Oleh: dakwahwaljihad | Mei 3, 2010

Syubhat-Syubhat Seputar Sunnah

SYUBHAT-SYUBHAT SEPUTAR SUNNAH DAN BANTAHANNYA

( Oleh : Puji Yanto )

Telah diketahui bersama, bahwasanya sunnah merupakan hujjah (dalil) penting yang ke dua dalam dien ini setelah al-Qur’an. Akan tetapi ada sebagian orang ataupun kelompok dari umat ini yang meragukan bahkan menolak sunnah (inkarus sunnah) sebagai pedoman hidup setelah al-Qur’an. Maka mereka kemudian membuat – buat berbagai macam syubhat yang menjadikan orang-orang Islam ini semakin ragu akan kebenaran sunnah Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Diantara mereka yaitu DR. Muhammad Taufiq Sidqi. Kemudian juga ada kelompok yang dengan terang-terangan menolak kehujahan sunnah, mereka menamakannya sebagai kelompok inkarus sunnah.

Adapun dengan DR. Muhammad Taufiq Sidqi, dirinya melontarkan syubhatsyubhat tentang sunnah dalam majalah “al-Manaar” dengan judul makalahnya “al-Islam Huwa al-Qur’an Wahdah”. Dirinya menganggap bahwa dengan usahanya tersebut mampu membantu agamanya.[1] Diantara syubhatsyubhatnya yakni :

Bahwasanya Allah –subhaanahu wa ta’ala- berfirman :

. . . مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“…. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.”[2]

Dan dalam firman-Nya lagi:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“…Dan Kami turunkan kepadamu al Kitab (al-Qur’an ) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. “[3]

Menunujukkan bahwa al-Qur’an telah menghimpun segala sesuatu dari segala permasalahan dan ketentuan agama dan hukum-hukumnya, dengan penjelasan yang sempurna, terperinci dan jelas. Sehingga hal ini tidak lagi membutuhkan sunnah sebagai penjelas segala permasalahan hukum dalam agama ini.

Bantahan terhadap syubhat di atas:

Al-Qur’an surat al-An’am : 38 yang dinyatakan oleh para pengingkar sunnah sebagai argumen untuk menolak sunnah adalah tidak benar dengan alasan bahwa:

  1. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud dengan al-kitab dalam ayat tersebut adalah al-Qur’an. Dalam al-Qur’an termuat semua ketentuan agama. Ketentuan itu ada yang bersifat global dan ada yang bersifat rinci. Ketentuan yang bersifat global dijelaskan rinciannya oleh hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Apa yang dijelaskan oleh Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- menurut al-Qur’an wajib dipatuhi oleh orang-orang yang beriman.
  2. Menurut sebagian ulama lagi, yang dimaksud dengan kata al-kitab dalam ayat tersebut adalah al-Lauh al-Mahfuzh. Ayat tersebut menjelaskan bahwa semua peristiwa tidak ada yang dialpakan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala-. Semuanya termuat dalam al-Lauh al-Mahfuzh. Pengertian tersebut sesuai dengan kalimat yang sebelumnya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu.”[4]

Dalam ayat di atas Allah –subhaanahu wa ta’ala- menerangkan bahwa semua binatang yang melata dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya adalah umat juga sebagaimana manusia. Allah –subhaanahu wa ta’ala- telah menetapkan kehidupan dan rezekinya, ajalnya, kebahagiaan dan kesusahannya yang termaktub di al-Lauh al-Mahfuzh.[5]

Dengan demikian, al-Qur’an surat al-An’am : 38 sama sekali tidak menunjukkan penolakannya terhadap hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Menurut pendapat yang disebutkan pertama, ayat dimaksud justru menilai sangat penting kedudukan hadits dalam kesumberan ajaran Islam.

Ayat-ayat yang disebutkan oleh pengingkar sunnah sebagai petunjuk tentang pelaksanaan ibadah shalat, ternyata ayat-ayat yang bersangkutan masih bersifat global juga. Ayat-ayat itu masih sangat sulit diketahui pelaksanaan dan rinciannya, tanpa dibantu oleh hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Apabila dinyatakan bahwa ibadah shalat telah disyari’atkan oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala- kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, maka untuk mengetahui secara benar apa yang telah disyari’atkan itu diperlukan penjelasan dan contoh dari Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Tanpa bantuan hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, sangat sulit diketahui tata cara yang benar tentang ibadah shalat yang dikehendaki oleh Allah subhaanahu wa ta’ala-, apalagi jarak waktu antara masa hidup Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam- tidaklah pendek. Di samping itu, berdasarkan petunjuk al-Qur’an yang menyatakan bahwa syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam- adalah syari’at yang sempurna, maka hal itu menunjukkan ada beberapa perbedaan tertentu antara syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam- dan para Rasulullah sebelum beliau, termasuk yang telah dibawa oleh Nabi Ibrahim –‘alaihis salaam.

Apabila dinyatakan bahwa tata cara shalat tidaklah penting dan yang penting adalah subtansinya saja, maka hal itu menyalahi pentunjuk al-Qur’an sendiri, misalnya yang termuat dalam surat al-Ma’un : 4-7. Dari ayat itu dapat dipahami bahwa tata cara shalat sangat penting kedudukannya.[6]

Apabila petunjuk hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- berkenaan dengan ibadah shalat dan ibadah-ibadah lainnya ditolak, maka:

  1. Setiap orang akan bebas untuk membuat tata cara sendiri dan menggunakan bahasa sendiri.
  2. Setiap orang akan bebas membikin cara beradzan.
  3. Orang-orang yang menunaikan ibadah haji akan bebas untuk membuat tata cara sendiri-sendiri.
  4. Ibadah zakat fithrah, shalat hari raya, shalat istisqa’ dan lain-lain tidak diperlukan lagi.

Al-Qur’an surat an-Nahl : 89 yang telah dikutip di atas sama sekali tidak memberi petunjuk bahwa sunnah tidak diperlukan. Ayat itu, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Syafi’i, mengandung pengertian dan petunjuk yang menjelaskan bahwa :

1. Ayat al-Qur’an secara tegas menerangkan adanya:

a. Berbagai kewajiban, misalnya kewajiban Shalat, puasa dan haji.

b. Berbagai larangan, misalnya larangan zina, minuman keras, bangkai, darah, dan daging babi.

c. Teknis pelaksanaan ibadah tertentu, misalnya tata cara berwudhu.

2. Ayat al-Qur’an menjelaskan adanya kewajiban tertentu yang sifatnya global, misalnya kewajiban shalat. Dalam hal ini hadits menerangkan teknik pelaksanaannya.

3. Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- menetapkan suatu ketentuan yang dalam al-Qur’an ketentuan itu tidak dikemukakan secara tegas. Ketentuan dalam hadits tersebut wajib ditaati sebab Allah subhaanahu wa ta’ala- menyuruh orang-orang yang beriman untuk mematuhi petunjuk Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-.

4. Allah –subhaanahu wa ta’ala- mewajibkan para hambanya (yang memenuhi syarat) untuk melakukan kegiatan ijtihad. Kedudukan kewajiban melakukan ijtihad itu sama dengan kedudukan kewajiban-kewajiban lainnya yang telah diperintahkan oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala-.[7]

Dengan demikian, surat an-Nahl : 89 sama sekali tidak menolak hadits (sunnah) sebagai salah satu sumber ajaran Islam, bahkan ayat tersebut menekankan pentingnya hadits (sunnah), disamping ijtihad.

Sebagian ulama lagi menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh ayat tersebut ialah semua ketentuan agama, yang didalamnya tercakup ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- dicakup oleh QS. an-Nahl: 89 itu karena salah satu fungsi Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- menurut al-Qur’an adalah menjelaskan al-Qur’an.[8] Dengan demikian, ayat tersebut sama sekali tidak menolak hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Bahkan hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam.

Kemudian ada beberapa syubhat dari kalangan yang menolak kehujahan sunnah, diantaranya syubhat tersebut:

Al-Qur’an diwahyukan oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala- kepada Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam- melalui Malaikat Jibril –‘alahi as-salaam- dalam bahasa Arab. Orang-orang yang memiliki pengetahuan bahasa Arab mampu memahami al-Qur’an secara langsung, tanpa bantuan penjelasan dari hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Dengan demikian, hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- tidak diperlukan untuk memahami petunjuk al-Qur’an.

Jawaban:

Al-Qur’an memang benar tertulis dalam bahasa Arab. Didalamnya terdapat kata-kata yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus, ada yang berstatus global dan ada yang berstatus rinci. Untuk mengetahui bahwa ayat itu khusus ataupun rinci, diperlukan petunjuk al-Qu’ran dan hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Di dalam al-Qur’an tidak diterangkan secara tegas, apakah wanita yang sedang haid, boleh shalat ataukah puasa. Melalui petunjuk hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- maka jelaslah bahwa wanita yang haid tidak dikenakan kewajiban shalat dan tidak sah puasanya, dia dikenakan kewajiban meng-qadha’ puasanya diluar bulan Ramadhan.

Meskipun ada orang-orang yang mendalam pengetahuannya tentang bahasa Arab. Pada kenyataannya, banyak orang yang mendalam pengetahuan mereka tentang bahasa Arab, tetapi mereka tetap menghajatkan kepada hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- untuk memahami kandungan ayat-ayat al-Qur’an.

Dalam sejarah, umat Islam telah mengalami kemunduran. Umat Islam mundur karena umat Islam terpecah-pecah. Perpecahan itu terjadi karena umat Islam berpegang kepada hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Jadi, menurut para pengingkar sunnah, hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- merupakan sumber kemunduran umat Islam. Agar umat Islam maju, maka umat Islam harus meninggalkan hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-.

Jawaban :

Memang benar umat Islam mengalami kemunduran. Umat Islam pecah bukan disebabkan oleh sikap mereka berpegang kepada hadits. Dalam sejarah umat Islam mengalami kemajuan pada zaman klasik (650-1250 M). puncak kemajuan terjadi pada sekitar tahun 650-1000 M. ulama’ besar yang hidup pada zaman itu tidak sedikit jumlahnya, baik di bidang tafsir, hadits, fiqih, sejarah maupun bidang pengetahuan lainnya. Periode klasik berakhir ketika Baghdad jatuh ke tangan Hulago Khan.

Berdasarkan bukti sejarah tersebut, ternyata periwayatan dan perkembangan pengetahuan hadits berjalan seiring dengan perkembangan pengetahuan lainnya. Ajaran hadits telah ikut mendorong memajukan umat Islam karena hadits Nabi r, sebagaimana al-Qur’an, telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menuntut pengetahuan.[9] Di samping itu, hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, sebagaimana al-Qur’an, telah memerintahkan orang-orang beriman untuk bersatu dan menjauhi perpecahan.

Sesuai dengan argumen-argumen tersebut maka jelaslah bahwa hadits sama sekali bukan penyebab kemunduran umat Islam. Pengingkar sunnah yang menuduh bahwa hadits merupakan penyebab kemunduran umat Islam memberi petunjuk bahwa pengingkar sunnah tersebut tidak memiliki pengetahuan yang benar dan mendalam tentang sejarah Islam dan hadits Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-.

Landasan hukum dalam Islam terbatas pada al-Qur’an saja. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala- bahwa Dia telah menyempurnakan agama-Nya. Sesuai dengan firman-Nya:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu dan Aku telah ridha Islam sebagai dien.”[10]

Sedangkan al-Quran telah menjelaskan segala sesuatunya. Adapun hadits, hanyalah merupakan kebijaksanaan seorang pemimpin dan ijtihadnya yang bisa berubah-ubah menyesuaikan kemaslahatan, bukan merupakan sumber hukum yang cocok untuk setiap keadaan dan zaman. Bila hadits merupakan landasan hukum, tentu Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- menyuruh sahabat menulisnya agar tidak hilang.

Bantahannya :

Kandungan makna yang benar dari kedua ayat yang mereka paparkan adalah: telah sempurna dan lengkap apa yang kamu butuhkan dari dasar-dasar halal haram dan kaidah-kaidah dasar hukum segala sesuatu. Akan tetapi kesemuanya itu bersifat umum, global. Maka perlu ada penafsiran, perincian. Yang dalam hal ini diperankan oleh al-Hadits. Hal ini senada maknanya dengan firman Allah –subhaanahu wa ta’ala-:

“Dan Kami turunkan kepadamu ad-dzikr (al-Qur’an) agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkannya.”[11]

Sebagian mereka mengingkari keabsahan hadits ahad karena dia hanya melahirkan prasangka, sedangkan kita tidak boleh beribadah kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala- hanya dengan prasangka.[12]

Bantahannya :

1. Bahwasanya Allah –subhaanahu wa ta’ala- berfirman :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidaklah sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga diri.”[13]

Dalam ayat di atas, kata (طائفة) berarti dalam bahasa Arab dapat berarti satu orang. Kalau peringatan orang yang adil yang pergi untuk ber-tafaqquh fiddin saja wajib diterima, maka periwayatan orang yang adil yang haafidz juga harus diterima.

  1. Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- mengirim delegasi kepada raja-raja di berbagai negara untuk dakwah islamiyah, dan mereka itu perorangan. Ini adalah dalil yang nyata.
  2. Kita mengamalkan hadits ahad bukan berarti beribadah kepada Allah U dengan prasangka, tetapi kita beribadah kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala- dengan prasangka kejujuran pembawa berita. Sebagaimana di dalam menetapkan hilal pada Ramadhan yang dilakukan oleh perorangan atas wajbinya puasa bulan Ramadhan.

Mereka mencela ahli hadits, diantaranya adalah Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-. Bahwa beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits tetapi tidak menulisnya, bahkan beliau juga meriwayatkan hadits dari sahabat lainnya. Sedangkan sebagian sahabat diragukan kejujurannya. Diantara orang yang membuat-buat syubhat tentang Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- ini adalah Mahmud Abu Rayah dalm kitabnya “Adhwaa’u ala as-Sunnah al Muhammadiyyah”.[14]

Bantahannya :

  1. Beliau banyak meriwayatkan hadits karena kecerdasannya. Sebelum masuk Islam, hafalan beliau jelek, setelah masuk Islam dan mendapat do’a Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- maka beliau menjadi sahabat yang paling bagus hafalannya serta paling banyak, disamping juga karena beliau memiliki waktu paling banyak untuk mendampingi Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-.
  2. Beliau tidak menulis hadits, ini bukanlah rahasia umum, mayoritas sahabat juga tidak menulis hadits karena memang mereka tergolong masyarakat yang ummi (tidak bisa baca tulis).
  3. Beliau meriwayatkan hadits dari para sahabat, ini juga bukan merupakan sesuatu yang aib, mayoritas sahabat juga melakukan hal yang serupa, terutama para sahabat yang masih muda atau yang akhir masuk Islam. Hal itu mereka lakukan karena mereka tahu bahwa para sahabat itu adil dan diterima periwayatannya.


[1]DR. ‘Abdul Ghina Muhammad ‘Abdul Khaliq, “Bayaanu asy-Syubhah Allatii Auradahaa Ba’dhu Man Yunkiru Hujiyyatu as-Sunnah wa Raddu ‘Alaihaa”, dalam kitab “Difaa’un ‘Anis Sunnah”, karya Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Daarul Jiil, cet. Ke-1, hal. 396.

[2] QS. al An’am : 38.

[3] QS. an-Nahl : 89.

[4] QS. al-An’am : 38.

[5] Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, op.cit., hal. 397; Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ lie Ahkam al-Qur’an, (Kairo: Daar al-Hadits, 1423H/2002M), juz IV, hal. 734.

[6] Lihat pengertian kata saahun dalam ayat tersebut dalam kitab-kitab tafsir.

[7] Muhammad bin Idris al-Syafi’i, al-Risalah, naskah diteliti oleh Ahmad Muhammad Syakir, (Kairo: Maktabah Daar al-Turats, 1399H/1979M), hal. 21-39.

[8]Muhammad bin Ali bin Ahmad as-Saukany, Fathu al-Qadiir, (Beirut: Daar al-Fikr, 1393 H/1973 M), juz III, hal. 187.

[9] Lihat: QS. Fathir : 28, az-Zumar : 9, dan hadits Nabi yang tercantum dalam kitab shahihain dan lainnya.

[10] QS. al-Maidah : 3.

[11] QS. an-Nahl : 44.

[12] Manna’ Qattan. Tarikh at-Tasyri’ al-Islamy. 1422 H/2001M, cet. Ke-5, hal. 84.

[13] QS. at-Taubah : 122.

[14] DR. Muhammad ‘Ajaaj al-Khatib, as-Sunnah Qobla at-Tadwin, (Beirut: Daar al-Fikr, 1383H-1963M), cet. Ke-4, hal. 447.

Iklan

Responses

  1. kenapa sich penjelasannya dikit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: