Oleh: dakwahwaljihad | Mei 12, 2010

Wawancara Ekskluif An-Najah dengan Ust. Abu Bakar Ba’asyir dan Ust. Abu Rusydan

Wawancara Ekskluif An-Najah dengan Ust. Abu Bakar Ba’asyir dan Ust. Abu Rusydan.

Terkait dengan peristiwa Aceh, dimana terjadinya berbagai penangkapan dan penembakan, yang berlanjut kepada rilis sebuah video. Video yang berdurasi 1 jam tersebut menggambarkan berbagai kegiatan fisik yang ada di Aceh.

Dalam video itu pula disampaikan pesan-pesan yang ditujukan kepada umat Islam, termasuk di dalamnya mengingatkan para aktivis Islam untuk tidak tertipu dengan berbagai aktivitas duniawi. Dari beberapa point yang disampaikan, terkesan ada ketidaksepahaman antara mereka dan beberapa golongan yang dikenal berfikroh “Jihadi”.

Berikut wawancara An-Najah dengan dua tokoh “Jihadi”, Ust. Abu Rusydan pada tanggal 2 April 2010 di Kudus, dan dengan Ust. Abu Bakar Ba’asyir pada tanggal 31 Maret 2010 di kantor JAT.

Ust. Abu Bakar Ba’asyir, Mestinya kita harus saling menghargai karena ini ijtihad.

Bagaimana tanggapan ustadz Abu Bakar tentang video yang beredar tersebut?

Saya berpendapat, mereka itu nampaknya tujuannya belum berjihad, mereka baru beri’dad, yaitu mengamalkan firman Allah surat al-Anfal : 60. Buktinya kalau saya lihat di TV mereka pakai latihan, lalu mengumpulkan senjata di situ, lalu dengan video didakwai orang-orang untuk bergabung beri’dad bersama mereka. Nah, kalau saya menilai begitu, mereka baru sampai taraf i’dad. Akan tetapi mereka diserang, ya otomatis melawan.

Apakah dengan adanya perbedaan pendapat dalam aplikasi jihad, seperti yang kita saksikan hari ini layak menjadi penyebab perpecahan umat?

Mestinya tidak harus begitu, mestinya kita harus saling menghargai karena ini ijtihad. Selama, itu masing-masing meyakini bahwa dia mempunyai kewajiban (untuk berjihad). Saya akan laksanakan itu, tetapi saya masih begini. Kalau kamu mau berangkat sekarang, ya silakan. Tapi ya kadang-kadang aplikasinya itu menyebabkan perselisihan. Karena umat Islam sekarang tidak berada dalam satu komando. Karena itulah sebaliknya saling menghargai selama dia masih berkomitmen menjalankan kewajiban tersebut.

Kecuali bagi orang-orang yang tidak mau menegakkan kewajiban jihad ini. Karena sudah jelas berdasarkan dalil-dalil yang ada bahwa hukumnya sekarang fadhu ‘ain. Karena sekarang tidak ada khilafah yang bisa mengangkat bendera jihad.

Menimbang dengan kondisi jihad Indonesia, sekarang bagaimana menurut ustadz aplikasi jihad yang yang cocok sekarang?

Jadi memperjuangkan Islam itu mengikuti bimbingan sunnah. Jangan seenak kehendaknya sendiri. Kalau kita lihat bimbingan sunnah itu dapat kita simpulkan memperjuangkan Islam itu ada 2 cara, yaitu dakwah wal jihad.

Dakwah yang dimaksud adalah menegakkan tauhid dan memberantas syirik. Kalau di Indonesia perlu dakwah yang jelas, yaitu memberantas syirik. Syirik di sini jangan dibatasi dengan syirik kubur, tapi juga syirik Qusr (istana). Harus diterangkan bahwa Indonesia ini negara musyrik. Harus dirubah kembali menjadi negara tauhid. Nah, di situ nanti akan menimbulkan kontroversi, dari situlah akan muncul jihad, Jadi, masyarakat awam bisa memahami alasan. Itu namanya dakwah tauhid.

Jadi harus diterangkan status negara kita. Negara kita ini negara syirik. Kita wajib baro’ (berlepas diri), hubungannya dengan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Kita harus menerangkan ini. InsyaAllah nanti lama-lama akan timbul suatu furqan (pembeda). Karena dakwah sekarang ini kan tidak jelas. Yang disebut syirik, ya hanya syirik kubur itu saja. Di sini peranan dakwah sehingga bisa menimbulkan jihad. Jadi dakwah, kemudian jihad. Demikian juga harus dipahamkan bahwa hukum jihad sekarang adalah fardhu ‘ain.

Nasehat kepada keseluruhan kaum Muslimin?

Nasehat saya kepada kaum Muslim, bahwa negara ini negara musyrik, hukumnya haram kita tinggal di sini jika kita tidak mau merombaknya menjadi negara tauhid. Negara yang diatur dengan hukum Islam. Maka kita wajib berjuang dengan dakwah, dan bila sudah ada istitha’ah (kemampuan), maka nanti dengan jihad. Tapi kita tidak boleh mundur, harus merombak negara ini menjadi negara tauhid. Itu pokok kewajiban kita semua umat Islam.

Kemudian kepada ikhwan yang sudah mulai terjun atau yang mengatakan dirinya sudah terjun jihad, supaya mereka ikhlas dan menghargai ijtihad yang lain. Jadi jangan memusuhi ijtihad yang lain. Selama orang yang berijtihad itu tetap memiliki program jihad, bukan yang duduk.

Jadi dakwah tauhid ini perlu benar-benar kita tegakkan. Kita harus menerangkan kemusyrikan negara ini. Kemusyrikan negara itu fitnah, jadi itu yang harus kita lakukan. Dimulai dengan dakwah yang jelas, diterangkan apa adanya. Untuk itu kepada para tokoh, ulama, supaya berani menyampaikan kepada penguasa.

Ust. Abu Rusydan, Saya melihat itu berangkat dari rasa cinta mereka kepada saya.

Bagaimana tanggapan ustadz tentang video yang beredar tersebut?

Saya melihat kesungguhan dari ikhwah-ikhwah yang ada di situ, ya wallahu a’lam tapi saya lihat ada kesungguhan.

Tentang nama-nama yang disebut oleh mereka? Dan nama ustadz sendiri juga disebut?

Kalau ada tokoh-tokoh tertentu termasuk saya yang disebut, saya melihat itu berangkat dari rasa cinta mereka kepada saya. Artinya bahwa mereka itu sangat mengharapkan saya mendukung mereka.

Jadi ustadz mendukung amaliyah yang mereka lakukan?

Saya mendukung sebenarnya, cuma tentunya ada perbedaan-perbedaan tertentu yang harus dipahami bersama. Lah mungkin perbedaan yang tidak dipahami itu, seperti orang yang sangat cinta kepada sesuatu, kemudian ada sesuatu yang mengecewakan dia dari orang yang dicintainya, kemudian dia menjdi kecewa. Tapi sebenarnya bukan berangkat dari rasa benci, hasad dan lain-lain.

Bagaimana tentang komentar-komentar mereka tentang aktivitas-aktivitas dan lembaga-lembaga yang dianggap menipu itu?

Yah, saya kira itu yang perlu dikendalikan oleh mereka, supaya mereka berpikir kembali. Sebab, sekali lagi kembali kepada pengalaman masa lalu. Ketika perang Salib yang pertama itu, bahwa kebangkitan dari Imaduddin Zanki, Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayubi itu berangkat dari adanya tarbiyah Islamiyah yang benar, di tengah-tengah tarbiyah yang sesat, saat itu tarbiyah yang mendominasi masyarakat adalah Syi’ah. Dalam masalah yang spesifik yang berhubungan dengan para ikhwan yang mengadakan pelatihan dalam rangka mempersiapkan diri di Aceh itu, mereka mengerti yang seperti itu dikarenakan dari tarbiyah yang diadakan pada masa lalu, itu harus diakui. Jadi bukan mereka dapatkan di sepanjang perjalanan mereka saja. Ini yang harus diakui, artinya harus ada tawadhu’ (kerendahan hati) untuk mengakui bahwa mereka yang hadir di sana itu merupakan hasil dari tarbiyah yang benar. Jadi saya melihat bahwa, untuk bisa bertahan, dan membawa misi iqomatuddin harus ada sebuah tarbiyah yang benar, harus ada sebuah upaya dakwah yang benar, harus ada amal-amal Islami di banyak bidang seperti ekonomi, penerbitan, dan lain-lain yang benar. Tapi semua ditaqarubkan kepada takwinul jama’ah, takwinul quwwah,  kemudian dalam rangka untuk i’dadul quwwah harus dicapai.

Nasehat ustadz untuk umat Islam?

Sudah merupakan qanun ilahiyah bahwa kemuliaan umat bergantung kepada hablu minallah wa hablu minannas. Itu penting sekali. Hablu minallah maksudnya beribadah kepada Allah. Sedangkan hablu minannas, sebagian ahli tafsir mengatakan pemerintahan Islam. Pemerintahan Islam itu kadang-kadang menempati khilafah Islamiyyah, kadang-kadang menempati jama’ah-jama’ah ketika tidak ada khilafah. Ini merupakan qanun ilahiyyah, siapapun umat bila tidak berpegang kepada dua tali ini akan ditimpa kehinaan.

(Dinukil dari: Majalah An-Najah, edisi 56, Mei 2010).

Iklan

Responses

  1. BAGAIMANA ABU BAKAR BA’ASYIR DISEBUT USTADZ SEDANGKAN MENJADI IMAM SHALAH ‘IED SAJA SURAT PENDEK BACAAN NYA SALAH TOTAL, SALAH KAPRAH, DAN SALAH FATAL. …?????

    ini tho ustadz “jihadi”? WAJAR kalau pemikirannya MENYIMPANG, alquran saja tidak menguasai…. apalagi kitab2 hadits… kitab2 ulama….

    orang begini kok berani beristimbath….

    kasihan….. benar2 miskin ilmu agamanya…

    allahu yahdihim

    • Memang orang akan berkomentar seenaknya ketika dia tidak melihat beliau dari dekat. Mungkin hanya mendengar dari perkataan orang lain, ato dari ustadznya yang kerjaannya menghujat, “Si ini bodoh, si ini khawarij, si ini begini dan begitu.”

      Memangnya bacaan pendek menjadi syarat sahnya sholat? Memangnya bacaan yang salah ( tidak secara sengaja ) menjadi syarat sahnya sholat? Fatal bagaimana? Apakah merubah ayat??? Dengan komentar antm seperti itu malah menunjukkan kedangkalan pengetahuan antum tentang addien.

      Beginilah komentar orang2 yang fanatik terhadap kelompoknya… Allaahu yahdikum…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: