Oleh: dakwahwaljihad | Juni 15, 2010

Jangan Ceburkan Diri Kalian Ke Jurang Kebinasaan

JANGAN MENCEBURKAN DIRI KE JURANG KEBINASAAN

Oleh: Ibnu Sudirman

Pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang tafsir dari potongan ayat ke-195 dari surat al-Baqarah, yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan janganlah kamu menceburkan diri kalian sendiri ke dalam jurang kebinasaan.

Ayat di atas sering digunakan oleh kaum munafikin yang berpura-pura beragama Islam untuk menggembos semangat orang-orang yang berjuang keras dalam membela agama ini dari cengkeraman tangan-tangan kotor orang-orang kafir, baik dari bangsa kera dan babi atau dari bangsa salibis. Dengan ayat di atas kaum munafikin tersebut beralasan bahwa diharamkan bagi seorang muslim untuk melakukan isytisyhad, sebagaimana yang terjadi di Palestina dengan alasan bahwa perbuatan seperti ini adalah upaya menceburkan diri ke dalam jurang kebinasaan. Akan tetapi benarkan ayat di atas berbicara tentang larangan bagi seorang Muslim untuk melakukan isytisyhad ketika dalam kondisi peperangan? Jika ternyata tidak demikian, maka hendaknya kaum munafikin berbaju muslim tersebut takut akan ancaman Allah dalam QS. al-Isra’ : 36. Atau ketika mereka pada hekekatnya mengetahui tafsiran yang sebenarnya dari ayat di atas namun ternyata mereka memplesetkan tafsiran ayat tersebut dan pura-pura didak tahu karena lembaran-lembaran rupiah yang tidak ada harganya, maka ingatlah firman Allah dalam QS. al-Baqarah : 178. Sesungguhnya orang-orang kafir dan munafik akan kalah dan binasa. Lalu bagaimana sebenarnya tafsiran ayat di atas?

Sebab Turun Ayat

Imam al-Qurtubi menyebutkan dalam tafsirnya bahwa Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Yazid bin Abi Hubaib dari Aslam bin Imran, ia mengatakan, “Dahulu tatkala kami di kota Romawi, mereka mengeluarkan kepada kami sebuah barisan pasukan yang besar dari bangsa Romawi, lalu kaum muslimin mengeluarkan sebuah barisan yang sama, dan yang memimpin penduduk Mesir adalah ‘Uqbah bin ‘Amir, dan yang memimpin sebuah jamaah adalah Fadhalah bin ‘Ubaid. Lalu ada seseorang dari kaum muslimin yang menyerang barisan orang-orang Romawi sampai orang tersebut masuk ke tengah-tengah barisan mereka. Lalu orang-orang pada berteriak, ‘Subhaanallaah, ia menceburkan diri ke dalam kebinasaan.’ Maka Abu Ayyub al-Anshari r.a berdiri dan mengatakan, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah menafsirkan (ayat yang melarang untuk menceburkan diri ke dalam kebinasaan) dengan tafsiran seperti ini, padahal ayat tersebut turun berkenaan dengan kami orang-orang Anshar, yaitu tatkala Allah -ta’ala- telah memuliakan Islam dan telah banyak pembelanya, maka sebagian kami mengatakan kepada sebagian yang lain secara sembunyi-sembunyi di belakang Rasulullah saw, ‘Sesungguhnya harta kita telah musnah, dan sesungguhnya Allah -ta’ala- telah memuliakan Islam dan telah banyak pembelanya. Maka alangkah baiknya jika kita mengurusi harta kita dan memperbaiki harta kita yang telah musnah. Maka Allah -ta’ala- pun menurunkan kepada kami sebuah ayat berkenaan dengan apa yang telah kami katakan tersebut, yang berbunyi:

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan berinfaqlah kalian di jalan Allah dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan. (QS. al-Baqarah : 195)

Sehingga yang dimaksud dengan kebinasaan dalam ayat tersebut adalah mengurusi dan memperbaiki harta benda serta meninggalkan perang. Maka Abu Ayyub pun terus ikut berangkat perang sampai ia dikuburkan di negeri Romawi.[1]

Tafsir

Al-Hakim meriwayatkan dalam “Kitaabut Tafsiir” dan Al-Baihaqi dalam Syu’abu al-Imannya, dari Abu Ishaq, ia dari al-Barraa’ –radhiyallaahu ta’ala ‘anhu-, ada orang yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Amarah, firman Allah -ta’ala- yang berbunyi,

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(QS. al-Baqarah : 195)

…apakah yang dimaksud adalah seseorang yang menceburkan diri ke dalam barisan musuh lalu ia berperang sampai terbunuh?” Ia menjawab, “Tidak, akan tetapi yang dimaksud adalah seseorang yang melakukan dosa lalu ia mengatakan, ‘Allah tidak mengampuniku.”[2] Al-Hakim mengatakan, “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim.”[3]

Al-Baihaqi juga meriwayatkan mengenai hadits ini, ketika Abu Ishaq ditanya mengenai ayat yang berbunyi,

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…”(QS. al-Baqarah : 195)

…apakah yang dimaksud adalah seseorang yang membawa pedang lalu menyerang sebuah katiibah (sekelompok pasukan berkuda) yang berjumlah seribu orang?” Ia menjawab, “Tidak, akan tetapi yang dimaksud adalah seseorang yang melakukan dosa, lalu ia melemparkan tangannya dan mengatakan, ‘Tidak ada taubat bagiku.’”[4]

Ibnu al-‘Arabi rahimahullah-[5] mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kebinasaan dalam QS. al-Baqarah : 195 ada lima penafsiran yaitu:

1-      Meninggalkan berinfaq,

2-      Keluar (pergi) dengan tanpa bekal,

3-      Meninggalkan jihad dan lebih mempedulikan keluarga dan harta benda,[6]

4-      Masuk ke dalam pasukan yang kalian tidak mampu untuk menghadapinya,

5-      Berputus asa dari maghfirah (ampunan).

Kemudian al-Qurthubi mengatakan,[7] “(Yang dimaksud ayat ini) adalah (kebinasaan yang bersifat) umum mencakup semua poin (kebinasaan) tersebut dan semua itu tidaklah saling kontradiksi. Ia mengatakan, ‘Dan semua itu benar adanya kecuali pada poin menceburkan diri ke dalam pasukan musuh  -yaitu poin keempat – , karena sesungguhnya para ulama’ berselisih pendapat tentang masalah tersebut. Al-Qasim bin Mukhaimarah, al-Qasim bin Muhammad dan ‘Abdul Malik dari kalangan ulama’ kita mengatakan, ‘Tidak mengapa seseorang menyerang sebuah pasukan yang besar sendirian, jika ia mempunyai kekuatan dan dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah -ta’ala-. Namun jika ia tidak mempunyai kekuatan maka hal itu termasuk (menceburkan diri ke dalam) kebinasaan. Namun ada yang mengatakan bahwasanya jika ia mencari syahaadah (mati syahid) dan niatnya ikhlas maka silahkan dia melakukan serangan karena tujuannya adalah satu orang di antara mereka – maksudnya adalah satu orang dari orang-orang musyrik tersebut – untuk dia bunuh. Hal itu dijelaskan di dalam firman Allah -ta’ala- yang berbunyi:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ

Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari ridlo Allah. (QS. al-Baqarah : 207)

Kemudian beliau mengatakan, “Dan yang benar menurutku adalah diperbolehkan menceburkan diri ke dalam pasukan musuh bagi orang yang tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi pasukan tersebut, karena dalam perbuatannya itu terdapat empat hal:

  1. Mencari syahaadah (mati syahid),
  2. Adanya nikayaah (membunuh atau melukai musuh),
  3. Menumbuhkan keberanian kaum muslimin terhadap mereka,
  4. Melemahkan mental mereka, karena mereka melihat kalau satu orang saja melakukan seperti ini lalu bagaimana jika yang melakukannya sekelompok orang. Dan semua poin ini terwujud di dalam ‘amaliyyah istisyhaadiyyah.

Asy-Syaukani mengatakan, ketika menafsirkan firman Allah -ta’ala- yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(QS. al-Baqarah : 195)

Beliau mengatakan, “Dan yang benar adalah bahwasanya yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz dan bukan terbatas pada sebab (turunnya ayat) yang khusus (mengenai kasus tertentu). Maka segala sesuatu yang dapat disebut sebagai kebinasaan dalam permasalahan dien (agama) dan dunia, sesuatu tersebut masuk ke dalam kategori (kebinasaan yang disebutkan di dalam ayat) ini. Dan inilah yang dikatakan oleh Ibnu Jarir athThabari, dan termasuk dalam (kebinasaan) yang dimaksud oleh ayat ini adalah seseorang yang ketika berperang menceburkan diri ke dalam pasukan musuh padahal dia tidak mempunyai kemampuan untuk menyelamatkan diri, dan tidak dapat memberikan dampak yang bermanfaat bagi mujahidin. Maka mafhuumnya (yang dapat difahami) dari perkataannya ini adalah jika terdapat manfaat pada perbuatan tersebut maka perbuatan tersebut diperbolehkan.[8]

Al-Qurthubi mengatakan,[9] “Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani, murid dari Abu Hanifah –rahimahullah- mengatakan, ‘Jika seseorang menyerang seribu orang dari kaum musyrikin, sedangkan dia sendirian, hal itu tidak mengapa jika ia optimis akan selamat, atau menimbulkan nikaayah (melukai atau membunuh) pada musuh, namun jika hal itu tidak ada maka perbuatan tersebut makruh karena ia menceburkan diri ke dalam kematian yang tidak ada manfaatnya bagi kaum muslimin. Maka barangsiapa melakukannya dengan tujuan untuk menumbuhkan keberanian kaum muslimin supaya mereka melakukan apa yang ia lakukan maka hal itu bisa diperbolehkan, karena di dalamnya ada manfaat bagi kaum muslimin dari sebagian sisi pandang, dan jika tujuannya adalah menggentarkan (menteror) musuh, dan supaya musuh mengetahui keteguhan kaum muslimin dalam menjalankan diin (agama) mereka maka hal ini juga bisa diperbolehkan. Dan apabila perbuatannya tersebut ada manfaatnya bagi kaum muslimin maka hilangnya nyawa untuk kemuliaan diin (agama Islam) dan untuk melemahkan kekafiran, maka ini adalah kedudukan mulia yang mana Allah -ta’ala- memuji orang-orang beriman dengannya dalam firmanNya yang berbunyi:

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah. lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah : 111).

Hanya kepada Allahlah kita meminta pertolongan, mudah-mudahan Dia memuliakan agama Islam dan kaum Muslimin serta menghinakan dan melenyapkan orang-orang munafik, murtad, musyrik, dan kafir. Amin ya rabbal ‘alamin.


[1] Al-Qurtubi, al-Jaami’ lie Ahkaam al-Qur’an, (Riyadh: Daar ‘Aalam al-Kutub, 2003), (II/362-363). Lihat pula: al-Wahidi an-Naisaburi, Asbaab an-Nuzuul, (I/35).

[2] HR. Hakim, dalam Kitab at-Tafsiir, hadits no. 3089; dan al-Baihaqi, (hadits no. 7093).

[3] Ibnu Katsir, Tafsiir al-Qur’an al-‘Adzim, (Daar Thayyibah, 1999), (I/529).

[4] Al-Baihaqi, (hadits no. 7094).

[5] Ibnu al-‘Arabi, Ahkaamu al-Quran, (I/116). Lihat pula: al-Qurthubi, (II/364).

[6] Lihat: Ibnu Katsir, op.cit., (I/528) diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir.

[7] Al-Qurthubi, (II/364).

[8] Asy-Syaukani, Fathu al-Qadiir, (Maktabah Syamilah), (I/256).

[9] Al-Qurthubi, (II/364).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: