Oleh: dakwahwaljihad | April 30, 2010

Muhammad Penutup Para Nabi

MUHAMMAD –SHALLALLAAHU ‘ALAHI WA SALLAM–  PENUTUP PARA NABI

(Oleh: Puji Yanto)

Allah –subhaanahu wa ta’ala– berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Ahzab: 40)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallaahu ‘anhuma- bahwa ayat ini diturunkan kepada Zaid bin Haritsah –radhiyallaahu ‘anhu-. Begitu pula Ibnu Mundir, Ibnu Abi Hathim, Ibnu ‘Asaakir meriwayatkan dari ‘Ali bin Husain.[1] Ayat ini diturunkan kepada Zaid –radhiyallaahu ‘anhu- yang berkenaan dengan ihwal Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Sebelum kenabiannya, beliau pernah mengadopsi Zaid sebagai anak angkat. Maka ketika Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- menikahi Zainab, orang-orang berkata, “Sesungguhnya Muhammad telah menikahi istri anaknya.” Lalu Allah –subhaanahu wa ta’ala-menurunkan ayat tersebut sebagai bantahan atas pernyataan di atas.

Maka setelah ayat ini turun, Allah –subhaanahu wa ta’ala–  melarang Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- untuk menyebut Zaid bin Muhammad karena beliau bukan bapaknya, sekalipun beliau mengangkatnya sebagai anak.[2] Hal ini dikarenakan tidak ada anak laki-laki Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- yang hidup hingga dewasa. Dari Khadijah, beliau mempunyai beberapa anak laki-laki, yaitu Qasim, Thayyib dan Muthahhir, akan tetapi mereka semua meninggal sewaktu masih kecil. Beliau juga mendapatkan anak laki-laki dari Mariyatul Qibthiyyah, yaitu Ibrahim yang meninggal pada saat masih menyusu. Sedangkan dari Khadijah, beliau dikarunia empat anak wanita, yakni Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Adapun tiga puterinya meninggal ketika beliau masih hidup. Adapun Fatimah –radhiyallaahu ‘anha- wafat lebih akhir, yaitu setelah enam bulan Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- wafat.[3]

Allah –subhaanahu wa ta’ala– berfirman,

وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً.

“…. tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ayat ini menetapkan bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi setelah beliau. Jika tidak ada nabi setelahnya, maka juga tidak ada rasul sesudahnya. Karena kedudukan rasul lebih khusus dari pada kedudukan nabi. Setiap rasul adalah nabi dan setiap nabi belum tentu rasul.[4] Maka dalam hal ini beliau menduduki kedudukan sebagai sosok yang harus ditaati, diikuti, dan yang dapat menunjukkan jalan kebenaran lewat risalah-Nya, serta sosok yang harus diimani perkataannya. Beliau juga sebagai sosok yang harus dicintai melebihi cintanya seseorang kepada orang lain.[5]

Dalam masalah ini terdapat hadits yang diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- yang berasal sahabat. Dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda,

إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para Nabi sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, lalu ia sempurnakan dan memperindahnya, kecuali pada bagian batanya yang pojok. Maka kemudian orang-orang mengelilinginya dan terkagum-kagum dengannya. Mereka berkata, “Mengapa tidak diletakkan batu-bata (pada bagian ini)? Maka beliau mengatakan, “Akulah batu-bata itu dan akulah penutup para nabi.”[6]

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Yunus bin Muhammad dari Hammad bin Zaid, bahwa ‘Utsman bin ‘Ubaid ar-Rasbi pernah berkata, “Aku mendengar Abu Thufail mengatakan bahwa, ‘Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- pernah bersabda,

لَا نُبُوَّةَ بَعْدِي إِلَّا الْمُبَشِّرَاتِ، قِيلَ وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ أَوْ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ.

“Tidak ada Nabi setelahku kecuali sebagai penyampai kabar gembira.” Beliau ditanya, “Apa penyampai kabar gembira itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mimpi yang baik.”[7]

Diutusnya Rasulullah Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam- adalah rahmat Allah –subhaanahu wa ta’ala– kepada para hamba-Nya. Beliau yang menutup para nabi dan rasul dan yang menyempurnakan agama-Nya yang hanif ini.

Allah –subhaanahu wa ta’ala– telah mengabarkan dalam Kitab-Nya maupun dalam Sunnah mutawatir, bahwa tidak ada Nabi setelah beliau. Hal ini agar manusia mengetahui bahwa setiap orang yang mengaku menduduki kedudukan ini setelah beliau adalah pendusta, Dajjal yang sesat dan menyesatkan, sekalipun dia adalah orang yang hebat dan aneh dengan berbagai bentuk sihir, jimat dan ilmu ghaib. Semuanya ini adalah hal yang mustahil dan sesat menurut orang-orang yang telah dikaruniakan oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala– berupa akal yang sehat.[8] Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda,

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي.

“Kiamat tidak akan terjadi sehingga kabilah-kabilah dari umatku mengikuti kaum musyrikin sampai mereka menyembah patung-patung. Dan sesungguhnya pada umatku akan terdapat tiga puluh pendusta, mereka mengaku-ngaku sebagai nabi. Akulah penutup para nabi dan tidak ada nabi sepeninggalku.”[9]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda,

فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ.

“Aku diberi kelebihan di atas para Nabi yang lain dengan enam hal, aku diberikan jawaami’ al-kalam (kalimat yang sedikit yang mengandung makna yang luas), aku ditolong dengan memberikan rasa gentar (kepada musuh), dihalalkan bagiku harta rampasan perang, dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan alat untuk bersuci, aku diutus kepada seluruh makhluk dan para Nabi ditutup olehku.”[10]

Barang siapa yang mengaku-ngaku nabi sesudah Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, maka dia adalah Dajjal dan kafir, karena:

  1. Mendustakan Allah –subhaanahu wa ta’ala-, karena Allah –subhaanahu wa ta’ala– telah berfirman: ( وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ ) “Akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.”
  2. Mendustakan Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- terhadap ucapan beliau: ( وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ )“Dan saya adalah penutup para nabi.”
  3. Mendustakan ijma’ (kesepakatan) kaum Muslimin, karena kaum Muslimin telah sepakat bahwa tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam-.

Apabila ada seseorang yang mengatakan, “Bukankah ‘Isa bin Maryam –‘alaihi salaam- akan turun di akhir zaman seperti yang terdapat dalam hadits mutawattir?

Maka kita katakan, “Ya, ‘Isa –‘alaihi salaam- akan turun di akhir zaman. Akan tetapi dia tidak akan turun dengan membawa syari’at baru. Dia hanya turun untuk mengamalkan (melaksanakan) syari’at yang dibawa Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Maka dia termasuk seorang mujaddid dari mujaddidin, dan pembuat perbaikan di antara para pembuat perbaikan (muslihun). Dia berhukum dengan syari’at Islam dan mengikuti Nabi Muhammad. Maka turunnya Isa tidak menyelisihi firman Allah, وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ “Akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.”dan juga sabda Nabi di atas, وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ “Dan saya adalah penutup para nabi.” Karena dia turun dengan tidak membawa syari’at dan tidak turun sebagai nabi yang diutus kepada manusia. Akan tetapi, dia turun hanyalah menjadi hakim dengan syari’at Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam- dan mengikuti Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. [11]

Sesungguhnya saya bersaksi, bahwa tiada Illah yang berhak diibadahi dengan benar, tempat meminta pertolongan, tempat mengadu dan lain sebagainya kecuali Allah –subhaanahu wa ta’ala– yang satu dalam berbagai bidang dan sifat-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, menguasai seluruh langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya, tiada serikat bagi-Nya.

Dan saya bersaksi bahwa khatamunnabiyin, Muhammad bin ‘Abdullah, Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- adalah benar seorang nabi yang ummi, seorang utusan Allah –subhaanahu wa ta’ala– yang namanya terdapat pada berbagai kitab suci Allah –subhaanahu wa ta’ala– dan di-nubuwah-kan oleh seluruh nabi dan rasul-Nya.

Bahwa saya menolak semua paham kenabian yang didakwa oleh manusia-manusia Bani Adam setelah beliau, termasuk klaim Al-Aswad al-Ansi, Musailamah al-Kadzab, Mirza Ghulam Ahmad, Lia ‘Edan’ Aminuddin, Ahmad Moshaddeq, dan sejumlah nama-nama DAJJAL-DAJJAL lainnya. [12]

Hanya kepada Allah-subhaanahu wa ta’ala-lah saya memohon ampun atas segala dosa dan salah, baik yang disengaja atau tidak disengaja, dan penghargaan serta penghormatan tertinggi hanya diberikan kepada Rasulullah Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam- sang Nabi penutup, reformer sejati, pintu gerbang ilmu pengetahuan dunia dan akhirat serta tidak lupa semoga shalawat dan salaam juga tetap tercurahkan untuk para keluarga, keturunan beliau, dan para sahabatnya yang mulia serta orang-orang yang mengikuti jejak-jejak mereka yang mendapatkan petunjuk Allah –subhaanahu wa ta’ala– di bawah bendera tauhid baik dahulu, sekarang dan yang akan datang di manapun mereka berada.

Referensi :

Abdurrahman Jalaluddin as-Suyuthi. ad-Durru al-Mantsur fie at-Tafsiir al-Ma’tsur. Beirut: Daar al-Fikr, 1993M/1414H. cet. Ke-2.

Muhammad ‘Ali ash-Shabuni. Shafwatu at-Tafaasir. Beirut: Daar al-Fikr, 1417H/1996M. cet Ke-1.

Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di. Taisiir al-Kariim ar-Rahman fie Tafsiir al-Kalaamil Mannaan. Beirut:  Mu’assasah ar-Risalah, 1424H/2002M. cet. Ke-1.

Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim. Damaskus: Maktabah Daar al-Fiihaa, 1418H/1998M. cet. Ke-2.

Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Isma’il al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, cet th 1419H/1998M, Daar al-Fikri-Beirut.

Imam Muhyiddin an-Nawawi. al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al-Hajjaj. Beirut: Daar al-Maghfirah, 1420H/1999M. cet. Ke-6.

Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah, Beirut: Daar al-Fikr.

Abu Dawud Sulaiman bin al-Ats’ats. Sunan Abu Dawud. Riyadh: Baitu al-Afkar ad-Dauliyah.

Muhammad Nasiruddin al-Albani. Shahih Sunan Tirmidzi. Riyadh: Maktabah al-Ma’aarif,  1420H/2000M. cet. Ke-1.

Hartono Ahmad Jaiz. Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008M. cet. Ke-2.

Dr. Muhammad Sulaiman bin ‘Abdullah al-Asyqar. al-Qur’an al-Kariim wa bie Ilhaamisyi Zubadati at-Tafsiir min Fathi al-Qadiir. Riyadh: Maktabah Daar as-Salaam, 1414H/1994M. cet. Ke-5.


[1] As-Suyuthi, ad-Durru al-Mantsur fie at-Tafsiir al-Ma’tsur, (Beirut: Daar al-Fikr, 1993), jilid VI, hal. 617.

[2] Ketika itu, Allah menurunkan surat al-Ahzab ayat 4-5, yang merupakan perintah untuk membatalkan hukum yang terjadi pada masa permulaan Islam tentang diperbolehkannya mengakui anak pada anak orang lain. Maka Allah memerintahkan untuk mengembalikan nasab mereka kepada bapak mereka yang sesungguhnya. (Lihat: Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, hal. 616).

[3]Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, (Damaskus: Daar al-Fiiha’, 1998), cet Ke-2, jilid 3, hal. 650. Lihat pula: Dr. Muhammad Sulaiman ibn ‘Abdullah Al-Asyqar, al-Qur’an al-Kariim wa bie Ilhaamisyi Zubadati at-Tafsiir min Fathi al-Qadiir (ringkasan Tafsir Fathu al-Qadir karya Imam Asy-Syaukani), (Kuwait, 1985), cet. Ke-1, hal. 556.

[4] Ibnu Katsir, loc.cit.

[5] As-Sa’di, Taisiir al-Kariim ar-Rahman fie Tafsiir al-Kalaami al-Mannaan, (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 2002), cet. Ke-1, hal. 667.

[6] HR. al-Bukhari,  dalam kitab: Budi Pekerti, bab: Penutup Para Nabi, (hadits no. 3534).

[7] HR. Ahmad.

[8] Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, hal 652, juz III.

[9]HR. Abu Dawud, dalam kitab: Fitnah dan Huru Hara, bab: Penyebutan Fitnah dan Alasan-Alasannya, (hadits no. 4252), dan at-Tirmidzi, dalam kitab: Fitnah-Fitnah dari (berita) dari Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, bab: Tidak akan Terjadi Kiamat Sampai Keluarnya Para Pendusta, (hadits no. 2219). Keduanya mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[10]HR. Muslim, dalam syarahnya karya Imam an-Nawawi, dalam kitab: Masjid-Masjid dan Tempat-Tempat untuk Shalat, bab: Bumi Dijadikan Bagiku Sebagai Masjid dan Tempat Bersuci, (hadits no. 1167) dan at-Tirmidzi, dalam kitab: Perjalanan, bab: Harta Rampasan Perang, dan Ibnu Majah, dalam kitab: ath-Thaharah (bersuci) dan Sunah-Sunahnya, bab: Sebab-Sebab, (hadits no. 567). At-Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan shahih. ”.

[11] Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008), cet. Ke-2, hal. 60.

[12] Lebih lengkapnya baca: “Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: