Oleh: dakwahwaljihad | Desember 9, 2010

Hari ‘Asyura, Antara Memuliakannya dan Menghinakannya

HARI ‘ASYURA

ANTARA MEMULIAKANNYA DAN MENGHINAKANNYA

Oleh: Mujiburrahman Abu Summayah

Diantara nikmat Allah -ta’ala- yang diberikan atas hamba-hamba-Nya, adalah perguliran musim-musim kebaikan yang datang silih berganti, mengikuti gerak perputaran hari dan bulan. Supaya Allah -ta’ala- mencukupkan ganjaran atas amal-amal mereka, serta menambahkan limpahan karunia-Nya.

Dan tidaklah musim haji yang diberkahi itu berlalu, melainkan datang sesudahnya bulan yang mulia, yakni bulan Muharam. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah  –radiyallahu ‘anhu-, bahwa Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Puasa yang paling utama setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut bulan muharam, dan sholat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (HR.Muslim). Nabi –Shalallahu ‘alaihi wa sallam- menamai bulan Muharam dengan bulan Allah, ini menunjukan akan kemuliaan dan keutamaannya. Sesungguhnya Allah Ta’ala mengkhususkan sebagian makhluk-Nya terhadap sebagian yang lainnya, serta mengutamakannya dari sebagian yang lainnya.

Imam Hasan al-Bashri –rahimahullahu ta’ala- berkata:

“Sesungguhnya Allah -ta’ala- membuka tahun dengan bulan haram dan mengakhirinya dengan bulan haram, dan tidak ada bulan dalam setahun yang lebih mulia di sisi Allah melebihi bulan Ramadhan, karena sangat haramnya bulan tersebut.”

Di bulan Muharram ada satu hari yang pada hari itu terjadi peristiwa besar serta kemenangan yang gemilang. Saat dimana kebenaran menang atas kebatilan, yaitu ketika Allah -ta’ala- menyelamatkan Nabi Musa ‘-alaihish sholatu was salaam- beserta kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya. Ia adalah hari yang memiliki keutamaan yang agung dan kehormatan sejak dahulu. Ketahuilah, hari itu adalah hari yang kesepuluh dari bulan Muharam, yang biasa disebut hari ‘Asyura.

Memang semenjak dahulu, hari ‘Asyura ini memiliki keutamaan yang agung serta kehormatan. Nabi Musa –‘alaihis shalaatu was salaam- berpuasa pada hari itu dikarenakan keutamaannya. Bahkan Ahlul Kitabpun melakukan puasa pada hari itu, demikian pula kaum Quraisy pada masa jahiliyah mereka berpuasa padanya.

Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- tatkala berada di Makkah Beliau berpuasa pada hari ‘Asyura, namun tidak memerintahkan manusia. Ketika tiba di Madinah kemudian menyaksikan Ahlul Kitab berpuasa serta memuliakan hari tersebut, dan beliau senang untuk mengikuti mereka terhadap apa-apa yang tidak diperintahkan dengannya, maka beliaupun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa. Setelah itu beliau pertegas perintah tersebut, serta memberi anjuran dan dorongan atasnya, hingga anak-anakpun diajak ikut berpuasa.

Pembaca sekalian,

Namun, apa yang dikerjakan oleh orang-orang Syi’ah yang mana mereka mengaku-ngaku sebagai Pecinta Ahlul Bait? Mereka malah melakukan berbagai ritual untuk mengekspresikan kesedihan mereka terhadap musibah-musibah yang menimpa Ahlul Bait, yang kebanyakan cerita-cerita musibah itu adalah karangan mereka sendiri. Ritual-ritual tersebut diadakan di setiap wilayah  yang orang-orang Syi’ah banyak di dalamnya,  dan hal ini terlihat sangat jelas di beberapa wilayah Pakistan, Iran, India, Irak dan wilayah Nabtiyah di Lebanon. Dalam merayakan ritual ini pun cara mereka berbeda-beda, di negara teluk mereka memukul badan mereka dengan tangan kosong karena masyarakat negara teluk lebih “berbudaya”. Tetapi di Pakistan dan Lebanon mereka menyabet badan mereka sendiri dengan pedang dan belati untuk menumpahkan dan melukai anggota badan. Sementara itu orang-orang Syi’ah di wilayah lainnya menggunakan rantai untuk memukuli badan mereka sendiri. (lihat: hakekat.com)

Menanggapi ritual-ritual seperti ini, maka Imam Ibnu Katsir –rahimahullahu ta’ala- mengatakan, “Setiap muslim akan merasa sedih atas terbunuhnya Husain -radhiyallahu ‘anhuma-. Sesungguhnya dia adalah salah seorang dari generasi terkemuka kaum muslimin, juga salah seorang ulama di kalangan para Shahabat, dan anak dari putri kesayangan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Ia adalah seorang ahli ibadah, seorang pemberani dan pemurah. Tentang apa yang dilakukan Syi’ah (di hari ‘Asyura) seperti bersedih-sedih dan berkeluh-kesah merupakan tindakan tidak pantas. Boleh jadi, itu mereka lakukan adalah karena pura-pura dan riya’. Sesungguhnya ayah Husain (‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu ‘anhuma) jauh lebih afdhal (utama) darinya. Beliau juga meninggal dalam keadaan terbunuh. Akan tetapi, mereka tidak menjadikan hari kematiannya sebagai hari berkabung layaknya hari kematian Husain -Radhiyallahu ‘anhuma- (yang diperingati). ‘Ali bin Abi Thâlib -Radhiyallahu ‘anhu- terbunuh pada hari Jum’at saat keluar rumah mau melaksanakan shalat Shubuh, pada tanggal tujuh belas Ramadhan, tahun 40 H.”

Wahai saudara-saudaraku yang seaqidah, apakah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasul yang mulia mengajarkan kepada umatnya ritual-ritual seperti itu? Apakah Imam Ali bin Abi Thalib juga mengajarkan kepada mereka ritual-ritual seperti itu? Ataukah Imam Husein? Kalau tidak, lantas darimana mereka mendapatkan ajaran seperti itu???…….

Wahai Ahlus Sunnah….Hendaklah kita mengambil jalan yang ditempuh oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- & para shahabatnya yang mulia sehingga kita tidak akan tersesat selama-lamanya. Hanya kepada Allahlah kita meminta petunjuk jalan yang lurus.

Di bawah ini adalah foto-foto perayaan ‘Asyura yang dilakukan oleh orang-orang Syi’ah. Mudah-mudahan bisa membuka hati kita dan menambah keyakinan kita akan kesesatan mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: