Oleh: dakwahwaljihad | Juni 15, 2010

Istisyhadiyyah…..Bunuh Diri atau Syahid?

ISTISYHADIYAH……BUNUH DIRI ATAU SYAHID ?

Istisyhadiyyah dalam Tinjauan Syari’at (Bag-1)

Dalam sebuah pengajian yang diisi oleh salah satu ustadz ‘ternama’ di daerah Jakarta (yang mengklaim dirinya bermanhaj ‘salafi’), ada seorang peserta yang bertanya kepada ustadz tersebut lewat sebuah kertas. Adapun pertanyaan tersebut adalah, “Apa hukum bom bunuh diri seperti yang ada di Palestina?” Sambil menaruh kertas yang berisi pertanyaan dan kaca matanya di atas mejanya, seorang ustadz tadi menjawab, “Namanya juga bom bunuh diri ya bom bunuh diri. Tidak ada bom syahid. Seperti juga terjadi di Indonesia. Kasihan kalau itu dilakukan oleh sebagian pemuda Muslim jahil, bodoh, disebabkan ajaran-ajaran yang sesat ini yang perlu diberi pengarahan dan perlu diajarkan. Terlarang kita bunuh diri dalam keadaan apa saja. Tujuan apa saja tidak boleh. Bunuh diri tetap bunuh diri. Walaa taqtulu ‘anfusakum (jangan bunuh-bunuh diri kamu). Hattaa dalam medan perang jihad. Misalnya kaum muslim perang jihad melawan orang-orang kafirin kemudian dia pasang bom di badannya sini (sambil menunjuk ke arah badannya). Kemudian terjunkan dirinya ke tempat musuh. Maka dia bunuh diri, terlarang, tidak boleh. Ini yang sesungguhnya jihad, apalagi ini yang bukan jihad, tapi kerusakan. Lihat, dia sudah bunuh diri, satu kesalahan besar, dan nanti akan diadzab. Orang yang bunuh diri itu kata Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- diadzab sesuai dengan cara apa dia bunuh diri. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits-hadits shahih dalam al-Bukhari dan Muslim. Terlarang, bunuh diri tidak boleh. Karena apa? Karena yang mati siapa duluan? Dia duluan. Berbeda kalau jihad perang dengan orang-orang kafirin, dia pegang senjata, dia serang ke tempat musuh dan dia ditembak oleh musuh, dia mati, itu syahid. Itu kalau yang jihad sebenarnya. Oleh karena itu tidak ada fatawa ulama boleh bom bunuh diri. Itu di Palestina orang-orang bodoh yang ngerjakan. Gak ada fatawa ulama, gak ada ulama menganjurkannya. ………dst.”

Ustadz seperti ini hendaknya menutup mulutnya rapat-rapat dan bertaubat dari ucapannya (artinya tidak mengulangi kata-katanya), karena beberapa celotehan yang keluar dari mulutnya malah berakibat timbulnya fitnah di tengah-tengah umat. Hendaknya dirinya langsung terjun ke medan jihad, sehingga dirinya akan mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Di sini saya akan menggaris bawahi ucapan ustadz tersebut yang berbunyi Hattaa dalam medan perang jihad. Misalnya kaum muslim perang jihad melawan orang-orang kafirin kemudian dia pasang bom di badannya. Kemudian terjunkan dirinya ke tempat.

Maka untuk membantah ucapan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan di atas, maka Syaikh Abu ‘Umar Muhammad bin ‘Abdillah as-Saif, Ketua Mahkamatut Tamyiiz al-‘Ulya Mujahidin Czechnya dalam bukunya yang berjudul “Hal Intaharat al-Hawa’ am Istasyhadat akan menjelaskan dengan gamblang bagaimana sebenarnya hukum istisyhadiyyah yang terjadi dalam kondisi negara yang sedang dijajah oleh orang-orang kafir laknatullah ‘alaihim. Beliau adalah orang yang telah terjun ke medan peperangan secara langsung dan mengetahui betul kondisi yang terjadi di medan peperangan. Berikut penjelasannya:

Sesungguhnya ‘amaliyyah istisyhaadiyyah atau ‘amaliyyah fidaa’iyyah adalah salah satu bentuk operasi yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang dalam melawan musuh yang berjumlah dan bersenjata lebih banyak. Dan perlu diketahui bahwasanya ketika mereka melakukan aksi-aksi semacam ini, mereka sebelumnya tahu bahwasanya aksi-aksi tersebut akan berakhir dengan satu kepastian yaitu mati. Dan inilah yang ada dalam keyakinan mereka atau yang ada dalam perkiraan kuat mereka.

Cara yang paling banyak digunakan dalam melaksanakan ‘amaliyyah istisyhaadiyyah pada zaman sekarang ini adalah dengan meledakkan diri atau mobil atau tas dan masuk ke dalam perkumpulan musuh atau tempat-tempat yang fital dalam kehidupan mereka atau fasilitas-fasilitas penting mereka. Di sanalah peledakan itu dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat. Yang dapat menimbulkan korban atau kerugian sebanyak mungkin dalam barisan musuh, karena dilihat dari faktor surprise (daya kejut) dan jauhnya dalam memasuki perkumpulan, dan tentu saja pelaku aksi semacam inilah yang pertama kali menjadi korban meninggal karena biasanya dia adalah orang yang paling dekat dengan bahan peledak.

Di sana ada cara yang lain yaitu seorang mujahid yang menyandang senjata masuk menerobos ke dalam kamp-kamp musuh atau daerah tempat berkumpulnya mereka, lalu ia menembaki mereka dari dekat, dan perlu diketahui bahwasanya sebelum dia melakukan aksi ini ia sama sekali tidak berfikir untuk keluar atau membuat perencanaan untuk kembali, karena tujuannya hanyalah satu yaitu membunuh musuh sebanyak mungkin dan dia yakin akan mati. Inilah cara yang digunakan di dalam ‘amaliyyah istisyhaadiyyah pada zaman sekarang.

Sedangkan apa yang dikatakan oleh sebagian orang bahwasanya ‘amaliyyah istisyhaadiyyah atau ‘amaliyyah fidaa’iyyah itu adalah ‘amaliyyah intihaariyyah (aksi bunuh diri) adalah salah. Dan perlu diketahui bahwasanya SEBUTAN SEMACAM INI ADALAH SEBUTAN YANG DISENANGI OLEH ORANG-ORANG YAHUDI terhadap ikhwan-ikhwan kami dengan tujuan supaya ikhwan-ikhwan tersebut meninggalkan aksi tersebut. Karena betapa jauh perbedaan antara keduannya sebagaimana jauhnya timur dan barat. Karena orang yang bunuh diri itu dilaknat oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala- dan baginya adalah naar (neraka) Jahannam, dan Allah –subhaanahu wa ta’ala- memurkainya di dalam kitab-Nya dan menyiapkan baginya siksa yang sangat besar. Dan orang yang bunuh diri itu melakukan bunuh diri hanyalah karena putus asa, tidak sabar dan lemah atau tidak mempunyai iman, adapun kepada seorang fidaa’iy (orang yang melakukan ‘amaliyyah fidaa’iyyah), Allah –subhaanahu wa ta’ala- tertawa terhadap mereka, Allah –subhaanahu wa ta’ala- ridha terhadap mereka dan menjadikan mereka ridha. Dan jika Rabbmu telah tertawa kapada seseorang, maka setelah itu orang tersebut tidak akan susah selama-lamanya. Dan seorang mujahid melakukan aksi semacam ini bukan lain hanyalah karena kuatnya keimanan dan keyakinan yang ia miliki, dan dengan tujuan untuk membela dien (agama) Allah –subhaanahu wa ta’ala-, dan mengorbankan dirinya kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala- untuk meninggikan kalimatullah. Dan inilah yang akan kami jelaskan dalam kajian ini insyaAllah.

Adapun dampaknya terhadap musuh, sesungguhnya yang kami saksikan dalam kenyataan yang kami hadapi, sungguh kami telah menyaksikan bahwa dampaknya terhadap musuh sangatlah besar, bahkan tidak ada sebuah aksi yang lebih menakutkan hati mereka melebihi aksi semacam ini. Bahkan lantaran aksi semacam ini mereka menghindari untuk bercampur dengan para penduduk, tidak menindas mereka, tidak merampas mereka dan tidak menodai kehormatan mereka karena takut terhadap aksi-aksi semacam ini. Bahkan kegiatan pasukan mereka terfokus kepada usaha untuk mendeteksi aksi-aksi semacam ini sebelum terjadinya, sehingga tersibukkan dari pekerjaan-pekerjaan yang lainnya, walillaahil hamdu.

Dan aksi-aksi semacam ini merupakan metode yang paling merugikan musuh, dan paling sedikit kerugiannya, sedangkan operasi-operasi serangan lainnya, memerlukan pengerahan kekuatan dan peralatan kemudian baru dilaksanakan serangan, dan terkadang menimbulkan kerugian terhadap pihak penyerang lantaran kuatnya pertahanan musuh dengan senjata-senjata altileri. Adapun ‘amaliyyah istisyhaadiyyah kerugian jiwanya hanya satu dari mujahidin, sedangkan anggaran yang diperlukan hampir tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan serangan secara langsung, bahkan biasanya tidak lebih dari nilai logistik untuk sebuah truk militer yang mengangkut lima puluh mujahid untuk melaksanakan serangan. Dan dari sisi moral, maka dampaknya terhadap musuh jelas, karena aksi-aksi semacam ini menghancurkan hati mereka, menggentarkan mereka dan meluluhlantakkan moral mereka. Sedangkan dari sisi materi, biasanya kerugian yang diderita musuh sangatlah besar, adapun kerugian yang diderita mujahidin dari sisi materi lebih sedikit dari pada serangan secara langsung, dan sari sisi kerugian personal hanyalah satu orang mujahid yang mati syahid atas izin Allah –subhaanahu wa ta’ala-.

Dan sungguh kami telah menyaksikan setelah ‘amaliyyah istisyhaadiyyah yang terakhir, besarnya kerugian personal pada barisan musuh, kerugian mereka dari sisi personal lebih dari 1600 orang tentara antara yang terluka dan meninggal, hancurnya seluruh bangunan yang digunakan markas militer Rusia di Czechnya, hancurnya seluruh simpanan logistik, persenjataan, amunisi dan alat-alat penjagaan yang berada di dalam bangunan.

Sedangkan dari sisi moral, aksi tersebut dapat menjatuhkan mental dan menimbulkan kegentaran yang besar dalam hati para komandan dan prajurit dari tentara Rusia. Belum lagi berhamburannya banyak rancangan dan program yang hendak mereka laksanakan. Dan lebih dari itu semua, Presiden Rusia Putin mengeluarkan pernyataan dengan nada bahasa yang keras yang dia tujukan kepada menteri dalam negeri dan menteri pertahanan, ia membebankan bertanggung jawab kepada keduanya atas apa yang terjadi, bahkan ia berjanji untuk mengadakan pergantian jabatan di tingkat tinggi dalam dua kemanterian tersebut. Dan perlu diketahui bahwasanya dua kementerian tersebut secara bergantian telah mendapatkan tuduhan telah berkhianat dan bekerja sama dengan para mujahidin. Dan pasukan Rusia sampai sekarang terus berlarian di Chechnya setelah aksi tersebut. Sebagian berusaha untuk mendeteksi aksi-aksi lain yang dimungkinkan akan segera dilaksanakan, sedangkan sebagian yang lain dari tentara Rusia sibuk mengeluarkan bangkai-bangkai pasukan Rusia dan menolong yang terluka, serta mengeluarkan dokumen-dokumen dan rancangan-rancangan para pemimpin perang dari reruntuhan bangunan.

Adapun kami, kami telah mengiringi para pahlawan kami menuju jannatul khuldi (surga yang kekal) insyaaAllah. Dan masing-masing orang dari kami memohon kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala- agar dipertemukan dengan mereka kelak, dan kami memohon kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala- agar menerima amal kami. Sedangkan mobil-mobil dan bahan-bahan peledak yang digunakan dalam ‘amaliyyah istisyhaadiyyah tersebut diambil dari ghanimah (rampasan perang), maka itu semua adalah barang-barang mereka dan kami kembalikan kepada mereka dengan cara kami sendiri. Dan kami bersyukur kepada Allah       –subhaanahu wa ta’ala-atas pertolongan dan petunjuk=Nya.

Semua dampak-dampak pada musuh yang telah kami sebutkan tersebut bukan dihasilkan dari serangan yang terdiri dari seribu orang mujahid. Akan tetapi mereka hanyalah empat orang pahlawan saja, dan kami memiliki banyak orang-orang yang semacam mereka. Dan dengan cara seperti ini kami perkirakan mereka tidak akan tinggal lebih lama lagi di bumi kami. Cukup sepuluh aksi semacam ini bagi kami untuk menjadikan mereka berfikir kembali untuk keluar dalam keadaan hina insyaaAllah. Dan jika mereka hendak menahan kami untuk menggunakan cara semacam ini, maka mereka akan terjerumus ke dalam salah satu dari dua lubang pembunuhan, yang masing-masing lebih buruk dari pada yang lain. Karena jika mereka tidak berkumpul karena takut terhadap aksi-aksi semacam ini, maka mereka akan menjadi target-target operasi yang empuk bagi regu-regu penyergap, dan jika mereka berkumpul untuk menghadapi regu-regu penyergap, maka ‘amaliyyah istisyhaadiyyah cukup untuk menghancur leburkan perkumpulan mereka. Dan jika mereka ingin mengendalikan situasi dan menghentikan aksi-aksi semacam ini, maka kami tidak berlebihan jika kami katakan mereka membutuhkan lebih dari tiga ratus ribu tentara untuk setiap kotanya, untuk menghentikan aksi-aksi semacam ini.

Dan bagi setiap orang yang mempunyai pemahaman, hendaknya dia mengamati kasus ikhwan-ikhwan kita di Palestina, bagaimana aksi-aksi semacam ini menimbulkan kengerian dan ketakutan dalam hati orang-orang Zionis. Dan hendaknya setiap orang tahu bahwasanya yang mendorong Yahudi mendirikan pemerintahan tersendiri adalah mereka berharap agar pemerintah Palestina berusaha untuk menghentikan ‘amaliyyyah istisyhaadiyyah yang dilancarkan kepada mereka. Yaitu dengan cara mengkonsentrasikan para mujahidin di wilayah yang sempit supaya orang-orang yahudi aman. Namun bagaimana mungkin tujuan mereka itu akan terwujud sedangkan jiwa para pemuda Palestina senantiasa menginginkan untuk dikumpulkan bersama para Nabi.

Demikianlah, selain itu kerugian musuh yang ditimbulkan oleh aksi-aksi semacam ini di Czechnya lebih besar lagi karena, penjagaan Rusia di Czechnya jauh lebih sedikit dari pada penjagaan orang-orang Yahudi, dan karena reaksi musuh jika di Palestina cukup terasa namun di Czechnya tidak ada apa-apanya.

DALIL-DALIL

Sebelum kita memasuki pembahasan masalah hukum dan perincian ‘amaliyyah istisyhaadiyyah, dan penukilan perkataan para ulama’ mengenai masalah tersebut, serta memecahkan beberapa kerancuan yang terdapat di dalamnya, maka alangkah baiknya jika kami ajukan dalil-dalil syar’i mengenai masalah tersebut, lalu kami paparkan sisi-sisi mana dari dalil tersebut yang dijadikan landasan. Dan melihat banyaknya dalil dalam masalah ini maka kami tidak akan memperinci setiap dalil dengan sanadnya, akan tetapi cukup bagi kami karena dasar permasalahannya terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan mana-mana dalil yang dha’if yang terdapat pada selain keduanya, maka dalil tersebut diperkuat dengan dalil yang ada di dalam keduanya. Kami katakan:

1. Allah subhaanahu wa ta’ala- berfirman:

إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ المؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنجِيلِ وَالْقُرْءَانِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيم

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah (surga) untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh dan terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah : 111)

Ayat ini merupakan dasar transaksi jual beli antara seorang mujahid dengan Rabb-nya, maka bagaimanapun seorang mujahid itu dapat membayar harganya, maka ia berhak untuk mendapatkan barang dagangannya sampai ada dalil khusus yang menghalanginya.

2. Allah subhaanahu wa ta’ala- berfirman:

كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Berapa banyak kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah, dan Allah berrsama orang-orang yang sabar. (al-Baqarah : 249)

Ayat ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa menurut syar’i kemenangan itu tidak tergantung dengan perhitungan-perhitungan yang bersifat materi duniawi sebagai unsur yang paling pokok.

3. Allah subhaanahu wa ta’ala- berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَاللهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Dan di antara manusia itu ada orang yang menjual dirinya untuk mendapatkan ridha Allah, dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (al-Baqarah : 207)

Makna: يَشْرِيْ adalah: يَبِيْعُ (menjual), penafsiran ayat ini -sebagaimana yang akan kami sebutkan- menunjukkan bahwasanya orang yang menjual dirinya untuk Allah subhaanahu wa ta’ala- itu tidak disebut sebagai orang yang bunuh diri, meskipun dia menceburkan diri ke dalam seribu orang musuh dengan tidak menggunakan pelindungan dengan sesuatu apapun sehingga dia terbunuh.

4. Dalam Shahih-nya Muslim meriwayatkan kisah Ash-haabul Ukhduud yang di dalamnya ada yang menjadi dalil permasalahan ini, yaitu sabda beliau yang artinya:

… kemudian didatangkan pemuda tersebut dan dikatakan kepadanya, ‘Kembalilah dari dien (agama) mu!’ Namun ia menolak, maka ia diserahkan kepada beberapa orang shahabat raja tersebut, lalu raja tersebut mengatakan, ‘Bawalah dia ke gunung yang begini dan begini, lalu bawalah dia mendaki gunung tersebut, lalu jika kalian telah sampai ke puncak, jika dia tidak mau kembali dari dien (agama) nya, maka lemparkanlah dia.’ Maka mereka pun membawanya pergi mendaki ke gunung tersebut. Lalu pemuda itu mengatakan, ‘Yaa Allah lindungilah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.’ Maka gunung tersebut pun menggoncang mereka sehingga mereka terjatuh. Dan pemuda itupun datang kepada Raja dengan berjalan kaki, lalu raja tersebut bertanya, ‘Apa yang diperbuat oleh kawan-kawanmu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Allah melindungiku dari mereka.’ Lalu pemuda tersebut diserahkan kepada beberapa orang shahabatnya, dan ia mengatakan, ‘Bawalah dia pergi dan naikkan ke atas perahu, lalu bawalah dia ketengah laut. Lalu jika dia tidak mau kembali dari dien (agama)-nya, maka lemparkanlah dia.’ Maka merekapun membawanya pergi. Lalu pemuda itu mengatakan, ‘Yaa Allah lindungilah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.’ Lalu perahu itupun terbalik sehingga mereka tenggelam. Dan pemuda itupun datang kepada Raja dengan berjalan kaki. Lalu Raja bertanya kepadanya, ‘Apa yang diperbuat oleh kawan-kawanmu?’ Pemuda itupun menjawab, ‘Allah melindungiku dari mereka.’ Lalu pemuda itu mengatakan kepada Raja tersebut, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu.’ Raja bertanya, ‘Perintah apa itu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Engkau kumpulkan manusia di sebuah dataran tinggi dan engkau salib aku pada sebuah batang pohon, kemudian ambillah sebuah anak panah dari tabung anak panahku, kemudian letakkan anak panah tersebut pada sebuah busur, kemudian ucapkanlah, ‘Dengan atas nama Allah, Rabb (tuhan)nya pemuda ini, kemudian panahlah aku. Sesungguhnya jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan dapat membunuhku.’ Maka Raja pun mengumpulkan manusia di sebuah daratan tinggi, dan menyalib pemuda tersebut pada sebuah batang pohon, kemudian dia mengambil sebuah anak panah dari tabung anak panah milik pemuda tersebut kemudian diletakkanlah anak panah tersebut pada sebuah busur, kemudian dia mengatakan,    ‘Dengan atas nama Allah, Rabb (tuhan)-nya pemuda ini.’ Kemudian Raja memanahnya sehingga anak panah tersebut mengenai pelipis pemuda tersebut, lalu ia meletakkan tangannya pada pelipis yang terkena anak panah tersebut kemudian iapun mati. Kamudian manusia mengatakan, ‘Kami beriman kepada Rabb (tuhan) pemuda tersebut, kami beriman kepada Rabb (tuhan) pemuda tersebut.’ Maka Rajapun datang dan seseorang mengatakan kepadanya, ‘Tahukah apa yang dahulu engkau khawatirkan? Demi Allah telah terjadi kepadamu apa yang telah engkau khawatirkan. Seluruh manusia telah beriman.’ Maka Rajapun memerintahkan untuk membuat lubang yang memanjang di setiap penghujung jalan. Lalu dibuatlah lubang yang memanjang dan dinyalakan api pada lubang tersebut. Dan ia mengatakan, ‘Barang siapa tidak kembali dari dien (agama)-nya maka lemparkanlah ke dalam lubang tersebut. Atau katakanlah kepadanya: Masuklah ke dalam lubang. Maka merekapun melaksanakan perintah tersebut sampai mereka menjumpai seorang perempuan yang membawa bayinya, perempuan itupun ragu-ragu untuk masuk ke dalam lubang tersebut, maka anaknya tersebut mengatakan, ‘Wahai ibu, sabarlah sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran…’

Hadits ini menujukkan bahwasanya pemuda tersebut ketika memerintahkan untuk membunuh dirinya sebagai korban untuk dien (agama), sesungguhnya perintahnya itu adalah perintah yang disyari’atkan dan dia tidak disebut sebagai orang yang bunuh diri, meskipun ia tidak diwahyukan mengenai disyari’atkannya perbuatan tersebut dan juga sebelumnya dia tidak mengetahui hasil dari perbuatannya tersebut.

5. Ahmad meriwayatkan di dalam Musnad-nya I/310 dari Ibnu ‘Abbaas, ia mengatakan: Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, yang artinya:

Pada malam di mana aku di isra’kan, aku mencium sebuah bau yang wangi, maka aku bertanya, ‘Wahai Jibril, bau wangi apa ini?’ Maka Jibril menjawab, ‘Ini adalah Masyithah (tukang sisir perempuan) bagi anak perempuan Fir’aun dan anak-anaknya. Rasulullah bersabda, ‘Aku bertanya, ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Jibril menjawab, ‘Suatu hati tatkala ia sedang menyisir anak perempuan Fir’aun, sisirnya jatuh dari tangannya, maka ia mengatakan, ‘Bismillaah (atas nama Allah aku mengambil sisir ini).’ Maka anak perempuan Fir’aun tersebutpun bertanya, ‘(Apakah yang kamu maksud adalah) bapakku?’ Ia menjawab, ‘Bukan, tapi Dia adalah Rabb (tuhan)-ku dan Rabb (tuhan) bapakmu, yaitu Allah.’ Anak perempuan itu berkata, ‘Bolehkan aku beritahukan hal itu kepada bapakku?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Maka anak perempuan Fir’aun itupun memberitahukan hal tersebut kepada Fir’aun, maka Fir’aunpun memanggilnya, lalu ia berkata, ‘Wahai Fulanah, apakah engkau mempunyai Rabb (tuhan) selain aku?’ Ia menjawab, ‘Ya, Rabb ku dan Rabb-mu, yaitu Allah.’ Maka Fir’aunpun memerintahkan untuk memanaskan sebuah periuk dari tembaga yang besar, kemudian ia memerintahkan untuk melemparkan tukang sisir tersebut dengan anak-anaknya ke dalam periuk tersebut. Perempuan tukang sisir itupun mengatakan, ‘Sesungguhnya aku mempunyai permintaan kepadamu?’ Ia mengatakan, ‘Apa permintaanmu?’ Ia menjawab, ‘Aku menginginkan agar engkau mengumpulkan tulang belulangku dengan tulang belulang anakku dalam sebuah kain, lalu engkau kuburkan kami.’ Fir’aun mengatakan, ‘Itu adalah permintaanmu yang pasti kami laksanakan.’ Jibril berkata, ‘Lalu Fir’aun memerintahkan untuk melemparkan anak-anaknya satu persatu di hadapannya sampai yang terakhir adalah bayi yang masih ia susui, dan seolah-olah ia ragu-ragu pada anak tersebut. Anak itu mengatakan, ‘Wahai ibu, masuklah, karena sesungguhnya siksa dunia itu lebih ringan dari pada siksa akherat, maka iapun masuk ..”

Hadits ini rijal (perawi-perawi)-nya tsiqat (terpercaya) kecuali Abu ‘Umar. Adz- Dzahabi dan Abu Hatim mengatakan tentang dirinya, ‘Dia adalah Shaduq.’ Namun Ibnu Hibban menyatakan bahwa dia adalah tsiqqah.

Hadits ini menceritakan bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’ala- menjadikan anak kecil tersebut bisa berbicara untuk memerintahkan ibunya agar dia masuk ke dalam api, dan ini seperti bayi yang terdapat dalam kisah Ash-haabul Ukhduud (orang-orang yang dilemparkan ke dalam lubang yang panjang yang dinyalakan api padanya, yaitu hadits sebelum ini). Dan seandainya membunuh diri sendiri untuk kepentingan dien (agama) itu dilarang, tentu syaari’ (Sang Pembuat syariat, yaitu Allah subhaanahu wa ta’ala--pent.) tidak akan memuji perbuatan tersebut, dan Allah subhaanahu wa ta’ala- menjadikan anak itu dapat berbicara tidak lain hanyalah untuk menerangkan keutamaan perbuatan tersebut.

6. Abu Dawud III/27, dan at-Tirmidzi IV/280 meriwayatkan sebuah hadits yang dia (at-Tirmidzi) nyatakan shahih dan menggunakan lafadznya, dari Aslam Abiy ‘Imran, ia berkata, “Dahulu tatkala kami di kota Romawi, mereka mengeluarkan kepada kami sebuah barisan pasukan yang besar dari bangsa Romawi, lalu kaum muslimin mengeluarkan sebuah barisan yang sama, dan yang memimpin penduduk Mesir adalah ‘Uqbah bin ‘Amir, dan yang memimpin sebuah jama’ah adalah Fadhalah bin ‘Ubaid. Lalu ada seseorang dari kaum muslimin yang menyerang barisan orang-orang Romawi sampai orang tersebut masuk ke tengah-tengah barisan mereka. Lalu orang-orang pada berteriak, ‘Subhaanallaah, ia menceburkan diri ke dalam kebinasaan.’ Maka Abu Ayyub al-Anshari -radhiyallaahu ‘anhu- berdiri dan mengatakan, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah menafsirkan (ayat yang melarang untuk menceburkan diri ke dalam kebinasaan) dengan tafsiran seperti ini, padahal ayat tersebut turun berkenaan dengan kami orang-orang Anshar, yaitu tatkala Allah subhaanahu wa ta’ala- telah memuliakan Islam dan telah banyak pembelanya, maka sebagian kami mengatakan kepada sebagian yang lain secara sembunyi-sembunyi di belakang Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, ‘Sesungguhnya harta kita telah musnah, dan sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala- telah memuliakan Islam dan telah banyak pembelanya. Maka alangkah baiknya jika kita mengurusi harta kita dan memperbaiki harta kita yang telah musnah. Maka Allah subhaanahu wa ta’ala- pun menurunkan kepada kami sebuah ayat berkenaan dengan apa yang telah kami katakan tersebut, yang berbunyi:

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan berinfaqlah kalian di jalan Allah dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan. (al-Baqarah : 195)

.. dan yang dimaksud dengan kebinasaan itu adalah mengurusi dan memperbaiki harta benda serta meninggalkan perang. Maka Abu Ayyub pun terus ikut berangkat perang sampai ia dikuburkan di negeri Romawi.

Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim, dan ia mengatakan bahwa hadits ini adalah sesuai dengan syarthusy syaikhaini dan hal ini disepakati oleh adzDzahabiy, dan juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Ibnu Hibban, dan alBaihaqi mengatakan dalam asSunan, Bab: Diperbolehkan seseorang memisahkan diri dari kelompok dalam peperangan di negeri musuh. Dalam hal ini dia berdalil dengan diperbolehkannya seseorang menghadapi sebuah jama’ah (kelompok) meskipun menurut perkiraannya besar kemungkinan ia akan dibunuh oleh kelompok tersebut, kemudian dia meriwayatkan hadits yang diriwayatkan Abu ‘Imran tersebut dan hadits yang lainnya.

Di dalam hadits ini Abu Ayyub -radhiyallaahu ‘anhu- menafsirkan ayat (yang melarang menceburkan diri ke dalam kebinasaan) bukanlah berkenaan dengan orang yang menceburkan diri ke dalam barisan musuh secara sendirian, meskipun menurut manusia ia membinasakan dirinya sendiri. Dan penafsiran tersebut didiamkan oleh seluruh shahabat -radhiyallaahu ‘anhum-.

7. Dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannaf-nya (V/338), ia mengatakan, “Mu’adz bin ‘Afra’ mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang dapat membuat Allah –subhaanahu wa ta’ala- tertawa terhadap hamba-Nya? Beliau menjawab,

غَمْسُهُ يَدَهُ فِي الْعَدُوِّ حَاسِراً

Ia menceburkan diri ke dalam barisan musuh dengan tanpa menggunakan pelindung apapun.

Perawi mengatakan, “Maka ia lemparkan baju besi yang ia kenakan dan berperang sampai ia -radhiyallaahu ‘anhu- terbunuh.” Ibnu an-Nuhaas mengatakan, “Demikianlah yang terdapat dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, dari Yazid, dan yang telah masyhur dalam Sirah Ibnu Ishaq dan yang lainnya, yang melakukan perbuatan tersebut adalah ‘Auf bin ‘Afra’ saudaranya Mu’adz bin ‘Afra’, ibu keduanya. Sedangkan ‘Audz dan Mu’awwidz adalah saudara mereka berdua, dan mereka semua adalah dari suku ‘Afra’, sedangkan bapak mereka berdua adalah al-Harits bin Rifa’ah an-Najjaari Badri (orang yang menyertai perang Badar), wallaahu a’lam.

Hadits ini dan hadits-hadits setelahnya yang semakna dengannya menunjukkan dengan jelas atas keutamaan aksi-aksi jihad yang menurut perkiraan kemungkinan besar akan membinasakan pelakunya. Juga menunjukkan bahwasanya jihad itu mempunyai dalil-dalil khusus yang memperbolehkan melakukan perbuatan yang di larang dalam selain jihad.

8. Ibnu al-Mubarak meriwayatkan dalam Kitabul Jihad (I/85) dari al-Auza’i dengan sanad mu’dhal, namun yang lainnya meriwayatkannya secara muttashil (bersambung) dari Yahya bin Abi Katsir, ia mengatakan, “Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

أَفْضَلُ الشُّهَدَاءِ الَّذِيْنَ يَلْقَوْنَ فِي الصَّفِّ فَلاَ يُلْفِتُوْنَ وُجُوْهَهُمْ حَتَّى يُقْتَلُوْا ، أُولَئِكَ يَتَلَبَّطُوْنَ فِي الْغُرَفِ الْعُلاَ مِنَ الْجَنَّةِ ، يَضْحَكُ إِلَيْهِمْ رَبُّكَ، إِنَّ رَبَّكَ إِذَا ضَحِكَ إِلَى قَوْمٍ فَلاَ حِسَابَ عَلَيْهِمْ

Syuhada’ yang paling utama itu adalah orang-orang yang menceburkan diri ke dalam barisan musuh lalu mereka tidak menolehkan wajah mereka sampai mereka terbunuh, mereka adalah orang-orang yang berbaringan di kamar-kamar yang paling tinggi di Jannah (surga), dan Rabb (tuhan)-mu tertawa terhadap mereka, dan sesungguhnya jika Rabb (tuhan)-mu telah tertawa terhadap sebuah kaum, maka mereka tidak akan dihisab.

9- Ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Kabir dengan sanad hasan, dari Abu Ad-Darda’ radhiyallaahu ‘anhu-, dari Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda,

ثَلاَثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللهُ وَيَضْحَكُ إِلَيْهِمْ، وَيَسْتَبْشِرُ بِهِمْ، الَّذِيْ إِذَا انْكَشَفَتْ فِئَةٌ قَاتَلَ وَرَاءَهَا بِنَفْسِهِ، فَإِمَّا أَنْ يُقْتَلَ وَإِمَّا أَنْ يَنْصُرَهُ اللهُ وَيَكْفِيَهُ، فَيَقُوْلُ اللهُ: انْظُرُوْا إِلَى عَبْدِيْ هَذَا كَيْفَ صَبَرَ لِيْ بِنَفْسِهِ، وَالَّذِيْ لَهُ امْرَأَةٌ وَفِرَاشٌ لَيِّنٌ حَسَنٌ فَيَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ، فَيَقُوْلُ: يَذَرُ شَهْوَتَهُ وَيَذْكُرُنِيْ وَلَوْ شَاءَ رَقَدَ ، وَالَّذِيْ إِذَا كَانَ فِيْ سَفَرٍ وَكَانَ مَعَهُ رَكْبٌ فَسَهِرُوْا ثُمَّ هَجَعُوْا فَقَامَ فِي السَّحَرِ فِيْ ضَرَّاءِ وَسَرَّاءِ

Ada tiga orang yang Allah cinta dan tertawa terhadap mereka, dan senang dengan mereka, (pertama) orang yang ketika kelompoknya kocar-kacir, ia berperang dengan nyawanya, kemungkinan ia akan terbunuh atau Allah akan menyelamatkannya, maka Allah berfirman, “Lihatlah hambaKu ini, bagaimana ia bertahan dengan nyawanya karena Aku, dan (yang kedua adalah) orang yang mempunyai seorang istri dan kasur yang empuk dan bagus lalu ia bangun malam (menunaikan shalat), maka Allah berfirman, Ia telah tinggalkan syahwatnya dan berdzikir kepadaKu padahal kalau dia mau dia bisa tidur, dan (yang ketiga adalah) orang apabila dalam perjalanan bersama rombongan, lalu mereka jaga kemudian tidur, maka ia bangun pada waktu sahur baik dalam keadaan susah mapun dalam keadaan lapang.

AlHaitsami mengatakan dalam Majma’ az-Zawaa-id (II/255): Rijaal hadits ini tsiqat (terpercaya).

10.  Ahmad meriwayatkan di dalam Musnad nya VI/22 dari Ibnu Mas’uud ra, dari Nabi n, beliau bersabda:

عَجِبَ رَبُّنَا مِنْ رَجُلَيْنِ ، رَجُلٌ ثَارَ عَنْ وَطْأَتِهِ وَلِحَافِهِ مِنْ بَيْنِ أَهْلِهِ وَحُبِّهِ إِلَى صَلاَتِهِ فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّوَجَلَّ : انْظُرُوْا إِلَى عَبْدِيْ ثَارَ عَنْ فِرَاشِهِ وَوَطْأَتِهِ مِنْ بَيْنِ حُبِّهِ وَأَهْلِهِ إِلَى صَلاَتِهِ رَغْبَةً فِيْمَا عِنْدِيْ وَشَفَقَةً مِمَّا عِنْدِيْ ، وَرَجُلُ غَزَا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَانْهَزَمَ أَصْحَابُهُ وَعَلِمَ مَا عَلَيْهِ فِي اْلانْهِزَامِ وَمَالَهُ فِي الرُّجُوْعِ ، فَرَجَعَ حَتَّى يُهْرِيْقَ دَمَهُ فَيَقُوْلُ اللهُ : انْظُرُوْا إِلَى عَبْدِيْ رَجَعَ رَجَاءً فِيْمَا عِنْدِيْ وَشَفَقَةً مِمَّا عِنْدِيْ حَتَّى يُهْرِيْقَ دَمَهُ

Rabb (tuhan) kita ta’ajub dengan dua orang, (pertama) orang yang bangkit dari kasur dan selimutnya di antara istri yang ia cintai, menuju shalat. Maka Allah azza wa jalla berfirman: Lihatlah hambaKu, ia bangkit dari kasur dan tempat tidurnya di antara istri yang ia cintai, menuju shalat karena lebih senang dengan apa yang ada di sisiKu, dan (yang kedua) orang yang berperang di jalan Allah, lalu kawan-kawannya kocar-kacir, dan ia mengetahui dirinya dalam keadaan kalah dan dia tidak ada peluang lagi untuk kembali, namun dia tetap kembali lagi sehingga ia menumpahkan darahnya. Maka Allah berfirman: Lihatlah hambaKu, ia kembali karena mengharapkan apa yang ada di sisiKu dan karena takut terhadap apa yang ada di sisiKu sehingga dia tumpahkan darahnya.

Ahmad Syakir mengatakan: (Hadits ini) isnaadnya shahih. Dan al-Haitsamiy mengatakan di dalam Majma’ az-Zawaaid (II/255): Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’laa, juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir dengan sanad hasan, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al Hakim secara ringkas, dan ia mengatakan, “(Hadits ini) isnadnya shahih. Ibnu an-Nuhas mengatakan, “Seandainya dalam masalah ini tidak ada hadits lain selain hadits yang shahih ini, maka cukuplah bagi kami hadits ini sebagai dalil atas keutamaan in-ghimaas (menceburkan diri ke dalam barisan musuh), wallaahu a’lam.

11.  Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannaf-nya (V/289) dari Zaid bin Dhabyan, ia riwayatkan secara secara marfuu’, dari Abu Dzar radhiyallaahu ‘anhu-, dari Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

ثَلاَثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللهُ ، فَذَكَرَ أَحَدَهُمْ كَرَجُلٍ كَانَ فِيْ سَرِيَةٍ فَلَقَوا الْعَدُوَّ فَهُزِمُوْا فَأَقْبَلَ بِصَدْرِهِ حَتَّى يُقْتَلَ أَوْ يُفْتَحَ لَهُ

Ada tiga orang yang Allah cintai: lalu Rasulullah menyebutkan salah satunya adalah seseorang yang berada di dalam sebuah sariyyah (ekspedisi perang) lalu mereka berjumpa dengan musuh dan mereka kalah. Lalu ia maju dengan dadanya sehingga dia terbunuh atau menang.

Hadits ini diriwayatkan oleh alHakim, dan ia mengatakan: (Hadits ini) shahihul isnad. Dan diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubarak dalam Kitaabul Jihaad (I/84) akan tetapi dengan lafadz:

رَجُلٌ كَانَ فِيْ فِئَةٍ أَوْ سَرِيَةٍ فَانْكَشَفَ أَصْحَابُهُ فَنَصَبَ نَفْسَهُ وَنَحَرَهَ حَتَّى قُتِلَ أَوْ يُفْتَحَ لَهُ

Seseorang yang berada dalam sebuah sariyyah (ekspedisi perang) lalu kawan-kawannya kocar-kacir lalu ia memasang diri dan lehernya sehingga ia terbunuh atau menang.

12. Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, ia mengatakan,                  “Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مِنْ خَيْرِ مَعَاشِ النَّاسِ لَهُمْ ، رَجُلٌ مُمْسِكٌ عَنَانَ فَرَسِهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ، يَطِيْرُ عَلَى مَتْنِهِ ، كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً أَوْ فَزْعَةً طَارَ عَلَيْهِ ، يَبْتَغِي الْقَتْلَ ، أَوِ الْمَوْتَ مَظَانَّهُ

Di antara sebaik-baik penghidupan manusia adalah seseorang yang memegang kendali kudanya di jalan Allah dan ia terbang di atas punggungnya, setiap kali dia mendengar hai’ah (suara yang menakutkan dari musuh) atau faz’ah (sesuatu yang menakutkan) ia terbang ke sana mencari pembunuhan atau kematian di tempatnya.

Hadits ini dan hadits di bawahnya adalah dalil yang menunjukkan bahwasanya mencari kematian dan syahaadah secara sendirian itu adalah disyariatkan dan terpuji.

13. Abu ‘Awaanah meriwayatkan di dalam Musnad-nya (V/59) dengan lafadz,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ أَحْسَنُ النَّاسِ فِيْهِمْ ، رَجُلٌ آخِذٌ بِعَنَانِ فَرَسِهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ، كُلَّمَا سَمِعَ بِهَيْعَةٍ اسْتَوَى عَلَى مَتْنِهِ ، ثُمَّ طَلَبَ الْمَوْتَ مَظَانَّهُ

Akan datang kepada manusia sebuah masa di mana sebaik-baik orang ketika itu adalah seseorang yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, setiap kali dia mendengar hai’ah (suara yang menakutkan dari musuh) ia di duduk di atas punggungnya, kemudian dia mencari kematian di tempatnya.

14. Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Anas radhiyallaahu ‘anhu-, ia mengatakan,  “Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bertolak dengan para shahabat beliau sampai dapat mendahului orang-orang musyrik sampai ke Badar, kemudian datanglah orang-orang musyrik, maka Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ يُقْدِمَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلَى شَيْءٍ حَتَّى أَكُوْنَ أَنَا دُوْنَهُ

Janganlah ada seseorang yang mendahuluiku kepada sesuatu sampai aku berada di depannya.

Maka orang-orang musyrikpun mendekat, maka Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

قُوْمُوْا إِلَى جَنٍّة عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ

Bangkitlah kalian menuju jannah (surga) yang luasnya seluas langit dan bumi.

Maka ‘Umair bin Hammaam pun mengatakan, “Wahai Rasulullah luasnya seluas langit dan bumi?” Beliau menjawab, “Ya.” ‘Umairpun mengatakan, “Bakhinbakhin!” Maka Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bertanya, “Kenapa kamu mengatakan ‘bakhin…bakhin’?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, hal itu tidak lain hanyalah karena aku berharap termasuk di antara orang yang menjadi penghuninya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk di antara orang yang menjadi penghuninya.” Maka iapun mengeluarkan beberapa buah korma dari tabung tempat anak panahnya, lalu ia memakannya, kemudian ia mengatakan, “Jika aku hidup sampai aku selesai memakan seluruh kormaku, itu adalah hidup yang terlalu lama.” Maka iapun membuang korma yang dia bawa, kemudian memerangi mereka sampai ia –radhiyallaahu ‘anhu- terbunuh.

Dan yang dijadikan landasan dalil di dalam hadits ini adalah bahwasanya Rasulullah              –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan para shahabatnya agar mereka jangan berperang di Badar kecuali dalam barisan, dan ketika itu beliau meluruskan dada mereka dengan tombak sampai tidak ada seorangpun yang lebih menonjol dalam barisan. Namun tatkala ‘Umar mendengar sebuah keutamaan, ia bertolak dari barisan dan menceburkan diri ke dalam barisan musuh sendirian. Dan Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak mengingkari perbuatannya tersebut meskipun dipastikan hasil dari perbuatannya itu adalah kematian.

15. Dan juga di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat riwayat dari Anas bin Malik –radhiyallaahu ‘anhu-, ia mengatakan, “Pamanku Anas bin an-Nadhr tidak mengikuti perang Badar, maka ia mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, saya tidak mengikuti perang pertama kali yang engkau lakukan terhadap orang-orang musyrik. Seandainya Allah mentaqdirkanku mengikuti sebuah peperangan melawan orang-orang musyrik, pasti Allah akan memperlihatkan apa yang akan saya perbuat.’ Maka tatkala perang Uhud, dan kaum muslimin kocar-kacir, ia mengatakan, ‘Ya Allah, aku memohon ampun tehadap apa yang dilakukan oleh mereka -maksudnya adalah para shahabatnya- dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka -maksudnya adalah orang-orang musyrik-.’ Kemudian dia maju dan berpapasan dengan Sa’ad bin Mu’adz, maka ia berkata, ‘Wahai Mu’adz, demi Rabb (tuhan)-nya an-Nadhr, aku mencium bau jannah (surga) dari balik Uhud.’ Sa’ad mengatakan, ‘Aku tidak mampu melakukan apa yang ia lakukan wahai Rasulullah.’ Anas berkata, ‘Lalu kami dapatkan padanya terdapat delapan puluh lebih tebasan pedang atau tusukan tombak atau lemparan anak panah, maka kami dapatkan dia telah terbunuh dan dia telah dicincang oleh orang-orang musyrik, sehingga tidak ada yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya dari jari-jarinya.” Maka Anas mengatakan, ‘Kami berpendapat atau mengira bahwa ayat berikut adalah turun berkenaan dengan dia dan orang-orang yang semacam dia,

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَاعَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ

Di antara orang-orang beriman itu ada orang-orang yang menepati janji mereka kepada Allah… sampai akhir ayat. (al-Ahzab : 23)

Lafadh ini diriwayatkan oleh al-Bukhari.

16. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubra (IX/100) dengan isnad shahih, dari Mujahid, ia mengatakan, Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengutus ‘Abdullah bin Mas’ud dan Khabab dalam sebuah sariyyah, dan beliau mengutus Dahiyyah sendirian dalam sebuah sariyyah.

Hadits ini dan hadits yang setelahnya adalah dalil yang menunjukkan tingkat bahaya yang tinggi di dalam aksi-aksi jihad tidaklah diperhitungkan, akan tetapi tetap saja aksi tersebut disyari’atkan dan setiap kali bertambah bahayanya, bertambah pula pahalanya, dan hal ini akan dapat dipahami di sela-sela kajian ini.

17. Al-Baihaqi juga meriwayatkan (IX/100), ia mengatakan, “Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengutus ‘Amr bin Umayyah beserta seseorang dari kaum Anshar dalam sebuah sariyyah, dan beliau mengutus ‘Abdullah bin Unais dalam sebuah sariyyah sendirian.

18. Al-Baihaqi juga meriwayatkan di dalam As-Sunan al-Kubra (IX/100), bahwasanya asy-Syaafi’i mengatakan, “Ada seorang Anshar yang tertinggal dari kawan-kawannya yang terbantai di Bi’ru Ma’uunah, lalu ia melihat burung berkerumun di tempat terbunuhnya para shahabatnya, maka dia mengatakan kepada ‘Amr bin Umayyah, “Aku akan maju memerangi musuh-musuh itu, sampai mereka membunuhku, dan aku tidak akan menghindar dari sebuah peristiwa yang menyebabkan terbunuhnya para shahabatku.” Maka iapun melaksanakan apa yang ia katakan tersebut. Kemudian ‘Amr bin Umayyah kembali dan menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, maka Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengucapkan kata-kata yang baik mengenai dirinya. Dan dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada ‘Amr, “Kenapa kamu tidak maju?”

Dalam hadits ini disebutkan bahwasanya Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak mengingkari orang yang maju menyerang padahal dia mengetahui bahwasanya ia akan terbunuh, bahkan beliau memberi dorongan kepada orang yang kembali, agar maju sampai terbunuh sebagaimana kawan-kawannya.

19. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (III/1008) dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, ia mengatakan, “Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengutus sepuluh orang dalam sebuah sariyyah sebagai mata-mata. Dan beliau mengangkat ‘Ashim bin Tsabit al-Anshari yang merupakan kakek dari ‘Ashim bin ‘Umar, sebagai pemimpin mereka. Lalu  mereka bertolak sehingga ketika mereka sampai Had’ah, sebuah tempat antara ‘Asfan dan Makkah. Mereka didengar oleh sebuah kampung dari bangsa Hudzail yang bernama Bani Lihyan. Maka Bani Lihyan pun mengejar mereka dengan jumlah personal kurang lebih dua ratus orang. Semuanya ahli memanah. Bani Lihyan tersebut pun mengikuti jejak mereka sehingga Bani Lihyan mendapatkan korma makanan mereka yang mereka bawa dari Madinah. Maka mereka mengatakan, ‘Ini adalah korma Yatsrib (Madinah).’ Lalu Bani Lihyanpun mengikuti jejak mereka. Maka tatkala ‘Ashim dan shahabat-shahabatnya melihat Bani Lihyan, mereka berlindung ke sebuah dataran tinggi, dan merekapun dikepung oleh Bani Lihyan. Lalu Bani Lihyan mengatakan kepada mereka, ‘Turunlah kalian dan berikanlah tangan kalian dan kalian akan kami jamin dan kami tidak akan membunuh seorangpun di antara kalian.’ ‘Ashim bin Tsabit selaku pimpinan sariyyah mengatakan, ‘Adapun saya, demi Allah pada hari ini aku tidak akan mau turun dan berada di bawah dzimmah (perlindungan dan kekuasaan) orang kafir. Ya Allah sampaikanlah berita kami kepada Nabi-Mu.’ Maka Bani Lihyan pun memanahi mereka sehingga mereka dapat membunuh ‘Ashim bin Tsabit dan yang lainnya yang berjumlah tujuh orang. Kemudian tiga orang lainnya turun dengan jaminan keamanan. Di antara mereka adalah Khubaib al-Anshari, Ibnu Datsnah dan satu orang lainnya. Lalu tatkala mereka telah dikuasai, Bani Lihyan melepaskan tali busur mereka kemudian mengikat mereka dengan tali tersebut. Maka orang yang ketiga mengatakan, ‘Ini adalah pengkhianatan yang pertama. Demi Allah aku tidak akan menyertai kalian, sesungguhnya mereka itu adalah suri tauladan yang baik.” Yang dia maksud adalah kawan-kawannya yang terbunuh. Lalu Bani Lihyan pun menyeretnya dan berusaha untuk membawanya akan tetapi ia menolak, maka Bani Lihyan pun membunuhnya, lalu Bani Lihyan pergi dengan membawa Khubaib dan Ibnu Datsnah sampai akhirnya Bani Lihyan menjual mereka berdua kepada penduduk Mekah.

20. Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, dalam Kitaabul Jihaad, sebuah hadits dari Anas bin Malik, bahwasanya pada waktu perang Uhud Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- terpisah bersama dengan tujuh orang Anshar dan dua orang Quraisy, maka tatkala mereka (musuh) mendekati beliau, beliau bersabda,

مَنْ يَرُدُّهُمْ عَنَّا وَلَهُ الجَنَّةُ أَوْ هُوَ رَفِيْقِيْ فِي الجَنَّةِ ؟

Siapa yang dapat mengusir mereka dari kami, maka baginya adalah jannah  (surga), atau dia menjadi teman dekatku di jannah (surga)?

Maka majulah satu orang dari Anshar, lalu ia berperang sampai ia terbunuh. Kemudian mereka (musuh) mendekati beliau lagi. Maka beliau bersabda,

مَنْ يَرُدُّهُمْ عَنَّا وَلَهُ الجَنَّةُ أَوْ هُوَ رَفِيْقِيْ فِي الجَنَّةِ ؟

Siapa yang dapat mengusir mereka dari kami, maka baginya adalah jannah (surga), atau dia menjadi teman dekatku di jannah (surga)?

Maka majulah satu orang dari Anshar lalu ia berperang sampai terbunuh. Kemudian hal itu terus terjadi sampai tujuh orang tersebut terbunuh. Maka beliau –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada seorang shahabatnya,

مَا أَنْصَفَنَا أَصْحَابُنَا

Shahabat-shahabat kita tidak berbuat adil (telah berkhianat) kepada kita.

21. Ibnu Katsir meriwayatkan di dalam “Al-Bidaayah wa an-Nihaayah” (IV/34), ia mengatakan, “Ibnu Ishaaq berkata, ‘Dan Abu Dujanah membentengi Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dengan dirinya sehingga tombak-tombak mengenai punggungnya sedangkan dia memiringkan tubuhnya kepada beliau sehingga banyak tombak yang mengenai punggungnya.

Hadits ini dan hadits-hadits setelahnya menunjukkan atas bolehnya mengorbankan diri untuk melindungi pemimpin, dan hal ini tidaklah khusus untuk Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- saja, padahal mengorbankan diri untuk melindungi pemimpin itu lebih rendah tingkatannya dari pada mengorbankan diri untuk melindungi dien (agama), maka mengorbankan diri untuk melindungi dien (agama) tentu lebih diperbolehkan?

22. Dan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, pada Manaaqibu Abi Thalhah, disebutkan sebuah riwayat dari Anas –radhiyallaahu ‘anhu-, ia mengatakan, “Ketika perang Uhud manusia lari kocar-kacir dari Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, sedangkan Abu Thalhah berada di hadapan Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- membentengi beliau dengan perisainya. Dan Abu Thalhah adalah seorang ahli memanah dan mempunyai busur yang keras talinya. Pada hari itu dia telah mematahkan dua atau tiga buah busur. Dan ketika itu ada seseorang lewat yang membawa satu kantong anak panah, maka ia mengatakan, “Berikanlah tabung anak panah ini kepada Abu Thalhah.” Maka Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- melongok untuk melihat musuh. Maka Abu Thalhah mengatakan, “Wahai Nabiyullah, demi bapakku, engkau dan ibuku, janganlah engkau melongokkan kepala, engkau nanti bisa terkena anak panah mereka, lindungilah lehermu dengan leherku.”

23. Al-Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari Qais bin Abi Hazim, ia mengatakan, “Aku melihat tangan Thalhah yang digunakan untuk melindungi Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tersebut telah lumpuh.”

24. Dan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Yazid bin Abu ‘Ubaid, ia mengatakan, “Aku bertanya kepada Salamah bin al-Akwa’, “Untuk apa kalian dahulu membaiat Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pada peristiwa Hudaibiyyah?” Ia menjawab, “Untuk mati.”

25. Muslim meriwayatkan dalam Kitaabul Jihaad dan Ahmad (IV/52), dan yang lainnya, dari Salamah bin al-Akwa’, ia berkata, “Pada waktu peristiwa Hudaibiyyah kami kami datang ke Madinah bersama Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Lalu aku bersama Rabaah (budak Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) keluar dengan membawa harta Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Aku keluar dengan menggunakan kuda milik Thalhah bin ‘Ubaidillah, aku hendak memberinya minum bersama dengan onta. Lalu tatkala malam tiba, ‘Abdurrahman bin ‘Uyainah menyergap onta Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dan membunuh penggembalanya. Lalu ia bersama orang-orang yang bersamanya menggiring onta Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- keluar dengan kuda. Maka aku katakan, ‘Wahai Rabaah, duduklah di atas kuda ini, lalu kembalikanlah kuda ini kepada Thalhah, dan beritahukan kepada Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya ternak beliau telah disergap.’ Ia mengatakan, ‘Dan aku berdiri di atas anak bukit, lalu aku hadapkan wajahku ke arah Madinah, kemudian aku berteriak memanggil tiga kali, ,Yaa Shabaahaah.’ (sebuah seruan peringatan akan adanya bahaya-pent.). Ia mengatakan, ‘Kemudian aku mengejar mereka dengan membawa pedang dan tombakku, lalu aku lempari dan melukai mereka ..’ sampai ia mengatakan, ‘Dan aku dengan mereka terus dalam keadaan seperti itu, saya terus mengejar mereka sehingga suasana menjadi gaduh, sampai tidak ada harta yang telah Allah ciptakan untuk Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kecuali aku tinggalkan di belakangku, lalu aku rebut kembali dari tangan mereka. Kemudian aku terus-menerus melempar mereka sehingga mereka membuang lebih dari tiga puluh tombak dan lebih dari tiga puluh selimut supaya beban mereka lebih ringan, dan tidak ada sesuatupun yang  mereka lempar kecuali saya letakkan batu padanya dan saya kumpulkan pada jalan Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Sampai ketika menjelang Dhuha (agak siang) datanglah ‘Uyainah bin Badar al-Fazari memberikan bantuan kepada mereka di bukit Dha’ifah, kemudian aku naik ke atas gunung sehingga aku di atas mereka. Maka ‘Uyainah mengatakan, ‘Ada apa ini? Apa yang saya lihat ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami mendapatkan kesulitan yang kami alami sejak waktu sahur sampai sekarang. Dan dia ambil semua apa yang ada di tangan kami lalu ia taruh di belakangnya.’ Maka ‘Uyainah mengatakan, ‘Seandainya orang ini tidak mengetahui bahwasanya di belakangnya ada bantuan tentu ia akan meninggalkan kalian. Hendaknya di antara kalian berdiri menghadapinya.’ Maka berdirilah empat orang menghadapiku. Mereka mendaki gunung. Ketika aku memperdengarkan suara kepada mereka, aku bertanya kepada mereka, ‘Apakah kalian mengenalku?’ Mereka bertanya, ‘Siapa engkau?’ Aku menjawab, ‘Aku adalah Ibnu al-Akwa’, demi (Allah) yang telah memuliakan wajah Muhammad tidak ada seorangpun diantara kalian yang mengejarku untuk menangkap aku dan tidak ada seorangpun yang aku kejar lalu ia dapat lolos dariku. Maka salah seorang di antara mereka mengatakan, ‘Sungguh aku menyangkanya.’ Ia mengatakan, ‘Belum lagi saya meninggalkan tempat dudukku, tiba-tiba saya melihat kuda-kuda Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- berlari di sela-sela pepohonan. Dan ternyata yang berada di paling depan adalah al-Akhram.’ Lalu ia mengambil kekang kudanya, maka saya katakan, ‘Wahai Akhram, hati-hatilah terhadap mereka, sungguh saya khawatir mereka akan memotong-motongmu, sabarlah sampai Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dan para shahabatnya datang.’ Dia mengatakan, ‘Wahai Salamah, jika engkau beriman kepada Allah dan hari akhir, dan engkau mengetahui bahwasanya jannah (surga) itu benar, dan  naar (neraka) itu benar, maka janganlah engkau halangi aku untuk mendapatkan syahaadah (mati syahid).’ Ia mengatakan, ‘Maka aku hentakkan kekang kudanya sehingga dia mengejar ‘Abdurrahman bin ‘Uyainah, dan iapun disambut oleh ‘Abdurrahman bin ‘Uyainah sehingga keduanya saling menusuk, al-Akhram melukai ‘Abdurrahman dan ‘Abdurrahman menusuknya hingga mati. Kemudian ‘Abdurrahman berpindah ke kuda al-Akhram. Kemudian Abu Qatadah menyusul ‘Abdurrahmaan, lalu keduanya saling menyerang sehingga ia melukai Abu Qatadah dan Abu Qatadah membunuhnya. Kemudian Abu Qatadah berpindah ke kuda al-Akhram. Sampai ia mengatakan, ‘Kemudian aku mendatangi Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dan kukatakan, ‘Wahai Rasulullah, izinkanlah aku memilih seratus orang dari shahabatmu lalu aku akan menyerang orang-orang kafir pada waktu malam sampai tidak ada seorangpun yang menyampaikan berita di antara mereka kecuali akan aku bunuh.’ Beliau bersabda, ‘Apakah engkau dapat melakukan hal itu wahai Salamah?’ Ia mengatakan, ‘Aku jawab, ‘Ya, demi (Allah) yang telah memuliakanmu. Maka Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tertawa sampai aku dapat melihat gigi gerahamnya dengan cahaya api.’ Sampai ia mengatakan, ‘Lalu tatkala telah pagi Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Sebaik-baik pasukan berkuda (kafaleri) kita pada hari ini adalah Abu Qatadah dan sebaik-baik pasukan pejalan kaki (infanteri) kita adalah Salamah. Lalu Rasulullah memberiku bagian dari ghanimah sebanyak jatah seorang prajurit yang berjalan kaki dan sekaligus jatah seorang prajurit berkuda.

Di dalam hadits ini Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- memuji apa yang dilakukan oleh Salamah, dan beliau tidak mengingkarinya yang memerangi orang-orang kafir secara sendirian dan melakukan penyerangan tanpa izin Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Dan beliau juga tidak mengingkari al-Akhram yang memerangi orang-orang kafir secara sendirian. Maka hal ini menunjukkan atas bolehnya berperang tanpa seizin imam, dan bolehnya memerangi musuh padahal jumlah dan perlengkapannya jauh berbeda, meskipun tidak dalam keadaan terpaksa.

26. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubra, Kitaabus Siar (IX/44) dan lainnya, ia mengatakan, “Dan pada perang al-Yamamah ketika Bani Hanifah berbenteng di sebuah kebun yang dikenal dengan Hadiiqatur Rahman atau Hadiiqatul Mauut, al-Barra’ bin Malik mengatakan kepada para shahabatnya, ‘Letakkanlah diriku dalam jufnah -yaitu sebuah tameng yang terbuat dari kulit yang biasanya diletakkan batu padanya kemudian dilemparkan kepada musuh- lalu lemparkanlah aku.” Maka shahabat-shahabatnyapun melemparkannya kepada musuh lalu ia memerangi mereka sendirian dan berhasil membunuh sepuluh orang di antara mereka dan membuka pintu benteng. Dan pada hari itu dia mendapatkan luka lebih dari delapan puluh luka. Sampai ia dapat membukakan pintu benteng untuk kaum muslimin. Dan tidak ada seorang shahabatpun yang mengingkari perbuatannya itu. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Dan sikap shahabat yang membiarkan perbuatan tersebut menunjukkan atas diperbolehkannya segala aksi jihad meskipun dipastikan akan binasa.

27. Jama’ah menyebutkan riwayat dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syamas, tatkala kaum muslimin kocar-kacir pada perang al-Yamamah, Salim seorang budak Abu Hudzaifah mengatakan, “Tidak begini yang kami lakukan bersama Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Lalu ia menggali lubang untuk dirinya sendiri, lalu ia berdiri di dalamnya dengan membawa bendera Muhajiriin ketika itu. Lalu ia berperang sampai terbunuh pada perang al-Yamaamah sebagai seorang yang syahid.

Riwayat ini dan yang setelahnya menunjukkan bahwasanya tetap bertahan itu dianjurkan meskipun hal itu menyebabkan kematian. Dan Salim telah menyatakan bahwa perbuatannya itu ia lakukan tatkala bersama Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

28. Ibnu Jariir meriwayatkan dalam Taariikh-nya (II/151) ketika perang Mu’tah Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “…kemudian bendera diambil oleh Ja’far bin Abu Thalib, lalu ia berperang dengan membawa bendera tersebut, sampai ketika ia telah mendekati kancah peperangan, ia turun dari kudanya yang berwarna pirang dan menyembelihnya. Kemudian ia memerangi musuh sampai ia terbunuh. Maka Ja’far adalah orang Islam yang pertama kali menyembelih kudanya di masa Islam.”

29. Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dalam Taariikhu Dimaysqa (67/101) dengan sanadnya dari ‘Uqbah bin Qais al-Kilaabi, bahwasanya ada seseorang yang mengatakan kepada Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallaahu ‘anhu- ketika perang Yarmuk, “Aku sudah bertekad untuk menyerang mereka, lalu apakah kalian mau menyampaikan sesuatu dariku kepada Nabi kalian –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-?” Lalu ia mengatakan, “Sampaikan salamku kepadanya, dan beritahukan kepadanya bahwasanya kami benar-benar telah mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepada kami.”

Riwayat ini dan semua riwayat setelahnya menunjukkan bahwasanya menceburkan diri ke dalam barisan musuh yang mengakibatkan kematian itu merupakan permasalahan yang sudah masyhur di kalangan para shahabat dan tabi’in.

30. Ibnu Jarir meriwayatkan dalam Taariikhnya (II/338), ketika membahas kejadian perang Yarmuk, dan tatkala perang terus berlangsung secara berkepanjangan ia mengatakan, “Ketika itu ‘Ikrimah bin Abu Jahal mengatakan, ‘Aku telah memerangi Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- di setiap peperangan, lalu apakah pada hari ini aku akan lari dari kalian -maksudnya adalah dari orang-orang Romawi- ?” Kemudian ia mengajak orang yang mau berbaiat kepadanya untuk mati. Maka al-Harits bin Hisyam dan Dhirar bin al-Azwar membaiatnya dengan orang-orang lainnya yang berjumlah empat ratus orang dari kaum muslimin  yang terpandang dan ahli menunggang kuda. Lalu mereka memerangi pasukan yang berhadapan dengan pasukan Khalid sehingga mereka semua terluka dan terbunuh kecuali yang sembuh yang di antaranya adalah Dhirar bin al-Azwar. Ia berkata, “Dan pada pagi harinya Khalid datang membawa ‘Ikrimah bin Abu Jahal yang dalam keadaan terluka, lalu ia letakkan kepalanya dia atas pahanya, dan juga ‘Amr bin ‘Ikrimah dan ia letakkan kepalanya di atas betisnya, lalu ia mengusap wajah keduanya dan menetesi tenggorakan keduanya dengan air. Lalu ia mengatakan,

كَلاَّ زَعَمَ ابْنُ الْحَنْتَمَة أَنَّا لاَ نَسْتَشْهَدُ.

Tidak, Ibnul Hantamah (julukan jeleh ‘Umar) menganggap bahwasanya kami tidak mati syahid.

31. Ibnu al-Mubarak meriwayatkan di dalam Kitabul Jihaad (I/88) dan al-Baihaqi  dalam Sunan-nya (IX/44) dari Tsabit, bahwasanya ‘Ikrimah bin Abu Jahal radhiyallaahu ‘anhu- berjalan kaki (tidak menggunakan kendaraan) pada suatu peperangan. Maka Khalid bin al-Walid mengatakan kepadanya, “Jangan kau berbuat seperti itu, karena kematianmu akan memberatkan kaum muslimin.” Maka ia mengatakan, “Tinggalkan aku wahai Khalid, karena sesungguhnya engkau telah mempunyai amalan sebelumnya bersama Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, adapun aku dan bapakku, dahulu kami adalah termasuk orang yang paling keras terhadap Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.” Maka iapun berjalan sampai ia terbunuh.

32. Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Bakar bin ‘Abdullah bin Qais, dari bapaknya, ia berkata, “Aku telah mendengar bapakku mengatakan ketika dia menghadapi musuh bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ

Sesungguhnya pintu-pintu jannah (surga) itu berada di bawah naungan pedang.

Maka berdirilah seseorang yang berpenampilan kusut, lalu ia mengatakan, “Wahai Abu Musa, apakah engkau mendengar Rasulullah mengatakan seperti itu?” Ia menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Maka ia kembali kepada kawan-kawannya lalu mengatakan, ‘Saya ucapkan salam (perpisahan) kepada kalian.” Kemudian ia mematahkan sarung pedangnya dan membuangnya, kemudian dia berjalan menuju musuh dan menebaskannya sampai ia terbunuh.

33. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dalam Taariikh-nya (V/194), bahwa ‘Abdullah bin Zubair –radhiyallaahu ‘anhuma- pada perang Jamal berduel dengan al-Asytar an-Nakha’i, lalu keduanya sama-sama terkena sabetan pedang, dan tatkala ‘Abdullah melihat bahwasanya al-Asytar akan lolos darinya, ia mengeluarkan kata-kata yang terkenal, “Bunuhlah aku dan Malik!” Asy-Sya’bi mengatakan, “Sesungguhnya manusia tidak mengenal al-Asytar dengan nama Maalik. Dan seandainya Ibnu az-Zubair mengatakan, ‘Bunuhlah aku dan al-Asytar, sedangkan al-Asytar memiliki satu juta nyawa pasti dia tidak satupun nyawanya yang selamat.” Kemudian ia terus meronta di tangan Ibnu az-Zubair sampai akhirnya dia lepas.

Permintaan az-Zubair –radhiyallaahu ‘anhuma- kepada para shahabatnya agar membunuh dirinya bersama al-Asytar ini merupakan dalil atas diperbolehkannya membunuh diri sendiri untuk kepentingan dien (agama) jika dalam kondisi memerlukan.

34. Al-Qurthubi menyebutkan dalam Tafsir-nya (II/363), bahwasanya tatkala pasukan kaum muslimin bertemu dengan Persi, kuda-kuda kaum muslimin lari dari gajah-gajah (orang-orang Persi). Dan ini terjadi ketika perang al-Jisr. Lalu ada salah seorang dari kaum muslimin yang membuat patung gajah dari tanah, lalu ia melatih kudanya dengan patung gajah agar terbiasa sehingga tidak takut terhadap gajah. Maka tatkala pagi hari kudanya sudah tidak lari lagi dari gajah. Maka iapun menyerang gajah yang memimpin gajah-gajah yang lain. Lalu ada yang mengatakan kepadanya, “Ia akan membunuhmu.” Dia menjawab, “Tidak mengapa aku terbunuh dan kaum muslimin menang.”

35. Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dalam Taariikhu Dimasqa (XXIV/220) dengan sanad jayyid, dari ‘Abdurahmaan bin al-Aswad ‘Abdu Yaghuuts, bahwasanya mereka mengepung Damaskus, dan ada seseorang dari Asad Syanu’ah yang dengan cepat ia bertolak ke arah musuh sendirian untuk menghadapi mereka. Lalu kaum muslimin mencelanya. Dan perbuatannya itu disampaikan kepada ‘Amr bin al-‘Aash –radhiyallaahu ‘anhu- yang mana ia ketika itu adalah salah satu anggota pasukan kaum muslimin. Maka ‘Amr pun mengirim surat kepadanya sebagai jawaban. ‘Amr mengatakan, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan berbaris seolah-olah mereka adalah bangunan yang kokoh,” dan ia juga mengatakan, “Dan janganlah kalian menceburkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” Maka orang tersebut mengatakan, “Wahai ‘Amr, aku ingatkan kamu dengan Allah yang telah mendapatkanmu sebagai pemimpin kekafiran lalu menjadikanmu sebagai pemimpin Islam, janganlah engkau menghalangiku dari suatu perkara yang telah aku tetapkan dalam jiwaku. Sesungguhnya aku ingin berjalan sampai ini hilang.” Dan ia menunjuk kepada gunung salju. Maka iapun terus menyumpah ‘Amr sampai ‘Amr membiarkannya berjalan, maka iapun bertolak sampai waktu sore, dan sampai menjelang malam berada di hadapan musuh. Kemudian dia kembali. Maka kaum muslimin berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikanmu dan menunjukkanmu kepada sesuatu yang lain dari apa yang menjadi pandanganmu sebelumnya.” Ia mengatakan, “Sesungguhnya aku tidaklah berpaling dari apa yang sebelumnya ada di dalam jiwaku, akan tetapi karena saya lihat telah sore dan saya khawatir aku binasa dengan sia-sia.” Maka tatkala keesokan harinya ia berangkat menuju musuh sendirian, lalu ia berperang sampai ia terbunuh -semoga Allah merahmatinya-. Ibnu an-Nuhas berkata, “Kisah ‘Amr bin al-‘Ash bersama orang ini mirip dengan kisah Salamah bin al-Akwa’ bersama al-Akhram al-Asadi –radhiyallaahu ‘anhuma-.”

36. Dan juga sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Abu al-Hajjaaj al-Mizi al-Haafidz, dan Ibnu ‘Asakir dalam Taariikhu Dimasyqa (X/149), dari Ismail bin ‘Ayyasy, dari Abu Bakar bin Maryam, dari al ‘Allaa’ bin Sufyan al-Hadhrami -riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Hibban dan ia diam tidak mengomentarinya-, ia mengatakan, “Bisr bin Artha’ah -ia diperselisihkan apakah ia seorang shahabat atau bukan- berperang melawan Romawi lalu pasukan bagian belakangnya senantiasa terkena anak panah, maka ia membuat perangkap untuk menjebak mereka, lalu perangkapnyapun tepat sasaran. Maka tatkala ia melihat hal itu ia menjadikan dirinya tertinggal dari pasukannya yang berjumlah seratus orang. Maka ketika pada suatu hari ia berada di sebuah lembah Romawi, ia melihat ada sekitar tiga puluh kuda yang terikat, sedangkan di sampingnya ada sebuah gereja yang di dalamnya terdapat para pemilik kuda tersebut yang telah menyerang pasukannya yang ada di bagian belakang. Maka ia turun dari kudanya dan menambatkannya. Kemudian dia masuk ke dalam gereja dan menutup pintunya sehingga dirinya dan mereka terkurung di dalam gereja tersebut. Maka apa yang ia perbuat itu menjadikan orang-orang Romawi terkejut, lalu belum sempat mereka mengambil tombak, ia sudah mengalahkan tiga orang di antara mereka. Sedangkan para shahabatnya mencarinya, lalu mereka datang dan mereka mengetahuinya dari kudanya dan mereka mendengar kegaduhan dalam gereja tersebut. Lalu mereka mendatanginya tapi mereka mendapatkan pintunya tertutup. Maka mereka membongkar sebagian atap dan mereka turun ke tempat mereka berada, sedangkan Bisr sedang memegang beberapa ususnya dengan tangannya sedangkan pedang di tangan kanannya. Tatkala para shahabatnya telah menguasai gereja tersebut Bisr jatuh pingsan. Maka para shahabatnya mengadapi mereka lalu menawan dan membunuh mereka. Maka para tawanan itu menghadap para shahabat Bisr tersebut dan bertanya, ‘Kami menyumpah kalian atas nama Allah (untuk menjawab pertanyaan kami), siapakah orang ini?’ Para shahabat Bisr menjawab, ‘Ini adalah Bisr bin Artha’ah.’ Maka mereka mengatakan, ‘Demi Allah tidak ada seorang perempuanpun yang melahirkan orang seperti dia.’ Lalu para shahabat Bisr menuju ususnya dan mengembalikannya ke dalam lambungnya dan tidak ada sedikitpun ususnya yang robek. Kemudian mereka membalutnya dengan serban mereka dan membawanya lalu mereka menjahitnya sehingga ia selamat dan sembuh.

Bisr ini adalah orang yang pemberani dan pahlawan dari umat ini (Islam). Yazid bin Abu Hubaib mengatakan,  “Bisr adalah orang yang ahli pedang, dan berapa banyak kemenangan yang Allah berikan melalui tangannya.”

37. Dan disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwsanya ‘Umar –radhiyallaahu ‘anhu- menulis surat kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Berikanlah dua ratus dinar kepada orang yang ikut serta dalam peristiwa Hudaibiyah, dan berikanlah secara sempurna kepada dirimu sendiri dan kepada Kharijah bin Hudzafah karena dia telah memberikan jamuan, dan kepada Bisr bin Artha’ah karena keberaniannya.”

38. Al-Mizi juga meriwayatkan dengan isnaadnya dari Muhammad bin Ishaaq dan Ibnu Sam’aan, dari beberapa Syaikh, ia menceritakan kisah pengepungan Damaskus. Mereka mengatakan, “… dan datanglah seseorang dari kaum muslimin sampai ke sungai sebelum Himsh dan setelah biara Mishal, maka iapun memberi minum kudanya. Lalu ada sekitar tiga puluh orang dari penduduk Himsh mendatanginya. Mereka melihat kepada orang yang sendirian tersebut. Maka orang tersebut menceburkan kudanya dan mendatangi mereka dengan menyeberang air, lalu ia menyerang mereka. Kemudian ia membunuh penunggang kuda yang pertama, kemudian yang kedua, kemudian yang ketiga. Kemudian ia mengejar mereka dan membunuh satu persatu sampai ke biara Mishal, sedangkan mereka telah terbunuh sebelas orang dari pasukan berkuda mereka. Kemudian ia masuk ke dalam biara dan masuk bersama mereka, maka para penghuni biara itu melemparinya dengan batu sehingga ia mati -semoga Allah merahmatinya-.

38. Dan al-Baihaqi meriwayatkan dengan isnad-nya, dari Sayyar bin Malik, ia mengatakan, “Aku telah mendengar Malik bin Dinar mengatakan, ‘Tatkala perang az-Zawiyyah, ‘Abdullah bin Ghalib mengatakan, ‘Sungguh aku melihat sesuatu yang aku tidak dapat bersabar atasnya. Marilah pergi bersamaku menuju jannah (surga).” Ia (Malik bin Dinar) mengatakan, ‘Maka ia (‘Abdullah bin Ghalib)pun mematahkan sarung pedangnya, lalu ia maju dan berperang sampai terbunuh. Ia (Malik bin Dinar) mengatakan, “Dan dari kuburnya didapatkan bau kasturi.” Malik mengatakan, “Maka aku bertolak ke kuburannya lalu aku ambil tanah dari kuburannya kemudian aku cium tanah tersebut lalu aku dapatkan bau kasturi dari tanah tersebut.”

39. Ath-Tharthusi, al-Qurthubi dan yang lain juga meriwayatkan, mereka mengatakan, ‘Raja Romawi keluar dari Kostantinopel bersama enam ratus ribu pasukan sukarelawan perang. Barisan mereka tidak tercakup oleh pandangan mata dan jumlah mereka tidak terhitung, akan tetapi mereka adalah kataa-ib (batalyon-batalyon) yang sambung-menyambung, ‘asyaakir (laskar-laskar) yang berdesak-desakan, dan karoodiis (pasukan berkuda yang besar) yang sambung-menyambung seperti gunung-gunung yang menjulang tinggi. Dan mereka telah mempersiapkan senjata, kuda dan berbagai peralatan untuk membuka pintu benteng-benteng, yang mana semua itu tidak dapat diceritakan (betapa besarnya). Mereka di bagi-bagi perwilayah, yang mana setiap satu wilayah mereka kirim seratus ribu pasukan. Al-‘Ajam dan Irak mereka serahkan kepada seorang raja, negeri-negeri Mudhar dan negeri-negeri Rabi’ah diserahkan kepada seorang raja. Mesir dan daerah Maghrib (Maroko) diserahkan kepada seorang raja. Hijaaz dan Yaman diserahkan kepada seorang raja. India dan Cina diserahkan kepada seorang raja, dan Romawi diserahkan kepada seorang raja. Maka hal ini menjadikan raja-raja Islam terjepit dan sangat takut, dan mereka banyak mengeluh dan sebagian lain melarikan diri dari hadapan mereka dan membiarkan mereka menguasai negeri.

Pada waktu itu Raja Alib Arsalan at-Turki, yang berkuasa di Irak ketika itu, mengumpulkan para pembesar kerajaan dan mengatakan kepada mereka, “Kalian telah mengetahui apa yang telah menimpa kaum muslimin, lalu apa pendapat kalian?” Mereka menjawab, “Kami mengikuti pendapatmu, sedangkan pasukan tersebut tidak ada yang dapat membendungnya.” Ia mengatakan, “Lalu kemana kita hendak lari? Tidak ada pilihan selain mati, maka matilah dalam keadaan mulia, itu lebih baik.” Mereka mengatakan, “Jika engkau telah menyerahkan jiwamu, maka nyawa-nyawa kami adalah tumbal bagimu.” Maka merekapun bertekad untuk menghadang pasukan musuh tersebut. Dan ia mengatakan, “Kita hadang mereka pada perbatasan negeriku.” Maka berangkatlah dua puluh ribu orang-orang mulia, pemberani dan terpilih. Tatkala telah berangkat satu tahap dari perjalanan ia memeriksa pasukannya, ternyata ia dapatkan jumlah mereka ada lima belas ribu dan yang lima ribu kembali pulang. Dan tatkala telah berjalan dua tahap dari perjalanan ia memeriksa pasukannya, ternyata ia dapatkan jumlah mereka dua belas ribu.

Lalu tatkala ia berhadapan dengan mereka pada waktu pagi hari, ia melihat sesuatu yang mencengangkan akal dan membingungkan pikiran, ia melihat jumlah kaum muslimin ibarat satu titik putih yang berada pada banteng yang berwarna hitam. Lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya aku berniat untuk memerangi mereka setelah mata hari condong (ke barat).” Mereka bertanya, “Kenapa?” Ia menjawab, “Karena pada saat itu tidak ada sebuah mimbarpun yang berada di muka bumi kecuali mendo’akan kemenangan untuk kita.” Karena ketika itu adalah hari Jum’at. Maka mereka mengatakan, “Silahkan.” Maka tatkala matahari telah condong, ia shalat, dan mengatakan, “Hendaknya setiap orang berpamitan dan berwasiat kepada kawannya.” Maka merekapun melakukan hal itu. Lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya aku bertekad untuk menyerbu, maka serbulah bersamaku dan lakukanlah sebagaimana yang saya lakukan.”

Lalu orang-orang membuat barisan dua puluh barisan. Setiap barisan tidak terlihat kedua ujungnya. Kemudian ia mengatakan, “Dengan nama Allah dan atas izin Allah, seranglah bersamaku. Dan janganlah kalian menebaskan pedang atau memanah sampai aku melakukannya.” Dan iapun menyerbu, maka merekapun menyerbu bersamanya dengan serempak sehingga merobek barisan orang-orang musyrik satu barisan demi satu barisan dan tidak berhenti sehingga mereka sampai di tenda raja, maka ia berhenti. Dan mereka mengepungnya padahal ia tidak menyangka sama sekali akan ada orang yang dapat mencapai tempatnya. Dan ia tidak menyadari hal itu sampai ia ditangkap dan mereka membunuh semua orang yang berada di sekitarnya, dan mereka memenggal sebuah kepala, lalu mengangkatnya dengan tombak, kemudian mereka berteriak, “Raja telah terbunuh!!” Maka merekapun lari tunggang-langgang, dan mereka tidak memperhatikan apa-apa sama sekali, lalu mereka menebaskan pedang-pedang mereka kepada orang-orang musyrik sampai beberapa hari sehingga tidak ada yang selamat kecuali satu orang yang terbunuh atau seorang tawanan.

40. Ath-Tharthusi mengatakan di dalam “Siraaj al-Muluuk, dan al-Qurthubi dalam “at-Taariikh-nya, bahwasanya Thariq masuk ke Andalusia bersama seribu tujuh ratus orang. Dan ketika itu Tadzfiir adalah wakil dari al-Ladzriiq, lalu ia memerangi mereka selama tiga hari. Kemudian ia menulis surat kepada al-Ladzriiq, yang isinya, “Bahwasanya telah datang kepada kami sekelompok orang yang kami tidak mengetahui apakah mereka berasal dari bumi atau dari langit? Dan kami telah memerangi mereka namun kami tidak mampu melawan mereka. Maka datanglah sendiri kemari.” Maka Ladzriiq pun datang dengan sembilan puluh ribu pasukan berkuda –al-Qurthubi mengatakan tujuh puluh ribu pasukan berkuda- lalu ia memerangi mereka selama tiga hari, sehingga kaum muslimin terjepit. Maka Thariq mengatakan, “Sesungguhnya tidak ada yang dapat kalian andalkan lagi selain pedang kalian, mau lari kemana kalian sedangkan kalian berada di tengah-tengah negeri mereka, sedangkan di belakang kalian adalah laut yang mengelilingi kalian. Dan aku akan berbuat sesuatu, sehingga tidak menyisakan pilihan lagi selain menang atau mati.” Mereka bertanya, “Apa yang akan engkau lakukan?” Ia menjawab, “Aku akan menuju pemimpin mereka, maka jika aku menyerang menyeranglah kalian semua bersamaku.” Maka merekapun melakukannya, sehingga ia berhasil membunuh Ladzriiq dan banyak dari shahabat-shahabatnya, dan Allah –subhaanahu wa ta’ala- pun mengalahkan mereka. Dan kaum muslimin mengejar mereka selama tiga hari dan membunuh mereka dengan pembunuhan yang mengerikan. Sedangkan kaum muslimin tidak ada yang terbunuh kecuali sedikit.

 

Iklan

Responses

  1. Hukum Amaliyah Istishadiyah (Bom Syahid) Adalah Sesuai Dengan Syar’i (Insha Allah)

    Saudara-saudaraku seiman dan seagama, insha Allah kita pernah menyaksikan atau mengetahui kejadian bom bunuh diri di mana si pelaku membawa bahan peledak di tubuhnya kemudian ia masuk ke dalam kumpulan orang-orang banyak. Tanpa diduga, ia meledakkan dirinya dengan maksud membunuh orang-orang di sekitarnya. Tidak lama kemudian, maka media elektronik maupun cetak ramai meliput kejadian ini yang ternyata pernah terjadi berulang kali di Indonesia.

    Saudaraku sekalian, aksi seperti ini sering dipraktekkan para mujahidin di medan jihad. Mereka menyamar dan berpenampilan selayaknya orang biasa sambil menenteng tas atau meletakkan peledak di tubuhnya, lalu pergi ke tengah-tengah barisan musuh, lalu ia korbankan jiwa raganya dengan meledakkan diri dengan niat membunuh musuh-musuh Allah sebanyak mungkin.

    Bunuh dirikah ia?

    Sebelum kita membahas lebih jauh tentang aksi bom syahid ini, marilah kita terlebih dahulu membahas tentang bunuh diri.

    Syaikh Al Albani (rhm) berkata:

    ”…bunuh diri adalah dimana seorang muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya…”(Rekaman Audio: http://www.fatwa-online.com/audio/other/oth010/0040828_2.rm)

    Dari perkataan ulama besar sekaliber Syaikh Al Albani tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa bunuh diri memiliki motif putus asanya seseorang karena tidak sanggup menanggung penderitaan hidup. Lalu apa yang difirmankan Allah terhadap orang yang bunuh diri?

    ”Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu.” (An Nisaa 29)

    Allah telah melarang kita untuk melakukan tindakan bunuh diri. Lalu bagaimana dengan sabda Nabi-nya yakni Muhammad SAW. Beliau bersabda:

    ”Pada zaman sebelum kalian ada seseorang yang terluka, lalu ia mengambil sebilah pisau, dengan pisau itu ia memotong tangannya sendiri sehingga darahnya terus mengalir hingga ia mati. Allah berkata: Hambaku telah mendahului Aku (dengan membunuh dirinya), diharamkan surga untuknya” (Bukhari-Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa bunuh diri dengan benda tajam, maka kelak benda tajam itu akan menusuk perutnya pada hari kiamat di neraka Jahanam dan kekal di dalamnya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan racun, maka di Jahannam nanti ia menghirup racun itu dan kekal di dalamnya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan terjun dari gunung, maka ia kelak akan terjun ke dalam Jahanam dan kekal di dalamnya” (Bukhari-Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Dan barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia ini, maka dia kan disiksa pada hari kiamat” (Muslim)

    Dari ayat Al Quran dan hadist diatas, maka dengan jelas kita bisa memahami bahwa bunuh diri adalah tindakan dosa besar yang menyebabkan pelakunya masuk neraka paling bawah (jahanam) dan disiksa selama-lamanya.

    Sekarang kita bergerak ke arah pembahasan tentang bom syahid (amaliyah istishadiyah) atau yang mana orang-orang awam menyebutnya sebagai bom bunuh diri. Seorang penanya bertanya melalui surat kepada Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi (rhm) mengenai fatwa mufti Saudi Arabia yang menganggap bahwa aksi bom syahid yang dilakukan oleh mujahidin di Palestina adalah bunuh diri dan bukan termasuk jihad fii sabilillah. Syaikh pun menjawab:

    ”Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

    Telah sampai suratmu kepada saya, semoga Allah menyambungmu dengan perlindungan dan taufiq-Nya. Di dalamnya Anda bertanya tentang pendapat saya akan fatwa yang dilontarkan mufti Saudi, yang menganggap ‘amaliyyat yang terjadi di Palestina sebagai ‘amaliyyat intihariyyah (operasi bunuh diri) yang dikhawatirkan termasuk upaya bunuh diri dan bukan termasuk jihad fii sabilillah.

    Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa fatwa seperti ini adalah kecerobohan dan ketergesa-gesaan dari sang mufti. ….” (www.millahibrahim.wordpress.com)

    Dari potongan jawabannya di atas, Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi tidak menyetujui fatwa sang mufti Saudi tersebut, dengan kata lain Syaikh mendukung kebenaran aksi bom syahid. Lalu apakah ada dalil dari Al Quran maupun hadist tentang masalah ini. Sebelumnya telah kita uraikan di atas bahwa sistematika bom syahid ini yaitu seorang muslim menyusup ke tengah barisan musuhnya lalu ia meledakkan dirinya dari dalam. Ia menyadari bahwa dirinya akan (dan sudah pasti) terbunuh oleh ledakkan itu. Namun ia melakukannya dalam rangka menghancurkan musuh-musuh islam dan bukan berniat ingin mengakhiri hidupnya dari kesulitan dunia. Adapun dalil-dalil yang menerangkan seorang muslim menceburkan diri ke barisan musuh hingga akhirnya ia terbunuh adalah banyak jumlahnya.

    Dalil-dalil jibaku syahid

    1. Dari jalur Aslam bin Yazid At Tujaibi, katanya:

    ”Kami berada di Romawi. Pasukan Romawi dengan jumlah besar menyerang kami. Pasukan muslim dengan jumlah sebanding menghadapi mereka. Pasukan dari Mesir dipimpin oleh Uqbah bin Amir. Sedangkan pasukan induk dipimpin oleh Fudhalah bin Ubaid. Tiba-tiba seorang prajurit muslim berlari melesat menuju barikade Romawi. Melihat kejadian itu, orang-orang berteriak: ”Dia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan” (Al Baqarah 195). Abu Ayyub Al Anshari membantah teriakan orang-orang tersebut. Ia berkata: ”Wahai kaum muslimin, kalian salah mentakwilkan ayat tersebut. Sebenarnya ayat itu diturunkan kepada kami golongan Anshar. Saat itu Allah memenangkan islam, lalu jumlah kaum muslimin juga sudah banyak. Tanpa sepengetahuan rasulullah, kami secara sembunyi-sembunyi berkata: ”Harta kita terbengkalai, sedangkan Allah telah memenangkan kita, alangkah baiknya jika kita kembali mengurusi ekonomi kita”. Maka Allah menurunkan ayat ini kepada rasulullah, Dan berinfaklah di jalan Allah dan jangan kalian menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan (Al Baqarah 195).” (Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Hibban, Al Hakim)

    Jadi, kata kebinasaan di atas maknanya adalah mengurusi ekonomi dan meninggalkan jihad fii sabilillah.

    2. Dalam kitab Al Mushanif:

    “Salah satu batalyon dari beberapa batalyon kafir telah tiba. Seorang laki-laki dari kalangan Anshar menyongsong kedatangan mereka. Ia berjibaku menerobos batalyon kafir tersebut dan mengobrak-abrik barisan mereka. Ia lalu keluar dari barisan kafir yang sudah ia obrak-abrik tersebut dan mengulangi aksinya sampai dua atau tiga kali. Kejadian ini disampaikan kepada Abu Hurairah. Menanggapi hal ini, Abu Hurairah membaca ayat, Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah (Al Baqarah 207).” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah)

    Abu Hurairah dari hadist di atas tidak menyebut perbuatan orang yang menerobos barisan musuh sendirian sebagai bunuh diri. Malahan beliau meridhai aksi tersebut.

    3. Dalam pertempuran Yamamah, Bara bin Malik meminta sahabat-sahabatnya untuk melemparkan dirinya melintasi tembok pertahanan pasukan musuh dengan mengenakan perisai. Setelah berada dalam benteng musuh, ia berperang habis-habisan dan berhasil membunuh 10 orang kafir. Dia sendiri mengalami 80 luka. Menyikapi aksi jibaku tersebut, tak seorang pun yang mengingkari atau menyalahkannya. (Ringkasan dari Sunan Bayhaqi, Tafsir Al Qurtubi 2/364)

    Dari ringkasan kisah di atas, tak ada seorangpun sahabat yang mengingkari aksi yang dilakukan oleh Bara bin Malik. Mereka diam tak mencela, sedangkan diketahui bahwa diamnya sahabat merupakan ijma (kesepakatan).

    4. Operasi yang dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa dan Al-Ahram Al-Asadi, dan Abu Qatadah terhadap Uyainah bin Hishn dan pasukannya. Dalam ketika itu Rasulullah s.a.w memuji mereka, dengan sabdanya: “Pasukan infantry terbaik hari ini adalah Salamah” (Bukhari-Muslim).

    Ibnu Nuhas berkata : Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh. Tidak mengapa dilakukan jika dia ikhlas melakukannya demi memperoleh kesyahidan sebagaimana dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa, dan Al-Akhram Al-Asaddi. Nabi s.a.w tidak mencela, sahabat r.a tidak pula menyalahkan operasi tersebut. Bahkan di dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa operasi seperti itu adalah disukai, juga merupakan keutamaan. Rasulullah s.a.w memuji Abu Qatadah dan Salamah sebagaimana disebutkan terdahulu. Dimana masing-masing dari mereka telah menjalankan operasi Jibaku terhadap musuh seorang diri (Masyari’ul Asywaq 1/540)

    5. Kisah Ghulam, seorang pemuda yang hidup di antara masa kenabian Nabi Isa dan Muhammad. Ia seorang pemuda beriman yang mana seorang raja memerintahkan pasukannya untuk membunuhnya namun tidak pernah berhasil walaupun sudah dilakukan berkali-kali. Akhirnya Ghulam berkata kepada sang raja; “Kau tak akan bisa membunuhku kecuali kau menuruti perintahku.” Raja bertanya; “Apa itu?” Ghulam menjawab; “Kumpulkan orang banyak di lapangan luas, saliblah aku di kayu, ambillah satu anak panah dan ucapkan AKU BERIMAN KEPADA TUHANNYA GHULAM, bidiklah aku dengan panah itu. Niscaya kamu bisa membunuhku.”

    Sang raja menuruti instruksi Ghulam dan melepaskan anak panah kearah pemuda itu dengan mengucapkan aku beriman kepada tuhannya Ghulam. Panah ditembakkan dan akhirnya pemuda itupun meninggal. Melihat kejadian itu, masyarakat yang berada di situ ramai-ramai mengucapkan; “Kami beriman kepada Tuhannya Ghulam.” (Ringkasan kisah dari riwayat Bukhari-Muslim)

    Dari hadist di atas, Ghulam memberitahu sang raja cara untuk untuk membunuhnya. Ia telah merelakan nyawanya demi tercapainya kemaslahatan agama. Kematiannya justru membuat banyak orang menjadi beriman kepada Allah.

    6. Umar bin Khattab (ra) memberi izin kepada Abdullah ibnu Ummi Maktum yang buta kedua matanya untuk ikut berjihad. Di peperangan, ia mengayunkan pedangnya kesana kemari untuk membunuh musuh-musuhnya. Di sore hari, kemenangan diperoleh kaum muslimin dan sahabat menemukan jasad seorang muslim yang buta kedua matanya. (Dalam kitab Shifatu As Shafwah 1/222)

    7. Seorang lelaki mendengar sebuah hadits dari Abu Musa: ”Jannah (syurga) itu berada di bawah naungan pedang.” Lalu lelaki itu memecahkan sarung pedangnya, lantas menerjang musuh seorang diri, berperang sampai ia terbunuh. (Imam Al-Bayhaqi, 9/44)

    8. Kisah Anas bin Nadhar dalam salah satu pertempuran Uhud, katanya: “Aku sudah terlalu rindu dengan wangi jannah (surga),” kemudian ia berjibaku menerjang kaum Musyrikin sampai terbunuh. (Bukhari-Muslim)

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah, dalil-dalil di atas adalah hanya segelintir yang bias saya kemukakan. Bisa kita lihat dengan jelas bahwa aksi orang-orang muslim yang disebutkan di atas berjibaku menuju barisan musuh seorang diri dan ia mereka tahu mereka memiliki resiko tinggi untuk terbunuh.

    Sekilas apa yang mereka perbuat itu terlihat seperti tindakan yang terkesan agak konyol dan cari mati, namun pada kenyataannya para sahabat baik itu Abu Hurairah atau Abu Ayyub Al Anshari pada hadist no. 1 dan 2 sama sekali tidak mencela perbuatan orang itu. Justru mereka mendoakan mereka. Bahkan pada hadist no. 4, Rasulullah SAW sendiri memuji Salamah yang melakukan tindakan serupa. Pada hadist no. 6, Umar bin Khattab pun memberi izin kepada Ibnu Ummi Maktum yang buta matanya agar ikut berperang. Padahal kita sadar bahwa orang buta lebih tidak bisa mempertahankan dirinya dari serangan musuh karena ia tak bisa melihat dari mana arah serangan itu datang.

    Fatwa ulama tentang amaliyat istishadiyah

    1. Ibnu Taimiyah berkata:

    ”Imam yang empat membolehkan seorang muslim mencebur di barisan kuffar meskipun dia menduga kuat bahwa mereka akan membunuhnya bila dalam hal itu terdapat maslahat bagi kaum muslimin.” (Majmu Fatawa, 28/540)

    2. Muhammad Ibnu Hassan Asy Sya’abani berkata:

    ”Seandainya seorang muslim menyerang sendirian terhadap seribu tentara, bila ia mengharapkan untuk membabat mereka atau memberikan pukulan pada mereka, maka tidak apa-apa, karena dengan perbuatannya itu dia bermaksud untuk menghajar musuh, sedang hal itu telah diakukan oleh banyak sahabat di hadapan Nabi SAW pada perang Uhud, dan Rasulullah SAW tidak mengingkari hal itu atas mereka dan bahkan beliau memberi kabar gembira kesyahidan terhadap sebagian mereka saat meminta izin dalam hal itu.” (As Sair Al Kabir)

    3. Ibnu Nuhas berkata tentang hadist Salamah:

    ”Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh.” (Masyari’ul Asywaq 1/540)

    4. DR. Nawaf Hail Takruri berkata:

    “Aksi-aksi bom syahid ini terbukti telah banyak yang menewaskan orang-orang Yahudi dan lebih efektif menyusupkan rasa takut ke dalam hati mereka” (Al Amaliyat Al IStishadiyyah fi Al Mizan Al Fiqhiy hal. 37)

    5. Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata setelah menjelaskan hadist Abu Ayyub Al Anshari:

    “Dan ini adalah kisah populer yang menjadi bukti yang sekarang dikenal sebagai operasi bunuh diri dimana beberapa pemuda Islam pergi lakukan terhadap musuh-musuh Allah, akan tetapi aksi ini diperbolehkan hanya pada kondisi tertentu dan mereka melakukan aksi ini untuk Allah dan kemenangan agama Allah, bukan untuk riya, reputasi, atau keberanian, atau depresi akan kehidupan (http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/22/fatwa-syaikh-al-bani-mengenai-bomb-syahid/)

    “Itu bukanlah bom bunuh diri, bunuh diri adalah dimana ketika seorang muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya atau sesuatu yang sama seperti itu, sejauh yang kamu tanyakan itu (bom syahid), itu adalah jihad untuk Allah.” (http://www.fatwa-online.com/audio/other/oth010/0040828_2.rm)

    6. DR. Salman Al Audah berkata:

    “…sesungguhnya aksi bom syahid seperti ini adalah boleh, dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh para fuqaha” (http://www.islamway.com/ara/articles.php?article id=84)

    7. Syaikh Sulaiman bin Nashir Al Alwan (hafal 9 kitab hadist) berkata:

    “Adapun dalil-dalil tentang bolehnya aksi bom syahid ini, maka jumlahnya sangat banyak, dan sebagiannya telah saya sebutkan di depan.” (http://mojaheedon.org/news/showTopic.php?topicid+589)

    8. DR. Aidh Al Qarni

    Beliau mengatakan aksi ini adalah bagian dari jihad dan pelakunya insha Allah mati syahid di sisi Allah. (Dalam silaturrahmi bersama Pustaka Al Kautsar di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, tanggal 5 Maret 2006)

    9. Syaikh Abdullah bin Humaid

    “Alhamdulillah, sesungguhnya aksi individu seorang muslim yang membawa seperangkat bahan peledak, kemudian dia menyusup ke dalam barisan musuh dan meledakkan dirinya dengan maksud untuk membunuh musuh sebanyak mungkin dan dia sadar bahwa dia adalah orang yang pertama kali terbunuh, saya katakan: bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah termasuk bentuk jihad yang disyariatkan” (Al Amaliyat Al Istishadiyah fi Al Mizan Al Fiqhiy, hlm. 100-101)

    10. Majelis Ulama Indonesia

    Dalam artikel berjudul “MUI Dukung Aksi Bom Syahid,” Majelis Ulama Indonesia memfatwakan: “Jadi seperti yang terjadi di Palestina kita dukung karena merupakan bentuk perlawanan di daerah yang dilanda perang. Tetapi bukan yang di Bali atau di Hotel Marriot karena Indonesia adalah negara dakwah.”(www.Tempointeraktif.com)

    11. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

    “Melakukan aksi meledakkan diri sendiri dalam peperangan (di tengah-tengah musuh), berbeda dengan bunuh diri. Kita juga memiliki pejuang yang pernah melakukan aksi bom syahid ini, yakni Mohammad Thoha yang meledakkan tempat penyimpanan amunisi Belanda di Bandung selatan.” (www.mediaindo.co.id)

    12. Rabithah Ulama Filisthin (Persatuan Ulama Palestina)

    ”Sesungguhnya aksi-aksi bom syahid ini merupakan jihad fi sabilillah. Sebab dalam aksi tersebut terdapat perlawanan yang sangat sengit terhadap musuh kita Israel. Aksi tersebut bisa membunuh, melukai, dan menyusupkan rasa takut yang amat sangat serta gentar dalam hati mereka” (www.palestinianforum.net)

    13. Front Ulama Al Azhar Mesir

    ”…Bagaimana mungkin Allah akan menyamakan antara orang yang mati mempertahankan haknya dengan orang yang mati bunuh diri karena putus asa dari rahmat Allah; orang yang hilang harapan dari Tuhannya karena membenci hidupnya? Sesungguhnya orang yang pertama (pelaku bom syahid) adalah mati syahid, …” (Al Amaliyat Al Istishadiyyah fi Al Mizan Al Fiqhiy hal. 100-101)

    14. Para Ulama Yordania

    “Bahwa sesungguhnya aksi bom syahid ini adalah disyariatkan dan merupakan jihad, maka dia mendapatkan kedudukan sebagaimana para syuhada di sisi Allah.” (Al Amaliyat Al Istishadiyyah fi Al Mizan Al Fiqhiy hal. 98-99)

    Data-data kemenangan dari aksi bom syahid

    1. 11 November 1982, pusat kendali militer di kota Shur, Libanon, hancur lebur oleh aksi bom syahid ini. Gedung bertingkat delapan tersebut hancur rata dengan tanah. Tercatat 400 tentara Yahudi tewas, di antaranya 20 orang perwira. (Al Amaliyat Al Istishadiyah fi Al Mizan Al Fiqhiy, hal 39-42)
    2. 23 Oktober 1983, sebuah truk berisi dinamit ditabrakkan ke barak angkatan laut Amerika Serikat di Beirut. Aksi bom syahid ini membunuh 241 tentara Amerika. (http://www.irib.com)
    3. 23 Oktober 1983 (di hari yang sama), Libanon. Aksi bom syahid membunuh 58 tentara Prancis. Aksi ini membuat dunia internasional memberi kecaman terhadap Presiden Reagan. Maka pada bulan Februari 1984, tentara AS ditarik mundur dari Libanon. Perlu diketahui bahwa AS, Prancis, Italia, dan Inggris merupakan sekutu sebagai pasukan multinasional yang dikirim ke Libanon. (http://www.irib.com)
    4. Sepanjang Februari-Maret 1996 banyak dilakukan aksi bom syahid sebagai bentuk pembalasan atas terbunuhnya Yahya Ayyash. Aksi ini membunuh 60 zionis Israel. Selain itu, DR. Abu Musa Marzuq (Kepala Biro Politik HAMAS) dan Syeikh Ahmad Yassin dibebaskan dari penjara Israel. Perdana Mentri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan ia takut akan terjadi lagi bom-bom syahid lainnya jika Ahmad Yassin tak dilepas. (Al Amaliyat Al Istishadiyah fi Al Mizan Al Fiqhiy, hal 39-42)
    5. 31 Juli 1997, aksi bom syahid membunuh 13 orang Yahudi dan melukai 160 orang di pusat perniagaan Al-Quds. (Al Amaliyat Al Istishadiyah fi Al Mizan Al Fiqhiy, hal 39-42)
    6. 7 Mei 2002, aksi bom syahid menghancurkan klub billiard di Israel tengah. 15 orang Yahudi tewas. (http://www.freelists.com)
    7. 18 Juni 2002, aksi bom syahid dilakukan di sebuah bis di Yerusalem. Hal ini membunuh 18 orang dan melukai puluhan lainnya. (http://www.voanews.com)
    8. 31 Agustus 2004, aksi bom syahid memporak-porandakan dua bus penumpang Israel di kota Beersheva, Israel. 16 Yahudi tewas. (http://swaramuslim.net)
    9. 17 April 2006, aksi bom syahid menewaskan 9 orang Yahudi dan 50-an lainnya luka-luka. Ini terjadi di Tel Aviv, ibukota Israel. (http://www.bbc.co.uk)

    Bagaimana jika aksi bom ini memakan korban orang muslim yang berada di sekitarnya

    At Tatarus adalah istilah bagi kaum muslimin yang disandera oleh kaum kafir dan dijadikan perisai agar mujahidin ragu untuk menyerang kaum kafir tersebut.

    Imam Al Qurthubi berkata:

    “Diperbolehkan membunuh orang Islam yang dijadikan tameng hidup, dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat, Insya Allah. Yang demikian itu jika pembunuhan itu terdapat maslahat dharuriyah, kulliyah, dan qhatiyah.” (Tafsir Al Qurthubi, 16/562)

    Ibnu Taimiyah berkata:

    “Sesungguhnya para imam telah bersepakat bahwa jika kaum kafirin menjadikan kaum muslimin sebagai perisai hidup dan kaum muslimin (yang berjihad) khawatir jika tameng hidup itu tak disingkirkan, maka diperbolehkan membidik tameng hidup tersebut dengan niat memerangi kaum kaffir.” (Majmu Fatawa, 28/538-539)

    Dua ulama di atas memfatwakan hal yang demikian setelah menyimak hadist Rasulullah. Aisyah berkata, “Nabi bersabda: ‘Sepasukan tentara hendak memerangi ka’bah, ketika mereka berada di Biida (suatu tempat yang terletak antara Mekkah dan Madinah), mereka ditenggelamkan oleh Allah mulai dari pasukan paling depan hingga pasukan paling belakang.’ Aisyah bertanya, bagaimana bisa dari depan sampai belakang ditenggelamkan sedangkan di tengah ada penduduk yang tidak termasuk dalam pasukan itu? Rasulullah menjawab: ‘Mereka di tenggelamkan dari depan sampai belakang, dan akan dibangkitkan di hari kiamat sesuai dengan niat mereka.’” (Bukhari)

    Ibnu Quddamah pun memfatwakan hal yang serupa:

    “Boleh menembak mereka bila perang sedang terjadi, karena meninggalkannya menyebabkan jihad menjadi terbengkalai.” (Al Mughni, 8/450)

    Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan…

    Allah Ta’ala knows best

  2. Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Ibnu Sudirman….. kok bisa2nya anda sebutkan 4o hadits di atas hanya untuk “memaksakan” bom bunuh diri biar menjadi bom istisyhadiyah?? tanpa menyebutkan 1 ulama pun yang menjadi referensi.

    Kalian menyandarkan pemikiran kepada pemikiran Syaikh Abu ‘Umar Muhammad bin ‘Abdillah as-Saif, Ketua Mahkamatut Tamyiiz al-‘Ulya Mujahidin Czechnya ===>> ini BUKAN ulama.

    kalau cuman nukil hadits2 sepotong dan ayat sepotong2, akhirnya zina pun dibolehkan, apa2 dibolehkan. karena TANPA REFERENSI dari ulama2 yang terdahulu (as salaaf ash shaalih), sehingga asal comot hadits saja…

    sangat lemah bantahanmu ini bak sarang laba-laba….

    KALAU ibnu sudirman sudah hafal alqur’an, sudah belajar ktab2 ulama, kutubus sunnan, shahih muslim, shahih bukhari, tafsir al qurthubi, tafsir ibn katsir, dll BELAJAR MENYELURUH 1 KITAB SELESAI…. TIDAK mungkin muncul pemikiran semacam ini, TIDAK mungkin berani melakukan hal bodoh dengan MENCOMOT hadits-hadits semacam ini tanpa bimbingan ulama mutqoddimin..

    kayak mahasiswa skripsi aja mas mas…. malu2in….

    BERTAUBATLAH (www.fatwa-online.com)

    • Silakan anda baca komentar dari welcome to alislamarrahman di atas. Sebenarnya itu komentar sdah lama, tapi ana lupa gak menerbitkannya…

  3. waduuuuh….

    Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi ini siapa? riwayat keilmuannya bgmn? mas mas… kalau hukum fiqih antum ambil dari ulama saudi, fatwa2 mrk.. tapi kalau manhaj kok ngga mau ambil dari mereka… ambilnya dari aidh al qarni, bahkan usamah bin ladin (insinyur, bukan ulama!!), bahkan MUI, NU, weleh2…. agama kok diambil campur2 begini….

    yang bener aja mas!

    • Untuk: MUSUH BERAT TERORIS

      Bacalah baik-baik komentar kami di atas secara keseluruhan.
      Sheikh Abu Muhammad Al MAqdisi adalah salah satu ulama penyeru tauhid. Boleh jadi anda tak mengenalnya dikarenakan anda terlalu taklid dan hanya mengenal ulama-ulama dari kalangan antum sendiri.
      Kalaupun seandainya anda meragukan pendapat beliau dalam hal ini, maka itu bukanlah permasalahan besar dikarenakan fatwa beliau selaras dengan pendapat mayoritas ulama, dan salah satunya pendapat sehikh Al Albani sendiri.
      Semoga Allah memberi hidayahnya kepada antum.

    • MB@ Bagaimana menurut anda tentang Fatawa ini???

      Fatawa Syaikh Muhadist Muhammad Nashirudin al Albany Rahimahulloh

      Didalam Shahih Mawarid Azh Zham’an oleh Syaikh al AlBany (dipublikasikan setelah beliau wafat), dia berkata pada bab kedua, halaman 119, setelah menjelaskan hadits populer Abu Ayyub, mengenai firman Alloh walaa tulqu bi aydiikum ilat-tahlukah, dia berkata :

      “Dan ini adalah kisah populer yang menjadi bukti yang sekarang dikenal sebagai operasi bunuh diri dimana beberapa pemuda Islam pergi lakukan terhadap musuh-musuh Alloh, akan tetapi aksi ini diperbolehkan hanya pada kondisi tertentu dan mereka melakukan aksi ini untuk Alloh dan kemenangan agama Alloh, bukan untuk riya, reputasi, atau keberanian, atau depresi akan kehidupan”

      Sumber: http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/22/fatwa-syaikh-al-bani-mengenai-bomb-syahid/

      Selanjutnya beliau juga berkata:

      Ketika ditanya mengenai aksi bom Syahid Syaikh al Albany menjawab:

      Itu bukanlah bom bunuh diri, bunuh diri adalah dimana ketika seorang muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya atau sesuatu yang sama seperti itu, sejauh yang kamu tanyakan itu, itu adalah jihad untuk Alloh, akan tetapi kita harus mempertimbangkan aksi ini tidak bisa dilakukan secara individual tanpa di desain oleh seseorang yang menjadi ketua yang mempertimbangkan apakah itu menguntungkan Islam dan kaum muslimin, dan jika Amir memutuskan untuk kehilangan mujahid tadi lebih menguntungkandibandingkan unuk menahannya, terutama jika hal itu menyebabkan kerusakan musuh, kemudian pendapat Amir tersebut terjamin bahkan walaupun si mujahid tadi tidak senang dengan dengan hal itu, maka dia harus mematuhinya..

      Syaikh al Albany kemudian melanjutkan

      Bunuh diri adalah salah satu dosa besar, ini jika seseorang mati karena dia menginginkan untuk ngakhiri dunianya…, dan jika untuk berjihad maka itu bukanlah bunuh diri, didalam kisah para sahabat radhiAllohu ‘anhum sering dilakukan untuk melawan jumlah musuh yang besar oleh mereka..

      Rekaman Audio: http://www.fatwa-online.com/audio/other/oth010/0040828_2.rm

  4. Ahmad meriwayatkan di dalam Musnad-nya I/310 dari Ibnu ‘Abbaas, ia mengatakan: Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, yang artinya:

    Pada malam di mana aku di isra’kan, aku mencium sebuah bau yang wangi, maka aku bertanya, ‘Wahai Jibril, bau wangi apa ini?’ Maka Jibril menjawab, ‘Ini adalah Masyithah (tukang sisir perempuan) bagi anak perempuan Fir’aun dan anak-anaknya. Rasulullah bersabda, ‘Aku bertanya, ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Jibril menjawab, ‘Suatu hati tatkala ia sedang menyisir anak perempuan Fir’aun, sisirnya jatuh dari tangannya, maka ia mengatakan, ‘Bismillaah (atas nama Allah aku mengambil sisir ini).’ Maka anak perempuan Fir’aun tersebutpun bertanya, ‘(Apakah yang kamu maksud adalah) bapakku?’ Ia menjawab, ‘Bukan, tapi Dia adalah Rabb (tuhan)-ku dan Rabb (tuhan) bapakmu, yaitu Allah.’ Anak perempuan itu berkata, ‘Bolehkan aku beritahukan hal itu kepada bapakku?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Maka anak perempuan Fir’aun itupun memberitahukan hal tersebut kepada Fir’aun, maka Fir’aunpun memanggilnya, lalu ia berkata, ‘Wahai Fulanah, apakah engkau mempunyai Rabb (tuhan) selain aku?’ Ia menjawab, ‘Ya, Rabb ku dan Rabb-mu, yaitu Allah.’ Maka Fir’aunpun memerintahkan untuk memanaskan sebuah periuk dari tembaga yang besar, kemudian ia memerintahkan untuk melemparkan tukang sisir tersebut dengan anak-anaknya ke dalam periuk tersebut. Perempuan tukang sisir itupun mengatakan, ‘Sesungguhnya aku mempunyai permintaan kepadamu?’ Ia mengatakan, ‘Apa permintaanmu?’ Ia menjawab, ‘Aku menginginkan agar engkau mengumpulkan tulang belulangku dengan tulang belulang anakku dalam sebuah kain, lalu engkau kuburkan kami.’ Fir’aun mengatakan, ‘Itu adalah permintaanmu yang pasti kami laksanakan.’ Jibril berkata, ‘Lalu Fir’aun memerintahkan untuk melemparkan anak-anaknya satu persatu di hadapannya sampai yang terakhir adalah bayi yang masih ia susui, dan seolah-olah ia ragu-ragu pada anak tersebut. Anak itu mengatakan, ‘Wahai ibu, MASUKLAH karena sesungguhnya siksa dunia itu lebih ringan dari pada siksa akherat, maka iapun masuk ..”

    Hadits ini rijal (perawi-perawi)-nya tsiqat (terpercaya) kecuali Abu ‘Umar. Adz- Dzahabi dan Abu Hatim mengatakan tentang dirinya, ‘Dia adalah Shaduq.’ Namun Ibnu Hibban menyatakan bahwa dia adalah tsiqqah.

    Hadits ini menceritakan bahwasanya Allah –subhaanahu wa ta’ala- menjadikan anak kecil tersebut bisa berbicara untuk memerintahkan ibunya agar dia MASUK ke dalam api, dan ini seperti bayi yang terdapat dalam kisah Ash-haabul Ukhduud (orang-orang yang dilemparkan ke dalam lubang yang panjang yang dinyalakan api padanya, yaitu hadits sebelum ini). Dan seandainya membunuh diri sendiri untuk kepentingan dien (agama) itu dilarang, tentu syaari’ (Sang Pembuat syariat, yaitu Allah –subhaanahu wa ta’ala–pent.) tidak akan memuji perbuatan tersebut, dan Allah –subhaanahu wa ta’ala- menjadikan anak itu dapat berbicara tidak lain hanyalah untuk menerangkan keutamaan perbuatan tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: