyelesaian untuk memdapatkan pembunuh ‘Utsman.

Apabila Ali bin Abi Thalib –radhiyallaahu ta’ala ‘anhu– dibunuh, maka orang ramai melantik anaknya Hasan sebagai khalifah yang baru. Akan tetapi Hasan menginginkan kemaslahatan dan persatuan umat Islam, sehingga beliau memutuskan untuk memberikan jabatan khalifah kepada Mu’awiyah dan kemudian membai’at Mu’awiyah sebagai khalifah umat Islam yang baru.

Orang menuduh bahwa Mu’awiyah pembunuh Hasan. Padahal tidak ada bukti yang mengaitkan Mu’awiyah dengan pembunuhan Hasan. Sampai sekarang tidak diketahui siapa yang meracuni Hasan.

Yazid bin Muawiyah

Sejarah versi Syi’ah mencela Mu’awiyah karena telah menyerahkan jabatan khalifah kepada anaknya Yazid. Padahal pelantikan Yazid tersebut telah disetujui oleh rakyatnya demi kemaslahatan umat. Menurut versi Syi’ah, Yazid bin Mu’awiah juga terkenal dengan berbagai kejelekan. Yang paling menonjol adalah memerintahkan bawahannya untuk membunuh Husain bin Ali –radhiyallaahu ta’ala ‘anhuma-.

Setelah Yazid dibai’at menjadi khalifah, Husain menerima surat dari penduduk Kufah. Yang menulis surat tersebut adalah kaum Syi’ah dan para pembunuh ‘Utsman. Isi surat tersebut adalah mengundang Husain untuk datang ke Khuffah guna dilantik sebagai khalifah. Para shahabat seperti Muhammad bin Hanafiyah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Umar, Abu Sa’id al-Khudri, dan Yazid menasihati Husain agar mengabaikan undangan tersebut. Namun Husain enggan mendengar nasihat tersebut dan meneruskan perjalanannya ke Khuffah bersama anggota keluarganya.

Ketika Yazid menerima berita keberangkatan Husain dan keluarganya ke Khuffah, beliau memerintahkan gubernurnya di Basrah, ‘Ubaidullah bin Ziyad, untuk ke Kufah guna memperhatikan pergerakan Husain dan penduduk Kufah. Akan tetapi akibat suasana yang tegang di Kufah, pergerakan Husain ke Kufah dan sikap ‘Ubaidullah yang sembrono, menyebabkan terbunuhnya Husain dan sebagian keluarganya di Karbala.

Adalah sebuah fitnah yang mengatakan bahwa Yazid memerintahkan pembunuhan Husain dan menyuruh membawa kepala Husain kepadanya. Sebenarnya Yazid merasa sangat sedih ketika mendengar Husain dibunuh oleh’ Ubaidullah bin Ziyad. ‘Ubaidullah memerintahkan agar Husain dibunuh dan kepalanya di bawa kepadanya. Akibat perbuatannya tersebut, ‘Ubaidullah bin Ziyad dibunuh.

Kesimpulan:

Pertarungan di kalangan shahabat adalah hasil dari ijtihad masing-masing. Pembunuhan ‘Utsman adalah penyebab segala-galanya. Pintu fitnah ini telah menyeret para shahabat ke medan pertempuran sesama sendiri. Campur tangan golongan munafiqun yang diketuai oleh pendiri Syi’ah, ‘Abdullah ibn Saba’, telah memainkan peranan dalam menghidupkan episode pertarungan sesama para shahabat. Sesungguhnya pertempuran tersebut berlaku bukan karena perebutan harta dan kekuasaan, tetapi sebaliknya karena ingin melihat keadilan dan kebenaran. Sejarah mencatat semua shahabat termasuk Sayyidina ‘Ali menyesali keterlibatan mereka dalam kancah tersebut. Fitnah itu hilang setelah berakhirnya zaman tersebut. Semua umat Islam mengakui kebenaran berada di pihak ‘Ali.

 

Sumber:

  1. Pertelingkahan Para Shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam Antara Ketulenan Fakta dan Pembohongan Sejarah, Mohd Asri Zainul Abidin.
  2. Himpunan Risalah Dalam Beberapa Persoalan Umat, Hafiz Firdaus Abdullah.

Dinukil dari: http://iemasen.wordpress.com/2008/10/29/pemurnian-sejarah-ali-ra/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: