Oleh: dakwahwaljihad | Oktober 25, 2010

Apa “WAHHABI” dan Siapa Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab – Rahimahullaahu ta’ala-

APA “WAHHABI”

DAN SIAPA SYAIKH MUHAMMAD BIN ‘ABDUL WAHHAB -RAHIMAHULLAAHU TA’ALA-

 

Risalah ini ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dari Kitab beliau yang judul aslinya: Minhajul Firqah An-Najiyah wa Thaifah Al-Manshuroh.

 

Orang-orang biasa menuduh “wahhabi ” kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid’ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo’a (memohon) hanya kepada Allah semata.

Suatu kali, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab al-Arba’in an-Nawawiyah. Hadits itu berbunyi:

“Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih).

Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam an-Nawawi ketika beliau mengatakan, “Kemudian jika kebutuhan yang dimintanya –menurut tradisi– di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan, maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk, maka itu amat tercela.”

Lalu kepada syaikh tersebut penulis katakan, “Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah.” Ia lalu menyergah, “Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!”

Penulis lalu bertanya, “Apa dalil anda?” Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi,

“Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa’d!” dan Aku bertanya padanya, “Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa’d dapat memberi manfaat kepadamu?” Ia menjawab, “Aku berdo’a (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku.”

Lalu penulis berkata, “Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu.”

Ia lalu berkata, “Pola pikirmu adalah pola pikir wahhabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahhabi.”

Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahhabi kecuali sekedar penulis dengar dari para syaikh. Mereka berkata tentang wahhabi, “Orang-orang wahhabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya.”

Jika orang-orang wahhabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahhabi lebih jauh.”

Kemudian penulis tanyakan jama’ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits dan fiqih.

Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak seorang pun berdiri untuk-nya.

Penulis berkata dalam hati, “Ini adalah seorang syaikh yang tawadhu’ (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati).”

Lalu syaikh membuka pelajaran dengan ucapan,

“Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan…”, dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah SAW biasa membuka khutbah dan pelajarannya.

Kemudian syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari al-Qur’anul Karim dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, “Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf. Sebagian orang menuduh kita orang-orang wahhabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk).

Allah melarang kita dari hal itu dengan firmanNya,

“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurat : 11)

Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi’i dengan Rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, “Jika Rafidah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah.”

Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahhabi, dengan ucapan salah seorang penyair, “Jika pengikut Ahmad adalah wahhabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahhabi.”

Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, “Inilah syaikh yang sesungguhnya!”

A. PENGERTIAN WAHHABI

Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahhabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahhabi sebagai nisbat kepada al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa’ul Husnaa).

Jika Sufi menisbatkan namanya kepada jama’ah yang memakai shuf (kain wol), maka sesungguhnya wahhabi menisbatkan diri mereka dengan al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.

 

B. MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

Beliau dilahirkan di kota ‘Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal al-Qur’an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid’ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultus-kan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.

Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, “Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini.”

Di Hijaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahhabat, keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata.

Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta berdo’a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. al-Qur’an menegaskan:

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Yunus : 106)

Dhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika eng-kau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo’a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahhabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.

Para ahli bid’ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah SWT berfirman:

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad : 5)

Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hijaz, dan di negara-negara Islam lainnya.

Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya, mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) adalah pembuat madzhab yang kelima, padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahhabi tidak mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.

Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menulis kitab “Mukhtashar Siiratur Rasuul”. Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.

Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan al-Qur’an, hadits dan ucapan shahabat sebagai rujukannya.

Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahhabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahhab.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, ‘Dan di negeri Nejed.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ al-Husain bin Ali radhiallaahu ‘anhu dibunuh.

Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hijaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan sebaliknya, yang tampak di Nejed Hijaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.

Sebagian ulama yang adil menyebutkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah salah se-orang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang “Silsilah Tokoh-Tokoh Sejarah”, diantara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ahmad bin ‘Irfan.

Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama’ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.

Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah (orang-orang bayaran) agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahhabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid’ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo’a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahhabi adalah nisbat kepada al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma’ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.

Tambahan:

Memang ada sebagian dari orang yang mengaku sebagai penerus dakwah Syaikh Muhammad bin AbdulWahhab, namun berperilaku agak kurang bijak. Namun kami menganggap ini sebagai kasus yang bersifat pribadi.

Misalnya sering kita dengar adanya makian dan umpatan dari mereka kepada orang-orang yang masih awam, atau tuduhan sebagai ahli bid’ah. Sayangnya semua itu dilakukan di muka umum, atau di pengajian-pengajian, bahkan termasuk di situs-situs yang dibaca orang secara umum.

Padahal mungkin maksudnya baik, namun ketika caranya dilakukan dengan cara yang kurang simpatik, justru orang-orang semakin menjauh.

Pakar ilmu jiwa mengatakan bahwa untuk mengubah sikap dan tindakan seseorang, tidak harus selalu dengan cara hukuman, cacian, ejekan atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Sebab secara fitrah, seorang yang dipojokkan dan diperlakukan dengan cara kurang menyenangkan justru akan melakukan resistensi. Alih-allih mau mendengarkan nasehat, malah akan semakin menjauh.

Mungkin kalau diterapkan cara ‘kasar’ seperti itu kepada orang Arab di padang pasir yang punya karakter tertentu, bisa efektif. Kira-kira sama perlakuan kita kepada unta, bila dipukul baru mau jalan. Tetapi umat Islam di luar padang pasir itu bukan unta. Mereka adalah manusia yang harus dihormati dan dihargai perasaaan dan harga dirinya.

Tindakan konyol seperti ini jelas tidak akan mengundang simpati umat Islam, bahkan akan semakin mencoreng nama Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri. Dan yang pasti, ulama sekelas beliau pasti tidak suka melihat pengikutnya bersikap memalukan seperti itu.

Namun sekali lagi kami tegaskan bahwa akhlaq buruk seperti ini bukan cerminan dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Namun hanya kasus yang mungkin terjadi pada siapa pun juga.

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

Iklan

Responses

  1. Kalau saya bikin judul “Jangan Mudah Menuduh Syiah Jika Tidak Tahu Menahu Tentang Syiah dan Imam Ali bin Abi Thalib” bagus enggak?

    • Wah bagus dan keren banget tuch… Bisa gak saya buatkan artikelnya??? Ntar kalo isinya bermutu, ane posting dah….. Ane tunggu yach !!!

  2. Wah bagus dan keren banget tuch… Bisa gak saya buatkan artikelnya??? Ntar kalo isinya bermutu, ane posting dah….. Ane tunggu yach !!!

  3. Kayaknya tadi ana baca koment yang lain… Mana yach??? Ko’ kayaknya hilang….

  4. siah dan wahabi hanya kelompok yg ingin memepah islam yang bikin umat tidak tentram

  5. Alhamdulillah,,,
    http://www.irwanto.net/bacaan-muslim/228/meluruskan-pemahaman-keliru-tentang-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahab.html

  6. WAHHABI SESAT DAN MENYESATKAN

  7. wahhabi best choice, syiah terlaknat kafir, pengikut dajjal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: