Oleh: dakwahwaljihad | Oktober 29, 2010

Perbedaan Antara Ahlu Sunnah dengan Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah dalam Memahami Tafsir Surat ‘Abasa

PERBEDAAN ANTARA AHLU SUNNAH DENGAN SYI’AH ITSNA ‘ASYARIYYAH DALAM MEMAHAMI TAFSIR SURAT ‘ABASA

( Oleh : Mujiburrahman Abu Sumayyah )

Segala puji bagi Allah Pemilik alam semesta, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada suri tauladan kita sepanjang zaman, Nabi dan Rasul yang mulia Muhammad, isteri-isterinya, keluarganya yang bersih dan suci, para shahabatnya, dan juga kepada siapa saja yang mengikuti jejak langkahnya sampai hari kebangkitan nanti.

Amma ba’du…

Artikel ini saya tulis sebagai realisasi atas kecintaan saya yang mendalam kepada para pembaca sekalian yang masih menginginkan kebenaran ini tegak di muka bumi ini. Yang masih mampu menggunakan dan mengutamakan akal sehatnya daripada hanya sekedar ikut-ikutan pada hal-hal yang bathil. Karena ada sebagian tangan-tangan kotor yang berusaha menodai kebenaran tersebut. Mereka tak henti-hentinya bekerja keras siang malam dalam menyebarkan kebathilan mereka untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus.

Artikel ini saya tulis sebagai bantahan atas orang-orang Syi’ah Imamiyyah Itsna ‘Asyriyyah[1] dalam memahami tafsir surat ‘Abasa. Mereka mengatakan bahwa sifat al-‘absu atau al-‘ubuus (bermuka masam) dan berpaling, bukan ditujukan kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Dan tentunya hal ini sangatlah bertentangan dengan apa yang dipahami oleh kalangan Ahlu Sunnah selama ini.

Kenapa orang-orang Syi’ah tersebut mengatakan demikian? Karena dalam ayat tersebut tidak disebutkan kata: Yaa Ayyuhannabi (wahai Nabi) atau yaa ayyuhar rasuul (wahai Rasul) sebagaimana hal ini termaktub dalam ayat yang lainnya, seperti surat al-Ahzab : 1 dan 28. Sehingga ayat ini bukan ditujukan kepada Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Dan mereka mengatakan demikian sebab mereka berpendapat bahwa Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, seorang yang menjadi suri tauladan (uswatun hasanah) sepanjang zaman dan Nabi pembawa rahmat bagi sekalian alam tidak mungkin berbuat sesuatu yang tidak selayaknya (bermuka masam dan berpaling) kepada orang yang buta (Abdullah bin Ummi Maktum). Dan menurut mereka, tentunya hal ini sangat kontradiksi dengan ayat yang lain:

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة

Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik. (QS. al-Ahzab : 21).

Lantas, menurut mereka ayat ini khitabnya kepada siapa? Yang pasti menurut mereka ayat ini ditujukan kepada salah satu dari orang-orang kafir yang hadir dalam pertemuan tersebut. Karena memang demikianlah perilaku orang kafir.

Begitu pula dengan orang Nasrani yang mengatakan jika surat ini ditujukan kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, berarti Nabi ‘Isa -‘alaihi salam- lebih mulia dibandingkan Rasulullah SAW, karena Nabi ‘Isa ‘alaihi salam bersedia mengobati penyakit kusta, sedangkan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- memalingkan muka dan bermuka masam kepada orang buta.

Maka, kita sebagai Ahlu Sunnah tetap memegang prinsip kebenaran yang telah kita bawa sejak dahulu kala. Sedikitpun kita tidak boleh melepaskan kebenaran tersebut dan menukarnya dengan kebathilan.

Jika kalangan Ahlu Sunnah berpendapat bahwa sifat muka masam dan berpaling itu ditujukan kepada Rasulullah SAW, maka apakah hal ini kontradiksi dengan surat al-Ahzab : 21 di atas?

Padahal sebagaimana yang kita ketahui, bahwa antara ayat yang satu dengan ayat yang lain tidaklah saling kontradiksi. Allah -ta’ala- sendiri berfirman dalam ayat yang lain, yang artinya:

أفلا يتدبروا القرآن، ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا.

Maka apakah kalian tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. an-Nisaa’ : 82).

Hanya kepada Allah sajalah saya memohon ampun. Hanya kepada-Nya saja saya meminta pertolongan untuk menjawab permasalahan ini. Yang benar hanyalah milik Allah semata.

Surat ‘Abasa yang mengisahkan bahwa nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bermuka masam dan berpaling terhadap ‘Abdullah bin Ummi Maktum yang buta matanya, di dalamnya tidak terdapat keanehan dan kejanggalan. Juga tidak ada yang salah dengan sikap itu bagi seorang nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, nabi yang mulia yang menjadi suri tauladan bagi umat Islam sepanjang zaman. Sikap seperti itu adalah sikap yang manusiawi yang tidak merusak apapun.

Sebaliknya, adanya surat ‘Abasa jelas membuktikan bahwa al-Quran itu bukan karangan nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Sebab secara sekilas, surat itu memang mengkritik sikap beliau yang bermuka masam terhadap seorang yang minta diajarkan tentang agama yang dibawanya.

Kalau seandainya al-Qur’an itu karangan beliau, pastilah tidak akan ada ayat yang mengkritik sikap beliau. Logikanya, mana mungkin seorang pengarang buku menjelekkan diri sendiri dalam bukunya. Satu-satunya kemungkinan adalah bahwa al-Qur’an bukan karangan beliau. Dan sesungguhnya memang bukan karangan beliau, melainkan datang dari sisi Allah -ta’ala-.

Jadi, sebaliknya jika ada kalangan yang menolak hal ini, dan mereka menafsirkan yang sebaliknya, maka hal ini akan menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah buatan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Dan memang begitulah ahlul ahwa’ (orang yang suka mengedepankan hawa nafsunya) dalam upaya merusak pemahaman yang benar. Salah satunya adalah kalangan Syi’ah Imamiyyah Itsna ‘Asyriyyah.

Namun bermuka masam kepada ‘Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallaahu ta’ala ‘anhu, bukanlah sebuah dosa. Hanya merupakan hal yang kurang layak saja. Namun alasannya juga sangat pantas, yaitu lantaran saat itu Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sedang sibuk sekali memikirkan bagaimana agar para tokoh Quraisy bisa masuk Islam. Logika sederhananya, bila para tokoh itu bisa masuk Islam, maka orang-orang kecil semacam Abdullah bin Ummi Maktum ini tentu akan mudah.

Logika manusiawi beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- saat itu kira-kira demikian. Dan sebagai manusia biasa, adalah wajar baginya memiliki nalar sekilas seperti itu. Dan ketika turun ayat yang menegur beliau, tentunya beliau segera melayani permintaan shahabatnya itu.

Dan sama sekali tidak perlu dipersoalkan memang, bahkan meski teguran itu datang lewat ayat al-Qur’an yang bersifat abadi, manfaatnya buat kita yang lebih utama justru bukan pada bermuka masamnya, melainkan pada pembuktian bahwa Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- itu bukan penulis al-Qur’an, sebagaimana yang sering dituduhkan oleh musuh-musuh Islam.

Bahkan ‘Abdullah bin Ummi Maktum -radhiyallaahu ‘anhu– sendiri setelah kejadian itu tidak kecil hati, sebaliknya beliau malah merasa bangga. Sebab karena dirinya, seorang Nabi ditegur Rabb-nya.

Sampai ketika perang Qadisiyah sepeninggal Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, shahabat nabi yang buta ini punya permintaan untuk membawa bendera umat Islam di medan tempur. Ketika para jenderal menolaknya lantaran beliau seorang tuna netra, beliau pun mengeluarkan ‘ancaman’ yang tidak bisa dibantah. “Apakah kalian menolak permintaanku, padahal Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ketika dahulu menolak permintaanku, langsung ditegur Allah?” Maka bendera itu pun diserahkan kepadanya, meski beliau seorang tuna netra.

Jadi, tidak ada yang sakit hati atas turunnya ayat ‘Abasa itu, bahkan buat ‘Abdullah bin Ummi Maktum, hal itu justru menjadi kebanggaan tersendiri. Sebab biasanya ayat al-Qur’an turun menegur para shahabat atau orang kafir, tapi ada satu ayat yang turun menegur nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dimana hal itu terjadi lantaran dirinya.

Mudah-mudahan penjelasan ini semakin menambah keimanan bagi kita sebagai pengikut Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang setia dan semakin mengerti bahwa ada sebagian orang yang tidak suka dengan kebenaran ini yang berusaha menyelewengkan ayat-ayat Allah -ta’ala- dari pemahaman yang benar. Mereka menafsirkan ayat-ayat Allah -ta’ala- sehekendak nafsunya. Adapun bagi orang-orang yang hanya mengaku-ngaku sebagai orang Islam, akan tetapi hatinya kafir karena memiliki misi untuk menghancurkan Islam ini dari dalam, maka hal ini akan semakin menambah kerasnya hati mereka dan kekafiran mereka dan mereka juga akan berusaha membantah akan hal ini dengan berbagai argumen yang bersumber dari nafsu belaka. Dan kita yakin, bahwa kebenaran telah datang dan yang namanya kebathilan pasti akan hancur. Dan inilah yang telah dijanjikan oleh Allah -ta’ala- dalam firman-Nya:

وقل جاء الحق و زهق الباطل، إن الباطل كان زهوقا

“Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap”. Sesungguhnya kebathilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. al-Isra’ : 81)


[1]Sekte Syi’ah ini dianut oleh sebagian besar orang-orang Syi’ah di Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan tidak ada sekte Syi’ah yang lain yang berkembang di Indonesia, kecuali Syi’ah Imamiyyah Itsna ‘Asyriyyah. Yang mana sekte ini berpusat di Iran. Makanya mereka berupaya menggaet para pemuda-pemudi Islam di Indonesia ini untuk melanjutkan belajarnya di Iran secara gratis. Sehingga banyak sekali dari kalangan pemuda-pemudi ini yang tertarik belajar ke Iran, sehingga nantinya ketika kembali ke Indonesia, mereka sudah menjadi Syi’ah yang fanatik yang berusaha untuk menyebarkan pemahaman Syi’ahnya di tengah-tengah masyarakat. Perlu diketahui bahwa di Indonesia ini, di kalangan mereka ada yang menggunakan nama Madzhab Ahlul Bait. Mereka menggunakan nama ini untuk  mengelabuhi umat. Seakan-akan mereka adalah Pecinta Ahlul Bait, yang pada hakekatnya mereka adalah pemaki ahlul bait. Maka, wahai umat Islam, berhati-hatilah dengan orang-orang yang selalu menyuarakan cinta Ahlu Bait. Perlu diketahui, bahwa Ahlu Bait versi Syi’ah berbeda dengan Ahlu Bait versi Ahlu Sunnah. Yang mudah-mudahan kita bisa membahasnya dalam kesempatan yang lain. InsyaAllahu -ta’ala-.

Bukanlah dalam hal ini saya sebagai pemprovokasi, sebagaimana anggapan orang Syi’ah yang dilontarkan kepada saya. Akan tetapi memang beginilah kenyataan yang terjadi di Indonesia. Dan tentunya kalangan mereka tidak akan mengakui hal ini. Karena bagaimanapun juga, seseorang tidak menginginkan rahasianya terbongkar sehingga dapat diketahui oleh orang lain, terlebih diketahui oleh musuhnya. Ketika jumlah mereka minoritas, mereka akan menggunakan orang-orang awam sebagai tamengnya. Akan tetapi ketika jumlah mereka mayoritas, maka mereka akan berusaha menghabisi Ahlu Sunnah. Dan inilah yang sudah terjadi di Iran dan Irak. Saya ingatkan kepada kaum Muslimin Indonesia pada umumnya, jangan sampai kondisi kaum Muslimin Ahlu Sunnah di Indonesia ini sebagaimana kondisi Ahlu Sunnah di Iran. Di Iran, mereka tidak mampu menghirup udara dengan bebas. Mudah-mudahan Allah -ta’ala- selalu melindungi kita dari makar orang-orang jahat yang ingin merusak Islam ini. Wallaahul Musta’an.


Responses

  1. Terserah Kamu Kalau Mau Mengatakan Rasulluah Muhaamd Itu Bermuka Masam Dengan Argumentasi Logoka2 Nafsu Yang Kamu Berikan

    Yang Jelas Bagi Kami Syiah Bahwa,, Rasul Kami Muhammad SAW itu Perfeck dan Sempurna,, Apa Kamu Tidak Mengaji Sehingga Tidak Mengetahui Ayat2 Al Quran Yang Mengatakan:

    # Rasul Itu suri Tauladan yang baik
    # bagi mu muhammad pahala yg tidak terbatas
    # dan engkau berada di ATAS AKHLAH YANG MULIA
    # Sesungguhnya Al quran itu tidak bisa disentuh kecuali org2 yg suci (MAKSUM)
    # Dan masih banyak ayat2 lain dan loe cari aja sendiri.. loe kan ngaku2 ustad

    Klo Ayat yg mengatakan bahwa Rasul itu manusia biasa juga seperti dalam ayat:

    ” kulana Basyarummisluukumm yuha ilaiya” katakanlah wahai muhammad bahwa engkau adalah manusia biasa yg diwahyukan..

    ini menunjukkan bahwa kata basyar dimana muhammad manusia sama sebagaimanusia lain..seperti butuh makan , tidur, minum dll..

    akan tetapi di mana Ilaiiya (yg di wahyukan) inilah yg dapa membedakan manusia2 lainyya dengan Muhammad,, Artinya adalah bahwa dia MUHAMMAD adalah manusia biasa (makan, minum, tidur, DLL) yg pantas menerima wahyu (Hrs MAksum, suci dan sempurna)

    Tentu hal diatas sesuai dengan ayat2 lain yg saya berikan diatas

    JADI sangat ANEH dan DUNGU ketika ayat diatas di tafsirkan setengah2…

    dan saya heran dengan LOGIKA KAMU bahwa Muhammad pernah berbuat salah

    Sekian

  2. Rasulullah adalah ma’sum,, dan bukti bahwa beliau ma’sum, ketika beliau keliru atau salah, langsung turun ayat teguran kepada Beliua,,, diantara contoh teguran Allah kepada Rasulullah karena keliru adalah surah at-tahrim ayat 1… termasuk juga surah abasa… Mas Putra… tanggapan anda tentang surah at-tahrim itu gimana…?

  3. […] ini saya tulis sebagai bantahan atas orang-orang Syi’ah Imamiyyah Itsna ‘Asyriyyah[1] dalam memahami tafsir surat ‘Abasa. Mereka mengatakan bahwa […]

  4. Islam sejati rahmatan lil alamin.. adalah islam yang lebih mengedepankan ukhuwah dari pada sebuah pertentangan dan persilangan pendapat…

    Wallahu A’lam bishawab….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: