Oleh: dakwahwaljihad | Juli 12, 2010

Cinta Kepada Anshar Adalah Sebagian dari Iman

CINTA KEPADA ANSHAR ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN

Oleh: Ibnu Sudirman

A. Hadits

عن أَنَس قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آيَةُ الْمُنَافِقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ الْمُؤْمِنِ حُبُّ الْأَنْصَارِ.

Dari Anas –radhiyallaahu ‘anhu– berkata bahwa, “Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Tanda orang munafik adalah benci terhadap orang Anshar, dan tanda orang mukmin adalah mencintai orang Anshar’.”

عَنْ أَنَسٍ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: حُبُّ الْأَنْصَارِ آيَةُ الْإِيمَانِ وَبُغْضُهُمْ آيَةُ النِّفَاقِ.

Dari Anas –radhiyallaahu ‘anhu-, dari Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, “Mencintai orang Anshar adalah tanda keimanan, dan membenci mereka adalah tanda kemunafikan.”

عن الْبَرَاءَ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي الْأَنْصَارِ لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ.

Dari al-Bara’ –radhiyallaahu ‘anhu-,[1] ia menceritakan hadits dari Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, saat beliau berkata tentang orang Anshar, “Tidak mencintai mereka kecuali orang mukmin, dan tidak membenci mereka melainkan orang munafik. Barangsiapa mencintai mereka niscaya Allah akan mencintainya, dan barangsiapa membenci mereka niscaya Allah akan membencinya.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يُبْغِضُ الْأَنْصَارَ رَجُلٌ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Tidak akan membenci kaum Anshar, seorang laki-laki yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”

B. Penjelasan Hadits

Sesungguhnya para shahabat adalah generasi pilihan yang harus kita cintai, sebagaimana kita mencintai Nabi –radhiyallaahu ‘anhu-. Maka kita pun harus mencintai orang-orang pertama yang telah mengorbankan jiwa, harta dan pikiran mereka untuk membela dakwah Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Mereka itulah para shahabat yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Inilah akidah kita, tidak sebagaimana akidah kaum Rafidhah/Syi’ah yang membangun agamanya di atas kebencian kepada para shahabat Nabi –radhiyallaahu ‘anhu-. Imam Abu Ja’far ath-Thahawi –rahimahullaahu ta’ala–  mengatakan dalam kitabnya yang menjadi rujukan umat Islam di sepanjang zaman, “Kami mencintai para shahabat Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah satu di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.”[2]

Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang keharusan bagi seseorang yang mengaku dirinya Muslim agar mencintai para shahabat Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- r, terlebih dari kalangan Anshar[3]. Bukan berarti dalam hal ini kita menafikan kecintaan kita kepada para shahabat dari kalangan Muhajirin. Sebab mereka juga memiliki banyak kelebihan dan keutamaan ketika mereka berjuang keras bersama Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- di Makkah selama bertahun-tahun dalam mempertahankan aqidah mereka di bawah penindasan kaum musyrikin Quraisy.

Dalam hadits-hadits yang lain juga telah dijelaskan bahwa salah satu tanda keimanan pada diri seseorang adalah tidaklah dirinya mencintai saudaranya sesama Mukmin kecuali semata-mata karena Allah –ta’ala-. Dan kaum Anshar termasuk di dalamnya, bahkan mereka termasuk orang-orang yang harus didahulukan dari kalangan orang-orang Mukmin. Hal ini disebabkan adanya beberapa keutamaan yang mereka miliki.

Imam al-Bukhari –rahimahullaahu ta’ala–  meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Abu Bakar dan al-Abbas –radhiallaahu ‘anhuma– lewat di depan salah satu majelis dari majelis-majelis kaum Anshar. Dan saat itu mereka sedang menangis. Maka (al-Abbas atau Abu Bakar) bertanya kepada mereka, “Apa yang menyebabkan kalian menangis?”. Mereka menjawab, “Kami teringat dengan majelis Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– yang dahulu pernah kami ikuti”. (ketika itu Rasulullah dalam keadaan sakit menjelang kematiannya). Maka al-Abbas menemui Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– lalu mengabarkan hal tersebut”. Perawi berkata, ‘Maka Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– keluar dalam keadaan kepala beliau dibalut dengan kain selimut. Maka beliau menaiki mimbar dan setelah hari itu beliau tidak lagi menaiki mimbar tersebut. Beliau memuji Allah dan mensucikan-Nya kemudian bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian (untuk bersikap baik) kepada kaum Anshar. Mereka adalah penjaga rahasiaku dan kepercayaanku. Mereka telah menunaikan apa yang wajib atas mereka dan mereka masih berhak apa yang menjadi hak mereka. Maka terimalah orang-orang yang baik dari kalangan mereka dan maafkanlah orang-orang yang keliru dari mereka.’”[4]

Dalam riwayat yang lain disebutkan, bahwa beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Adapun sesudahnya, wahai sekalian manusia, manusia terus bertambah banyak sedangkan kaum Anshar semakin sedikit hingga keberadaan mereka bagaikan keberadaan garam dalam suatu makanan. Maka barangsiapa diantara kalian yang mengurus sesuatu urusan ummat lalu dia mampu mendatangkan madharat kepada seseorang atau memberi manfaat kepada seseorang, maka terimalah orang-orang baik mereka (kaum Anshar), dan maafkanlah orang yang keliru dari kalangan mereka.”[5]

C. Keutamaan Kaum Anshar

Telah diterangkan sebelumnya bahwa yang menjadi sebab diharuskan bagi seorang Mukmin agar mencintai kaum Anshar adalah adanya beberapa keutamaan yang dimiliki oleh mereka. Keutamaan-keutamaan mereka tersebut disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, diantaranya adalah:

  • Dalam al-Qur’an

Allah –ta’ala– berfirman, yang artinya:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (QS. al-Hasyr : 9)

Dari ayat di atas, maka Syaikh Ibnu al-Utsaimin –rahimahullaahu ta’ala– menyimpulkan bahwa ayat di atas menjelaskan akan keutamaan Anshar, yaitu:

  1. Mereka (kaum Anshar) mencinta orang yang berhijrah kepada mereka dari kalangan orang-orang Muhajirin.
  2. Mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin.
  3. Mereka mengutamakan orang lain (itsar) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka membutuhkan (apa yang mereka berikan itu).”[6]

Kaum anshar dengan tulus ikhlas menolong dan merasakan penderitaan yang dirasakan oleh kaum Muhajirin sebagai penderitaanya. Perasaan seperti itu bukan didasarkan keterkaitan darah atau keluarga, tetapi didasarkan pada keimanan yang teguh. Tak heran kalau mereka rela memberikan apa saja yang dimilikinya untuk menolong saudaranya dari kaum Muhajirin, bahkan ada yang menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahkan kepada kaum Muhajirin.

Hal ini terlihat pada awal hijrah yang dilakukan oleh kaum Muhajirin ke Madinah akibat tekanan dari kaum musyrikin Quraisy. Ketika datang ke Madinah, orang-orang Muhajirin tidak membawa sesuatu apapun. Sehingga pernah suatu ketika Sa’d bin ar-Rabi’ t berkata kepada Abdurrahman bin Auf –radhiyallaahu ‘anhu-, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separoh hartaku itu menjadi dua. Aku juga memiliki dua orang isteri. Maka lihatlah, mana yang engkau pilih agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka kawinilah ia!”

Maka Abdurrahman –radhiyallaahu ‘anhu–  menjawab,”Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja di mana pasar kalian?”[7]

Hal ini menunjukkan seberapa jauh kemurahan hati orang-orang Anshar terhadap saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin. Mereka rela berkorban, lebih mementingkan kepentingan saudaranya, mencintai dan menyayanginya.

Persaudaraan seperti itu sungguh mencerminkan betapa kokoh dan kuatnya iman seseorang. Ia selalu siap menolong saudaranya seiman tanpa diminta, bahkan tidak jarang mengorbankan kepentingannya sendiri demi menolong saudaranya. Perubahan baik seperti itulah yang akan mendapat pahala besar disisi Allah –ta’ala-, yaitu memberikan sesuatu yang sangat di cintainya kepada saudaranya seiman dengan dirinya sendiri.

  • Dalam Hadits

Keutamaan-keutamaan kaum Anshar yang disebutkan dalam hadits diantaranya:

1. Mereka adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik –radhiyallaahu ‘anhu– , bahwa ia berkata, “Datang seorang wanita Anshar kepada Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersama dengan seorang anaknya lalu beliau berbincang dengan wanita tersebut dan beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ

‘Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh kalian adalah manusia yang paling aku cintai”. Beliau mengucapkannya dua kali.[8]

2. Mereka adalah orang-orang yang lebih diutamakan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Ketika kaum Muslimin mengalami kemenangan dalam perang Hunain[9] (dalam riwayat lain: Fathu Makkah), maka mereka mendapatkan harta rampasan yang banyak. Akan tetapi Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ternyata membagikan sebagian besar harta rampasan, bahkan semuanya kepada kaum Quraisy yang baru masuk Islam. Hingga beliau tidak menyisakan sedikitpun dari rampasan perang.

Melihat kejadian tersebut, ternyata sebagian dari orang-orang Anshar menyebar suara kasak-kusuk. Mereka tidak menerima dengan pembagian ghanimah yang dilakukan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Maka seketika itu Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengumpulkan orang-orang Anshar di suatu tempat, dan bersabda:

أَوَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ يَرْجِعَ النَّاسُ بِالْغَنَائِمِ إِلَى بُيُوتِهِمْ وَتَرْجِعُونَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى بُيُوتِكُمْ ؟لَوْ سَلَكَتْ الْأَنْصَارُ وَادِيًا أَوْ شِعْبًا لَسَلَكْتُ وَادِيَ الْأَنْصَارِ أَوْ شِعْبَهُمْ.

Apakah kalian tidak ridha jika orang-orang kembali ke rumah-rumah mereka dengan membawa pulang ghanimah, sedangkan kalian kembali ke rumah-rumah kalian dengan membawa pulang Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam? Seandainya kaum Anshar melewati suatu lembah atau celah di suatu perbukitan, pasti aku akan melewati lembah yang ditempuh kaum Anshar atau celah di perbukitan tersebut“. [10]

Memang benar, kita akan menyaksikan bahwa secara duniawi, kaum Quraisylah yang sebagian besar dari mereka baru masuk Islam lebih diutamakan daripada kaum Anshar. Akan tetapi secara ukhrawi, kaum kamu Ansharlah yang lebih diutamakan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Kenikmatan duniawi hanyalah bersifat sementara (fana), adapun kenikmatan ukhrawi sifatnya kekal. Seseorang yang mendapatkan kenikmatan duniawi, belum tentu dirinya akan mendapatkan kenikmatan ukhrawi. Sebaliknya, seseorang yang mendapatkan kenikmatan ukhrawi, maka ia akan mendapatkan kenikmatan duniawi pula.

D. Realisasi Cinta Terhadap Kaum Anshar

Seseorang yang mencintai saudaranya, tentu dirinya tidak hanya sekedar berkata bahwa dia mencintai  saudaranya tersebut. Akan tetapi dirinya pasti akan berbuat sesuatu yang akan menyenangkan hati orang yang dicintainya. Begitu pula seorang Mukmin yang menyatakan cinta kepada para shahabat, terlebih kaum Anshar, maka dirinya akan berbuat sesuatu yang menunjukkan kecintaan kepada kaum Anshar tersebut. Diantaranya:

1. Menahan diri dari mengungkap keburukan mereka dan tidak berkomentar tentang persengketaan yang terjadi pada mereka. Rasulullah r telah memperingatkan hal tersebut. Beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Janganlah kalian mencaci-maki shahabat-shahabatku, karena jika salah seorang dari kalian berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, maka infaknya tersebut tidak mencapai satu mud (6 ons) mereka atau setengahnya.[11]

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:

“Barangsiapa menyakiti mereka (para shahabat), sungguh ia telah menyakitiku. Barangsiapa menyakitiku, sungguh ia telah menyakiti Allah. Dan barangsiapa menyakiti Allah, maka tidak lama lagi Allah akan mengambilnya (menghukumnya).”[12]

2. Beriman kepada keutamaan mereka atas kaum Mukminin, dan kaum Muslimin yang lain. Allah I telah memuji mereka dalam firman-Nya yang artinya,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah : 100).

3. Mengakui kelebihan-kelebihan para shahabatnya, dan kebaikan-kebaikan mereka.

Imam an-Nawawi –rahimahullaahu ta’ala- mengatakan dalam syarah-nya, “Makna hadits-hadits ini adalah barangsiapa yang mengakui kedudukan kaum Anshar, keunggulan mereka dalam hal pembelaan terhadap agama Islam, upaya mereka dalam menampakkannya, dan melindungi umat Islam (dari serangan musuhnya), dan juga kesungguhan mereka dalam menunaikan tugas penting dalam agama Islam yang dibebankan kepada mereka, kecintaan mereka kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- serta kecintaan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kepada mereka, kesungguhan mereka dalam mengerahkan harta dan jiwa di hadapan beliau, peperangan dan permusuhan mereka terhadap semua umat manusia (yang menentang dakwah Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) demi menjunjung tinggi Islam….maka ini semua menjadi salah satu tanda kebenaran iman dan ketulusannya dalam memeluk Islam serta kegembiraannya dengan munculnya Islam. Sehingga dirinya akan melakukan sesuatu yang dapat mendatangkan ridha Allah dan Rasul-Nya. Adapun orang yang membenci mereka, maka dia akan berlaku sebaliknya. Dan hal ini menunjukkan akan kemunafikan yang ada pada dirinya dan kerusakan jiwanya.”[13]

Maka kewajiban seluruh umat Islam adalah mencintai keseluruhan para shahabat dengan dalil tegas dari ayat ini. Karena Allah –ta’ala– telah mencintai mereka, begitu pula dengan Nabi r. Dan juga karena mereka telah berjihad di jalan Allah, menyebarkan agama Islam ke berbagai belahan timur dan barat bumi, mereka muliakan Rasul dan beriman kepada beliau. Mereka juga telah mengikuti cahaya petunjuk yang diturunkan bersamanya. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”[14] Wallaahu musta’an.

REFERENSI

Al-Qur’an al-Kariim

Al-Atsin, Musa Syahin. Fathu al-Mun’im Syarh Shahih Muslim, (Beirut: Daar as-Syuruq, 2002), cet. Ke-1

Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah. Shahiihu al-Bukhaari. Beirut: Daar al-Fikr, 1998.

Al-Nawawi, Abu Zakaria Muhyidin bin Syaraf (w. 676 H). al-Minhaj (Syarhu Shahih Muslim). Beirut: Daar al-Maghfirah, 1999. cet. Ke-6.

Al-Mubarakfuri, Syafiyurrahman. ar-Rahiiqu al-Mahtuum. Riyadh: Daar as-Salaam, 1418H. cet. Ke-1.

Ash-Shan’ani, Muhammad bin Isma’il. Subulus Salam. terj. Muhammad Isnani, Lc. Dkk. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006. cet. Ke-1

Ibnu al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Syarah Aqidah Wasathiyyah. Kairo: Daar Ibnu Jauzi.

Ibnu Abi al-‘Izz. Syarah ‘Aqidah ath-Thahawiyah. Beirut: al-Maktab al-Islami, 1988.  cet. Ke-7.


[1] Beliau adalah al-Bara’ bin al-Azib bin al-Harits al-Ausi al-Anshari al-Haritsi. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Abu Ammarah. Peperangan pertama yang beliau ikuti adalah perang Khandaq. Pernah mengikuti perang Jamal dan Shiffin bersama Ali bin Abi Thalib. Beliau tinggal di Kufah dan meninggal di situ pula. [Lihat: Muhammad bin Isma’il ash-Shan’ani, Subulus Salam, terj. Muhammad Isnani, Lc. dkk, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006), cet. Ke-1, jilid I, hal. 488.

[2] Ibnu Abi al-‘Izz, Syarah ‘Aqidah ath-Thahawiyah, (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1988),  cet. Ke-7, hal. 467.

[3] Anshar adalah bentuk jamak dari kata naashir atau nashiir, yang berarti penolong, yaitu mereka adalah para penolong Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Maksudnya adalah orang-orang dari kalangan kabilah Aus dan Khazraj, atau dikenal dengan keturunan Qayalah. [Lihat: Musa Syahin al-Atsin, Fathu al-Mun’im Syarh Shahih Muslim, (Beirut: Daar as-Syuruq, 2002), cet. Ke-1, juz I, hal. 249).

[4] HR. al-Bukhari, dalam kitab: Sifat-Sifat Kaum Anshar, bab: , (hadits no. 3799).

[5] HR. al-Bukhari, dalam kitab: Sifat-Sifat Kaum Anshar, bab: , (hadits no. 3800).

[6] Ibnu al-Utsaimin, Syarah Aqidah Wasathiyyah, (Kairo: Daar Ibnu Jauzi), hal. 710.

[7] Syafiyurrahman al-Mubarakfuri, ar-Rahiiqu al-Mahtuum, (Riyadh: Daar as-Salaam, 1418H), cet. Ke-1, hal. 177.

[8] HR. al-Bukhari, dalam kitab: bab: Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, ‘Kalian Adalah Manusia yang Paling Aku Cintai…’, (hadits no. 3786).

[9] Lihat: Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, op.cit., hal. 400-402.

[10] HR. al-Bukhari, dalam kitab: Budi Pekerti, bab: Budi Pekerti Kaum Anshar, (hadits no. 3778).

[11] HR. al-Bukhari, dalam kitab: Keutamaan Shahabat, bab: Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, ‘Seandainya Aku Diperbolehkan Mengambil Seseorang Sebagai Kekasih.’, (hadits no. 3673).

[12] HR. at-Tirmidzi.

[13] An-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahiih Muslim, (Beirut: Daar al-Ma’rifah, 1999), cet. Ke-6, juz II, hal. 252.

[14] Ibnu Abi al-‘Izz, op.cit., hal. 467-468.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: